Serial Filosofi Manajemen
(1):
FILOSOFI MUSIK
Aplikasinya di Dunia Manajemen
(Pendekatan Musik dalam Manajemen)
Oleh: Ratmaya Urip *)
Setiap orang
boleh memiliki pendapat yang berbeda tentang definisi musik. Namun jika kita
jeli, dari sejuta perbedaan dan cara pandang dalam bermusik atau menyelami
musik, ada satu esensi dasar yang menurut penulis patut untuk dicermati, yaitu: musik adalah
suara yang tercipta karena adanya satu atau sederet bauran frekuensi yang
berbeda, yang pada umumnya menumbuh-kembangkan harmoni. (Maaf,
jika esensi ini berbeda dengan anda, maupun berbeda dengan beberapa textbook).
Ya benar, jika kita merujuk pada esensi musik secara
umum, termasuk musik sebagai hiburan, baik yang bemata air dari tangga nada
diatonik berbasis solmisasi do, re, mi, fa, sol, la, si do, maupun berbasis chord
C, D, E, F, G, A, B, C dan juga yang berbasis pentatonik dengan ji, ro, lu, mo,
nem, ji, semuanya adalah deretan frekuensi yang membaur. Tidak peduli itu
berasal dari suara kucing mengeong, suara ayam berkokok, suara ikan paus yang
melengking mencari pasangannya, suara serigala kutub di tengah hutan tundra di
padang salju pada malam hari, suara gelegar bongkahan gunung es yang terjatuh
ke laut karena longsor, suara gesekan bambu yang saling bergesek karena tiupan
angin, suara rumput yang bergoyang, suara ranting terinjak kaki, suara
jengkerik di ladang jagung dan kacang, suara manusia yang berujud acapella,
maupun suara alat musik modern yang membuncah, mendayu dan menggelora dari alat
musik yang dikelompokkan sebagai perkusi (saron, peking, gambang, kenong,
bonang, gong, drum, gendang, rebana, dll), brass (clarinet,
saxophone, trombone, dll), alat gesek (biola, cello, rebab, dll), dentingan
dawai yang dipetik (gitar, sasando, siter, dll), maupun alat musik yang
dipencet atau keyboard (piano, organ, dll).
Untuk memudahkan pengertian, sebenarnya musik adalah
sesuatu yang sangat sederhana atau sangat generik, karena esensinya ”hanya”
bauran dari 7 (tujuh) nada dasar yang sebenarnya adalah bauran dari 7 (tujuh)
frekuensi yang berbeda, jika kita mengkajinya dari ilmu fisika,
yaitu..do..re..me..fa..sol..la..si..do!!! Masing-masing memiliki nilai hertz
yang berbeda yang membentuk tangga frekuensi atau tangga nada. Namun jika dari
yang sangat sederhana tersebut kemudian jatuh dalam pelukan jiwa, genggaman
raga, serta sentuhan benak dan hati, ditambah bekal berupa imajinasi,
kreatifitas, inovasi, relasi, eksperimen dan referensi, semua dapat berubah menjadi
indah dan berarti, yang dapat merungkas onak dan duri, menguatkan nyali dan
membesarkan hati, sehingga dapat menghasilkan simpati, empati, maupin rizki dan
baiduri. Karena kita dapat menjadikan setiap nada dasar yang merupakan tangga
nada tersebut naik atau turun setengah nada dengan kres atau mol, dapat
menambah atau menurunkan oktafnya, atau memberi diksi menjadi seperdelapan,
seperempat atau setengah ketukan, dan juga dapat membuatnya bertempo allegro,
moderato dan lain-lain.
Ya, dari "hanya" sekedar 7 (tujuh) frekuensi
berbeda dapat menggemparkan dunia dengan kekuatannya. "The Power of
Music" dapat menggalang dana untuk bencana, dapat menjadi alat kritik atau
satire bagi tiran dan diktator, dapat menjadi penawar dahaga bagi yang sedang
mabuk cinta, dapat menjadi sarana upacara maupun ritual, dapat menggelorakan
semangat perjuangan termasuk perjuangan olah raga, dapat membela kebenaran,
dapat menyuarakan ketidakadilan, dan lain-lain. Asal aplikasi musik disampaikan
secara tepat, benar, jujur, adil, terbuka, dan dilakukan oleh mereka yang
seharusnya bermusik. Karena jika tidak, musik akan menjadi bumerang dan bernada
sumbang jika disampaikan oleh mereka yang bukan seharusnya menyampaikan, atau
bukan ahlinya.
Dengan kata lain, jika aplikasi musik disampaikan oleh
orang yang tidak tahu musik, akan membuat kegaduhan dan kehirukpikukan yang
tidak perlu, yang sering mencipta bias. Saran penulis, sebaiknya yang tidak
tahu tentang musik (baca: manajemen) lebih baik mendengarkan saja (atau syukur
kalau bersedia belajar tentang musik), supaya tidak semakin membikin keruh
suasana, yang biasanya menjadi kontra produktif dan berujung pada gagalnya
pencapaian goal & objective.
Di tangan ahlinya, musik dapat dikemas secara solo, duo,
trio, kuartet, choir, maupun orkestra yang membahana. Di tangan ahlinya
musik dapat meniti nada-nada secara crescendo, decrescendo, maupun
meza-divorce. Di tangan ahlinya musik dapat menggabungkan sopran,
mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas menjadi harmoni dan
paduan yang indah. Di tangan ahlinya, musik dapat dibawakan mulai dari attack,
intro, interlude dan codanya secara mengena. Di tangan ahlinya musik
dapat diberikan persepsi dan intrepretasi dengan intonasi, artikulasi, phrasering,
dan teknik pernafasan yang prima. Di tangan ahlinya musik dapat menggelorakan
dinamika mulai dari forte, mezzo-forte sampai fortíssimo, meski
dapat pula berubah menjadi selembut piano, mezzo-piano bahkan sampai pianissimo.
Itulah "The Power of Music".
Sebagaimana halnya dengan musik, maka manajemen memiliki
esensi dan makna yang sama dengan musik. Karena dapat berupa solo, duo, trio
maupun orkestra. Namun harus diartikulasikan, dipahami, dan diimplementasikan
secara berbeda. "The Power of Music" identik dengan "The Power
of Management”" karena esensi atau hakekatnya sama-sama berazas pada
"The Power of Implementation".
Dalam manajemen yang "paling generik", kita
"hanya" dibekali dengan esensi berupa 4 (empat) "nada
dasar" dengan frekuensi atau nilai hertz berbeda, yaitu: Planning-Organizing-Actuating-Controlling
(P-O-A-C), atau Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A) yang dikenal
sebagai Deming Circle, dan lain-lain. Itu malah kurang dari 7 (tujuh)
nada dasar dalam musik dengan sistem diatonik, atau 5 (lima) nada dasar musik
dengan sistem pentatonik. Kalau tokh kemudian kita dijejali dengan sistem
manajemen yang "branded" dan mutakhir seperti TQM, ISO
Series, GCG, BSC, MBNQ, Toyota Way, Lean Manufacturing, Six-Sigma, Performance
Management System, Prism, Key Performance Indicator Manual,
Activity Based Management, Knowledge Management, Tacit Management, CBHAMS, Analytical
Hierarchy Process (AHP), Analytical Network Process (ANP), Service Excellence,
Primavera, dan lain-lain, itu sebenarnya memiliki esensi yang sama
dengan sistem manajemen yang paling generik sekalipun. Yang penting ádalah
bagaimana "The Power of Implemention" dapat menjadi infrastruktur
atau kapital bagi manajemen. Asal "The Music of Managementt"
memperoleh pemain musik dan/atau conductor yang tepat. Supaya harmoni
dan keindahan yang ingin dicapai dapat menjadi nyata dan bermakna.
Sebagai contoh, sudut pandang atau ilustrasi lain, DNA
boleh beda dengan struktur atau sistem yang kompleks, namun esensinya polimer
DNA memiliki tiga komponen utama yang sama, yaitu: gugus fosfat, gula deoksiribosa
dan basa nitrogen. Di samping itu sangat jelas, bahwa DNA terdiri dari dua
rantai, rantai yang satu merupakan konjugat dari rantai pasangannya.
Dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangannya akan
mudah dibentuk. (Aplikasinya dalam Manajemen, silakan baca: Filosofi DNA dan
Filosofi Atom).
Kembali ke topik bahasan. Di dunia musik (baca:
manajemen) kita wajib mengetahui apa, siapa, untuk apa & siapa, kapan,
dimana, bagaimana dan mengapa kita harus bermusik (baca: mengelola). Kapan kita
mengelola secara crescendo, kapan harus decrescendo atau meza-divorce.
Dimana kita harus acapella, mengapa harus diiringi orkestra atau harus
solo atau trio. Juga dalam manajemen kita harus mengetahui bagaimana caranya
meniti deretan nada dengan pitch control atau intonasi yang prima,
supaya memenuhi standar yang ditetapkan.
Dalam manajemen, seperti halnya musik kita harus pandai
menyuarakan nada-nada dengan penuh harmoni, tidak fals atau sumbang yang dapat
membuat pendengarnya menjadi tersiksa. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan
dengan siapa kita perlu sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan
bas, serta membuat warna suara atau timbre yang berbeda tersebut
menjadi harmoni yang indah, penuh keseimbangan yang benar-benar tanpa cela.
Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat memberikan
artikulasi, intonasi dan phrasering yang tepat. Apakah kita harus meniru
Bimbo, Opick, Ernie Johan, Engelbert Humperdinck, Andy William, ST 12,
D'Massive, Kris Dayanti, Siti Nurhaliza, Whitney Houston, Shania Twain, Josh
Groban, Christopher Abimanyu, Luciano Pavaroti, Shaggy Dog, John Lennon, atau
Mick Jagger? Apakah anda akan mendendangkan lagu cengeng mendayu-dayu, atau
lagu berirama cadas, semuanya tergantung anda, karena tergantung dari kemampuan
anda. Termasuk jika anda hanya dapat menyanyikan lagu anak "Bintang
Kecil" dan "Balonku" atau menyanyi rap. Syukur jika anda
memiliki teknik vokal atau teknik bermain musik yang unggul, gaya yang khas,
dan kemampuan pendukung lainnya, yang dapat menjadi personal brand anda,
sebab itu akan lebih dapat memberikan banyak keuntungan bagi anda. Yang juga
patut dicatat, dalam bermusik anda wajib mengetahui dan menelaah, apakah musik
yang anda sajikan sesuai atau tidak dengan keinginan dan kedahagaan audiences
anda. Jika anda bermusik hanya untuk diri anda, tentu saja berbeda jika anda
harus bermusik dengan audiences yang memiliki selera atau warna musik
tertentu. Anda tentu saja tidak boleh lepas dari cengkeraman selera mereka,
jika ingin mendapatkan apresiasi atau “standing ovation”.
Dalam manajemen juga ada frekuensi atau nilai hertz
yang berbeda, yang dituntut untuk dapat saling memberikan harmoni atau dapat
menciptakan interferensi yang positif sehingga tercipta sinergi dari energi dan
nurani yang tersaji. Dalam manajemen, pandai-pandailah kita untuk memilih
kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat bermusik secara
minor, mayor, atau kombinasi keduanya. Juga kita harus pandai melakukan atau
menikmati salah satu atau lebih dari jenis-jenis musik reggae, jazz, blues,
country, rock ’n roll, keroncong, dangdut, melayu, stambul, gambus, maupun
jenis musik lainnya.
Seandainya anda hanya dapat bermusik (baca: mengelola)
yang paling generik dengan hanya mampu meniti
nada-nada..do..re..mi..fa..sol..la..si..do, lakukanlah itu dengan cara dan gaya
anda. Asal jangan
sampai sumbang dalam menyajikannya. Karena anda telah benar-benar bermusik. Daripada anda menyanyikan lagu seriosa
yang menguras kemampuan teknik vokal berupa interpretasi, dinamika, artikulasi,
intonasi, tempo, teknik pernafasan, dan phrasering yang prima, namun
bernada sumbang. Lebih baik anda berteriak ...aaa..uuu..ooo, seperti Tarzan
sambil bergelayutan di akar yang menjulur di antara pepohonan di lebatnya
belantara, karena itu ternyata secara efektif dan efisien dapat sampai pada
tujuan untuk memanggil sahabat-sahabat binatangnya, karena akhirnya semua
binatang sahabatnya di seluruh belantara dapat mendengar suaranya dan dapat
hadir untuk berkumpul merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sesuatu.
Karena teriakan aaa...uuu...ooo, dari Tarzan adalah musik generik paling alami
dalam kehidupan, seperti halnya suara deburan ombak yang memecah di pantai,
kicau paksi di antara embun pagi, desiran pawana siang di antara rumput sabana,
kepak sayap burung pemakan bangkai di padang prairi, suara katak ketika hujan
atau senja tiba, suara perkutut dan cucak rawa di pendapa atau pringgitan kabupaten
maupun rumah gedongan, atau suara tangis bayi ketika baru lahir.
Demikian juga dalam manajemen, jika anda hanya mampu
melakukan aktifitas manajerial secara generik, atau juga hanya yang alami,
lakukanlah itu secara benar dan benar-benar dilakukan, daripada anda memilih
sistem manajemen yang "branded", namun anda lakukan tanpa pemahaman
yang benar, sehingga banyak disturbsi, distorsi dan deviasi.
Berlakukan sistem manajemen yang "branded" jika
leadership dan kemampuan anda sudah cukup untuk mengajak orang-orang
anda dalam organisasi untuk melaksanakan variasi atau kombinasi dari largo,
adagio, moderato, vivace maupun presto. Dan akan lebih baik lagi
jika anda mampu untuk membawa organisasi anda menuju con amore, con brio,
con fiesto, con espressione, con dolore maupun con maestoso.
Juga kapan harus legato, marcato, staccato, atau rubato.Sementara
untuk mencapai nada tinggi (target yang tinggi), sementara anda tidak mampu,
pilihlah falcetto. Jika anda memang benar-benar mampu bermusik
(baca: mengelola) pastilah anda tahu caranya untuk melakukan transposisi atau
modulasi, serta memanfaatkan resonansi. Pastikan anda mengambil keputusan untuk
melakukan ritenuto, accelerando atau tempo primo.
Lakukan semuanya dengan menggunakan keseimbangan antara
teori dan praktek. Jangan dewa-dewakan teori, jangan lecehkan praktek. Karena
teori tanpa praktek itu omong kosong, sementara praktek tanpa teori itu ngawur.
Karena pada dasarnya teori itu bermata air dari proyeksi empiris banyak
praktek. Bermusik (baca: mengelola) hanya dengan teori tanpa praktek tidak akan
dapat dinikmati, sementara bermusik dengan praktek saja tanpa teori tidak akan
pernah membuat kita lebih maju karena tanpa continual improvement, yang
akan dapat membawa kita memenangkan persaingan.
Semuanya semata-mata untuk membangkitkan seluruh pantat
penonton beranjak dari kursinya untuk memberikan ”standing ovation” bagi musik
anda. Yang terpenting, jangan sampai orang mengatakan: "Wah...ternyata suara atau permainan musik anda
merdu, indah atau luar biasa sekali...! Namun akan lebih merdu lagi jika anda
...bersedia untuk DIAM!!!" Karena suara atau permainan
musik yang fals atau sumbang anda, akan membuat orang-orang mengernyitkan dahi,
bahkan mungkin muak, mencemooh, atau mengganggu anda dengan suitan-suitan
panjang melecehkan. Beruntunglah anda jika tidak disuruh turun dari panggung
musik anda. Anda mungkin saja berpedoman, biar saja anjing menggonggong,
kafilah tetap akan berlalu. Namun bagaimana jika anjingnya menggigit, tidak
hanya menggonggong? Tanpa anda sadari jika anda fals atau sumbang akan membikin
kegaduhan manajerial, yang akan menggerogoti kapitalisasi manajerial anda, yang
dapat bermuara pada kegagalan pencapaian goal dan objective
anda.Yang terpenting dan patut dicatat: "suara
fals atau sumbang anda, tidak akan pernah lebih merdu atau lebih enak didengar
daripada seandainya anda DIAM !!!"
Namun semuanya itu adalah pilihan! Tergantung mana yang
akan dipilih! Yang pasti semuanya memiliki jalan masing-masing.
Yang pasti, musik sulit dan tidak akan pernah menjadi
lampau, bahkan akan semakin tumbuh dan berkembang seperti halnya manajemen.
Karena musik merupakan bagian dari seluruh masa, termasuk masa depan. Demikian juga halnya dengan manajemen
yang wajib ada di seluruh masa. Untuk itu bertabiklah pada masa, supaya anda
tidak dicerca oleh masa atau waktu. Juga bertobatlah untuk tidak bermusik secara fals atau
sumbang, supaya harmoni yang prima tetap ada dan berada di jalurnya. Sehingga
tepuk tangan yang membahana di tengah-tengah jutaan manusia yang tiba-tiba
bangkit dari duduknya, berdiri, untuk memberikan apresiasi atas musik anda,
menggelegar di setiap wahana dimanapun anda berada. Karena bagaimanapun juga,
cara anda bermusik identik dengan cara anda mengelola.
Bagaimana caranya melakukan aktifitas manajerial dengan
pendekatan pada filosofi musik? Ikutlah workshop-nya untuk 5 (hari) hari
pelaksanaan! Karena yang tertulis di atas hanyalah kulitnya, yang
"hanya" setara dengan 1 (satu) hari seminar. Juga karena manajemen adalah seni untuk dapat
diaplikasi dan dinikmati, bukan hanya ilmu atau pengetahuan an sich yang
berujud teori maupun aplikasi. Yang pasti keduanya memang wajib untuk bertabik
pada apresiasi meski tanpa atau dengan audisi. Bukan hanya baka, namun juga
fana. Karena baik musik maupun manajemen sama-sama universal. Yang seharusnya
bebas dari belenggu apapun, jika tidak ingin ditinggal oleh ruang dan waktu,
serta dimensi lain di atasnya, jika memang masih ada.
Terima kasih.
Salam Manajemen.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ratmaya
Urip
=
= = = = = = = = = = =
https://www.smule.com/p/1009333135_2497506554
Catatan:
Sedang dalam antrian untuk diunggah di blog: a). Filosofi
Tanaman b). Filosofi Makanan c). Filosofi Benang Kusut d). Filosofi
Tukang Kayu e). Filosofi Layang-layang f). Filosofi DNA g). Filosofi Atom h).
Dll. Semuanya dalam relasi dan atau aplikasinya di dunia Manajemen