Minggu, 27 November 2011

Serial Filosofi Manajemen 2



FILOSOFI WAYANG
(Monolog dunia manajemen dan bisnis dalam aplikasi) :
Leadership Versus Followership dalam Perspektif Dunia Pewayangan
Oleh : Ratmaya Urip *)

Jansen Hulman S. menyampaikan, bahwa pada tahun 1967 Gerhard Gschwandtber mengadakan riset mengenai kekecewaan dan menemukan bahwa di Library of Congress terdapat 1.500 judul buku mengenai kesuksesan sedangkan buku mengenai kekecewaan hanya 16 judul saja.

Ini mengherankan Gerhard, karena observasi menunjukkan bahwa kekecewaan sesungguhnya merupakan pengalaman paling akrab dengan manusia ketimbang kegembiraan. Dukacita lebih sering terjadi daripada sukacita. Lalu mengapa topik kekecewaan begitu sedikit dibahas orang? Mengapa sukses dan sukacita yang jarang dirasakan dan dicapai orang mendapat perhatian begitu banyak? Mengapa orang-orang yang sukses saja yang dibahas, sementara orang-orang yang gagal, yang jumlahnya sangat jauh lebih banyak tidak ditonjolkan untuk menggali mengapa kegagalan itu dapat terjadi? Karena kesuksesan itu tidak pernah lepas dari faktor luck, meskipun tidak boleh melupakan kerja keras, kerja waras dan kerja cerdas.
Demikian juga kalau kita cermati lebih dalam, ternyata dari hasil-hasil penelitian, textbooks, seminar, workshop, pelatihan, dan sebagainya, topik mengenai Leadership lebih banyak diminati (baca : dibahas) daripada topik Followership. Padahal dalam praktek berorganisasi apapun, baik organisasi bisnis, organisasi publik, maupun organisasi lainnya, jumlah Follower sangat jauh lebih banyak dibandingkan Leader.


Seorang follower lebih suka memahami dan atau menganggap dirinya sebagai leader (mungkin karena seringnya menerima cekokan konsep-konsep Leadership). Padahal sebagai follower tentu saja dia harus menerima lebih banyak konsep-konsep maupun aplikasi tentang FOLLOWERSHIP, dalam hal ini bagaimana sikap, perilaku, tindakan dan mindset kita sebagai follower (yang kebetulan jumlahnya mayoritas). Kalau dia seorang follower, namun mindset-nya selalu leader, ya payah.


Saya kemudian berpikir...itulah mungkin biang dari segala keruwetan bangsa ini, sehingga tidak pernah beringsut dari keterpurukan yang berkepanjangan, karena semua maunya jadi leader (follower pun maunya jadi leader), meskipun itu tidak dilarang, tapi harus menunggu saatnya. Masalahnya, tdk ada yang mau jadi follower. Padahal yang terpenting sebenarnya adalah seberapa jauh pembagian peran itu dapat terbagi habis secara benar, tepat dan adil, tanpa menyisakan potensi konflik sekecil apapun. Setiap konflik di Indonesia sering berakhir dengan perpecahan, kemudian membentuk organisasi tandingan, yang disebabkan oleh lemahnya leadership, atau followership. Itu semakin nampak, ketika organisasi baru sudah terbentuk sebagai tandingan, ternyata hidupnya sering kali tidak lama.


Dalam organisasi apapun, bagaimanapun, dan dimanapun selalu ada fenomena, bahwa follower ( pengikut ) jumlahnya selalu jauh lebih banyak daripada leader ( pemimpin ), dan untuk hal yang satu ini tidak akan pernah ada seorangpun yang dapat membantahnya. Namun dalam manajemen, ternyata leadership lebih sering ditonjolkan daripada followership, sehingga training, coaching dan conselling yang dilaksanakan lebih sering mengakomodasi kepentingan-kepentingan atau cara-cara untuk menjadi seorang leader (dalam hal ini untuk mencetak leader yang baik atau mempunyai leadership yang kuat dan efektif). Jarang sekali ada pembahasan yang intens ataupun textbook yang best-seller mengenai followership yang mengemuka. Mungkin sekali karena cukup dengan leadership yang kuat diharapkan organisasi akan dapat meraih goal atau objective sesuai dengan yang diharapkan. Atau followership adalah bagian dari leadership. Dalam hal ini tentu saja akan beruntung sekali jika suatu organisasi dipimpin oleh seorang leader dengan kemampuan leadership yang kuat dan efektif. Namun, bagaimana jika organisasi dinakhodai oleh leader dengan kemampuan leadership yang lemah? Yang terakhir ini sangat banyak terjadi dalam organisasi-organisasi di Indonesia, baik organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan, bisnis, olah raga, pemerintahan, perwakilan rakyat, maupun organisasi-organisasi yang lain. Faktanya, dan boleh juga disebut sebagai akibatnya, Indonesia sampai sekarang selalu dan selalu ketinggalan dalam segala hal dibandingkan dengan kinerja negara-negara lain, semakin terpuruk dan menderita. Seperti ayam mati di lumbung padi. Dalam bidang ekonomi, Indonesia telah merasakan betapa sakit dan beratnya keterpurukan yang terjadi. Dalam bidang olahraga belum pernah mengenyam prestasi yang membanggakan kecuali bulutangkis, sesekali panahan dan angkat besi. Dalam berdemokrasi kita masih kedodoran. Dalam pengelolaan sumber daya alam, baik pertanian, pertambangan dan lain-lain, prestasi Indonesia sangat jauh ketinggalan. Pastilah ada yang salah dalam mengelola hidup dan kehidupan bangsa ini. Apakah karena masalah leadership atau followership yang lemah, atau kedua-duanya lemah, atau masalah-masalah lainnya? Kajian tentang hal ini tentu saja tidak akan pernah ada habisnya, dan akan bias atau tidak fokus ke topik tulisan ini. Ilustrasi di atas hanyalah sebagai referensi natural semata (sebab ada referensi artificial). Juga terlalu naïf untuk menuduh faktor leadership atau followership sebagai satu-satunya biang kegagalan, sebab masih banyak faktor-faktor yang lain, seperti aplikasi management system ( baik manajemen generik maupun branded ), management style, organization climate, ability (skill & knowledge), moral (attitude & behavior), arts (creativity, adabtability, acceptability, flexibility, durability, etc), bahkan luck.


Tentang luck atau ada yang sering menyebutnya dengan windfall ini juga perlu diperhatikan. Luck tidak akan dapat terjadi tanpa persiapan dan kesempatan. Luck tanpa persiapan yang baik jarang yang dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sedang luck jarang yang dapat maksimal didapatkan tanpa kesempatan. Persiapan dan kesempatan merupakan dua sisi mata uang untuk mendapatkan luck atau windfall. Persiapan itu sendiri kadang-kadang tidak kita sadari sudah tersedia sebelumnya dari personal maupun institutional experiences kita. Maka pandai-pandailah memanfaatkan persiapan ketika kesempatan tiba, supaya mendapatkan luck atau windfall. Contoh paling mudah adalah, ketika harga minyak dunia naik secara fantastik, yang saya sebut itu sebagai kesempatan bagi Indonesia sebagai penghasil minyak yang ketika itu masih anggota OPEC, tidak dapat menikmatimya, karena sudah beberapa tahun produksi minyak Indonesia malah terus merosot. Puncak produksi yang pernah dicapai sebesar 1,4 juta barrel/hari turun menjadi 990 ribu barrel/hari. Itupun Indonesia malah mengalami nett import. Sehingga kenaikan harga minyak dunia malah menjerat perekonomian Indonesia. Contoh lain adalah ketika harga komoditas dunia juga naik, namun karena tidak ada persiapan, maka kesempatan itu menguap begitu saja. Padahal Indonesia memiliki potensi komoditas yang menggiurkan. Namun karena manusia Indonesia disibukkan oleh perebutan posisi sebagi leader, tanpa ada yang mau berperan sebagai follower, atau kalau jadi follower malah merecoki leader-nya, maka jadinya ya seperti sekarang ini.


Leadership akan jauh lebih efektif dan kuat pada organisasi yang sistemnya sudah sangat bagus, sehingga tidak akan dapat “diakali” atau “tidak ada celah” untuk memanfaatkan sistem bagi kepentingan pribadi, atau tidak ada “loop-hole” sama sekali. Karena di organisasi dengan sistem seperti itu roda aktifitas manajerial dan operasional sudah dapat berjalan “auto pilot”. Sehingga siapapun leader-nya tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Tentu saja harus diimbangi dengan followership yang kuat dan efektif serta efisien, dan tidak ada goncangan dari luar pesawat yang fatal. Namun organisasi dengan sistem sempurna seperti itu hanya ada di dunia impian (di Ancol?).


Kembali kita fokus ke topik bahasan. Organisasi dengan kemampuan leadership kuat maupun lemah tentu memerlukan kemampuan dan kontribusi dari follower untuk tetap dapat menjalankan organisasi on the right track, supaya vision, mission, strategy, action plan, goal ataupun objective tetap dapat tercapai. Dengan kata lain diperlukan followership yang kuat pula. Apa dan bagaimana followership yang kuat dan efektif itu dapat dijadikan kontributor dalam pencapaian kinerja suatu organisasi? Tentu saja lumayan sulit untuk menjabarkannya, karena praktek lapangannya sangat banyak, namun teori-teori atau textbooks tentang hal itu sulit dicari, karena kebanyakan mengulas tentang leadership. Bagaimanapun diharapkan ada benang merah atau balance antara teori dan praktek, supaya terjadi harmoni yamg komplementer, melengkapi keserbaduaan ( baca : harmoni ) yang telah ada sebelumnya, seperti tua-muda, laki-perempuan, siang-malam, gelap-terang, kaya-miskin, hitam-putih, besar-kecil, dan lain-lain. Jangan sampai terjadi dikotomi.
Berangkat dari keterbatasan teori tersebut, penulis mencoba menggali dari dunia pewayangan, yang kebetulan penulis cukup paham, meskipun hanya secuil. Dari dunia pewayangan penulis mengenal Ramayana, maupun Mahabharata dan lanjutannya Bharatayudha.
 

1. Ramayana.
Sebagai ilustrasi pertama, dalam Ramayana dikenal seorang raja sebagai leader bernama Rahwana atau Dasamuka, seorang raksasa yang sangat kejam, lalim dan arogan, yang jika marah kepalanya bisa bertambah menjadi sepuluh kepala. Rahwana adalah leader dalam hal ini top management dari para raksasa jahat yang amat sangat antagonis. Bukan kebetulan kalau Rahwana mempunyai follower, dalam hal ini posisinya middle management berjumlah 3 ( tiga ) orang, dengan fenomena followership yang beragam, yang kalau dicermati, fenomena tersebut banyak terjadi dalam dunia manajemen di Indonesia. Ketiga follower tersebut kebetulan adalah adik-adiknya. Ketiga adiknya, sebagai midlle manager, memang di samping memiliki leadership yang kuat dan efektif, karena harus memimpin anak buahnya, mereka juga mempunyai masalah followership, dalam menyikapi sikap kakaknya yang semau gue. Namun karena leader-nya adalah sang kakak, yaitu Rahwana, dengan style seperti tersebut di atas, maka fungsi follower lebih menonjol daripada fungsi leader, dengan kata lain mereka lebih sering melayani leader daripada memimpin lower manager (anak buah-nya) sebagai follower mereka.


Dalam epos Ramayana diceritakan, bahwa Rahwana sebagai leader dari organisasi kerajaan yang bernama Alengkadiraja, mempunyai instant-goal untuk memperisteri Dewi Shinta, yang kebetulan sudah bersuami Prabu Ramawijaya, leader dari Kerajaan yang lain. Untuk tercapainya goal tersebut, Rahwana mempunyai instant action plan, yaitu merebutnya dari Prabu Ramawijaya, dengan menculik Dewi Shinta yang kebetulan sedang ditinggal berburu suaminya. Dengan strategi yang jitu, berupa tipu daya alih rupa menjadi orang lain sehingga Dewi Shinta terkecoh, akhirnya Dewi Shinta dapat dibawa oleh Rahwana ke istananya. Pada akhirnya, karena adanya benturan kepentingan, dalam hal ini Prabu Ramawijaya tidak rela, maka berusaha untuk merebut kembali Dewi Shinta ke pangkuannya, sementara Rahwana tetap dengan goal ingin memperisteri Dewi Shinta, maka terjadi perang. Tentu saja dalam perang terjadi adu strategi.


Dalam kajian Strategic Management maupun Quality Management System, sebenarnya ulah Rahwana dengan menetapkan goal dan strategy secara instant di luar Longterm Plan (Rencana Jangka Panjang-RJP) dan Annual Plan (Rencana Jangka Pendek atau rencana Tahunan-RKAP), tanpa ada vision, mission, dan policy adalah kurang tepat. Prosesnya seharusnya ada vision dulu kemudian mission dan policy serta strategy, baru kemudian ada deployment atau cascading dalam action plan untuk pencapaian goal. Apalagi tidak ada corporate culture yang berkembang baik dalam organisasi atau kerajaan Rahwana. Dalam hal ini tiba-tiba ada goal tanpa sebab dan alasan yang sistematik sesuai Strategic Management System ataupun Quality Management System. Berarti jelas ada Non Conformance dan kelasnya adalah very-very Major jika rujukannya ISO Series (ISO 9001, ISO 14001, ISO 18001, dll). Apalagi tidak ada team-work yang baik karena semua dilakukan berbasis keputusan one man show.


Dalam menyikapi perang yang terjadi ternyata 3 (tiga) follower Rahwana mempunyai sikap yang berbeda, dengan kata lain followership style mereka berbeda satu sama lain.

1. Kumbakarna, dikenal sebagai raksasa yang berjiwa ksatria, santun, lemah lembut, arif, adil, dan baik hati, meskipun badannya sebesar gunung dan wajahnya mengerikan, dengan kata lain sangat menakutkan. Ketika dihadapkan pada kelakuan Rahwana, seorang leader yang sangat antagonis, Kumbakarna diam, namun setelah sebelumnya selalu mengingatkan sang kakak atas perbuatannya yang tidak terpuji. Ketika Kumbakarna menasehati kakaknya supaya mengembalikan Dewi Shinta, Rahwana marah besar, dan mengusir Kumbakarna dari Istana. Kumbakarna akhirnya pergi bertapa, tidak menghiraukan lagi keadaan istana (organisasi). Tidak mau tahu bahwa akhirnya terjadi perang.

2. Sarpakenaka adalah raksasa wanita yang sangat identik dengan kakaknya, buruk rupa, buruk kelakuan, sukanya menggoda laki-laki...pokoknya identik dengan kakak sulungnya, Rahwana. Apa yang diperintahkan Rahwana pasti dilaksanakan dengan suka cita, meskipun itu salah.

3. Gunawan Wibisana, si bungsu yang berwajah manusia, tampan, cukup arif, bijak, selalu bertindak penuh perhitungan, selalu beroposisi (dalam hal ini selalu memberi nasehat) kepada Rahwana agar tidak selalu berbuat buruk. Ketika nasehatnya kepada Rahwana untuk mengembalikan Dewi Shinta kepada Prabu Ramawijaya malah mebuat Rahwana berang, dan mengusirnya dari Istana, Gunawan Wibisana malah memilih bergabung dengan musuh Rahwana atau kompetitornya.

Follower’s type yang manakah anda?


2. Mahabharata- Bharatayudha
Dalam Mahabharata yang kemudian berlanjut dengan Bharatayudha, pengayaan kita tentang followership lebih lengkap.

Di pihak Astina ada Suyudana atau Duryudana sebagai leader Kurawa dari Kerajaan Astina, dengan 99 adiknya sebagai middle manager, yang dikenal sebagai antagonis tulen. Namun di samping itu Astina sebagai organisasi memiliki middle manager lain di luar Kurawa, atau profesional lain luar Kurawa yang cukup unik.

Prabu Karna dari Awangga, adalah type middle manager (follower Duryudono), yang bergabung ke Kurawa karena sebagai balas budi, karena sudah diberi pangkat dan jabatan yang tinggi oleh Kurawa. Maka meskipun Pandawa yang sebenarnya adik2nya sendiri satu ibu berperang dengan Kurawa dalam Bharatayudha, Prabu Karna membela mati2an organisasinya tersebut, meskipun akhirnya dengan mengorbankan jiwa raganya. Seperti halnya Fernando Torres yang harus professional membela mati2an klub barunya Chelsea karena dibayar mahal, dalam menghadapi mantan klubnya Liverpool, meskipun akhirnya kalah 0-1, kemarin. (Maaf, dalam konteks Fernando Torres, semata-mata adalah konteks profesionalisme, bukan konteks antagonis-protagonis).

Prabu Salya, lain lagi. Dia sangat membenci sikap dan perilaku Duryudana yang sangat antagonis. Namun karena Astinapura adalah tanah airnya (organisasinya), maka ketika perang Bharatayudha terjadi, dia membela Astinapura sampai titik darah penghabisan. Dia hanya mau mempertahankan kehormatan organisasinya (Astinapura), bukan membela Duryudana, leader-nya yang antagonis. Setelah kematiannyapun Para Pandawa yang dalam konteks Bharatayudha adalah musuhnya, sangat menghormati Prabu Salya.
Hal serupa juga terjadi pada Resi Bisma, yang mirip dengan Prabu Salya, yang berperang di Pihak Astinapura, yang kebetulan dipimpin oleh Kurawa dengan leader Duryudana, yang antagonis, karena semata-mata mempertahankan negaranya (organisasinya), bukan membela leader-nya yang antagonis meskipun hati nuraninya berada di pihak Pandawa, atau musuhnya.

Sementara di Pihak Pandawa, semua follower sangat mendukung karena sikap dan perilaku kepemimpinan Pandawa yang sangat protagonis, sehingga tidak ada yang aneh di follower-nya, semua berjalan on the right track, sesuai sistem. Karena telah memahami esensi followership secara benar.

Bagaimana dengan organisasi anda, atau negara anda? Jika seandainya anda berada dalam organisasi dengan leader yang leadership-nya payah, apalagi antagonis? Apakah sebagai follower anda akan bersikap seperti Prabu Karna, Prabu Salya, Resi Bisma, atau adik2 Rahwana yang 99 orang tersebut? Beruntunglah jika anda mendapatkan leader seperti Pandawa. Itu jika berkaca dari epos Mahabharata-Bharatayudha.
Demikian juga jika kita menengok kembali epos Ramayana, apakah jika anda sebagai follower anda akan bersikap seperti Kumbakarna, Sarpakenaka atau Gunawan Wibisana?

Jika anda bukan follower, namun leader, saya yakin, leadership anda lebih condong ke leadership yang dimiliki Prabu Ramawijaya atau Pandawa, bukan Rahwana atau Kurawa.


Pesan moral yang ingin disampaikan:

Leadership amat sangat dan begitu penting, khususnya bagi para leader. Bagi calon-calon leader (baca: follower) juga akan sangat menunjang, karena sebagai persiapan menyongsong regenerasi. Apalagi jika posisinya adalah middle manager, yang harus dapat berperan ganda sebagi leader maupun follower. Bagi yang saat ini posisinya masih di middle manager apalagi yang masih front-liner, disarankan, disamping harus benar2 memahami leadership juga untuk benar-benar memahami esensi followership, karena mereka tidak hanya menghadapi masa depannya sebagai leader, namun juga masa kini dimana mereka berada sebagai follower. Masa depan yang cerah tidak akan dapat digapai tanpa masa kini yang baik. Untuk itu, memahami dan mengoperasionalkan leadership harus balance dengan pemahaman yang benar tentang followership, supaya tidak “nggege mangsa”, belum-belum sudah merasa sebagai leader, melupakan realitasnya sebagai follower. Meskipun lebih nyaman sebagai leader daripada sebagai follower. Untuk itu raihlah posisi leader, dengan cara-cara yang cantik, dengan kompetisi yang sehat dan baik, karena memang sudah dibekali followership yang cukup dan leadership yang kuat dan efektif, syukur bisa efisien.
Semoga ini dapat sedikit membantu menjelaskan juga tentang fenomena kutu loncat. 


Kalimat kuncinya adalah:

Followership yang masih berkutat hanya pada teori-teori Five reasons to follow, yaitu tentang relasi antara leader-follower yang berkaitan dengan follow, respect, trust, liking, support, dan ideas, tidaklah cukup. Meskipun ditambah dengan teori-teori tentang exemplary, alienation, conformist, pragmatist, passive (Kelly’s Model, 1992). Karena dalam prakteknya di Indonesia sering terjadi distorsi atau deviasi yang sangat lebar. Teori dan praktek harus balance.  

Karena teori tanpa praktek itu omong kosong, sementara praktek tanpa teori itu ngawur.

Salam Manajemen
Ratmaya Urip
===============================

Note: *) penulis adalah fungsionaris Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia), dan Quality Network Club – Indonesia.


Serial Filosofi Manajemen 3



FILOSOFI BENANG KUSUT

(TOUSLED YARN PHILOSOPHY)

SOLUSI MANAJEMEN BISNIS DALAM KONDISI KRITIS

oleh : Ratmaya Urip*

Seringkali dalam bisnis kita dihadapkan pada kondisi yang bukan lagi as usual. Kondisi itu kini lebih sering terjadi, karena semakin tingginya tingkat persaingan, tuntutan customer, pengaruh politik, ekonomi, sosial, dan budaya global yang sulit bagi para pelaku bisnis untuk menghindarinya. Kondisi chaos, resesi dan atau depresi di suatu tempat dengan cepat akan berimbas pada wilayah lain yang jauh dari sumber masalah. Singkat kata, kini kita sudah selalu harus berhadapan dengan kondisi unusual, yang unpredictable, uncountable, dan hopelessness, yang menjadikan seluruh jurus dari kemampuan visioner, kemampuan manajerial maupun kemampuan teknikal yang ada menjadi tidak berarti, menjadi usang dan menjadi lampau atau bahkan menjadi generik. Teori-teori manajemen apapun menjadi lumpuh ketika harus diaplikasikan.Dalam kondisi unusual dalam hal ini boleh juga disebut krisis multi dimensi, seluruh resources terkuras habis untuk dapat survive. Hampir seluruh pelaku bisnis menetapkan strategi survival, jarang yang mengambil strategi growth atau diversification. Memang ada bisnis yang tetap growth, namun secara agregat tidak cukup signifikan untuk memberikan kontribusi bagi global growth, regional growth dan national growth. Yang lebih sering terjadi adalah pelaku bisnis terpaksa melakukan liquidation. Sehingga kondisi krisis semakin mencengkeram kuat.

Terinspirasi dari Prof. DR Paul Ormerod dalam The Death of Economics, yang menganalisis tentang boom atau recession dalam suatu perekonomian hanya pada 2 (dua) parameter dasar yaitu unemployment dan inflation yang ternyata cukup ampuh dalam menganalisis Global Depression pada tahun 1930-an dan global oil crisis tahun 1973-1974, maka penulis mengetengahkan Tousled Yarn Philosophy (Filosofi Benang Kusut) sebagai alternatif Solusi Manajemen Bisnis dalam Kondisi Kritis atau Unusual.

Dalam kondisi kritis, seluruh resources terkuras habis, sementara result sering tidak kunjung sesuai dengan harapan. Ini karena dalam kondisi panik, semua distorsi dan degradasi diatasi dan diapresiasi dengan mengerahkan seluruh resources. Padahal kita harus lebih mengedepankan skala prioritas, untuk mengamanan resources yang memang sangat terbatas itu, apalagi dalam situasi yang sangat kritis.

Kondisi chaos atau krisis diibaratkan kondisi benang dalam keadaan kusut yang secara harfiah sulit untuk diurai lagi, sehingga lebih sering kita membuangnya karena useless. Padahal kalau kita tidak panik dan berpikir jernih kita akan dapat mengurai benang kusut tersebut, kembali menjadi useful.


Initial step dalam mengurai benang kusut adalah mencari dua ujung benangnya. Langkah ini merupakan critical activity, karena memberikan kontribusi terbesar bagi keberhasilan yang ingin dicapai. Berangkat dari 2 (dua) ujung benang yang telah ditemukan tersebut kita lakukan langkah penguraian, sampai benangnya lepas dari kondisi kekusutan. Tentu saja dalam penguraian tersebut sering kita jumpai kondisi berupa adanya bagian dari benang yang sangat kusut dan tertali mati, sehingga kita harus mengamputasi dan membuangnya khusus pada bagian yang sulit diurai tersebut dan kita sambung lagi setelah benang yang sulit diurai tersebut dibuang.

Berangkat dari filosofi tersebut penulis mencoba mentransformasikannya sebagai teori atau axioma dan mengaplikasikannya dalam manajemen bisnis yang penulis geluti, dan ternyata hasilnya cukup membanggakan.

Dalam tulisan sebelumnya penulis pernah mengedepankan tulisan tentang Faktor Kelola dan Faktor Kendali dalam Manajemen Mutu Untuk menerapkan filosofi (baca : teori) Benang Kusut, maka penulis mengedepankan lagi masalah Faktor Kelola sebagai acuan dasar yang harus dipilih dan ditetapkan sebagai 2 (dua) ujung benangnya. Initial step berupa pemilihan dan penetapan 2 (dua) faktor dari 12 (sebelas) Faktor Kelola yang paling krusial mempengaruhi atau penyebab dari krisis yang terjadi, itulah critical activity-nya. Kesalahan dalam menetapkan 2 (dua) faktor tersebut akan menyebabkan distorsi. Dengan hanya memilih 2 (dua) faktor saja di antara 12 (sebelas) faktor sebagai prioritas utama penanganan krisis akan sangat menghemat resources yang kita miliki. Setelah 2 faktor yang dipilih dari 12 faktor (komponen Faktor-faktor Kelola) kita tetapkan sebagai initial step, maka kita kemudian harus menguraikan dan mentransformasikannya dalam ujud parameter-parameter di masing-masing faktor. Untuk itu memang dibutuhkan kepiawaian dalam cascading dan deployment masing-masing faktor. Kemampuan analitis maupun intuitif merupakan kunci utama keberhasilan kita. 10 (sepuluh) faktor lain yang kebetulan tidak kita sentuh, secara alami akan mengikuti azas atau efek domino, dengan kata lain akan dapat terseret dan atau terurai masalahnya mengikuti 2 (dua) faktor dominan yang sudah ditetapkan sebagai 2 (dua) ujung benang.

Faktor-faktor Kelola dalam Bisnis


Berangkat dari Production Factors (Faktor-faktor Produksi) yang sering juga disebut sebagai 5 M (Man, Material, Method, Machine, dan Money), penulis kemudian mengedepankan 12 M yang penulis sebut sebagai Managing Factors (Faktor-faktor Kelola), yang merupakan faktor-faktor yang menurut penulis cukup komprehensif untuk disebut sebagai faktor-faktor yang dibutuhkan dalam pengelolaan bisnis. Faktor-faktor kelola penulis susun secara hierarchies, tidak boleh dibolak-balik. Dari 2 (dua) faktor di antara 12 (sebelas) faktor inilah yang harus ditetapkan sebagai Main Factors dalam Initial Step yang telah disebutkan di atas. Adapun Faktor-faktor Kelola (12 M) yang penulis maksud adalah :

1. Milieu

Parameter-parameternya adalah : stakeholder satisfaction index, ambang batas yang diijinkan baik fisik maupun Ipoleksosbud dari lingkungan, derajad antropolis bisnis dari lingkungan, dan lain-lain.

2. Market

Parameter-parameter dasar yang dapat dikembangkan adalah : sales progress, sales scorecard, customer satisfaction index, customer loyalty index, customer complaint, cost performance index, quotation success ratio, profitability, dan lain-lain.

3. Money

Adapun parameter-parameternya adalah : cost index, revenue, short-term liquidity ratios, capital structure and long-term solvency ratios, return on investment ratios, operating performance ratios, assets utilization ratios, profitability, dan lain-lain.

4. Management

Parameter-parameternya adalah : audit reports, management review, PMS, performance review, regular evaluations, dan lain-lain.

5. Manpower

Parameter-parameternya adalah : employee productivity index, man-hours per quantity, sales/staff, profit/staff, communication skill, competencies, dan lain-lain.


6. Motivation

Parameter-parameternya memang masih perlu kajian yang lebih intens. Untuk sementara yang dapat diketengahkan adalah : employee satisfaction index, attitude-behavioral index, leadership-followership ability, employee scorecard, dan lain-lain.

7. Material

Parameter-parameternya adalah : cost of quality, materials rejected rate, effectiveness, efficiency, material costs per quantity, material costs per revenue, dan lain-lain.

8. Machine and Mechanization

Parameter-parameternya adalah : equipment availability per performance, equipment breakdown time, maintenance cost per quantity, operation cost per quantity, effectiveness, efficiency, dan lain-lain

9. Measurement

Parameter-parameternya adalah : semua parameter yang ditetapkan dalam setiap faktor yang ada dalam Faktor-faktor Kelola ( 12 M ). Seluruh parameter harus dapat berguna untuk evaluasi, penyusunan strategi, dan decision making

10. Modern Information Method

Parameter-parameter untuk faktor ini masih belum dapat diajukan. Akan disampaikan dalam tatap muka.

11. Mounting Product Requirement

Parameter-parameternyapun belum dapat diajukan seperti halnya faktor ke sepuluh.

12. Magnate

Parameter untuk faktor ini belum dapat diajukan, seperti halnya fakor ke sepuluh.

Faktor ini sebenarnya merupakan extensi dari faktor ke-5 Manpower, namun lebih ke aplikasi atau parameter-parameter yang lebih stratejik dan taktikal, sementara dalam faktor Manpower di atas lebih kepada parameter yang operasional. Mengapa dipisahkan? Karena people dalam gelombang ke-empat peradaban manusia, yaitu era creativity, environment, dan culture, memerlukan ketangguhan people yang sangat prima. People merupakan faktor yang paling menentukan dalam mengolah resources dan menjalankan sistem. Apalagi era-nya sudah bukan era Human Resource Management, namun sudah masuk ke era Human Capital Management, yang matriksnya bukan dua dimensi lagi, tetapi tiga atau empat dimensi. (Catatan: tentang dimensi ini sudah dijelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya).

Tentu saja dalam aplikasinya artikel ini perlu ditindaklanjuti dengan workshop atau pelatihan secara intensif, karena Tousled Yarn Philosophy disamping memerlukan kemampuan analitis dan intuitif juga memerlukan kemampuan cascading dan atau deployment yang dalam, karena pijakannya di samping berbasis pada Operational Excellence, juga sekaligus berbasis Innovation Excellence. Meskipun salah satu dari keduanya dapat saja diabaikan, tergantung dari jenis bisnisnya.

Penggunaan salah satu dari Institutional Performance Management, seperti the Balanced Scorecard dari Harvard, Amerika Serikat (1992), Prism dari Cambridge, Inggris (2002), Key Performance Indicator Manual dari Australia (1995), ISO series yang diprakarsai WTO (1986), Malcolm Baldridge National Quality Award dari Amerika Serikat (1987), Activity Based Management dari Amerika Serikat (1996), Good Corporate Governance, dan sebagainya, sangat dianjurkan. Bahkan Six Sigma, sebuah metode pengendalian kualitas produk yang semula berangkat dari pengendalian kualitas statistik di level lantai pabrik (shop floor), saat ini sudah memasuki area perbaikan kinerja di level stratejik dan organisasi.

Tentu saja penggunaan software dalam mengolah Key Performance Indicators (KPI), akan lebih cepat jika memanfaatkan software, seperti Super Decision, atau Expert Choice, dll.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip

=========================================

*) Ratmaya Urip, adalah pemerhati, pelaku serta konsultan untuk berbagai aktifitas stratejik, manajerial, taktikal, dan operasional di bisnis industri & jasa bidang manufaktur, konstruksi dan pertambangan. Saat ini adalah Wakil Ketua Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia) Cabang Surabaya, Pembina & Pendiri Quality Network Indonesia Chapter Jawa Timur, dan Ketua Ikatan Ahli Pracetak-Prategang Indonesia Cabang Jatim. Selain itu adalah Host dan co-Producer di Radio Suara Surabaya 100FM (www.suarasurabaya.net klik online atau on demand) selama 16 tahun untuk “weekly program”: “Solusi Manajemen Bisnis”/”Smart Solution”

ooOoo



Serial Filosofi Manajemen 2

FILOSOFI CINTA

Love is a Function of Mathematics

(L = PxS / DxT)

oleh: Ratmaya Urip*

Maaf Bpk. Heriyanto Notoseputro dan Bpk. Thomas Nick, saya agak terlambat menyampaikan jawaban atas apresiasi Bpk tentang formula saya, bahwa Cinta itu Fungsi Matematik. Maka melanjutkan penjelasan saya, yang merupakan response atas email dari Bpk Heriyanto Notoseputro dan Bpk Thomas Nick di milis (undercover_manager@yahoogroups.com) atau “The Manager” ini, di bawah thread: “Suami dan Gadis Penggoda”, joke yang pada awalnya di-released oleh Bpk Patrick Reddington, berikut ini akan saya lanjutkan penjelasan saya. Namun supaya lengkap, saya juga akan menyertakan penjelasan saya sebelumnya. Terima kasih kepada Bpk Heriyanto dan Bpk Thomas atas response-nya. 1. Love is a Function of Mathematics

Sebelumnya saya telah menyampaikan, bahwa “Cinta itu Fungsi Matematik” (Love is Function of Mathematics), yang mengikuti rumus atau formula L = PxS / DxT. (Notes: L = Love, P = Power, S = Speed, D = Distance, T = Time). Jika dinarasikan: “LOVE berbanding lurus dengan POWER dan SPEED, namun berbanding terbalik dengan DISTANCE dan TIME)”. Maaf, sengaja tidak saya tambahkan imbuhan konstanta alpha, beta, atau gamma, seperti fungsi matematik pada umumnya, supaya mudah dicerna. Untuk itu mohon maaf kepada para ahli matematika atas kelancangan saya).

Karena saya bicara tentang keuniversalan, maka sebagai PROLOG, saya ingin memberi batasan, bahwa yang dimaksud dengan LOVE di sini merupakan LOVE yang hanya berdimensi hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia atau hubungan horizontal), bukan yang berdimensi hablumminalloh (hubungan manusia dengan Sang Pencipta atau hubungan vertikal), karena saya bukan ahlinya. Itupun terbatas hanya pada perspektif hubungan antarmanusia yang berlainan jenis yang menginginkan dan atau sedang dalam pelukan LOVE. Tidak termasuk hubungan manusia (baca: LOVE) dengan keluarganya, pekerjaannya, lingkungannya, machluk hidup lainnya, negaranya, dan lain-lain. Apakah rumus tersebut berlaku juga untuk dimensi atau perspektif yang lain? saya belum membuktikannya! Yang pasti tulisan ini hanya sebagai response keterkejutan saya pada cerita tentang “Suami dan Gadis Penggoda”, karena sikap suami seperti yang ditunjukkan dalam cerita tersebut merupakan barang langka yang dapat disebut antique. Sekaligus untuk merefleksikan kekaguman saya pada si “suami”. Bagaimanapun juga, cerita tersebut sangat “inspiring”, “motivating”, “energizing”, “exciting”, “interesting”, and “fascinating” bagi saya. Semoga juga bagi anggota milis lainnya. Dengan kata lain, semoga formula atau rumus saya tersebut dapat terpatahkan dan terhempas keras oleh waktu dan sikap moral yang positif.

Jangan salah, LOVE mempunyai infrastruktur yang bersifat rasional, emosional, dan spiritual, yang berinteraksi secara proaktif, bukannya reaktif. Ketiganya membentuk bauran seperti halnya bauran pemasaran (marketing mix) 4P. Hanya kalau LOVE memiliki 3 (tiga) elemen pokok yang akronimnya adalah RES, sementara bauran pemasaran memiliki 4 (empat) elemen inti 4P. Sehingga dapat disusun matrix-nya, atau dianalisis dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) atau Analytical Network Process (AHP) dari Saaty, baik yang menggunakan software seperti Expert Choice maupun Super Decision.

Perlu diingat dan dipahami, kalau kita bicara spiritual, itu bukan berarti hanya menyangkut bersujud ke arah kiblat di atas sajadah ke haribaan Allah Swt, berlapar-lapar puasa di bulan Ramadhan, dll. Serta juga bukan hanya bernyanyi menyenandungkan kidung doa dengan berjajar menghadap altar serta menerima “altar cake” dari Romo atau Pendeta, menyalakan hio dan dupa di antara lilin-lilin di dalam pagoda, menabur kembang di pura untuk Hyang Widi Wasa, merintih di depan tembok ratapan, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, karena ibadah memiliki esensi tidak hanya vertikal, namun juga horizontal. Sementara esensi taqwa adalah berserah diri kepada Yang Maha Esa, untuk kemaslahatan vertikal maupun horisontal. (Mohon maaf Bpk Kyai, kalau saya salah, karena saya hanya santri diniyah, belum ibtidaiyah, apalagi tsanawiyah atau aliyah, mohon diluruskan jika pemahaman saya salah).

Tentang rasional, emosional, dan spiritual (RES), ternyata juga dipakai dalam Ilmu Pemasaran, hanya bedanya di Pemasaran tersusun secara hierarkis. Dimana customer diharapkan oleh producer untuk dapat memiliki spiritualisme dalam memenuhi kebutuhan atas produk dan jasanya, tidak hanya sekedar emosionalisme, apalagi rasionalisme. Maaf, kepada para pakar Pemasaran, mohon diingatkan kalau saya salah, saya cuma cantrik yang sedang nyuwito atau ngenger di Padepokan (He.he.he..saya jadi ingat peri laku Pailul, yang mirip saya, mendampingi sahabatnya, Panji Koming, yang serba salah ketika sowan ke hadapan Sang Begawan, karena ingat Ni Dyah Gembili, pacarnya, yang mungkin sedang bersama Ni Woro Ciblon, dalam serial strip komik Panji Koming & Pailul karya Dwi Koendoro sejak 14 Oktober 1979 di KOMPAS Minggu). Di Padepokan untuk ngangsu kawruh dengan maksud supaya dapat memiliki ngelmu kang linuwih, karena saya belum dan bukan apa-apa, saya hanya sudro, utawi pidak pedarakan ingkang ngelak ing ngelmu. Amargi ngangsu kawruh salaminipun gesang punika saged anglanggengaken pasederekan lan njangkah ing margining ngagesang ingkang tuhu). Tentang hal ini biarlah nanti beliau-beliau yang ahli Pemasaran yang dapat menjelaskan. Saya sedang dalam posisi untuk belum memiliki kompetensi yang cukup tentang hal ini. Hanya tahu sedikit-sedikit, sekedar pancingan agar ahlinya yang bicara. Mencoba untuk lebih intens dalam berinteraksi di milis ini. (Maaf pakai Bahasa Jawa Krama Inggil, mencoba untuk menapaktilasi peninggalan Ki Hajar Dewantara yang abadi: “Ing ngarsa sung tulada,Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani”, filosofi yang sampai sekarang masih menjadi rujukan di berbagai bidang, termasuk bidang manajemen)

Baiklah, supaya prolog-nya tidak “nggladrah sa wiyah-wiyah” atau berkepanjangan, berikut ini akan saya sampaikan equation-nya seperti yang diminta oleh Bpk Heriyanto dan Bpk. Thomas:

2. Mengelola Cinta adalah Investasi

Saya akan mulai dari statement, bahwa mengelola Cinta itu adalah suatu INVESTASI. Maaf jika statement ini agak materialistik. (Catatan: menurut saya kita memang harus materialistik asal proporsional. Bayi dalam kandungan saja perlu nutrisi/materi untuk dapat melanjutkan tumbuh-kembangnya di kandungan. Semua machluk hidup perlu materi berupa unsur hara atau nutrisi. Asal proporsional jangan RAKUSional atau TAMAKional). Demikian juga Cinta (LOVE) jangan berlebihan.

Cinta atau LOVE (L) memang dapat dianalisis dari berbagai aspek di antaranya aspek ekonomi, budaya, knowledge (matematika, fisika, geologi, komunikasi, psychologi, dll), agama, manajemen, dll.. Tentang hal ini akan saya masukkan dalam SERIAL FILOSOFI MANAJEMEN, yang serial pertamanya sudah meluncur di milis ini dengan judul FILOSOFI MUSIK. Tentang LOVE, masuk dalam serial tersebut dengan topik FILOSOFI CINTA. Jumlah serialnya sendiri direncanakan mendekati jumlah ASMAUL HUSNA, karena saya amat mengagumi kebesaran Allah Swt, dan semua yang saya tulis semata-mata karenaNYA. Tapi akan ditulis secara populer dan universal. Musik, cinta, tukang kayu, makanan, dan lain-lain itu universal kan?

Sebenarnya sebelum ini ada issue yang sangat menarik di milis ini, yaitu tentang Manajemen Konflik, yang mengilhami saya untuk menulis tentang Filosofi Konflik, namun ternyata lebih dulu menulis tentang LOVE, yang muncul karena terinspirasi oleh cerita tentang “Suami dan Gadis Penggoda”, sehingga perbendaharaan formula/rumus lama saya muncul kembali. Saya jadi ingat pemeo saya: “kesempatan tanpa persiapan tidak akan menjadi ‘luck’, sementara persiapan tanpa kesempatan juga akan terbuang dengan percuma, tidak akan menjadi ‘luck’”. Kebetulan saya telah ada persiapan berupa formula atau rumus matematik tentang LOVE, sementara “kesempatan baik” tiba-tiba muncul seiring hadirnya joke “Suami dan Gadis Penggoda”. Padahal serial lainnya sudah lebih dahulu siap edar. Momentum kan perlu dimaknai dan dimanfaatkan secara lebih, bukan? Ini namanya kesempatan, yang kebetulan saya sudah ada persiapan, meskipun sudah lama, dan boleh juga disebut persiapan yang basi. Jadilah “luck” karena menginspirasi saya untuk menulis serial ini.

3. Love Versus Power

CINTA dalam kajian matematika kan perlu ada penjelasan dan solusi matematisnya. Kalau mau bersusah-susah sedikit untuk jeli, apapun sebenarnya dpt dikaji secara matematis. Krn kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah ilmu exact yg terdampar di dunia manajemen. Orang exact pd umumnya memiliki pola pikir CONVERGEN, krn selalu mempermudah segala sesuatu yg sulit, shg mereka selalu menggunakan formula atau rumus2 jk ingin mendapatkan solusi atas suatu masalah. Contohnya: Einstein merumuskan masalah rumit dlm ilmu fisika "hanya" dengan teori relatifitasnya E=mc2. Begitu pula dg Phytagoras, Archimedes, Kepler, Newton, dll. Hanya mereka kan memang bergelut di bidang yg exact. Jarang sekali fenomena sosial yg solusinya dilakukan dengan pendekatan secara exact. Maka ttg LOVE, saya mencoba utk mencari formulasinya secara matematis, meskipun lebih mudah mengkajinya secara fisis maupun biologis.

Sementara teman2 dr bidang non-exact lebih cenderung ke pola pikir DIVERGEN, maaf, lebih cenderung memperdalam apa yg sebenarnya sederhana. Contohnya: Pancasila yg jumlahnya lima itu dikaji sampai dalam sekali. Saya sendiri suka berpola pikir CONVERGEN maupun DIVERGEN, spy balance, dan tergantung masalahnya

Kembali ke pokok bahasan. LOVE (L) berbanding lurus dg POWER (P), krn L akan mudah didapat oleh orang yg memiliki P besar. P melambangkan status sosial, kekayaan, dll. Memang ada perkecualian, namun tidak banyak. Jika diteliti dugaan saya mengikuti kurva lonceng GAUSS. Ordinary, LOVE memiliki pangsa sekitar 80%. Sementara yg extra-ordinary, baik yg superior maupun inferior memiliki kans 20% dr kajian statistik. Ini hipotesis saya. Uji hipotesisnya, maaf tdk dpt saya sampaikan krn menyita tempat. Sebagai ilustrasi memang ada LOVE yg berhasil yang terjadi tapi merupakan anomali dr formula saya, tp jumlahnya tdk banyak, dimana LOVE dinikmati oleh mereka yg P-nya kurang. Kalau tokh kelihatan banyak itu krn terobsesi oleh dongeng-dongeng Cinderella-Sang Pangeran, Romeo-Juliet, Raramendut-Pranacitra, Layonsari-Jayaprana, Saidjah-Adinda, Siti Nurbaya-Syamsul Bahri, Panji Semirang, dll. Kalau tokh saya harus memberikan apresiasi saya akan memberikannya pd LOVE yg berkibar pd diri Widyawati-Sophan Sophian dan Setyawati-Prabu Salya dlm epos Bharatayudha. Tapi itu kan sample utk mendukung formula saya. Krn terjadi pd mereka yg sama2 memiliki P yg besar?

4. Love Versus Speed

Dalam persaingan apapun, termasuk dalam mendapatkan Love, pasti berlaku hukum ”siapa cepat dia akan lebih berpotensi untuk dapat”. Jika tidak ada upaya yang serius dengan kecepatan (kelajuan) yang prima untuk mendapatkannya pasti akan kalah dengan kompetitor. Orang yang ingin mendapatkan Love, tetapi tidak menunjukkan keinginannya sama sekali secara lebih cepat, atau malah ragu-ragu untuk ”menembak” (istilah anak muda jaman mutakhir untuk menyatakan cinta), maka dia akan membuat yang ”ditembak” akan bingung, dan akan memilih yang lebih pasti dan lebih cepat. Saya kira tentang hal ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut, karena mudah dipahami. Sebenarnya ada aspek lainnya di samping speed (kelajuan atau kecepatan) yaitu acceleration (percepatan), namun hipotesis saya belum sampai ke sana.

Menanggapi masukan Bpk. Thomas Nick, memang benar bahwa Speed itu Distance / Time. karena Speed, Distance, dan Time terhubung secara linear, namun itu jika kita bicara secara ilmu exact murni, dimana pola pikirnya memang wajib CONVERGEN. Tapi yang dibahas ini bukan ilmu exact namun non-exact, sehingga mau tidak mau kita wajib ber”mindset” DIVERGEN, sehingga saya belum sependapat jika equation awal bisa di nyatakan dalam dua variabel bebas saja, yaitu P dan kuadrat dari T, seperti masukan Bpk. Thomas. (Maaf, kebetulan salah satu pendidikan saya adalah dari disiplin ilmu Teknik Sipil, di samping ilmu2 dengan disiplin lain, baik yang exact maupun non-exact, sehingga tidak perlu bertanya kepada temen2 dari Teknik Sipil seperti masukan Bapak. Juga karena saya juga memiliki basis pendidikan non-exact, maka pola pikir saya selalu variatif, kapan diperlukan CONVERGEN, kapan diperlukan DIVERGEN, itulah biangnya. Yang penting kedua pola pikir tersebut dapat memberikan solusi yang cepat, efektif dan efisien, dan benar-benar dapat dipahami dan disepakati). Btw, sangat menarik apa yang Bpk sampaikan sebagai masukan. Masukan Bpk sangat inspiring, energizing, empowering, motivating, exiting, fascinating, exciting and interesting. Karena tiba-tiba kemudian saya mulai berpikir tentang formula dalam Ilmu Teknik Sipil lainnya, khususnya Hidrolika atau Mekanika Fluida yang dapat diformulakan sebagai formula Love juga. Yaitu tentang Formula Debit Air, Q = A x S (Debit, berbanding lurus dengan Luas/Area penampang dan Kecepatan/Speed) serta Formula kedua, Q = V / T (Debit, berbanding lurus dengan Volume, namun berbanding terbalik dengan Waktu/Time). Ini sangat dekat untuk menjabarkan tentang Love. Coba saya akan membuktikannya. Tentu saja saya akan mebuat hipotesisnya, untuk diuji hipotesis.

5. Love Versus Distance

Distance atau jarak, merupakan aspek ketiga yang perlu dicermati. Jujur saja, jika kita memiliki Love, namun memiliki Distance yang besar, sangat rawan terhadap distorsi. Godaan banyak sekali yang menerpa. Jika Distance semakin besar sehingga kesempatan untuk menjadi dekat menjadi lebih sulit, misalnya Distance-nya sampai antar-negara atau antar-benua, kesempatan godaan untuk masuk besar sekali, yang ujung-ujungnya akan membuat Love berpaling jika tidak kuat menghadapi godaan. Kasus tentang hal ini cukup banyak. Yang paling fenomenal adalah banyaknya TKW yang sudah bersuami, yang mengandung anak di luar nikah dengan yang bukan pasangannya di negara tempat dia bekerja, atau banyaknya kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh para istri yang suaminya menjadi TKI di luar negeri, karena menisbikan Love. Mana kuat bagi kebanyakan lelaki jika melihat ada wanita sendirian, jika tanpa dibekali Love atau iman yang kuat. Kasus terakhir, seorang Kapolsek di Jatim digerebeg massa, karena berhubungan dengan wanita yang ditinggal suaminya bekerja sebagai TKI di luar negeri. Belum lagi kasus-kasus yang lain. Pada intinya, semakin jauh Distance, sehingga semakin jarang tatap muka akan lebih sering mengkhianati Love. Dengan kata lain, jika Distance semakin besar, maka Love akan mengecil, atau Love berbanding terbalik dengan Distance.

6. Love Versus Time

Marilah kita jujur. Jika usia perkawinan kita semakin panjang (Time semakin besar), apakah Love kita kepada pasangan kita akan sama magnitute-nya atau besarannya? Ada pemeo yang mengatakan, bahwa jika semakin lama berumah tangga, maka pasangan kita akan semakin dipandang sebagai saudara. Sehingga sex menjadi membosankan Usia rawan bagi perkawinan konon adalah di atas 5 (lima) tahun, karena Love mulai menurun, sehingga rawan terjadi godaan. Memang benar ada pemeo Jawa yang sangat populer: ”witing tresna jalaran saka kulina”, itu jika kita baru mulai memasuki pendekatan untuk mendapatkan Love, atau PROLOG-nya. Tapi pada episode EPILOG, menurut saya, pemeo-nya berubah menjadi: ”witing bubrah jalaran saka mlumah”, karena semakin kita memiliki Time yang panjang, maka sex dengan pasangan semakin membosankan (sex di sini untuk euphemisme, di notasikan dengan kata ”mlumah”). Maka banyak sekali kasus pasangan yang kemudian selingkuh. Ingat, sex adalah kelengkapan atau kesempurnaan Love. Love diakui atau tidak, akan lebih lengkap jika disempurnakan dengan sex. (seperti halnya ”Empat Sehat Lima Sempurna”). Apalagi karena tuntutan yang sangat manusiawi, bahwa sex memiliki fungsi regenerasi atau reproduksi, di samping fungsi rekreasi/relaxasi dan retardasi. Sex yang menyimpang yang tidak didasari Love, hanya berbasis nafsu semata memang banyak, namun itu bukan Love,. karena tidak didasari iman yang kuat. Apalagi jika dari sisi wanita tidak dibekali ”real Love”, hanya dibekali atau modal ingin dapat melakukan Mo-Limo (Lima-M): Macak, Masak, Manak, Mangan, Mlumah), yang kemudian prianya juga hanya berbekal Mo-Limo (Lima-M): Main, Madon, Minum, Madat, dan Maling.

Dengan kata lain, konklusinya Love semakin mengecil jika Time membesar, atau Love berbanding terbalik dengan Time.

Bpk Thomas Nick menyampaikan: ”That's why banyak pasangan yang setelah pensiun dan akhirnya spend waktu bersama yang lebih banyak (proximity) dan melakukan sesuatu yang disukai bersama (familiarity) merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya”. Itu memang benar. Tapi ingat, bahwa itu terjadi setelah pensiun. Bagaimana jika sebelum pensiun dan masih muda, namun memiliki Time yang panjang dengan Love-nya? Usia pensiun memang membuat ”familiarity” bertambah karena kesepian ditinggal anak-anak yang sudah berumah tangga, juga karena aktifitas menjadi berkurang. Sehingga Love sering muncul, namun konteksnya lebih ke konteks Love bukan sebagaimana Love antar-pasangan lain jenis, namun Love dengan dimensi lain, dimana pasangan sudah kita anggap sebagai saudara, atau sebagai keluarga. Ingat, di depan sudah saya sampaikan, bahwa Love dalam formula saya, adalah Love khusus untuk hubungan antar lawan jenis. Juga ingat fenomena puber kedua, puber ketiga, puber keempat, dan seterusnya, yang lebih dikonotasikan pada ”kegenitan” bukan kepada pasangan kita, yang seolah-olah bermetamorfosa menjadi sesuatu yang umum. Itu jika kita mau jujur. Coba simak, atau tanyakan ke lembaga-lembaga perkawinan, atau psycholog perkawinan, tentang fenomena ini. Data terbesar tentang maraknya perceraian memang terjadi karena Power (ekonomi) yang lemah, namun data tentang adanya perceraian karena Distance atau Time yang besar merupakan ”invisible case” atau ”silence data”.

Itulah kemudian saya mencoba memperkenalkan formula: L = P x S / D x T. Namun demikian, karena formula tersebut masih uji publik, maka saya sangat mengharapkan masukannya, karena memang belum tentu benar.

Terima kasih.

Wass.

Ratmaya Urip



Serial Filosofi Manajemen 1

FILOSOFI MUSIK

Aplikasinya di Dunia Manajemen

(Pendekatan Musik dalam Manajemen)

oleh: Ratmaya Urip *)

Setiap orang boleh memiliki pendapat yang berbeda tentang definisi musik. Namun jika kita jeli, dari sejuta perbedaan dan cara pandang dalam bermusik atau menyelami musik, ada satu esensi dasar yang menurut penulis patut untuk dicermati, yaitu:

”musik adalah suara yang tercipta karena adanya satu atau sederet bauran frekuensi yang berbeda, yang pada umumnya menumbuh-kembangkan harmoni”.

(Maaf, jika esensi ini berbeda dengan anda, maupun berbeda dengan beberapa textbook).Ya benar, jika kita merujuk pada esensi musik secara umum, termasuk musik sebagai hiburan, baik yang bemata air dari tangga nada diatonik berbasis solmisasi do, re, mi, fa, sol, la, si do, maupun berbasis chord C, D, E, F, G, A, B, C dan juga yang berbasis pentatonik dengan ji, ro, lu, mo, nem, ji, semuanya adalah deretan frekuensi yang membaur. Tidak peduli itu berasal dari suara kucing mengeong, suara ayam berkokok, suara ikan paus yang melengking mencari pasangannya, suara serigala kutub di tengah hutan tundra di padang salju pada malam hari, suara gelegar bongkahan gunung es yang terjatuh ke laut karena longsor, suara gesekan bambu yang saling bergesek karena tiupan angin, suara rumput yang bergoyang, suara ranting terinjak kaki, suara jengkerik di ladang jagung dan kacang, suara manusia yang berujud acapella, maupun suara alat musik modern yang membuncah, mendayu dan menggelora dari alat musik yang dikelompokkan sebagai perkusi (saron, peking, gambang, kenong, bonang, gong, drum, gendang, rebana, dll), brass (clarinet, saxophone, trombone, dll), alat gesek (biola, cello, rebab, dll), dentingan dawai yang dipetik (gitar, sasando, siter, dll), maupun alat musik yang dipencet atau keyboard (piano, organ, dll).

Untuk memudahkan pengertian, sebenarnya musik adalah sesuatu yang sangat sederhana atau sangat generik, karena esensinya ”hanya” bauran dari 7 (tujuh) nada dasar yang sebenarnya adalah bauran dari 7 (tujuh) frekuensi yang berbeda, jika kita mengkajinya dari ilmu fisika, yaitu..do..re..me..fa..sol..la..si..do!!! Masing-masing memiliki nilai hertz yang berbeda yang membentuk tangga frekuensi atau tangga nada. Namun jika dari yang sangat sederhana tersebut kemudian jatuh dalam pelukan jiwa, genggaman raga, serta sentuhan benak dan hati, ditambah bekal berupa imajinasi, kreatifitas, inovasi, relasi, eksperimen dan referensi, semua dapat berubah menjadi indah dan berarti, yang dapat merungkas onak dan duri, menguatkan nyali dan membesarkan hati, sehingga dapat menghasilkan simpati, empati, maupin rizki dan baiduri. Karena kita dapat menjadikan setiap nada dasar yang merupakan tangga nada tersebut naik atau turun setengah nada dengan kres atau mol, dapat menambah atau menurunkan oktafnya, atau memberi diksi menjadi seperdelapan, seperempat atau setengah ketukan, dan juga dapat membuatnya bertempo allegro, moderato dan lain-lain.

Ya, dari ”hanya” sekedar 7 (tujuh) frekuensi berbeda dapat menggemparkan dunia dengan kekuatannya. ’The Power of Music” dapat menggalang dana untuk bencana, dapat menjadi alat kritik atau satire bagi tiran dan diktator, dapat menjadi penawar dahaga bagi yang sedang mabuk cinta, dapat menjadi sarana upacara maupun ritual, dapat menggelorakan semangat perjuangan termasuk perjuangan olah raga, dapat membela kebenaran, dapat menyuarakan ketidakadilan, dan lain-lain. Asal aplikasi musik disampaikan secara tepat, benar, jujur, adil, terbuka, dan dilakukan oleh mereka yang seharusnya bermusik. Karena jika tidak, musik akan menjadi bumerang dan bernada sumbang jika disampaikan oleh mereka yang bukan seharusnya menyampaikan, atau bukan ahlinya. Dengan kata lain, jika aplikasi musik disampaikan oleh orang yang tidak tahu musik, akan membuat kegaduhan dan kehirukpikukan yang tidak perlu, yang sering mencipta bias. Saran penulis, sebaiknya yang tidak tahu tentang musik (baca: manajemen) lebih baik mendengarkan saja (atau syukur kalau bersedia belajar tentang musik), supaya tidak semakin membikin keruh suasana, yang biasanya menjadi kontra produktif dan berujung pada gagalnya pencapaian goal & objective.

Di tangan ahlinya, musik dapat dikemas secara solo, duo, trio, kuartet, choir, maupun orkestra yang membahana. Di tangan ahlinya musik dapat meniti nada-nada secara crescendo, decrescendo, maupun meza-divorce. Di tangan ahlinya musik dapat menggabungkan sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas menjadi harmoni dan paduan yang indah. Di tangan ahlinya, musik dapat dibawakan mulai dari attack, intro, interlude dan codanya secara mengena. Di tangan ahlinya musik dapat diberikan persepsi dan intrepretasi dengan intonasi, artikulasi, phrasering, dan teknik pernafasan yang prima. Di tangan ahlinya musik dapat menggelorakan dinamika mulai dari forte, mezzo-forte sampai fortíssimo, meski dapat pula berubah menjadi selembut piano, mezzo-piano bahkan sampai pianissimo. Itulah “The Power of Music”.

Sebagaimana halnya dengan musik, maka manajemen memiliki esensi dan makna yang sama dengan musik. Karena dapat berupa solo, duo, trio maupun orkestra. Namun harus diartikulasikan, dipahami, dan diimplementasikan secara berbeda. “The Power of Music” identik dengan “The Power of Management”, karena esensi atau hakekatnya sama-sama berazas pada “The Power of Implementation”.

Dalam manajemen yang “paling generik”, kita ”hanya” dibekali dengan esensi berupa 4 (empat) “nada dasar” dengan frekuensi atau nilai hertz berbeda, yaitu: Planning-Organizing-Actuating-Controlling (P-O-A-C), atau Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A) yang dikenal sebagai Deming Circle, dan lain-lain. Itu malah kurang dari 7 (tujuh) nada dasar dalam musik dengan sistem diatonik, atau 5 (lima) nada dasar musik dengan sistem pentatonik. Kalau tokh kemudian kita dijejali dengan sistem manajemen yang “branded” dan mutakhir seperti TQM, ISO Series, GCG, BSC, MBNQ, Toyota Way, Lean Manufacturing, Six-Sigma, Performance Management System, Prism, Key Performance Indicator Manual, Activity Based Management, Knowledge Management, Tacit Management, CBHAMS, Analytical Hierarchy Process (AHP), Analytical Network Process (ANP), Service Excellence, Primavera, dan lain-lain, itu sebenarnya memiliki esensi yang sama dengan sistem manajemen yang paling generik sekalipun. Yang penting ádalah bagaimana “The Power of Implemention” dapat menjadi infrastruktur atau kapital bagi manajemen. Asal “The Music of Management” memperoleh pemain musik dan/atau conductor yang tepat. Supaya harmoni dan keindahan yang ingin dicapai dapat menjadi nyata dan bermakna.

Sebagai contoh, sudut pandang atau ilustrasi lain, DNA boleh beda dengan struktur atau sistem yang kompleks, namun esensinya polimer DNA memiliki tiga komponen utama yang sama, yaitu: gugus fosfat, gula deoksiribosa dan basa nitrogen. Di samping itu sangat jelas, bahwa DNA terdiri dari dua rantai, rantai yang satu merupakan konjugat dari rantai pasangannya. Dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangannya akan mudah dibentuk. (Aplikasinya dalam Manajemen, silakan baca: Filosofi DNA dan Filosofi Atom).

Kembali ke topik bahasan. Di dunia musik (baca: manajemen) kita wajib mengetahui apa, siapa, untuk apa & siapa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa kita harus bermusik (baca: mengelola). Kapan kita mengelola secara crescendo, kapan harus decrescendo atau meza-divorce. Dimana kita harus acapella, mengapa harus diiringi orkestra atau harus solo atau trio. Juga dalam manajemen kita harus mengetahui bagaimana caranya meniti deretan nada dengan pitch control atau intonasi yang prima, supaya memenuhi standar yang ditetapkan.

Dalam manajemen, seperti halnya musik kita harus pandai menyuarakan nada-nada dengan penuh harmoni, tidak fals atau sumbang yang dapat membuat pendengarnya menjadi tersiksa. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita perlu sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas, serta membuat warna suara atau timbre yang berbeda tersebut menjadi harmoni yang indah, penuh keseimbangan yang benar-benar tanpa cela. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat memberikan artikulasi, intonasi dan phrasering yang tepat. Apakah kita harus meniru Bimbo, Opick, Ernie Johan, Engelbert Humperdinck, Andy William, ST 12, D’Massive, Kris Dayanti, Siti Nurhaliza, Whitney Houston, Shania Twain, George Groban, Christopher Abimanyu, Luciano Pavaroti, Shaggy Dog, John Lennon, atau Mick Jagger? Apakah anda akan mendendangkan lagu cengeng mendayu-dayu, atau lagu berirama cadas, semuanya tergantung anda, karena tergantung dari kemampuan anda. Termasuk jika anda hanya dapat menyanyikan lagu anak “Bintang Kecil” dan “Balonku” atau menyanyi rap. Syukur jika anda memiliki teknik vokal atau teknik bermain musik yang unggul, gaya yang khas, dan kemampuan pendukung lainnya, yang dapat menjadi personal brand anda, sebab itu akan lebih dapat memberikan banyak keuntungan bagi anda. Yang juga patut dicatat, dalam bermusik anda wajib mengetahui dan menelaah, apakah musik yang anda sajikan sesuai atau tidak dengan keinginan dan kedahagaan audiences anda. Jika anda bermusik hanya untuk diri anda, tentu saja berbeda jika anda harus bermusik dengan audiences yang memiliki selera atau warna musik tertentu. Anda tentu saja tidak boleh lepas dari cengkeraman selera mereka, jika ingin mendapatkan apresiasi atau “standing ovation”.

Dalam manajemen juga ada frekuensi atau nilai hertz yang berbeda, yang dituntut untuk dapat saling memberikan harmoni atau dapat menciptakan interferensi yang positif sehingga tercipta sinergi dari energi dan nurani yang tersaji. Dalam manajemen, pandai-pandailah kita untuk memilih kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat bermusik secara minor, mayor, atau kombinasi keduanya. Juga kita harus pandai melakukan atau menikmati salah satu atau lebih dari jenis-jenis musik reggae, jazz, blues, country, rock ’n roll, keroncong, dangdut, melayu, stambul, gambus, maupun jenis musik lainnya.

Seandainya anda hanya dapat bermusik (baca: mengelola) yang paling generik dengan hanya mampu meniti nada-nada..do..re..mi..fa..sol..la..si..do, lakukanlah itu dengan cara dan gaya anda. Asal jangan sampai sumbang dalam menyajikannya. Karena anda telah benar-benar bermusik. Daripada anda menyanyikan lagu seriosa yang menguras kemampuan teknik vokal berupa interpretasi, dinamika, artikulasi, intonasi, tempo, teknik pernafasan, dan phrasering yang prima, namun bernada sumbang. Lebih baik anda berteriak ...aaa..uuu..ooo, seperti Tarzan sambil bergelayutan di akar yang menjulur di antara pepohonan di lebatnya belantara, karena itu ternyata secara efektif dan efisien dapat sampai pada tujuan untuk memanggil sahabat-sahabat binatangnya, karena akhirnya semua binatang sahabatnya di seluruh belantara dapat mendengar suaranya dan dapat hadir untuk berkumpul merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sesuatu. Karena teriakan aaa...uuu...ooo, dari Tarzan adalah musik generik paling alami dalam kehidupan, seperti halnya suara deburan ombak yang memecah di pantai, kicau paksi di antara embun pagi, desiran pawana siang di antara rumput sabana, kepak sayap burung pemakan bangkai di padang prairi, suara katak ketika hujan atau senja tiba, suara perkutut dan cucak rawa di pendapa atau pringgitan kabupaten maupun rumah gedongan, atau suara tangis bayi ketika baru lahir.

Demikian juga dalam manajemen, jika anda hanya mampu melakukan aktifitas manajerial secara generik, atau juga hanya yang alami, lakukanlah itu secara benar dan benar-benar dilakukan, daripada anda memilih sistem manajemen yang “branded”, namun anda lakukan tanpa pemahaman yang benar, sehingga banyak disturbsi, distorsi dan deviasi.

Berlakukan sistem manajemen yang “branded” jika leadership dan kemampuan anda sudah cukup untuk mengajak orang-orang anda dalam organisasi untuk melaksanakan variasi atau kombinasi dari largo, adagio, moderato, vivace maupun presto. Dan akan lebih baik lagi jika anda mampu untuk membawa organisasi anda menuju con amore, con brio, con fiesto, con espressione, con dolore maupun con maestoso. Juga kapan harus legato, marcato, staccato, atau rubato.Sementara untuk mencapai nada tinggi (target yang tinggi), sementara anda tidak mampu, pilihlah falcetto. Jika anda memang benar-benar mampu bermusik (baca: mengelola) pastilah anda tahu caranya untuk melakukan transposisi atau modulasi, serta memanfaatkan resonansi. Pastikan anda mengambil keputusan untuk melakukan ritenuto, accelerando atau tempo primo.

Lakukan semuanya dengan menggunakan keseimbangan antara teori dan praktek. Jangan dewa-dewakan teori, jangan lecehkan praktek. Karena teori tanpa praktek itu omong kosong, sementara praktek tanpa teori itu ngawur. Karena pada dasarnya teori itu bermata air dari proyeksi empiris banyak praktek. Bermusik (baca: mengelola) hanya dengan teori tanpa praktek tidak akan dapat dinikmati, sementara bermusik dengan praktek saja tanpa teori tidak akan pernah membuat kita lebih maju karena tanpa continual improvement, yang akan dapat membawa kita memenangkan persaingan.

Semuanya semata-mata untuk membangkitkan seluruh pantat penonton beranjak dari kursinya untuk memberikan ”standing ovation” bagi musik anda. Yang terpenting, jangan sampai orang mengatakan: ”Wah...ternyata suara atau permainan musik anda merdu, indah atau luar biasa sekali...! Namun akan lebih merdu lagi jika anda ...bersedia untuk DIAM!!!” Karena suara atau permainan musik yang fals atau sumbang anda, akan membuat orang-orang mengernyitkan dahi, bahkan mungkin muak, mencemooh, atau mengganggu anda dengan suitan-suitan panjang melecehkan. Beruntunglah anda jika tidak disuruh turun dari panggung musik anda. Anda mungkin saja berpedoman, biar saja anjing menggonggong, kafilah tetap akan berlalu. Namun bagaimana jika anjingnya menggigit, tidak hanya menggonggong? Tanpa anda sadari jika anda fals atau sumbang akan membikin kegaduhan manajerial, yang akan menggerogoti kapitalisasi manajerial anda, yang dapat bermuara pada kegagalan pencapaian goal dan objective anda.Yang terpenting dan patut dicatat: “suara fals atau sumbang anda, tidak akan pernah lebih merdu atau lebih enak didengar daripada seandainya anda DIAM !!!”

Namun semuanya itu adalah pilihan! Tergantung mana yang akan dipilih! Yang pasti semuanya memiliki jalan masing-masing.

Yang pasti, musik sulit dan tidak akan pernah menjadi lampau, bahkan akan semakin tumbuh dan berkembang seperti halnya manajemen. Karena musik merupakan bagian dari seluruh masa, termasuk masa depan. Demikian juga halnya dengan manajemen yang wajib ada di seluruh masa. Untuk itu bertabiklah pada masa, supaya anda tidak dicerca oleh masa atau waktu. Juga bertobatlah untuk tidak bermusik secara fals atau sumbang, supaya harmoni yang prima tetap ada dan berada di jalurnya. Sehingga tepuk tangan yang membahana di tengah-tengah jutaan manusia yang tiba-tiba bangkit dari duduknya, berdiri, untuk memberikan apresiasi atas musik anda, menggelegar di setiap wahana dimanapun anda berada. Karena bagaimanapun juga, cara anda bermusik identik dengan cara anda mengelola.

Bagaimana caranya melakukan aktifitas manajerial dengan pendekatan pada filosofi musik? Ikutlah workshop-nya untuk 5 (hari) hari pelaksanaan! Karena yang tertulis di atas hanyalah kulitnya, yang “hanya” setara dengan 1 (satu) hari seminar. Juga karena manajemen adalah seni untuk dapat diaplikasi dan dinikmati, bukan hanya ilmu atau pengetahuan an sich yang berujud teori maupun aplikasi. Yang pasti keduanya memang wajib untuk bertabik pada apresiasi meski tanpa atau dengan audisi. Bukan hanya baka, namun juga fana. Karena baik musik maupun manajemen sama-sama universal. Yang seharusnya bebas dari belenggu apapun, jika tidak ingin ditinggal oleh ruang dan waktu, serta dimensi lain di atasnya, jika memang masih ada.

Terima kasih.

Salam Manajemen.

Wass.WW.

ooOoo



Jumat, 11 November 2011

Republik Kentut


(Satu lagi Puisi mBeling)

Oleh: Ratmaya Urip*)


Adalah kisah tentang negeri antah berantah

Yang petanya tidak ada dalam denah

Yang telah menapak kisah dan mulai menjadi sejarah

Dengan meniti amarah dan sulit menata gundah

Yang muaranya hanya ada sumpah serapah

Karena hari-harinya hanya ada keluh kesah

Dan bisanya hanya pasrah menyerah

Meski kadang ada darah yang tumpah


Anak negeri saling tohok tanpa ada seronok

Dengan leher penuh gondok bahkan saling gorok

Tak ingin menjadi keok karena tersodok

Apalagi menjadi bonyok

Atau menjadi mayat yang kemudian hanya teronggok


Nurani tak berani lagi bernyanyi

Tentang indahnya pelangi pagi

Atau berceloteh tentang indahnya cakrawala negeri bahari

Juga tentang ibu pertiwi yang penuh mimpi surgawi

Tentang peri azasi yang hakiki

Karena yang tersisa adalah ganasnya duri-duri

Karena kelamnya mimpi buruk rezim duniawi

Yang tak ada sisa untuk sudut hati surgawi

Yang telah menjarah negeri


Kentalnya dosa yang beranak pinak

Yang berbekal laku tak terpuji yang selalu bersorak

Telah menjajah negeri dengan congkak


Dada ini kembali berkerut, karena hati menciut

Wajah mengkerut kecut

Karena rezimnya memang dibelenggu rezim kentut

Eranya memang era kentut

Maka negeriku menjadi tanah ’tuk buang kentut

Sayang sekali, republik tercinta inipun menjadi republik kentut


Padahal yang hakiki republikku gemah ripah loh jinawi

Penuh baiduri dan ranah ramah yang dapat mencipta punagi

Dengan manusia yang dikenal ramah berbudi

Penuh toleran saling berbagi

Namun itu kini tak ada sisa lagi

Hanya karena rezimnya tidak berbudi

Yang tak pernah ada hasrat terciptanya sejahtera bagi negeri


Bukan aku tak cinta negeri ini

Bukan pula tak hendak menghargai jerih payah pendiri negeri

Yang berjuang tuk merdeka atau mati

Karena sangsi atas ketidakpercayaan yang telah mendera sepanjang masa yang kini

Dalam bara panas yang mengoyak dada ini


Tak sangsi aku cinta pada republik ini

Namun aku tak yakin pada yang akan terjadi nanti


Pertanyaan Akbar itu kini tiba

Apakah negeri benar-benar telah berlindung di haribaan Pandawa

Atau ternyata dalam kungkungan Kurawa yang merajalela

Juga apakah negeri ada di pihak Prabu Rama

Atau ternyata dalam dekapan angkara Rahwana

Karena yang tersibak di lontar yang terterpa pawana

Kemarin, kini dan esok

Nampaknya menyiratkan Kurawa telah berkuasa

Atau Rahwana telah merajalela


Dimana mana wajah kerut penuh cemberut

Ada yang merengut

Ada yang merasa terpagut

Juga telah membuat jantung berhenti berdenyut

Karena dimana-mana bau kentut

Kentut korupsi di negeri ini

Berbau namun sulit di deteksi

Kecuali yang berani acung jari atau malah unjuk diri

Bahwa dia telah menjadi tikus negeri


Di republik antah berantah ini

Tepatnya saat ini

Kentut korupsi malah membuat si empunya pantat semakin unjuk gigi

Tak ada yang berani

Atau tak kuasa menjadi panglima yang berpedang menuju henti berbekal nurani

Atau membuat korupsi menjadi basi

Bicara tentang kentut korupsi di negeri ini

Memang sempat membikin gaduh dan riuh seolah tak ada henti

Hiruk pikuk saling menekuk

Namun cepat basi karena melendut dan menggelayut

Karena korupsi di republik ini

Bak kentut yang cepat lenyap tertelan bumi

Meski berbau busuk menusuk

Sekejap kemudian lenyap dan luruh penuh seluruh

Punah tak bersisa termakan masa


Tut..tut..tut...siapa hendak turut?

Ke seluruh sudut republik yang penuh serut dan carut marut

Terpagut berjubelnya anak negeri yang suka kentut

Saat yang tepat ‘tuk korupsi merajalela bak kentut

Yang berbau busuk penuh kejut dan pagut

Namun kemudian senyap dan lenyap termakan kabut

Meninggalkan kepala yang bisanya hanya manggut-manggut

Karena tak kuasa melawan nurani ‘tuk tidak ikut kentut

Karena eranya memang era Republik Kentut

Dalam kuasa rezim kentut

====== ============

RU: Renungan Hari Pahlawan

Kota Pahlawan, 10 Nopember 2011

Selasa, 06 September 2011

Antologi Puisi "Ratmaya Urip"

ear All Members,
The Managers Indonesia
The Managers Indonesia

Di bulan Ramadhan ini saya persembahkan sebagian coretan saya yang coba saya kumpulkan kembali.

Antologi Puisi saya ini sengaja saya bagi 4 (empat) katagori, yaitu Puisi Religi, Puisi Kehidupan, Puisi Mbeling dan Puisi Romansa, yang masing-masing terdiri dari beberapa puisi dengan thema yang berbeda.

Puisi-puisi ini kebetulan hadir di benak dan langsung dapat menjadi karya, yang lahir selama berkelala dan mengembara di sudut-sudut Nusantara, di tengah penantian di airport yang menjemukan, atau di tengah lebatnya belantara Borneo, atau dalam ferry yang dengung mesinnya memekakkan telinga di Selat Karimata, atau di antara derap kuda liar di padang prairi dan sabana di Sumbawa, atau ketika tengah mengagumi indahnya panorama Bukit Nona dalam perjalanan ke Tana Toraja.

Beberapa Puisi memang sudah pernah hadir di milis ini. Namun yang ini merupakan hasil revisi yang terbaru.

Saya berharap bagi yang dapat menikmati, untuk dapat memberikan sentuhan kecil agar dapat menambah etos dan semangat, sehingga dapat menapaki karya dengan lebih baik.

Bagi yang merasa bahwa ini tidak ada manfaatnya, mohon jangan sungkan-sungkan untuk langsung saja men-delete-nya. Karena saya tahu, ada yang tidak suka dengan Puisi.

Salam Manajemen.

Ratmaya Urip

ooOoo

Antologi Puisi Ratmaya Urip*) :

1. PUISI-PUISI RELIGI:

JalanNYA
Oleh: Ratmaya Urip

JalanNYA adalah jalan ukhuwah yang penuh amanah
Jalan ibadah yang membawa berkah dan anugerah
Bukan jalan untuk kita saling berbelah dan pecah
Atau jalan yang mengajak gerah atau saling enyah
Bukan pula jalan untuk saling menghardik dan menyumpah
Yang dapat membuat kita tercabik-cabik
Namun untuk menjadi baik dan saling bertabik
Supaya hidup ini menjadi laik

JalanNYA adalah jalan untuk berserah pada ukhuwah
Jalan menuju selamat dunia akhirat

Kebaikan dan kebenaran bukan hadir karena jerat
Namun karena sadar diri yang membuatnya ingat akhirat
Ketaqwaan bukan tiba karena memasung nurani
Namun karena jati diri telah sadar betapa indahnya kehidupan surgawi

Di jalanNYA selalu ada ampun
Meski dosa telah terhimpun menjadi rumpun
Karena selalu ada tempat untuk munajat dan hajat
Dari peri laku khianat atau laknat yang sempat menjerat
Bagi yang ingin taubat
Bagi yang sadar bahwa hanya jalanNYA
Jalan yang dapat membawa kepada sempurna dunia akhirat
Karena jalan Illahi tak pernah berhenti atau mati
Bagi pelita kehidupan dan cahaya kebenaran surgawi

Sidoarjo, 12 Agustus 2011

=============== ========

Jalanmu
Oleh: Ratmaya Urip

Hari-harimu adalah jalanmu
Jalan lurus nan mulus menuju ridho Illahi
Atau jalan berkelok penuh onak, duri dan badai jahanam yang bukan jalanNYA
Karena itu pilihanmu

Pilihan adalah ruang dan waktu
Sementara ruang dan waktu adalah lorong sempit yang sulit untuk berkelit bagi jalanmu
Padahal jalanmu dapat mencipta oase bagimu ketika letih, lapar dan dahaga pada spiritualmu
Oase yang selalu ada saat kau berangkat atau ditengah jalan ketika kau sekarat
Sementara aku tahu bahwa inginmu adalah selamat
Yang tentu saja itu tidak cukup hanya dengan semangat

Benak dan nurani adalah mata air bagi hati
Bekal bagi jalan yang akan tertiti
Yang selalu menyisakan langkah untuk hati-hati
Bahkan selalu ada arah untuk berganti yang selalu menanti
Untuk kembali ke pelukan sajadah panjang membentang
Dalam pasrah serah kepada chalikmu
Dalam tulusnya doa-doa
Dalam langkah-langkah di jalan lurusmu
Yang bermuara kepadaNYA

Jalanmu selalu ada oase untuk berpaling atau berteduh
Berlindung padaNYA yang penuh seluruh
Tanpa harus membuat gaduh dan keruh
Tanpa harus menghardik kiri kananmu
Karena jalanmu yang damai dan lurus
Yang penuh mulianya akhlak yang menyibak
Tak pelak akan menabur pukat dan pikat menuju dunia-akhirat
Menuai mereka untuk mengikutimu
Dalam jalanmu

Sidoarjo, 12 Agustus 2011

==================== ========

Ramadhan
Oleh: Ratmaya Urip

Lapar dan dahaga Ramadhan
Yang berujung Imsak dan berpangkal dalam pelukan Maghrib yang meneduhkannya dalam merdunya adzan
Adalah anugerah dan amanah Illahi
Yang akan selalu hakiki dalam nurani

Dalam Ramadhan
Meski dera raga melumat dengan fana
Namun ayun langkah hati yang menanti selalu tiba dengan pasti
Menuju perjalanan yang baka dan surgawi
Berbekal rohani yang tak henti berbagi dengan segala yang hakiki
Tuk menyapa pahala, yang penantiannya selalu hadir dalam hayati

Ramadhan adalah bulan penuh barokah, rahmat dan ampunan
Yang penuh pahala yang sama dengan seribu bulan
Yang menjadi impian setiap insan

Bulan penuh tadarus yang enggan untuk putus
Mengumandangkan hajat, munajat dan hayat yang enggan untuk penat
Tentang ayat ke ayat, surat ke surat, dan juz ke juz dari awal sampai tamat

Ramadhan
Di pintumu aku mengetuk
Tuk mencabik dosa-dosa yang selalu menggoda
Supaya ku dapat bertabik dengan pahala
Dari Yang Maha Kuasa penguasa semesta

Ketika sajadah membentang dan dahi menyentuhmu dalam doa Illahi
Dalam wajibnya sholat fardlu
Dan dalam sujud tarawih yang tak henti untuk merungkas dosa-dosa
Dalam doa-doa yang menghardik segala laknat yang sedang lekat dengan pesta yang mengusung khianat sampai kiamat
Tuk jalan lurus penuh seluruh
Pada surgawi yang hakiki dan abadi
JalanMU

==================== =============


2. PUISI KEHIDUPAN:

Jika Aku Dapat Memilih Rahimku
Oleh: Ratmaya Urip

(Tangis pilu bangsaku untuk Ruyati binti Saboti, yang terenggut nyawanya bukan karena kehendaknya. Meski berjuang demi hidupnya dan devisa bagi negara, namun tak ada budi dari negaranya, sehingga maut menjemputnya)

Jika aku dapat memilih rahimku
Pasti kan kupilih yang kuasa membekali cita dan cinta
Atau yang menjamin asa ‘tuk hidup bahagia

Jika aku dapat memilih rahimku
Kan kupilih yang dapat membekali hari esok
Untuk hidup penuh seronok
Dengan tembang yang indah penuh cengkok
Dan tentu saja yang bukan olok-olok

Jika aku dapat memilih rahimku
Tak ingin ku dapat bara panas menyengat
Yang membuat hidupku kesrakat atau sekarat
Dan membawa jiwa ragaku menjadi kiamat

Jika aku dapat memilih rahimku
Kan kupilih bukan penuh hari yang selalu gopoh
Yang terbirit kecut dari yang tak senonoh
Bukan pula yang merogoh goroh
Apalagi yang secuilpun tak menyisakan seloroh

Jika aku dapat memilih rahimku
Aku tak ingin hidup selalu bongkok atau bengkok
Apalagi berlumur borok yang bosok yang membuatku bonyok
Juga tak mau hidup terseok-seok
Nyatanya sejak pagi ayam berkokok sampai dini hari lagi masih terpojok
Tak peduli meski wedok atau denok
Di negeri orang yang meski penuh seronok
Namun penuh tohok, dan tonjok
Serta golok yang selalu siaga untuk menggorok

Jika aku dapat memilih rahimku
Kan kupilih yang membawaku hidup damai dan sejahtera
Yang setiap asa dapat bertabik mesra
Pada limpahan tahta dan harta
Yang dapat kutebarkan ke seluruh jelata
Supaya nestapa mereka menjadi sirna
Baka mereka menjadi fana

Jika aku dapat memilih rahimku
Pasti kupilih untuk fana dengan kereta, harta dan tahta
Yang selalu dijalanNYA
Yang nyata dan kebak pesona
Di tengah lambaian jelata yang ceria sepanjang masa
Dipeluk bahagia yang sejahtera

Jika aku dapat memilih rahimku
Tak ada benakku tuk mengutil uang negara
Atau korupsi dan merampok seperti yang kini merajalela
Pesta pora mengajak dosa mengundang laranganNYA
Menghardik perintahNYA

Namun rahimku adalah rahimNYA
Jalanku adalah jalanNYA
Untuk memilih pasti ku tak kuasa
Dan rahimku kini mengantarku ke gerbang baka

Rahimku telah membawaku tak pernah ada kidung
Karena selalu tertatih murung penuh busung dari kampung ke kampung
Dan terjerembab menuju pentung, pasung dan gantung
Yang bermuara pada kejamnya pancung

Sidoarjo, 21 Juni 2011

=================== ================

Prosa Kecil tentang Kehidupan
Oleh: Ratmaya Urip

(Diilhami ketika dalam perjalanan dalam Ferry: “Marina Batam 10”, route Tanjung Pinang-Batam, 18 Februari 2011, sehabis Jumatan di Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat)

Hidup ini bak ombak yang penuh nafsu amarah mengejar buritan
Yang terbelah palka dan lunas dalam hempasan baling-baling perahu motor
Yang menonjok birunya laut nan tenang dan merungkas heningnya camar yang tengah memindai mangsa

Ombak di buritan perahu motor untuk sesaat nampak ganas, merungkas nafas, menjulat benak, menyibak ‘tuk meniti hati yang gaduh dan dingin berpeluh
Sejenak bergelora, dinamis penuh turbulensi yang bermuara pada cemas, seolah menyongsong mati
Namun tenang itu kembali tiba seiring layunya buih yang memutih, memendar dan berujung rintih yang telah pipih

Tak meninggalkan guratan dan sobekan air meski seserpih
Kembali tenang...begitu tenang... nyaman, damai dan laminer bak semula
Memasung cakrawala ‘tuk tetap mendendangkan sumilirnya tembang pagi dan kidung senja

Kadang memang gelora badai tiba kebak sorak, yang menyeruak dan menghentak
Namun sesaat kemudian pergi untuk kembali di esok hari.

Sementara perahu motor sudah laju jauh dari mata dan indera
Yang memang beranak gelora dan dinamika sesaat...namun selalu kembali ke damainya mentari yang memasung hari-hari.

================== ================

Catatan Kecil buat Hidupmu
Oleh: Ratmaya Urip

Jika hidupmu hanya rakus menyantap waktu semata
Tanpa prasasti ‘tuk kehidupan
Yang kebak guna dan makna bagi manusia
Maka perjalananmu telah lekang termakan sia-sia
Terungkas dukana
Dan Nuranimu kan penuh sesal di akhir masa

=================== ================

3. PUISI-PUISI MBELING:

Negeri Birahi
Oleh: Ratmaya Urip

Tatkala negeri sedang disandera birahi
Maka yang lahir adalah libido kuasa dan nafsu duniawi
Untuk selalu korupsi dan memasung kreasi
Menyisakan sampah ‘tuk menjadi sumpah serapah
Silang pendapat dan omong kosong tak ada arah apalagi denah
Menggoyang kursi ‘tuk selalu goyah
Meski tak ada yang mau menyerah kalah
Apalagi pasrah

Tatkala hati anak negeri tengah dilibas hakikinya sepi dan ngeri
Di belantara caci maki yang membahana dari para wakilnya yang “hanya” politisi
Bukannya negarawan yang tak pernah sepi berpikir negeri
Namun tak berkesempatan mencicipi kursi

Tetap saja hari-hari kebak caci maki
Sumpah serapah tak bisa diseruak meski sejenak
Maka maklumlah jika untuk negeri hanya menyisakan dukana
Karena pemegang mandat suara lebih suka pada cara merajut kuasa
Mencumbu dosa-dosa
Bukannya membangun jelata merungkas papa yang penuh nestapa
Karena benaknya penuh punagi tentang hidup bergelimang harta, wanita dan tahta
Meski mulutnya berbusa tentang negeri yang adil makmur dan sejahtera
Meski sebenarnya tanpa hati
Karena semuanya itu baka
Yang enggan bertabik pada fana
Dalam rimbunnya belantara jelata yang renta
Jelata yang tak berkesempatan ‘tuk menabung asa apalagi menggapai cita

Tatkala benak negeri tengah dikoyak mimpi
Maka yang ada hanyalah omong kosong tentang damai, adil dan makmurnya negeri
Atau kidung tentang negeri gemah ripah loh jinawi

Sementara jika hati negeri sedang dijajah libido
Maka kehendak hanyalah mengusung celoteh menco atau beo

Hari-hari yang menapaki warsa kini menggelegarkan maki-maki
Yang penuh amarah dan benci
Sumpah serapah tak ada henti
Saling jegal membenarkan diri
Meski semua tak ada yang dapat dimengerti
Karena memang tak ada arti apalagi hakiki

Birahi kuasa, libido tahta, mewabah di era reformasi
Mata air bagi suburnya perilaku tak terpuji
Dan bagi matinya nurani dan harga diri
Karena telah menafikan jalan Illahi

Kursi tinggi dan birahi di seluruh ranah negeri
Telah menolak santun dan rendah hati ‘tuk dibagi
Kecuali korupsi yang tergopoh ‘tuk dinikmati
Semua mau menangnya sendiri dan menjadi milik pribadi
Itulah negeri yang sedang birahi

Semua seolah mengatasnamakan negeri
Meski ‘ku pasti itu adalah negeri yang ada di perutnya sendiri

Sidoarjo, 20 Mei 2011

================= =============

Wajah dalam Seonggok Kotak Visual Elektronik
Oleh: Ratmaya Urip

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Midah
Di lokasi yang pasti tak ada dalam peta dan denah
Di tempat tanpa petunjuk rambu arah panah
Karena adanya memang di negeri antah-berantah
Ada kidung tentang tembang senja berawan merah yang marah
Bukan lagi lembayung yang merekah yang bikin jengah dan pipi memerah

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Abah
Itu wajah kok sumringah renyah penuh tawa gairah
Dalam pesta gempita yang pongah dan meriah
Seraya debat kusir tanpa arah
Tanpa ada benak dan hati yang gerah, desah, resah dan merasa salah
Meski penonton dengan raga yang papa tengah gundah
Sedang yang renta jiwa bermadah gelisah karena susah

Apa mau menunggu semakin payah dan parah?
Atau menunggu marah yang dapat bikin goyah dan patah?
Yang hanya akan menyisakan darah dan sejarah?

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Poltak
Nestapa telah beranak pinak
Dari Subuh sampai Maghrib menyeruak
Seluruh cakrawala Indonesia telah habis berteriak sampai serak
Namun wajah dalam seonggok kotak visual elektronik itu tak juga tergerak
Apalagi mau menyibak duri dan onak
Karena sudah merasa enak

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Samsu
Semua sedang menunggu waktu
Saatnya penonton dapat sesuap nasi, sesobek baju dan sebenggol doku
Bukan segudang harta hasil korupsi yang dapat terwaris ’tuk anak cucu
Seperti yang diperoleh si Gayus Tambunan si raja kecu

Tapi mana mampu?
Jika wajah dalam kotak elektronik itu hanya berpangku dan beradu mulut berebut doku
Untuk menggendutkan saku
Serta menolak untuk malu
Karena mereka memang benalu
Yang tumbuh subur di pohon duku dan jambu

Jika wajah dalam kotak elektronik itu tak henti untuk korupsi
Miskin, papa dan nestapa penonton ini tak mungkin akan berhenti
Padahal penonton hanya ingin lebih dini
Menunggu hadirnya hidup yang indah penuh arti
Di sisa-sisa hari yang akan tertiti

Penonton hanya ingin ada asa
Syukur jadi nyata
Tidak lagi ada lapar, dingin dan masuk angin yang menerpa raga dan jiwa
Dalam lebatnya papa dan nista
Yang telah beranak pinak meng-Indonesia

Kapan miskin raga dan papa jiwa ini kan berlalu?
Wahai wajah yang ada di kotak visual elektronik-ku?
Jangan hanya bersilat lidah melulu
Yang muaranya hanya menggendutkan doku di sakumu

Ampun ya Allah
Ke kiblatmu takwaku berserah
Ke hadiratmu istigfarku bermadah
Di legamnya sajadahku yang mulai terengah
Jauhkan wajah di kotak elektronik itu dari kata penuh kilah dan sumpah serapah
Sadarkan mereka tuk berbenah ke kebenaran arah
Berikan penonton kuat tanpa sampai menunggu menyerah pasrah
Berkatilah dengan kesembuhan dari koma yang parah
Supaya Indonesia-ku gegap penuh gairah
Supaya rizkimu segera tumpah ruah
Karena tibanya kebenaran dan keadilan hasil jerih payah
Dan bersinarnya fajar pagi di ufuk memerah
Amin.

Sidoarjo 20 Mei 2011

================ =================

Kidung Negeri Onani
Oleh: Ratmaya Urip

Konon jika tak ada lagi insani peduli
Dan tak ada lagi bahagia ‘tuk dibagi
Atau tak ada lagi nyanyi sunyi tentang manusiawi
Apalagi menyantap indahnya pelangi di rintik hujan pagi
Dan malah menghardik kidung paksi yang beriring ke cakrawala senja yang kebak sari
Atau tak hendak bertabik pada nurani
Karena hanya peduli pada hari-hari untuk selalu korupsi
Atau ketagihan ‘tuk pantat duduk di kursi tinggi
Kompetisi rakus menumpuk harta diri yang tanpa harga diri
Meski itu milik negeri !
Sementara gubug reyot mewabah di seluruh negeri
Dan tak ada lagi nasi untuk berbagi gizi
Tak ada lagi bagi jalan Illahi
Maka negeri sedang onani

Konon jika negeri sedang onani
Memuaskan diri dalam nafsu hewani itu sudah pasti
Tak ada peka yang pekat
Semua hanya nafsu duniawi yang bejat penuh rekayasa jahat
Beranak-pinak menabur pesona diri dengan pikat dan sepaket pukat
Pawai nafsu menebar jerat
Memukat dosa yang selalu mendekat
Dan tak ingin ada tobat
Apalagi tak rindu hasrat menabung akhirat

Konon dalam negeri yang sedang onani
Semua yang adil menjadi basi
Yang benar terpancung eksekusi
Yang munafik menjadi raja
Yang berkuasa adalah paksa dan dosa-dosa
Dan tak peduli pada doa pada yang Kuasa
Dalam, meniti masa

Konon dalam negeri yang sedang onani
Kemakmuran menjadi jera
Kedamaian menjadi renta
Kejayaan menjadi papa
Yang jujur menjadi baka
Yang culas menabur fana
Karena semua syahwat dunia
Libido harta, angkara tahta, dan birahi kuasa
Tak ada damainya surga
Ataukan karena itu azab dan siksa Yang Maha Kuasa
Karena telah bermanja dengan dukana

===================== ========

Tembang Negeri Antah Berantah
Oleh: Ratmaya Urip

Ketika keadilan dan kebenaran telah sekarat
Atau kemunafikan menjadi dahsyat
Dalam angkara kuasa yang khianat
Maka yang tersisa adalah kiamat

Kedamaian dan kemakmuran tak akan pernah berangkat
Ketika keadilan dan kebenaran menjadi papa
Atau kemunafikan tak juga renta
Atau angkara kuasa tak juga menjadi baka
Maka yang tiba adalah nestapa
Dan dosa-dosa

Ketika gegap bencana, banjir nestapa, gempita perkosa, dan korupsi kuasa menjadi raja
Maka yang menunggu adalah siksa dan nista
Atau gegapnya kesumat
Yang berujung pada sorak neraka
Dan bermuara pada azab dan laknat

Sidoarjo, 20 Mei 2011

===================== =============

4. PUISI-PUISI ROMANSA

RINDU
Oleh: Ratmaya Urip

Ketika galau bertabik pada romansa yang lampau
Yang masih menyisakan pekatnya sendau
Dan punagi yang terselip dalam gurau
Maka dawai hati ini kembali bergetar
Berdenting (mendesah) meniti senar penuh sinar
Yang kebak hingarnya rindu
Dan bingarnya hasrat ‘tuk dapat bertemu

Sidoarjo, 20 Mei 2011

================== ==============


SIA-SIA

Oleh: Ratmaya Urip

Apalah artinya cantik
Jika hanya akan membuat seorang pria menunggu

Apakah artinya rindu
Jika hadirmu hanya pada mimpi-mimpi panjangku

Apalah artinya hati yang menyatu
Jika pelukku hanya ada di ujung waktu
Yang selalu kebak tunggu
Dan kerap enggan menyapa pada julatan mesramu

Sidoarjo, 20 Mei 2011

================== ===============


Prasasti

Oleh: Ratmaya Urip

Tiada seindah hari-hari bersamamu
Saat di cintamu ku teduhkan kidungku
Kau bimbing mesraku menjuta rasa
Yang bukan dukana
Bukan nestapa
Membenci nista
Dan segala duka petaka

Prasasti
Telah kau tanam di hatiku
Harapan telah kupendam di tangismu
Bagai mentari dan kehidupan
Kau dan aku satu

Prasasti itu kini bertabik mesra
Menembangkan rindu yang fana
Bagiku kau masih seperti yang dulu
Karena kau sulit menjadi lampau

=================== ==============

Rara Jonggrang
Oleh: Ratmaya Urip

Kisah lontar tua
Tentang duka yang tak kunjung mati
Rara Jonggrang jelita
Dengan pinangan
Bandung Bandawasa perkasa

Bukan hati tak ingin
Namun dendam melebihi segalanya
Diterima pinangan dengan punagi
Seribu candi sebelum dini

Bandung Bandawasa tersenyum
Hatinya ceria
Menyusur malam
Dengan kerja dan tawa
Bersama kidung kesaktian
Dan punagi yang mulai tercipta

Di timur fajar tiba
Seribu candi tak trepenuhi
Rara Jonggrang penipu menjadi batu
Di muara hati yang murka

Candi Prambanan, Mei 1982

===================== =================

*) Penulis adalah pemerhati dan penikmat puisi.

================================== =====

Salam

Ratmaya Urip
Jumat, 12 Agustus, 2011 03:28