Kamis, 30 Juni 2011

Prosa Kecil tentang Kehidupan

Oleh: Ratmaya Urip

Hidup ini seperti ombak yang bergelora di belakang perahu. Sejenak bergelora, dinamis dan turbulent karena sibakan lunas yang membelah air…namun kemudian laut kembali tenang seolah tidak pernah ada perahu yang lewat…begitu tenang, nyaman dan laminer…hanya ada angin laut sumilir yang mendendangkan kidung pagi atau tembang petang. Sekali-sekali memang terjadi badai…namun tidak akan terjadi selamanya

Tanjung Pinang-Kepulauan Riau, 18 Maret 2011

Serial Filosofi Manajemen 3

FILOSOFI BENANG KUSUT

(TOUSLED YARN PHILOSOPHY)

SOLUSI MANAJEMEN BISNIS DALAM KONDISI KRITIS

oleh : Ratmaya Urip*

Seringkali dalam bisnis kita dihadapkan pada kondisi yang bukan lagi as usual. Kondisi itu kini lebih sering terjadi, karena semakin tingginya tingkat persaingan, tuntutan customer, pengaruh politik, ekonomi, sosial, dan budaya global yang sulit bagi para pelaku bisnis untuk menghindarinya. Kondisi chaos, resesi dan atau depresi di suatu tempat dengan cepat akan berimbas pada wilayah lain yang jauh dari sumber masalah. Singkat kata, kini kita sudah selalu harus berhadapan dengan kondisi unusual, yang unpredictable, uncountable, dan hopelessness, yang menjadikan seluruh jurus dari kemampuan visioner, kemampuan manajerial maupun kemampuan teknikal yang ada menjadi tidak berarti, menjadi usang dan menjadi lampau atau bahkan menjadi generik. Teori-teori manajemen apapun menjadi lumpuh ketika harus diaplikasikan.Dalam kondisi unusual dalam hal ini boleh juga disebut krisis multi dimensi, seluruh resources terkuras habis untuk dapat survive. Hampir seluruh pelaku bisnis menetapkan strategi survival, jarang yang mengambil strategi growth atau diversification. Memang ada bisnis yang tetap growth, namun secara agregat tidak cukup signifikan untuk memberikan kontribusi bagi global growth, regional growth dan national growth. Yang lebih sering terjadi adalah pelaku bisnis terpaksa melakukan liquidation. Sehingga kondisi krisis semakin mencengkeram kuat.

Terinspirasi dari Prof. DR Paul Ormerod dalam The Death of Economics, yang menganalisis tentang boom atau recession dalam suatu perekonomian hanya pada 2 (dua) parameter dasar yaitu unemployment dan inflation yang ternyata cukup ampuh dalam menganalisis Global Depression pada tahun 1930-an dan global oil crisis tahun 1973-1974, maka penulis mengetengahkan Tousled Yarn Philosophy (Filosofi Benang Kusut) sebagai alternatif Solusi Manajemen Bisnis dalam Kondisi Kritis atau Unusual.

Dalam kondisi kritis, seluruh resources terkuras habis, sementara result sering tidak kunjung sesuai dengan harapan. Ini karena dalam kondisi panik, semua distorsi dan degradasi diatasi dan diapresiasi dengan mengerahkan seluruh resources. Padahal kita harus lebih mengedepankan skala prioritas, untuk mengamanan resources yang memang sangat terbatas itu, apalagi dalam situasi yang sangat kritis.

Kondisi chaos atau krisis diibaratkan kondisi benang dalam keadaan kusut yang secara harfiah sulit untuk diurai lagi, sehingga lebih sering kita membuangnya karena useless. Padahal kalau kita tidak panik dan berpikir jernih kita akan dapat mengurai benang kusut tersebut, kembali menjadi useful.

Initial step dalam mengurai benang kusut adalah mencari dua ujung benangnya. Langkah ini merupakan critical activity, karena memberikan kontribusi terbesar bagi keberhasilan yang ingin dicapai. Berangkat dari 2 (dua) ujung benang yang telah ditemukan tersebut kita lakukan langkah penguraian, sampai benangnya lepas dari kondisi kekusutan. Tentu saja dalam penguraian tersebut sering kita jumpai kondisi berupa adanya bagian dari benang yang sangat kusut dan tertali mati, sehingga kita harus mengamputasi dan membuangnya khusus pada bagian yang sulit diurai tersebut dan kita sambung lagi setelah benang yang sulit diurai tersebut dibuang.

Berangkat dari filosofi tersebut penulis mencoba mentransformasikannya sebagai teori atau axioma dan mengaplikasikannya dalam manajemen bisnis yang penulis geluti, dan ternyata hasilnya cukup membanggakan.

Dalam tulisan sebelumnya penulis pernah mengedepankan tulisan tentang Faktor Kelola dan Faktor Kendali dalam Manajemen Mutu Untuk menerapkan filosofi (baca : teori) Benang Kusut, maka penulis mengedepankan lagi masalah Faktor Kelola sebagai acuan dasar yang harus dipilih dan ditetapkan sebagai 2 (dua) ujung benangnya. Initial step berupa pemilihan dan penetapan 2 (dua) faktor dari 12 (sebelas) Faktor Kelola yang paling krusial mempengaruhi atau penyebab dari krisis yang terjadi, itulah critical activity-nya. Kesalahan dalam menetapkan 2 (dua) faktor tersebut akan menyebabkan distorsi. Dengan hanya memilih 2 (dua) faktor saja di antara 12 (sebelas) faktor sebagai prioritas utama penanganan krisis akan sangat menghemat resources yang kita miliki. Setelah 2 faktor yang dipilih dari 12 faktor (komponen Faktor-faktor Kelola) kita tetapkan sebagai initial step, maka kita kemudian harus menguraikan dan mentransformasikannya dalam ujud parameter-parameter di masing-masing faktor. Untuk itu memang dibutuhkan kepiawaian dalam cascading dan deployment masing-masing faktor. Kemampuan analitis maupun intuitif merupakan kunci utama keberhasilan kita. 10 (sepuluh) faktor lain yang kebetulan tidak kita sentuh, secara alami akan mengikuti azas atau efek domino, dengan kata lain akan dapat terseret dan atau terurai masalahnya mengikuti 2 (dua) faktor dominan yang sudah ditetapkan sebagai 2 (dua) ujung benang.

Faktor-faktor Kelola dalam Bisnis

Berangkat dari Production Factors (Faktor-faktor Produksi) yang sering juga disebut sebagai 5 M (Man, Material, Method, Machine, dan Money), penulis kemudian mengedepankan 12 M yang penulis sebut sebagai Managing Factors (Faktor-faktor Kelola), yang merupakan faktor-faktor yang menurut penulis cukup komprehensif untuk disebut sebagai faktor-faktor yang dibutuhkan dalam pengelolaan bisnis. Faktor-faktor kelola penulis susun secara hierarchies, tidak boleh dibolak-balik. Dari 2 (dua) faktor di antara 12 (sebelas) faktor inilah yang harus ditetapkan sebagai Main Factors dalam Initial Step yang telah disebutkan di atas. Adapun Faktor-faktor Kelola (12 M) yang penulis maksud adalah :

1. Milieu

Parameter-parameternya adalah : stakeholder satisfaction index, ambang batas yang diijinkan baik fisik maupun Ipoleksosbud dari lingkungan, derajad antropolis bisnis dari lingkungan, dan lain-lain.

2. Market

Parameter-parameter dasar yang dapat dikembangkan adalah : sales progress, sales scorecard, customer satisfaction index, customer loyalty index, customer complaint, cost performance index, quotation success ratio, profitability, dan lain-lain.

3. Money

Adapun parameter-parameternya adalah : cost index, revenue, short-term liquidity ratios, capital structure and long-term solvency ratios, return on investment ratios, operating performance ratios, assets utilization ratios, profitability, dan lain-lain.

4. Management

Parameter-parameternya adalah : audit reports, management review, PMS, performance review, regular evaluations, dan lain-lain.

5. Manpower

Parameter-parameternya adalah : employee productivity index, man-hours per quantity, sales/staff, profit/staff, communication skill, competencies, dan lain-lain.

6. Motivation

Parameter-parameternya memang masih perlu kajian yang lebih intens. Untuk sementara yang dapat diketengahkan adalah : employee satisfaction index, attitude-behavioral index, leadership-followership ability, employee scorecard, dan lain-lain.

7. Material

Parameter-parameternya adalah : cost of quality, materials rejected rate, effectiveness, efficiency, material costs per quantity, material costs per revenue, dan lain-lain.

8. Machine and Mechanization

Parameter-parameternya adalah : equipment availability per performance, equipment breakdown time, maintenance cost per quantity, operation cost per quantity, effectiveness, efficiency, dan lain-lain

9. Measurement

Parameter-parameternya adalah : semua parameter yang ditetapkan dalam setiap faktor yang ada dalam Faktor-faktor Kelola ( 12 M ). Seluruh parameter harus dapat berguna untuk evaluasi, penyusunan strategi, dan decision making

10. Modern Information Method

Parameter-parameter untuk faktor ini masih belum dapat diajukan. Akan disampaikan dalam tatap muka.

11. Mounting Product Requirement

Parameter-parameternyapun belum dapat diajukan seperti halnya faktor ke sepuluh.

12. Magnate

Parameter untuk faktor ini belum dapat diajukan, seperti halnya fakor ke sepuluh.

Faktor ini sebenarnya merupakan extensi dari faktor ke-5 Manpower, namun lebih ke aplikasi atau parameter-parameter yang lebih stratejik dan taktikal, sementara dalam faktor Manpower di atas lebih kepada parameter yang operasional. Mengapa dipisahkan? Karena people dalam gelombang ke-empat peradaban manusia, yaitu era creativity, environment, dan culture, memerlukan ketangguhan people yang sangat prima. People merupakan faktor yang paling menentukan dalam mengolah resources dan menjalankan sistem. Apalagi era-nya sudah bukan era Human Resource Management, namun sudah masuk ke era Human Capital Management, yang matriksnya bukan dua dimensi lagi, tetapi tiga atau empat dimensi. (Catatan: tentang dimensi ini sudah dijelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya).

Tentu saja dalam aplikasinya artikel ini perlu ditindaklanjuti dengan workshop atau pelatihan secara intensif, karena Tousled Yarn Philosophy disamping memerlukan kemampuan analitis dan intuitif juga memerlukan kemampuan cascading dan atau deployment yang dalam, karena pijakannya di samping berbasis pada Operational Excellence, juga sekaligus berbasis Innovation Excellence. Meskipun salah satu dari keduanya dapat saja diabaikan, tergantung dari jenis bisnisnya.

Penggunaan salah satu dari Institutional Performance Management, seperti the Balanced Scorecard dari Harvard, Amerika Serikat (1992), Prism dari Cambridge, Inggris (2002), Key Performance Indicator Manual dari Australia (1995), ISO series yang diprakarsai WTO (1986), Malcolm Baldridge National Quality Award dari Amerika Serikat (1987), Activity Based Management dari Amerika Serikat (1996), Good Corporate Governance, dan sebagainya, sangat dianjurkan. Bahkan Six Sigma, sebuah metode pengendalian kualitas produk yang semula berangkat dari pengendalian kualitas statistik di level lantai pabrik (shop floor), saat ini sudah memasuki area perbaikan kinerja di level stratejik dan organisasi.

Tentu saja penggunaan software dalam mengolah Key Performance Indicators (KPI), akan lebih cepat jika memanfaatkan software, seperti Super Decision, atau Expert Choice, dll.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip

=========================================

*) Ratmaya Urip, adalah pemerhati, pelaku serta konsultan untuk berbagai aktifitas stratejik, manajerial, taktikal, dan operasional di bisnis industri & jasa bidang manufaktur, konstruksi dan pertambangan. Saat ini adalah Wakil Ketua Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia) Cabang Surabaya, Pembina & Pendiri Quality Network Indonesia Chapter Jawa Timur, dan Ketua Ikatan Ahli Pracetak-Prategang Indonesia Cabang Jatim. Selain itu adalah Host dan co-Producer di Radio Suara Surabaya 100FM (www.suarasurabaya.net klik online atau on demand) selama 16 tahun untuk “weekly program”: “Solusi Manajemen Bisnis”/”Smart Solution”

ooOoo

Selebriti atau Selebritas

Oleh : Ratmaya Urip*

“Selebriti”, kosakata ini sekarang banyak sekali dipakai sebagai kosakata tulis maupun kosakata tutur dalam berbagai kesempatan. Hampir seluruh media menulisnya seolah sebagai kosakata baku Bahasa Indonesia. Contoh yang paling nyata, ada media elektronik yang memberi nama program acaranya dengan judul “Investigasi Selebriti (Insert),” dan juga “Selebrita-Selebriti”.

Maaf, saya sangat awam dalam berbahasa Indonesia, jauh dari predikat ahli Bahasa Indonesia, dan tidak bermaksud untuk memosisikan diri menjadi pakar Bahasa Indonesia, namun kosakata “selebriti” yang sekarang sudah menjamur (dan mungkin juga akan mengakar) yang telah dipakai sebagai kosakata Bahasa Indonesia selama beberapa tahun ini, telah membuat dahi saya mengernyit dan berombak, benak saya bergejolak, hati saya penuh onak, nyali saya berkelopak, sementara hasrat untuk segera mendiskusikannya menjadi beranak pinak.

Menilik apa yang sedang terjadi ini, saya mencoba untuk menganalisisnya dari apa yang selama ini terjadi dalam proses bentukan kata yang bersistem. Dengan kata lain, apakah kata “selebriti” ini sudah memenuhi kaidah-kaidah dalam proses bentukan kosakata Bahasa Indonesia baku, yang dapat disebut sebagai hasil bentukan kosakata yang bersistem.

Dalam sejarahnya, Bahasa Indonesia tidak akan pernah lepas dari serapan bahasa-bahasa asing maupun bahasa-bahasa daerah. Khusus serapan dari bahasa asing, pada awalnya banyak sekali serapan-serapan dari Bahasa Belanda, namun sejak kemerdekaan, dan terlebih-lebih pada era Orde Baru, kiblat serapannya lebih banyak ke Bahasa Inggris. Hal ini seiring dengan surutnya peran Bahasa Belanda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan semakin menonjolnya peran Bahasa Inggris. (Peran Bahasa Arab juga semakin menonjol mengimbangi peran Bahasa Inggris, dengan semakin besarnya peran negara-negara Arab dan relasinya dengan Bangsa Indonesia dan dunia internasional di bidang-bidang keagamaan, ekonomi, bisnis, politik, sosial dan budaya. Namun dalam konteks tulisan ini kebetulan tidak ada relevansinya).

Contoh-contoh serapan dari Bahasa Inggris yang kini sudah menjadi kosakata baku Bahasa Indonesia adalah, quality menjadi “kualitas” (dulu ditulis “kwalitas”, karena ketika itu masih berbasis Bahasa Belanda), quantity menjadi “kuantitas” (dulu ditulis “kwantitas” karena alasan yang sama), productivity menjadi “produktivitas”, integrity menjadi “integritas”, capability menjadi “kapabilitas”, capacity menjadi “kapasitas”, acceptability menjadi “akseptabilitas”, electability menjadi “elektabilitas”, stability menjadi “stabilitas”, priority menjadi “prioritas”, liquidity menjadi “likuiditas”, rentability menjadi “rentabilitas”, solvability menjadi “solvabilitas”, dan masih banyak lagi serapan-serapan lain yang senada.

Dari proses terjadinya bentukan, nampak sekali bahwa sistemnya adalah, bahwa setiap kosakata dalam Bahasa Ingris yang diakhiri dengan huruf “…ty”, selalu diserap dalam Bahasa Indonesia, dan berubah menjadi “…tas”. Dengan kata lain kosakata dalam Bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari Bahasa Inggris “…ty” bentukan yang seharusnya mengikuti, atau sistemnya adalah menjadi “…tas”.

Bagaimana dengan kosakata “selebriti” yang merupakan serapan dari Bahasa Inggris celebrity yang sekarang sedang menjadi kosakata yang populer di berbagai kesempatan dan kepentingan? Menurut saya, sejalan dengan sistem bentukan kosakata yang selama ini dijadikan acuan untuk menjadi bentukan kosakata yang bersistem, maka kosakata celebrity dari Bahasa Inggris, serapan bakunya adalah “selebritas” bukan “selebriti”. Karena di atas sudah diuraikan sistemnya. Jika kosakata “selebriti” masih diinginkan sebagai kosakata yang dapat dipakai sebagai kosakata Bahasa Indonesia, dapat disebut sebagai kosakata bukan baku. Dengan demikian, sejalan dengan sistem bentukan kata yang bersistem, seperti diuraikan di atas, maka kosakata “polibriti”, sebutan untuk para “politisi” yang telah menjadi “selebriti” bukanlah kosakata yang baku. Adapun yang lebih baku untuk ditulis dan ditutur adalah kosakata “polibritas”, karena merupakan bentukan kosakata yang bersistem.

Bentukan kosakata yang tidak bersistem, sering terjadi dalam berbahasa Indonesia. Contoh lain adalah kosakata “santriwan” atau “santriwati”. Menurut saya kosakata tersebut bukan hasil bentukan kosakata yang bersistem. Akhiran “wan” atau “wati” dan “man” mempunyai fungsi “meng-orangkan”, atau menjadikan orang suatu kosakata yang bukan orang. Sehingga “pahala” menjadi “pahlawan”, “warta” menjadi “wartawan”, “seni” menjadi “seniman”, “rela” menjadi “relawan”, dan sebagainya. Kosakata “santriwan” atau “santriwati” berasal dari kosakata dasar “santri”, dan kosakata “santri” itu adalah orang, sehingga jika ditambah dengan “wan” atau “wati” akan mubazir, karena arti dan pengertiannya sama atau tidak mengubah arti apapun kecuali menambah huruf, dan bukan merupakan bentukan kosakata yang bersistem.

Pada awal berdirinya TVRI, dulu pernah dipopulerkan kosakata “pirsawan” oleh pihak TVRI, namun karena ternyata kemudian kosakata tersebut juga bukan kosakata yang berasal dari bentukan kosakata yang bersistem, maka akhirnya kosakata tersebut lenyap dari Bahasa Indonesia, dan diganti menjadi yang lebih tepat, yaitu “pemirsa” atau “penonton”. “Pirsawan” berasal dari kosakata dasar “pirsa” ditambah akhiran “wan”. Sistem yang ada untuk akhiran “wan”, “man” dan “wati”, di samping sistem yang diuraikan di atas adalah tidak dapat ditambahkan pada kata kerja. Oleh karena “pirsa” adalah kata kerja, maka jika ditambah “wan”,”man” atau “wati” tidak ada sistemnya dalam Bahasa Indonesia. Dengan kata lain, “pirsawan” bukan merupakan bentukan kosakata yang bersistem.

Contoh lain tentang bentukan kosakata yang tidak bersistem adalah sederetan kata yang melengkapi waktu, yaitu “Bagian Barat Waktu Indonesia (BBWI)”, yang sampai saat ini masih sering ditulis dan ditutur sebagai varian atas penulisan “Waktu Indonesia Barat (WIB)”. Contoh yang sering terjadi, adalah seringnya ditulis dalam undangan, yang menyampaikan bahwa rapat atau acara dimulai pada jam 09:00 BBWI.

Bahasa Indonesia menganut hukum DM (Diterangkan-Menerangkan). Istilah yang awalnya diperkenalkan oleh Prof. Dr. St. Takdir Alisjahbana dalam bukunya “Tatabahasa Baru Melayu Indonesia”. Dalam konteks penulisan “Bagian Barat Waktu Indonesia (BBWI)”, jelas, bahwa kata-kata tersebut telah ingkar dari Hukum DM. Karena “Waktu” yang seharusnya diterangkan, malah berada di bagian belakang dari sederetan kata majemuk tersebut. Penjelasannya adalah, dari kata majemuk tersebut dapat diurai menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu “Bagian Barat”, “Waktu” dan “Indonesia”. Dari ketiga kosakata tersebut, urutan penulisan atau penuturan dimulai dari yang paling diterangkan, dalam hal ini “Waktu”, kemudian “Indonesia”, baru kemudian “Bagian Barat”. Karena harus merujuk pada Hukum DM, maka penulisan atau penuturan yang baku wajib dimulai dari yang paling diterangkan terlebih dahulu, baru kemudian diikuti sampai yang paling menerangkan. Maka penulisan yang sesuai dengan kaidah-kaidah bentukan kata yang bersistem adalah “Waktu Indonesia Bagian Barat”. Supaya lugas, dan tidak ada pemborosan dalam berbahasa, dan karena sudah dapat dicerna secara tepat, maka kata “Bagian” dihilangkan, atau lebih tepat kalau ditulis dengan “Waktu Indonesia Barat (WIB)”. Dalam hal ini “Waktu” adalah yang diterangkan, sementara yang menerangkan adalah “Indonesia”, sementara kosakata “Barat” menerangkan kosakata “Indonesia”, jika Indonesia berfungsi sebagai “yang diterangkan”. Maka letaknya ada dibelakangnya. Penulisan ini sudah baku, karena sudah memenuhi kaidah-kaidah Hukum DM, mengapa ada saja yang mencoba untuk “kreatif” dengan mengubahnya dalam bentuk lain, yang justru malah bukan bentukan kosakata yang bersistem?

Apakah akan kita biarkan ketitakbakuan ini selalu terjadi? Jawabannya ada pada diri setiap manusia Indonesia. Karena yang dapat “nguri-uri” bahasa Indonesia adalah kita sendiri. Jika kita ingin agar Bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa modern yang dapat dipakai sebagai bahasa lisan maupun bahasa tutur yang terhormat, yang tentu saja termasuk di dalamnya dapat menjadi sarana untuk penulisan ilmiah dan sastra, dan dapat diakui eksistensinya oleh masyarakat internasional, maka satu-satunya cara adalah dengan selalu memberikan atensi, koreksi dan apresiasi, untuk tercapainya akurasi dan presisi dalam berbahasa Indonesia. Bagaimana pendapat para ahli Bahasa Indonesia?

ooOoo

*) Ratmaya Urip, pemerhati Bahasa Indonesia. Saat ini fungsionaris Asosiasi

Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia)

Serial Filosofi Manajemen 2

FILOSOFI CINTA

Love is a Function of Mathematics

(L = PxS / DxT)

oleh: Ratmaya Urip*

Maaf Bpk. Heriyanto Notoseputro dan Bpk. Thomas Nick, saya agak terlambat menyampaikan jawaban atas apresiasi Bpk tentang formula saya, bahwa Cinta itu Fungsi Matematik. Maka melanjutkan penjelasan saya, yang merupakan response atas email dari Bpk Heriyanto Notoseputro dan Bpk Thomas Nick di milis (undercover_manager@yahoogroups.com) atau “The Manager” ini, di bawah thread: “Suami dan Gadis Penggoda”, joke yang pada awalnya di-released oleh Bpk Patrick Reddington, berikut ini akan saya lanjutkan penjelasan saya. Namun supaya lengkap, saya juga akan menyertakan penjelasan saya sebelumnya. Terima kasih kepada Bpk Heriyanto dan Bpk Thomas atas response-nya. 1. Love is a Function of Mathematics

Sebelumnya saya telah menyampaikan, bahwa “Cinta itu Fungsi Matematik” (Love is Function of Mathematics), yang mengikuti rumus atau formula L = PxS / DxT. (Notes: L = Love, P = Power, S = Speed, D = Distance, T = Time). Jika dinarasikan: “LOVE berbanding lurus dengan POWER dan SPEED, namun berbanding terbalik dengan DISTANCE dan TIME)”. Maaf, sengaja tidak saya tambahkan imbuhan konstanta alpha, beta, atau gamma, seperti fungsi matematik pada umumnya, supaya mudah dicerna. Untuk itu mohon maaf kepada para ahli matematika atas kelancangan saya).

Karena saya bicara tentang keuniversalan, maka sebagai PROLOG, saya ingin memberi batasan, bahwa yang dimaksud dengan LOVE di sini merupakan LOVE yang hanya berdimensi hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia atau hubungan horizontal), bukan yang berdimensi hablumminalloh (hubungan manusia dengan Sang Pencipta atau hubungan vertikal), karena saya bukan ahlinya. Itupun terbatas hanya pada perspektif hubungan antarmanusia yang berlainan jenis yang menginginkan dan atau sedang dalam pelukan LOVE. Tidak termasuk hubungan manusia (baca: LOVE) dengan keluarganya, pekerjaannya, lingkungannya, machluk hidup lainnya, negaranya, dan lain-lain. Apakah rumus tersebut berlaku juga untuk dimensi atau perspektif yang lain? saya belum membuktikannya! Yang pasti tulisan ini hanya sebagai response keterkejutan saya pada cerita tentang “Suami dan Gadis Penggoda”, karena sikap suami seperti yang ditunjukkan dalam cerita tersebut merupakan barang langka yang dapat disebut antique. Sekaligus untuk merefleksikan kekaguman saya pada si “suami”. Bagaimanapun juga, cerita tersebut sangat “inspiring”, “motivating”, “energizing”, “exciting”, “interesting”, and “fascinating” bagi saya. Semoga juga bagi anggota milis lainnya. Dengan kata lain, semoga formula atau rumus saya tersebut dapat terpatahkan dan terhempas keras oleh waktu dan sikap moral yang positif.

Jangan salah, LOVE mempunyai infrastruktur yang bersifat rasional, emosional, dan spiritual, yang berinteraksi secara proaktif, bukannya reaktif. Ketiganya membentuk bauran seperti halnya bauran pemasaran (marketing mix) 4P. Hanya kalau LOVE memiliki 3 (tiga) elemen pokok yang akronimnya adalah RES, sementara bauran pemasaran memiliki 4 (empat) elemen inti 4P. Sehingga dapat disusun matrix-nya, atau dianalisis dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) atau Analytical Network Process (AHP) dari Saaty, baik yang menggunakan software seperti Expert Choice maupun Super Decision.

Perlu diingat dan dipahami, kalau kita bicara spiritual, itu bukan berarti hanya menyangkut bersujud ke arah kiblat di atas sajadah ke haribaan Allah Swt, berlapar-lapar puasa di bulan Ramadhan, dll. Serta juga bukan hanya bernyanyi menyenandungkan kidung doa dengan berjajar menghadap altar serta menerima “altar cake” dari Romo atau Pendeta, menyalakan hio dan dupa di antara lilin-lilin di dalam pagoda, menabur kembang di pura untuk Hyang Widi Wasa, merintih di depan tembok ratapan, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, karena ibadah memiliki esensi tidak hanya vertikal, namun juga horizontal. Sementara esensi taqwa adalah berserah diri kepada Yang Maha Esa, untuk kemaslahatan vertikal maupun horisontal. (Mohon maaf Bpk Kyai, kalau saya salah, karena saya hanya santri diniyah, belum ibtidaiyah, apalagi tsanawiyah atau aliyah, mohon diluruskan jika pemahaman saya salah).

Tentang rasional, emosional, dan spiritual (RES), ternyata juga dipakai dalam Ilmu Pemasaran, hanya bedanya di Pemasaran tersusun secara hierarkis. Dimana customer diharapkan oleh producer untuk dapat memiliki spiritualisme dalam memenuhi kebutuhan atas produk dan jasanya, tidak hanya sekedar emosionalisme, apalagi rasionalisme. Maaf, kepada para pakar Pemasaran, mohon diingatkan kalau saya salah, saya cuma cantrik yang sedang nyuwito atau ngenger di Padepokan (He.he.he..saya jadi ingat peri laku Pailul, yang mirip saya, mendampingi sahabatnya, Panji Koming, yang serba salah ketika sowan ke hadapan Sang Begawan, karena ingat Ni Dyah Gembili, pacarnya, yang mungkin sedang bersama Ni Woro Ciblon, dalam serial strip komik Panji Koming & Pailul karya Dwi Koendoro sejak 14 Oktober 1979 di KOMPAS Minggu). Di Padepokan untuk ngangsu kawruh dengan maksud supaya dapat memiliki ngelmu kang linuwih, karena saya belum dan bukan apa-apa, saya hanya sudro, utawi pidak pedarakan ingkang ngelak ing ngelmu. Amargi ngangsu kawruh salaminipun gesang punika saged anglanggengaken pasederekan lan njangkah ing margining ngagesang ingkang tuhu). Tentang hal ini biarlah nanti beliau-beliau yang ahli Pemasaran yang dapat menjelaskan. Saya sedang dalam posisi untuk belum memiliki kompetensi yang cukup tentang hal ini. Hanya tahu sedikit-sedikit, sekedar pancingan agar ahlinya yang bicara. Mencoba untuk lebih intens dalam berinteraksi di milis ini. (Maaf pakai Bahasa Jawa Krama Inggil, mencoba untuk menapaktilasi peninggalan Ki Hajar Dewantara yang abadi: “Ing ngarsa sung tulada,Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani”, filosofi yang sampai sekarang masih menjadi rujukan di berbagai bidang, termasuk bidang manajemen)

Baiklah, supaya prolog-nya tidak “nggladrah sa wiyah-wiyah” atau berkepanjangan, berikut ini akan saya sampaikan equation-nya seperti yang diminta oleh Bpk Heriyanto dan Bpk. Thomas:

2. Mengelola Cinta adalah Investasi

Saya akan mulai dari statement, bahwa mengelola Cinta itu adalah suatu INVESTASI. Maaf jika statement ini agak materialistik. (Catatan: menurut saya kita memang harus materialistik asal proporsional. Bayi dalam kandungan saja perlu nutrisi/materi untuk dapat melanjutkan tumbuh-kembangnya di kandungan. Semua machluk hidup perlu materi berupa unsur hara atau nutrisi. Asal proporsional jangan RAKUSional atau TAMAKional). Demikian juga Cinta (LOVE) jangan berlebihan.

Cinta atau LOVE (L) memang dapat dianalisis dari berbagai aspek di antaranya aspek ekonomi, budaya, knowledge (matematika, fisika, geologi, komunikasi, psychologi, dll), agama, manajemen, dll.. Tentang hal ini akan saya masukkan dalam SERIAL FILOSOFI MANAJEMEN, yang serial pertamanya sudah meluncur di milis ini dengan judul FILOSOFI MUSIK. Tentang LOVE, masuk dalam serial tersebut dengan topik FILOSOFI CINTA. Jumlah serialnya sendiri direncanakan mendekati jumlah ASMAUL HUSNA, karena saya amat mengagumi kebesaran Allah Swt, dan semua yang saya tulis semata-mata karenaNYA. Tapi akan ditulis secara populer dan universal. Musik, cinta, tukang kayu, makanan, dan lain-lain itu universal kan?

Sebenarnya sebelum ini ada issue yang sangat menarik di milis ini, yaitu tentang Manajemen Konflik, yang mengilhami saya untuk menulis tentang Filosofi Konflik, namun ternyata lebih dulu menulis tentang LOVE, yang muncul karena terinspirasi oleh cerita tentang “Suami dan Gadis Penggoda”, sehingga perbendaharaan formula/rumus lama saya muncul kembali. Saya jadi ingat pemeo saya: “kesempatan tanpa persiapan tidak akan menjadi ‘luck’, sementara persiapan tanpa kesempatan juga akan terbuang dengan percuma, tidak akan menjadi ‘luck’”. Kebetulan saya telah ada persiapan berupa formula atau rumus matematik tentang LOVE, sementara “kesempatan baik” tiba-tiba muncul seiring hadirnya joke “Suami dan Gadis Penggoda”. Padahal serial lainnya sudah lebih dahulu siap edar. Momentum kan perlu dimaknai dan dimanfaatkan secara lebih, bukan? Ini namanya kesempatan, yang kebetulan saya sudah ada persiapan, meskipun sudah lama, dan boleh juga disebut persiapan yang basi. Jadilah “luck” karena menginspirasi saya untuk menulis serial ini.

3. Love Versus Power

CINTA dalam kajian matematika kan perlu ada penjelasan dan solusi matematisnya. Kalau mau bersusah-susah sedikit untuk jeli, apapun sebenarnya dpt dikaji secara matematis. Krn kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah ilmu exact yg terdampar di dunia manajemen. Orang exact pd umumnya memiliki pola pikir CONVERGEN, krn selalu mempermudah segala sesuatu yg sulit, shg mereka selalu menggunakan formula atau rumus2 jk ingin mendapatkan solusi atas suatu masalah. Contohnya: Einstein merumuskan masalah rumit dlm ilmu fisika “hanya” dengan teori relatifitasnya E=mc2. Begitu pula dg Phytagoras, Archimedes, Kepler, Newton, dll. Hanya mereka kan memang bergelut di bidang yg exact. Jarang sekali fenomena sosial yg solusinya dilakukan dengan pendekatan secara exact. Maka ttg LOVE, saya mencoba utk mencari formulasinya secara matematis, meskipun lebih mudah mengkajinya secara fisis maupun biologis.

Sementara teman2 dr bidang non-exact lebih cenderung ke pola pikir DIVERGEN, maaf, lebih cenderung memperdalam apa yg sebenarnya sederhana. Contohnya: Pancasila yg jumlahnya lima itu dikaji sampai dalam sekali. Saya sendiri suka berpola pikir CONVERGEN maupun DIVERGEN, spy balance, dan tergantung masalahnya

Kembali ke pokok bahasan. LOVE (L) berbanding lurus dg POWER (P), krn L akan mudah didapat oleh orang yg memiliki P besar. P melambangkan status sosial, kekayaan, dll. Memang ada perkecualian, namun tidak banyak. Jika diteliti dugaan saya mengikuti kurva lonceng GAUSS. Ordinary, LOVE memiliki pangsa sekitar 80%. Sementara yg extra-ordinary, baik yg superior maupun inferior memiliki kans 20% dr kajian statistik. Ini hipotesis saya. Uji hipotesisnya, maaf tdk dpt saya sampaikan krn menyita tempat. Sebagai ilustrasi memang ada LOVE yg berhasil yang terjadi tapi merupakan anomali dr formula saya, tp jumlahnya tdk banyak, dimana LOVE dinikmati oleh mereka yg P-nya kurang. Kalau tokh kelihatan banyak itu krn terobsesi oleh dongeng-dongeng Cinderella-Sang Pangeran, Romeo-Juliet, Raramendut-Pranacitra, Layonsari-Jayaprana, Saidjah-Adinda, Siti Nurbaya-Syamsul Bahri, Panji Semirang, dll. Kalau tokh saya harus memberikan apresiasi saya akan memberikannya pd LOVE yg berkibar pd diri Widyawati-Sophan Sophian dan Setyawati-Prabu Salya dlm epos Bharatayudha. Tapi itu kan sample utk mendukung formula saya. Krn terjadi pd mereka yg sama2 memiliki P yg besar?

4. Love Versus Speed

Dalam persaingan apapun, termasuk dalam mendapatkan Love, pasti berlaku hukum ”siapa cepat dia akan lebih berpotensi untuk dapat”. Jika tidak ada upaya yang serius dengan kecepatan (kelajuan) yang prima untuk mendapatkannya pasti akan kalah dengan kompetitor. Orang yang ingin mendapatkan Love, tetapi tidak menunjukkan keinginannya sama sekali secara lebih cepat, atau malah ragu-ragu untuk ”menembak” (istilah anak muda jaman mutakhir untuk menyatakan cinta), maka dia akan membuat yang ”ditembak” akan bingung, dan akan memilih yang lebih pasti dan lebih cepat. Saya kira tentang hal ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut, karena mudah dipahami. Sebenarnya ada aspek lainnya di samping speed (kelajuan atau kecepatan) yaitu acceleration (percepatan), namun hipotesis saya belum sampai ke sana.

Menanggapi masukan Bpk. Thomas Nick, memang benar bahwa Speed itu Distance / Time. karena Speed, Distance, dan Time terhubung secara linear, namun itu jika kita bicara secara ilmu exact murni, dimana pola pikirnya memang wajib CONVERGEN. Tapi yang dibahas ini bukan ilmu exact namun non-exact, sehingga mau tidak mau kita wajib ber”mindset” DIVERGEN, sehingga saya belum sependapat jika equation awal bisa di nyatakan dalam dua variabel bebas saja, yaitu P dan kuadrat dari T, seperti masukan Bpk. Thomas. (Maaf, kebetulan salah satu pendidikan saya adalah dari disiplin ilmu Teknik Sipil, di samping ilmu2 dengan disiplin lain, baik yang exact maupun non-exact, sehingga tidak perlu bertanya kepada temen2 dari Teknik Sipil seperti masukan Bapak. Juga karena saya juga memiliki basis pendidikan non-exact, maka pola pikir saya selalu variatif, kapan diperlukan CONVERGEN, kapan diperlukan DIVERGEN, itulah biangnya. Yang penting kedua pola pikir tersebut dapat memberikan solusi yang cepat, efektif dan efisien, dan benar-benar dapat dipahami dan disepakati). Btw, sangat menarik apa yang Bpk sampaikan sebagai masukan. Masukan Bpk sangat inspiring, energizing, empowering, motivating, exiting, fascinating, exciting and interesting. Karena tiba-tiba kemudian saya mulai berpikir tentang formula dalam Ilmu Teknik Sipil lainnya, khususnya Hidrolika atau Mekanika Fluida yang dapat diformulakan sebagai formula Love juga. Yaitu tentang Formula Debit Air, Q = A x S (Debit, berbanding lurus dengan Luas/Area penampang dan Kecepatan/Speed) serta Formula kedua, Q = V / T (Debit, berbanding lurus dengan Volume, namun berbanding terbalik dengan Waktu/Time). Ini sangat dekat untuk menjabarkan tentang Love. Coba saya akan membuktikannya. Tentu saja saya akan mebuat hipotesisnya, untuk diuji hipotesis.

5. Love Versus Distance

Distance atau jarak, merupakan aspek ketiga yang perlu dicermati. Jujur saja, jika kita memiliki Love, namun memiliki Distance yang besar, sangat rawan terhadap distorsi. Godaan banyak sekali yang menerpa. Jika Distance semakin besar sehingga kesempatan untuk menjadi dekat menjadi lebih sulit, misalnya Distance-nya sampai antar-negara atau antar-benua, kesempatan godaan untuk masuk besar sekali, yang ujung-ujungnya akan membuat Love berpaling jika tidak kuat menghadapi godaan. Kasus tentang hal ini cukup banyak. Yang paling fenomenal adalah banyaknya TKW yang sudah bersuami, yang mengandung anak di luar nikah dengan yang bukan pasangannya di negara tempat dia bekerja, atau banyaknya kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh para istri yang suaminya menjadi TKI di luar negeri, karena menisbikan Love. Mana kuat bagi kebanyakan lelaki jika melihat ada wanita sendirian, jika tanpa dibekali Love atau iman yang kuat. Kasus terakhir, seorang Kapolsek di Jatim digerebeg massa, karena berhubungan dengan wanita yang ditinggal suaminya bekerja sebagai TKI di luar negeri. Belum lagi kasus-kasus yang lain. Pada intinya, semakin jauh Distance, sehingga semakin jarang tatap muka akan lebih sering mengkhianati Love. Dengan kata lain, jika Distance semakin besar, maka Love akan mengecil, atau Love berbanding terbalik dengan Distance.

6. Love Versus Time

Marilah kita jujur. Jika usia perkawinan kita semakin panjang (Time semakin besar), apakah Love kita kepada pasangan kita akan sama magnitute-nya atau besarannya? Ada pemeo yang mengatakan, bahwa jika semakin lama berumah tangga, maka pasangan kita akan semakin dipandang sebagai saudara. Sehingga sex menjadi membosankan Usia rawan bagi perkawinan konon adalah di atas 5 (lima) tahun, karena Love mulai menurun, sehingga rawan terjadi godaan. Memang benar ada pemeo Jawa yang sangat populer: ”witing tresna jalaran saka kulina”, itu jika kita baru mulai memasuki pendekatan untuk mendapatkan Love, atau PROLOG-nya. Tapi pada episode EPILOG, menurut saya, pemeo-nya berubah menjadi: ”witing bubrah jalaran saka mlumah”, karena semakin kita memiliki Time yang panjang, maka sex dengan pasangan semakin membosankan (sex di sini untuk euphemisme, di notasikan dengan kata ”mlumah”). Maka banyak sekali kasus pasangan yang kemudian selingkuh. Ingat, sex adalah kelengkapan atau kesempurnaan Love. Love diakui atau tidak, akan lebih lengkap jika disempurnakan dengan sex. (seperti halnya ”Empat Sehat Lima Sempurna”). Apalagi karena tuntutan yang sangat manusiawi, bahwa sex memiliki fungsi regenerasi atau reproduksi, di samping fungsi rekreasi/relaxasi dan retardasi. Sex yang menyimpang yang tidak didasari Love, hanya berbasis nafsu semata memang banyak, namun itu bukan Love,. karena tidak didasari iman yang kuat. Apalagi jika dari sisi wanita tidak dibekali ”real Love”, hanya dibekali atau modal ingin dapat melakukan Mo-Limo (Lima-M): Macak, Masak, Manak, Mangan, Mlumah), yang kemudian prianya juga hanya berbekal Mo-Limo (Lima-M): Main, Madon, Minum, Madat, dan Maling.

Dengan kata lain, konklusinya Love semakin mengecil jika Time membesar, atau Love berbanding terbalik dengan Time.

Bpk Thomas Nick menyampaikan: ”That’s why banyak pasangan yang setelah pensiun dan akhirnya spend waktu bersama yang lebih banyak (proximity) dan melakukan sesuatu yang disukai bersama (familiarity) merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya”. Itu memang benar. Tapi ingat, bahwa itu terjadi setelah pensiun. Bagaimana jika sebelum pensiun dan masih muda, namun memiliki Time yang panjang dengan Love-nya? Usia pensiun memang membuat ”familiarity” bertambah karena kesepian ditinggal anak-anak yang sudah berumah tangga, juga karena aktifitas menjadi berkurang. Sehingga Love sering muncul, namun konteksnya lebih ke konteks Love bukan sebagaimana Love antar-pasangan lain jenis, namun Love dengan dimensi lain, dimana pasangan sudah kita anggap sebagai saudara, atau sebagai keluarga. Ingat, di depan sudah saya sampaikan, bahwa Love dalam formula saya, adalah Love khusus untuk hubungan antar lawan jenis. Juga ingat fenomena puber kedua, puber ketiga, puber keempat, dan seterusnya, yang lebih dikonotasikan pada ”kegenitan” bukan kepada pasangan kita, yang seolah-olah bermetamorfosa menjadi sesuatu yang umum. Itu jika kita mau jujur. Coba simak, atau tanyakan ke lembaga-lembaga perkawinan, atau psycholog perkawinan, tentang fenomena ini. Data terbesar tentang maraknya perceraian memang terjadi karena Power (ekonomi) yang lemah, namun data tentang adanya perceraian karena Distance atau Time yang besar merupakan ”invisible case” atau ”silence data”.

Itulah kemudian saya mencoba memperkenalkan formula: L = P x S / D x T. Namun demikian, karena formula tersebut masih uji publik, maka saya sangat mengharapkan masukannya, karena memang belum tentu benar.

Terima kasih.

Wass.

Ratmaya Urip



Serial Filosofi Manajemen 1

FILOSOFI MUSIK

Aplikasinya di Dunia Manajemen

(Pendekatan Musik dalam Manajemen)

oleh: Ratmaya Urip *)

Setiap orang boleh memiliki pendapat yang berbeda tentang definisi musik. Namun jika kita jeli, dari sejuta perbedaan dan cara pandang dalam bermusik atau menyelami musik, ada satu esensi dasar yang menurut penulis patut untuk dicermati, yaitu: ”musik adalah suara yang tercipta karena adanya satu atau sederet bauran frekuensi yang berbeda, yang pada umumnya menumbuh-kembangkan harmoni”. (Maaf, jika esensi ini berbeda dengan anda, maupun berbeda dengan beberapa textbook).Ya benar, jika kita merujuk pada esensi musik secara umum, termasuk musik sebagai hiburan, baik yang bemata air dari tangga nada diatonik berbasis solmisasi do, re, mi, fa, sol, la, si do, maupun berbasis chord C, D, E, F, G, A, B, C dan juga yang berbasis pentatonik dengan ji, ro, lu, mo, nem, ji, semuanya adalah deretan frekuensi yang membaur. Tidak peduli itu berasal dari suara kucing mengeong, suara ayam berkokok, suara ikan paus yang melengking mencari pasangannya, suara serigala kutub di tengah hutan tundra di padang salju pada malam hari, suara gelegar bongkahan gunung es yang terjatuh ke laut karena longsor, suara gesekan bambu yang saling bergesek karena tiupan angin, suara rumput yang bergoyang, suara ranting terinjak kaki, suara jengkerik di ladang jagung dan kacang, suara manusia yang berujud acapella, maupun suara alat musik modern yang membuncah, mendayu dan menggelora dari alat musik yang dikelompokkan sebagai perkusi (saron, peking, gambang, kenong, bonang, gong, drum, gendang, rebana, dll), brass (clarinet, saxophone, trombone, dll), alat gesek (biola, cello, rebab, dll), dentingan dawai yang dipetik (gitar, sasando, siter, dll), maupun alat musik yang dipencet atau keyboard (piano, organ, dll).

Untuk memudahkan pengertian, sebenarnya musik adalah sesuatu yang sangat sederhana atau sangat generik, karena esensinya ”hanya” bauran dari 7 (tujuh) nada dasar yang sebenarnya adalah bauran dari 7 (tujuh) frekuensi yang berbeda, jika kita mengkajinya dari ilmu fisika, yaitu..do..re..me..fa..sol..la..si..do!!! Masing-masing memiliki nilai hertz yang berbeda yang membentuk tangga frekuensi atau tangga nada. Namun jika dari yang sangat sederhana tersebut kemudian jatuh dalam pelukan jiwa, genggaman raga, serta sentuhan benak dan hati, ditambah bekal berupa imajinasi, kreatifitas, inovasi, relasi, eksperimen dan referensi, semua dapat berubah menjadi indah dan berarti, yang dapat merungkas onak dan duri, menguatkan nyali dan membesarkan hati, sehingga dapat menghasilkan simpati, empati, maupin rizki dan baiduri. Karena kita dapat menjadikan setiap nada dasar yang merupakan tangga nada tersebut naik atau turun setengah nada dengan kres atau mol, dapat menambah atau menurunkan oktafnya, atau memberi diksi menjadi seperdelapan, seperempat atau setengah ketukan, dan juga dapat membuatnya bertempo allegro, moderato dan lain-lain.

Ya, dari ”hanya” sekedar 7 (tujuh) frekuensi berbeda dapat menggemparkan dunia dengan kekuatannya. ’The Power of Music” dapat menggalang dana untuk bencana, dapat menjadi alat kritik atau satire bagi tiran dan diktator, dapat menjadi penawar dahaga bagi yang sedang mabuk cinta, dapat menjadi sarana upacara maupun ritual, dapat menggelorakan semangat perjuangan termasuk perjuangan olah raga, dapat membela kebenaran, dapat menyuarakan ketidakadilan, dan lain-lain. Asal aplikasi musik disampaikan secara tepat, benar, jujur, adil, terbuka, dan dilakukan oleh mereka yang seharusnya bermusik. Karena jika tidak, musik akan menjadi bumerang dan bernada sumbang jika disampaikan oleh mereka yang bukan seharusnya menyampaikan, atau bukan ahlinya. Dengan kata lain, jika aplikasi musik disampaikan oleh orang yang tidak tahu musik, akan membuat kegaduhan dan kehirukpikukan yang tidak perlu, yang sering mencipta bias. Saran penulis, sebaiknya yang tidak tahu tentang musik (baca: manajemen) lebih baik mendengarkan saja (atau syukur kalau bersedia belajar tentang musik), supaya tidak semakin membikin keruh suasana, yang biasanya menjadi kontra produktif dan berujung pada gagalnya pencapaian goal & objective.

Di tangan ahlinya, musik dapat dikemas secara solo, duo, trio, kuartet, choir, maupun orkestra yang membahana. Di tangan ahlinya musik dapat meniti nada-nada secara crescendo, decrescendo, maupun meza-divorce. Di tangan ahlinya musik dapat menggabungkan sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas menjadi harmoni dan paduan yang indah. Di tangan ahlinya, musik dapat dibawakan mulai dari attack, intro, interlude dan codanya secara mengena. Di tangan ahlinya musik dapat diberikan persepsi dan intrepretasi dengan intonasi, artikulasi, phrasering, dan teknik pernafasan yang prima. Di tangan ahlinya musik dapat menggelorakan dinamika mulai dari forte, mezzo-forte sampai fortíssimo, meski dapat pula berubah menjadi selembut piano, mezzo-piano bahkan sampai pianissimo. Itulah “The Power of Music”.

Sebagaimana halnya dengan musik, maka manajemen memiliki esensi dan makna yang sama dengan musik. Karena dapat berupa solo, duo, trio maupun orkestra. Namun harus diartikulasikan, dipahami, dan diimplementasikan secara berbeda. “The Power of Music” identik dengan “The Power of Management”, karena esensi atau hakekatnya sama-sama berazas pada “The Power of Implementation”.

Dalam manajemen yang “paling generik”, kita ”hanya” dibekali dengan esensi berupa 4 (empat) “nada dasar” dengan frekuensi atau nilai hertz berbeda, yaitu: Planning-Organizing-Actuating-Controlling (P-O-A-C), atau Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A) yang dikenal sebagai Deming Circle, dan lain-lain. Itu malah kurang dari 7 (tujuh) nada dasar dalam musik dengan sistem diatonik, atau 5 (lima) nada dasar musik dengan sistem pentatonik. Kalau tokh kemudian kita dijejali dengan sistem manajemen yang “branded” dan mutakhir seperti TQM, ISO Series, GCG, BSC, MBNQ, Toyota Way, Lean Manufacturing, Six-Sigma, Performance Management System, Prism, Key Performance Indicator Manual, Activity Based Management, Knowledge Management, Tacit Management, CBHAMS, Analytical Hierarchy Process (AHP), Analytical Network Process (ANP), Service Excellence, Primavera, dan lain-lain, itu sebenarnya memiliki esensi yang sama dengan sistem manajemen yang paling generik sekalipun. Yang penting ádalah bagaimana “The Power of Implemention” dapat menjadi infrastruktur atau kapital bagi manajemen. Asal “The Music of Management” memperoleh pemain musik dan/atau conductor yang tepat. Supaya harmoni dan keindahan yang ingin dicapai dapat menjadi nyata dan bermakna.

Sebagai contoh, sudut pandang atau ilustrasi lain, DNA boleh beda dengan struktur atau sistem yang kompleks, namun esensinya polimer DNA memiliki tiga komponen utama yang sama, yaitu: gugus fosfat, gula deoksiribosa dan basa nitrogen. Di samping itu sangat jelas, bahwa DNA terdiri dari dua rantai, rantai yang satu merupakan konjugat dari rantai pasangannya. Dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangannya akan mudah dibentuk. (Aplikasinya dalam Manajemen, silakan baca: Filosofi DNA dan Filosofi Atom).

Kembali ke topik bahasan. Di dunia musik (baca: manajemen) kita wajib mengetahui apa, siapa, untuk apa & siapa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa kita harus bermusik (baca: mengelola). Kapan kita mengelola secara crescendo, kapan harus decrescendo atau meza-divorce. Dimana kita harus acapella, mengapa harus diiringi orkestra atau harus solo atau trio. Juga dalam manajemen kita harus mengetahui bagaimana caranya meniti deretan nada dengan pitch control atau intonasi yang prima, supaya memenuhi standar yang ditetapkan.

Dalam manajemen, seperti halnya musik kita harus pandai menyuarakan nada-nada dengan penuh harmoni, tidak fals atau sumbang yang dapat membuat pendengarnya menjadi tersiksa. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita perlu sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas, serta membuat warna suara atau timbre yang berbeda tersebut menjadi harmoni yang indah, penuh keseimbangan yang benar-benar tanpa cela. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat memberikan artikulasi, intonasi dan phrasering yang tepat. Apakah kita harus meniru Bimbo, Opick, Ernie Johan, Engelbert Humperdinck, Andy William, ST 12, D’Massive, Kris Dayanti, Siti Nurhaliza, Whitney Houston, Shania Twain, George Groban, Christopher Abimanyu, Luciano Pavaroti, Shaggy Dog, John Lennon, atau Mick Jagger? Apakah anda akan mendendangkan lagu cengeng mendayu-dayu, atau lagu berirama cadas, semuanya tergantung anda, karena tergantung dari kemampuan anda. Termasuk jika anda hanya dapat menyanyikan lagu anak “Bintang Kecil” dan “Balonku” atau menyanyi rap. Syukur jika anda memiliki teknik vokal atau teknik bermain musik yang unggul, gaya yang khas, dan kemampuan pendukung lainnya, yang dapat menjadi personal brand anda, sebab itu akan lebih dapat memberikan banyak keuntungan bagi anda. Yang juga patut dicatat, dalam bermusik anda wajib mengetahui dan menelaah, apakah musik yang anda sajikan sesuai atau tidak dengan keinginan dan kedahagaan audiences anda. Jika anda bermusik hanya untuk diri anda, tentu saja berbeda jika anda harus bermusik dengan audiences yang memiliki selera atau warna musik tertentu. Anda tentu saja tidak boleh lepas dari cengkeraman selera mereka, jika ingin mendapatkan apresiasi atau “standing ovation”.

Dalam manajemen juga ada frekuensi atau nilai hertz yang berbeda, yang dituntut untuk dapat saling memberikan harmoni atau dapat menciptakan interferensi yang positif sehingga tercipta sinergi dari energi dan nurani yang tersaji. Dalam manajemen, pandai-pandailah kita untuk memilih kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat bermusik secara minor, mayor, atau kombinasi keduanya. Juga kita harus pandai melakukan atau menikmati salah satu atau lebih dari jenis-jenis musik reggae, jazz, blues, country, rock ’n roll, keroncong, dangdut, melayu, stambul, gambus, maupun jenis musik lainnya.

Seandainya anda hanya dapat bermusik (baca: mengelola) yang paling generik dengan hanya mampu meniti nada-nada..do..re..mi..fa..sol..la..si..do, lakukanlah itu dengan cara dan gaya anda. Asal jangan sampai sumbang dalam menyajikannya. Karena anda telah benar-benar bermusik. Daripada anda menyanyikan lagu seriosa yang menguras kemampuan teknik vokal berupa interpretasi, dinamika, artikulasi, intonasi, tempo, teknik pernafasan, dan phrasering yang prima, namun bernada sumbang. Lebih baik anda berteriak …aaa..uuu..ooo, seperti Tarzan sambil bergelayutan di akar yang menjulur di antara pepohonan di lebatnya belantara, karena itu ternyata secara efektif dan efisien dapat sampai pada tujuan untuk memanggil sahabat-sahabat binatangnya, karena akhirnya semua binatang sahabatnya di seluruh belantara dapat mendengar suaranya dan dapat hadir untuk berkumpul merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sesuatu. Karena teriakan aaa…uuu…ooo, dari Tarzan adalah musik generik paling alami dalam kehidupan, seperti halnya suara deburan ombak yang memecah di pantai, kicau paksi di antara embun pagi, desiran pawana siang di antara rumput sabana, kepak sayap burung pemakan bangkai di padang prairi, suara katak ketika hujan atau senja tiba, suara perkutut dan cucak rawa di pendapa atau pringgitan kabupaten maupun rumah gedongan, atau suara tangis bayi ketika baru lahir.

Demikian juga dalam manajemen, jika anda hanya mampu melakukan aktifitas manajerial secara generik, atau juga hanya yang alami, lakukanlah itu secara benar dan benar-benar dilakukan, daripada anda memilih sistem manajemen yang “branded”, namun anda lakukan tanpa pemahaman yang benar, sehingga banyak disturbsi, distorsi dan deviasi.

Berlakukan sistem manajemen yang “branded” jika leadership dan kemampuan anda sudah cukup untuk mengajak orang-orang anda dalam organisasi untuk melaksanakan variasi atau kombinasi dari largo, adagio, moderato, vivace maupun presto. Dan akan lebih baik lagi jika anda mampu untuk membawa organisasi anda menuju con amore, con brio, con fiesto, con espressione, con dolore maupun con maestoso. Juga kapan harus legato, marcato, staccato, atau rubato.Sementara untuk mencapai nada tinggi (target yang tinggi), sementara anda tidak mampu, pilihlah falcetto. Jika anda memang benar-benar mampu bermusik (baca: mengelola) pastilah anda tahu caranya untuk melakukan transposisi atau modulasi, serta memanfaatkan resonansi. Pastikan anda mengambil keputusan untuk melakukan ritenuto, accelerando atau tempo primo.

Lakukan semuanya dengan menggunakan keseimbangan antara teori dan praktek. Jangan dewa-dewakan teori, jangan lecehkan praktek. Karena teori tanpa praktek itu omong kosong, sementara praktek tanpa teori itu ngawur. Karena pada dasarnya teori itu bermata air dari proyeksi empiris banyak praktek. Bermusik (baca: mengelola) hanya dengan teori tanpa praktek tidak akan dapat dinikmati, sementara bermusik dengan praktek saja tanpa teori tidak akan pernah membuat kita lebih maju karena tanpa continual improvement, yang akan dapat membawa kita memenangkan persaingan.

Semuanya semata-mata untuk membangkitkan seluruh pantat penonton beranjak dari kursinya untuk memberikan ”standing ovation” bagi musik anda. Yang terpenting, jangan sampai orang mengatakan: ”Wah…ternyata suara atau permainan musik anda merdu, indah atau luar biasa sekali…! Namun akan lebih merdu lagi jika anda …bersedia untuk DIAM!!!” Karena suara atau permainan musik yang fals atau sumbang anda, akan membuat orang-orang mengernyitkan dahi, bahkan mungkin muak, mencemooh, atau mengganggu anda dengan suitan-suitan panjang melecehkan. Beruntunglah anda jika tidak disuruh turun dari panggung musik anda. Anda mungkin saja berpedoman, biar saja anjing menggonggong, kafilah tetap akan berlalu. Namun bagaimana jika anjingnya menggigit, tidak hanya menggonggong? Tanpa anda sadari jika anda fals atau sumbang akan membikin kegaduhan manajerial, yang akan menggerogoti kapitalisasi manajerial anda, yang dapat bermuara pada kegagalan pencapaian goal dan objective anda.Yang terpenting dan patut dicatat: “suara fals atau sumbang anda, tidak akan pernah lebih merdu atau lebih enak didengar daripada seandainya anda DIAM !!!”

Namun semuanya itu adalah pilihan! Tergantung mana yang akan dipilih! Yang pasti semuanya memiliki jalan masing-masing.

Yang pasti, musik sulit dan tidak akan pernah menjadi lampau, bahkan akan semakin tumbuh dan berkembang seperti halnya manajemen. Karena musik merupakan bagian dari seluruh masa, termasuk masa depan. Demikian juga halnya dengan manajemen yang wajib ada di seluruh masa. Untuk itu bertabiklah pada masa, supaya anda tidak dicerca oleh masa atau waktu. Juga bertobatlah untuk tidak bermusik secara fals atau sumbang, supaya harmoni yang prima tetap ada dan berada di jalurnya. Sehingga tepuk tangan yang membahana di tengah-tengah jutaan manusia yang tiba-tiba bangkit dari duduknya, berdiri, untuk memberikan apresiasi atas musik anda, menggelegar di setiap wahana dimanapun anda berada. Karena bagaimanapun juga, cara anda bermusik identik dengan cara anda mengelola.

Bagaimana caranya melakukan aktifitas manajerial dengan pendekatan pada filosofi musik? Ikutlah workshop-nya untuk 5 (hari) hari pelaksanaan! Karena yang tertulis di atas hanyalah kulitnya, yang “hanya” setara dengan 1 (satu) hari seminar. Juga karena manajemen adalah seni untuk dapat diaplikasi dan dinikmati, bukan hanya ilmu atau pengetahuan an sich yang berujud teori maupun aplikasi. Yang pasti keduanya memang wajib untuk bertabik pada apresiasi meski tanpa atau dengan audisi. Bukan hanya baka, namun juga fana. Karena baik musik maupun manajemen sama-sama universal. Yang seharusnya bebas dari belenggu apapun, jika tidak ingin ditinggal oleh ruang dan waktu, serta dimensi lain di atasnya, jika memang masih ada.

Terima kasih.

Salam Manajemen.

Wass.WW.

ooOoo

Ibu Kota Negara Mesti Pindah?

Oleh: Ratmaya Urip*)

Wacana lama yang pernah menyeruak di era Presiden Soekarno kembali muncul (Jawa Pos, Sabtu, 27 Februari 2010 di halaman utama dan Jawa Pos, Minggu, 28 Februari 2010 di Kolom Mr Pecut). Di era Presiden Soekarno memang pernah muncul gagasan untuk memindah ibu kota negara ke Palangkaraya, Kalteng atau Purwokerto, Jateng. Di era Presiden Soeharto pun pernah muncul gagasan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Jonggol, Jabar, yang membuat harga-harga tanah di wilayah tersebut melonjak secara drastis, namun sampai akhir masa pemerintahannya gagasan tersebut menguap begitu saja. Di zaman awal kemerdekaan, sebenarnya ibu kota negara sempat pindah ke Yogyakarta, namun sifatnya darurat karena situasi pada waktu itu memang mengharuskan demikian.
Dalam konteks kekinian, nampaknya gagasan tersebut perlu benar-benar didalami dan dicermati. Sebagai wacana atau boleh disebut sebagai embrio program jangka panjang, gagasan tersebut cukup mengurangi kedahagaan akan hadirnya mimpi tentang akan terciptanya tata ruang dan tata wilayah yang mendekati ideal di republik ini. Jika dapat disejajarkan, maka jika gagasan tersebut dapat terlaksana, ini identik dengan apa yang telah dilakukan oleh Daendels ketika membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan di abad 19 yang lalu, atau gagasan untuk membangun Jembatan Selat Sunda, karena sangat spektakuler dan monumental.
Sejak lama dalam benak penulis memang telah pekat dengan pertanyaan, kenapa ibukota negara atau ibukota politik dari Indonesia tidak dipisahkan dengan ibukota bisnis atau ibukota ekonominya, seperti Inggris, Jerman, Italia, Rusia, Australia, China, India, Canada, atau Amerika Serikat, dan lain-lainnya, sehingga hiruk-pikuk politik tidak berimbas ke hiruk pikuk bisnis, dan sebaliknya, atau bencana tidak selalu menghantamnya. Supaya nilai tambah yang direncanakan tidak terdistorsi oleh hal-hal yang tidak perlu, dan supaya kemampuan bersaing bangsa menjadi semakin tinggi?
Semua orang tahu bahwa ibu kota politik Inggris adalah London, sementara ibukota bisnisnya di Liverpool dan Manchester. Ibukota politik Jerman adalah Berlin, sementara ibu kota industrinya Frankfurt, Hamburg, dan Stuttgart. Ibukota politik Italia ada di Roma, sementara ibukota bisnisnya ada di Milan dan Turin. Ibukota politik Rusia di Moskow, sementara ibukota bisnisnya di wilayah Caucasus. Ibukota politik Australia adalah Canberra, sementara ibukota bisnisnya adalah Sidney dan Melbourne. Ibukota politik China ada di Beijing, namun ibukota bisnisnya ada di Shanghai dan Guangzhou. Ibukota politik India ada di New Delhi, sementara ibukota bisnis ada di Mumbai. Ibukota politik Canada ada di Ottawa, sementara ibukota bisnisnya ada di Montreal dan Toronto. Juga ibukota politik Amerika Serikat adalah Washington DC, sementara ibukota bisnisnya sudah terspesialisasi yang menyebar ke seluruh negara bagian. Ibukota perdagangan dan keuangan di New York, ibukota otomotif di Detroit, ibukota penerbangan di Seattle, ibukota minyak di Houston, ibukota hiburan di Los Angeles (baca: Hollywood) dan Las Vegas, ibukota wisata di Miami, ibukota pertambangan di Appalachia, ibukota pendidikan di Boston dan New England, ibukota pertanian di California dan Pennsylvania, ibukota maritim di San Diego, dan sebagainya.
Melihat ibukota politik atau pusat pemerintahan seperti Cairo, Roma, Washington DC, Beijing, Canberra, London, Paris, Berlin, Ottawa, Kualalumpur, New Delhi, Beijing, Riyadh dan lain-lain yang semuanya nyaman, tenang, serba disiplin, serba teratur dan jauh dari hiruk pikuk bisnis (karena memang ibukota bisnis tidak di situ), maka pastilah pemimpin-pemimpin politik dapat lebih berpikir tenang, lebih dapat mencurahkan tenaganya untuk kemakmuran rakyat, kemajuan bangsa dan semua hal yang positip lainnya. Jauh dari godaan untuk berkolusi dengan para pebisnis (?). Mereka lebih dapat meng-upgrade atau mentransformasikan dirinya untuk menjadi negarawan, tidak hanya sekedar politisi. Presidennya tidak perlu menyusuri jalan busway karena kebanjiran, seperti di Indonesia. Mungkin karena ibu kota politiknya terdistorsi oleh aktifitasnya sebagai ibu kota ekonomi, maka para pemimpin bangsa jadi bising dan senewen, sehingga peri lakunya menjadi seperti sekarang ini. Korup, narsistis, mendahulukan kepentingan diri sendiri dan golongan, serta sering arogan.
Juga patut untuk dicermati, tidak seperti halnya dengan Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, yang semuanya menempel di bibir pantai, hampir seluruh negara maju memiliki ibukota politik yang berada di pedalaman, atau jauh dari garis pantai, bahkan di pegunungan, untuk memudahkan sistem drainasi. Ingat, seluruh ibukota politik ini semuanya jauh dari garis pantai, seperti London (Inggris), Paris (Perancis), Madrid (Spanyol), Berlin (Jerman), Moskow (Rusia), Roma (Italia), Beijing (China), Riyadh (Arab Saudi), New Delhi (India), Ottawa (Canada), Mexico City (Mexico), dan lain-lain. Bahkan ibukota negara tetangga dekat kita, Putra Jaya sebagai pengganti Kuala Lumpur-pun tidak berani terlalu dekat dengan garis pantai.
Pengalaman telah memberikan data dan fakta, bahwa letak kota di tepi pantai, telah menyebabkan sejuta masalah antri atau malah secara frontal menghantam kehidupan kota, dan selanjutnya menjadi bencana kemanusiaan. Contohnya adalah banjir. Banjir terjadi karena daya tampung lahan berkurang karena padatnya pemukiman yang menyebabkan resapan air berkurang karena padatnya bangunan. Banjir juga terjadi karena letak kota di pesisir yang nota bene daerahnya rendah, sehingga membuat air hujan atau banjir sukar untuk run-off karena muka air laut sama dengan muka air di darat. Juga air banjir sulit untuk infiltrasi ke dalam tanah, karena muka air tanah sangat tinggi dan sudah jenuh air. Masalah lain di kota yang letaknya di tepi pantai adalah banyaknya penyakit malaria, demam berdarah, dan muntaber. Ini terjadi karena letak kota di pesisir telah menyulitkan drainasi, sehingga nyamuk sebagai penyebab penyakit mudah berkembang biak. Drainasi dapat juga menyebabkan banjir karena seringnya saluran drainasi tertutup sampah. Belum lagi masalah kemacetan lalu lintas, karena semakin berkurangnya daya tampung dan daya dukung kota karena kepadatan dan hiruk pikuk kota yang terjadi yang diakibatkan campur-aduknya fungsi kota sebagai ibu kota politik dan ibu kota bisnis. Infrastuktur kota, khususnya jalan dan drainasi sering rusak karena tingkat keasaman yang tinggi serta ketidakmampuan menanggung beban yang lebih besar daripada kapasitasnya, dan sebagainya.
Faktanya, upaya apapun untuk mengatasi banjir, kemacetan lalu lintas, menghambat laju serangan penyakit, mengurangi laju urbanisasi dan lain-lain sulit untuk berhasil, meskipun seluruh daya dan dana sudah dikerahkan. Bahkan semakin berat saja masalahnya. Khusus upaya mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dengan pembangunan busway, ringroad, kereta jabotabek, kawasan khusus untuk lalu lintas dengan tiga penumpang atau lebih, bahkan dengan pembangunan subway, MRT, pengenaan retribusi bagi kendaraan yang lewat di jalan protokol, maupun double deck traffic, nampaknya akan sia-sia saja.
Kota-kota di Indonesia, khususnya kota-kota besarnya memang rakus. Semuanya ingin berpolitik sekaligus berbisnis di segala bidang, sehingga aktifitasnya menumpuk di satu kota, tanpa ‘core competency’, sehingga wajarlah jika kesemrawutan dan ketidaknyamanan kota, termasuk banjir, kemacetan lalu lintas, demo-demo politik maupun buruh, wabah-wabah penyakit memorak-porandakan sendi-sendi ekonomi dan kehidupan. Dengan memilih core competency-nya sendiri seperti Bali, atau Yogyakarta, maka kemakmuran akan lebih mudah tercapai, karena fokus.
Mendengar atau menyimak adanya kota di Indonesia, yang ingin mengangkangi seluruh aktifitas kehidupan, seperti industri, pariwisata, perdagangan, maritim, budaya, dan lain-lain, penulis merasa geli, karena menunjukkan bahwa kota tersebut tidak fokus.
Bagaimana dengan Ibu Kota Propinsi?
Tulisan di atas baru tinjauan antarnegara. Bagaimana dengan tingkat propinsi atau negara bagian? Contoh yang mudah adalah Amerika Serikat (Maaf, penulis hanya menyampaikan contoh yang baik-baik saja dari negara adidaya tersebut, sementara yang kontroversial, seperti invasi ke negara berdaulat Irak, serta sikap ambivalensi di Palestina, serta rasialisme yang masih ada, dan lain-lain, penulis tidak begitu menyukainya).
Di Amerika Serikat, hampir seluruh ibukota politik negara bagian, yang penulis identikkan dengan propinsi di Indonesia, ternyata juga terpisah dengan ibukota bisnis negara bagian tersebut.
Contohnya, ibukota bisnis negara bagian New York adalah New York City, sementara ibukota politik (pusat pemerintahan) adalah Albany. Ibukota bisnis California adalah Los Angeles, San Fransisco dan San Diego, sementara ibukota politik (pusat pemerintahan) di Sacramento, (bukan San Fransisco seperti yang disampaikan Ibu Sirikit Syah dalam tulisan beliau “Sepuluh Kebutuhan Warga Surabaya” di Jawa Pos, Selasa, 23 Februari 2010), yang “hanya” kota terbesar ke tujuh di California. Ibukota bisnis Texas ada di Houston, sementara ibukota politik ada di Austin. Juga negara bagian Florida, bukannya Miami atau Key West sebagai pusat pemerintahan, tapi malah kota yang lebih kecil, Tallahassee. Semuanya ada di pedalaman, bukan di bibir pantai. Demikianlah, banyak negara bagian yang jumlahnya 50 (lima puluh) itu ternyata tidak memilih ibukota politiknya sama dengan ibukota bisnisnya, dengan kata lain pusat pemerintahan bukan di kota terbesar di wilayahnya, atau banyak kota-kota besar di setiap negara bagian yang bukan menjadi ibukota politik negara bagian tersebut. Dari 50 negara bagian, mungkin kurang dari 10 negara bagian yang “terpaksa” menempatkan ibu kota pemerintahan di kota-kota terbesar di wilayahnya, di antaranya Alaska di Juneau, Georgia di Atlanta, Hawaii di Honolulu, Colorado di Denver, Massachusetts di Boston, Oklahoma di Oklahoma City, dan Utah di Salt Lake City. Ini berbeda dengan Indonesia, yang dapat dipastikan, bahwa ibukota politik dari suatu propinsi pasti dikangkangi oleh kota-kota besarnya, yang sekaligus sebagai ibukota bisnis/ekonomi, dan ibukota seluruh aktifitas. Maka tentu saja segudang masalah pasti akan muncul, termasuk Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, dan sebagainya. Bagaimana dengan kota-kota tersebut? Apakah sebagai ibu kota propinsi dengan segala permasalahannya yang kompleks saat ini sudah saatnya dipindahkan ke tempat lain?
Apresiasi perlu penulis sampaikan kepada PT Telkom Tbk, PT Kereta Api (Persero), PT Pos Indonesia, yang sudah sejak lama memusatkan aktifitas bisnisnya di Bandung, meskipun nampaknya masih setengah hati karena akhirnya tidak dapat dihindari bahwa pada kenyataannya pemusatan aktifitas masih di Jakarta, karena ketergantungan dengan regulator, konsumen maupun bisnis-bisnis lain yang masih berpusat di Jakarta. Juga penghargaan kepada Jawa Pos yang telah memusatkan aktifitas bisnisnya tidak di Jakarta, meski menurut penulis sebaiknya juga jangan di Surabaya. Juga apresiasi kepada Citilink (Surabaya) dan PT Merpati Nusantara (Makassar) yang mulai memindahkan pusat pengendalian bisnisnya ke luar Jakarta.
Jika menyimak fakta, memang hanya sedikit negara yang pernah memindahkan ibu kota negaranya karena alasan tertentu, seperti Pakistan yang pernah memiliki kota-kota Karachi dan kemudian Rawalpindi sebagai ibukota sebelum Islamabad, ibu kota yang sekarang. Juga Brazil yang pernah memiliki Rio de Janeiro sebelum pindah ke Brasilia. Namun gagasan untuk memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke tempat lain yang lebih representatif nampaknya perlu dicermati sebagai alternatif untuk meninggalkan segala masalah. Juga gagasan untuk memindahkan sejumlah ibu kota propinsi, khususnya yang masalahnya semakin berat.
Biarlah Jakarta menjadi ibukota bisnis seperti New York, Los Angeles, Frankfurt, Shanghai, Sidney, Liverpool, Mumbai, Toronto, dan lain-lain, yang hiruk pikuk dengan aktifitas bisnisnya, sementara ibukota negara atau ibukota politik, kita pilih yang damai dan santun, seperti Beijing, Washington DC, Canberra, London, Paris, Ottawa, Kuala Lumpur, Riyadh, New Delhi, Cairo, dan lain-lain, yang semuanya berada jauh di pedalaman, bukan di bibir pantai.
Barangkali banyak yang mencibir tulisan ini, mengingat bahwa tulisan ini telah mengabaikan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Namun orang sering lupa bahwa ketika Daendels membangun Jalan Pos Anyer-Panarukan sepanjang 1000 km lebih dari satu abad yang lalu, yang ketika itu yang melewatinya mungkin hanya satu kuda atau satu pedati per minggu (karena waktu itu belum ada mobil), akan menjadi seperti sekarang ini, menjadi jalan paling padat se Indonesia, atau bahkan jalan paling padat se Asia.
Orang juga sering lupa, wilayah wild-wild west atau pantai barat Amerika Serikat, satu setengah abad yang lalu adalah wilayah tempat jin buang anak, namun dengan keberanian yang luar biasa, relatif tanpa biaya (karena pada waktu itu semua orang tertarik pindah ke wilayah barat yang kosong secara swakarsa), maka kemudian dapat berdiri kota-kota San Diego, Los Angeles, San Fransisco, Las Vegas, Denver. Portland, Seattle, dan lain-lain.
Juga orang lupa kalau Ir. Ciputra tidak menyulap kawasan rawa-rawa Ancol yang angker, mungkin sampai sekarang kita tidak akan pernah merasakan serunya naik Gondola dan Tornado, atau merasakan indahnya Pantai Festival.
Jadi kuncinya adalah kemauan dan keberanian, yang kemudian di-cascade atau di-deploy, menjadi lebih operasional dan transaksional, serta dijalin secara transformasional. Karena keberanian dan kemauan hanyalah budaya atau lebih tepatnya sikap mental yang menjadi dasar dalam menjabarkan strategi untuk tercapainya tujuan.
ooOoo

*) Catatan:
Tulisan ini telah dimuat oleh harian Jawa Pos edisi, Senin, 1 Maret 2010, rubrik Opini halaman 4 bawah, maupun di cyber newspaper-nya. Namun pemuatan dengan banyak editing dari Redaksi Jawa Pos, telah mengurangi pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Tulisan ini adalah tulisan asli sebelum proses penyuntingan. Terima kasih.

Keunggulan Bersaing Bangsa Dalam Perspektif Antropologi Bisnis

Oleh: Ratmaya Urip*)
ABSTRAK

Indonesia dikenal memiliki keunggulan komparatif (“comparative advantage”) berupa sumber daya alam yang melimpah yang terkandung di bumi, laut dan udaranya, dengan kekayaan tanah yang subur yang membentang bak zamrud yang membentang di khatulistiwa, subur makmur, “gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharjo”, “bukan lautan hanya kolam susu”, dan lain sebagainya, namun kesejahteraan yang didambakan seluruh rakyatnya tak juga kunjung tiba.

Selepas dari penjajahan politik, sejak jaman kemerdekaan, khususnya setelah era orde baru, bahkan era orde reformasi, bangsa Indonesia harus kembali dalam cengkeraman penjajah, meski dalam bentuk yang baru, yaitu penjajahan ekonomi. Setelah lebih dari 65 tahun kemerdekaan, modal-modal asing menguasai hampir seluruh lini ekonomi bangsa. Itu semua karena bangsa Indonesia tidak memiliki kemampuan bersaing dalam percaturan bisnis dunia, sehingga keterpurukan sangat akrab dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesejahteraan (“welfare”) dan kemakmuran (“prosperity”), semakin menjauh dari bangsa Indonesia. Sangat paradoks, karena miskin di negara yang kaya raya, seperti ayam mati kelaparan di lumbung padi. Kondisi itu sampai saat ini belum tahu kapan berakhirnya.

Ketergantungan yang tinggi dari pihak luar dan ketidakberdayaan yang ”acute”, dengan daya saing yang lemah, menyebabkan kekayaan bangsa yang jelas-jelas ada dan nyata, tidak dapat dimanfaatkan oleh bangsa untuk menyejahterakan dan memakmurkan dirinya sendiri. Pasti ada yang salah dalam mengelolanya. Disadari atau tidak, salah urus (“miss-management”) nampaknya sudah terjadi sejak awal berdirinya bangsa. Hal tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Bangsa ini nampaknya tidak memiliki keunggulan kompetitif (“competitive advantage”) sehingga keunggulan komparatif (“comparative advantage”) yang dimilikinya secara melimpah, ternyata tidak ada artinya bagi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Belum lagi jika kita bicara tentang inferioritas bangsa yang accut, jauh dari semangat superioritas, esensi bagi tercapainya semangat untuk pencapaian keunggulan bersaing.

Pencapaian Keunggulan Bersaing Bangsa dalam Perspektif Antropologi Bisnis, dimana itu merupakan hal yang baru dan tidak ada yang menyentuhnya sama sekali sampai dengan saat ini, merupakan jawaban yang paling baru untuk menjawabnya.

Kata kunci : 
Inferioritas, kesejahteraan (“welfare”) dan kemakmuran
(“prosperity”), keunggulan komparatif (“comparative advantage”), keunggulan kompetitif (“competitive advantage”), salah urus (“miss-management”),
———————————————————

Ratmaya Urip,*)
adalah pemerhati, pelaku serta konsultan untuk berbagai aktifitas stratejik, manajerial, taktikal, dan operasional di bisnis industri & jasa bidang manufaktur, konstruksi dan pertambangan. Saat ini adalah Fungsionaris Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia), Pembina & Pendiri Quality Network Indonesia, dan mantan Pengurus Ikatan Ahli Pracetak-Prategang Indonesia (IAPPI) Cabang Jatim Periode 1 . 
Selain itu adalah Host dan co-Producer di Radio Suara Surabaya 100FM (www.suarasurabaya.net klik online atau on demand) selama 16 tahun untuk “weekly program”: “Solusi Manajemen Bisnis”/”Smart Solution”

Notes:
1.Tulisan ini berwujud makalah
2.Materi ini sudah pernah disampaikan di :
= Program Magister Manajemen Universitas Airlangga (MM-Unair), Surabaya,
= Program Magister Manajemen Teknologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya,
= Jurusan Antropologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya,
= Forum “Human Capital Summit” Telkom Group, Seluruh Indonesia di Novotel Hotel, Bogor.
3.Materi ini juga dikirimkan ke Jurnal ilmiah salah satu penerbitan Perguruan Tinggi di Surabaya, serta di kirim pula ke milis Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia)