Minggu, 06 Februari 2011

Puisi mBeling (1)


Puisi mBeling: (1)

Wajah dalam seonggok kotak visual elektronik

Oleh: Ratmaya Urip

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Midah

Di lokasi yang pasti tak ada dalam peta dan denah

Di tempat tanpa petunjuk rambu arah panah

Karena adanya memang di negeri antah-berantah

Ada kidung tentang tembang senja berawan merah yang marah

Bukan lagi lembayung yang merekah yang bikin jengah dan pipi memerah


Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Minah

Itu wajah kok sumringah renyah penuh tawa gairah

Dalam pesta gempita yang pongah dan meriah

Seraya debat kusir tanpa arah

Tanpa ada benak dan hati yang gerah, desah, resah dan merasa salah

Meski penonton dengan raga yang papa tengah gundah

Sedang yang renta jiwa bermadah gelisah karena susah


Apa mau menunggu semakin payah dan parah?

Atau menunggu marah yang dapat bikin goyah dan patah?

Yang hanya akan menyisakan darah dan sejarah?


Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Poltak

Nestapa telah beranak pinak

Dari Subuh sampai Maghrib menyeruak

Seluruh cakrawala Indonesia telah habis berteriak sampai serak

Namun wajah dalam seonggok kotak visual elektronik itu tak juga tergerak

Apalagi mau menyibak duri dan onak

Karena sudah merasa enak


Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Samsu

Semua sedang menunggu waktu

Saatnya penonton dapat sesuap nasi, sesobek baju dan sebenggol doku

Bukan segudang harta hasil korupsi yang dapat terwaris ’tuk anak cucu

Seperti yang diperoleh si Gayus Tambunan si raja kecu


Tapi mana mampu?

Jika wajah dalam kotak elektronik itu hanya berpangku dan beradu mulut berebut doku

Untuk menggendutkan saku

Serta menolak untuk malu

Karena mereka memang benalu

Yang tumbuh subur di pohon duku dan jambu


Jika wajah dalam kotak elektronik itu tak henti untuk korupsi

Miskin, papa dan nestapa penonton ini tak mungkin akan berhenti

Padahal penonton hanya ingin lebih dini

Menunggu hadirnya hidup yang indah penuh arti

Di sisa-sisa hari yang akan tertiti


Penonton hanya ingin ada asa

Syukur jadi nyata

Tidak lagi ada lapar, dingin dan masuk angin yang menerpa raga dan jiwa

Dalam lebatnya papa dan nista

Yang telah beranak pinak meng-Indonesia


Kapan miskin raga dan papa jiwa ini kan berlalu?

Wahai wajah yang ada di kotak visual elektronik-ku?

Jangan hanya bersilat lidah melulu

Yang muaranya hanya menggendutkan doku di sakumu


Ampun ya Allah

Ke kiblatmu takwaku berserah

Ke hadiratmu istigfarku bermadah

Jauhkan wajah di kotak elektronik itu dari kata penuh kilah dan sumpah serapah

Sadarkan mereka tuk berbenah ke kebenaran arah

Berikan penonton kuat tanpa sampai menunggu menyerah pasrah

Berkatilah dengan kesembuhan dari koma yang parah

Supaya Indonesia-ku gegap penuh gairah

Supaya rizkimu segera tumpah ruah

Karena tibanya kebenaran dan keadilan hasil jerih payah

Dan bersinarnya fajar pagi di ufuk memerah

Amin


Sidoarjo, 05-Februari 2011

Institutional Leadership & Followership

Note: Bincang-bincang bersama Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini, yang konon mendapat impeachment oleh DPRD Surabaya, tapi....? Quo Vadis?

Institutional Leadership & Followership

Oleh: Ratmaya Urip*)

Prolog:

Dalam beberapa pekan kemarin di milis ini (milis: The Manager) banyak dikupas dan dibahas masalah leadership, namun lebih menekankan pada issue personal leadership atau individual leadership. Ada 2 (dua) issues leadership lain yang kebetulan luput dari diskusi, yaitu tentang institutional leadership dan role leadership atau functional leadership. Meskipun dalam era business running unusual (bukan lagi business running as usual) ini semuanya, baik personal leadership maupun institutional leadership memerlukan kepiawaian melakukan transformational leadership dan visionary leadership, jika strong & effective leadership ingin digenggam. Tidak boleh lagi ada sontoloyo leadership. Penguatan kelembagaan perlu didukung oleh personal leadership maupun institutional leadership (di samping role leadership). Supaya balance.

Berangkat dari definisi secara generik, bahwa leadership adalah: kemampuan (baik personal maupun institutional) dalam memanfaatkan seluruh sumberdaya (termasuk ruang dan waktu) untuk tercapainya visi, misi, strategi, serta goal & objective” dari pribadi maupun institusi, maka kita wajib lebih jeli dalam melakukan cascading atau deployment. Hal ini karena kemampuan di sini adalah mencakup kemampuan dalam 3 dimensi, yaitu: ability atau hard skill (skill & knowledge), moral (attitude & behavior), serta arts atau lebih dikenal sebagai soft skill (creativity, adabtability, acceptability, flexibility, consistency, durability/endurance). Dengan kata lain strong leadership akan lebih dapat diperoleh jika memiliki ketiga kemampuan tersebut. Baik itu “personal leadership” maupun “institutional leadership”.


Ketika kita dahulu masih bicara tentang Human Resource Management atau mungkin masih ada yang dalam era sebelumnya yaitu Personnel Management, kita sering dicekoki dengan 2 (dua) dimensi, yaitu ability (skill & knowledge) dan moral (attitude & behavior), sementara di era business running unusual ini, itu saja tidak cukup, sehingga soft skill atau arts to manage people/organization, juga diperlukan. Maka kemudian berevolusi menjadi Human Capital Management, setelah ditambahkan tacit management, knowledge management dan talent management serta followership (kepengikutan). Yang terakhir ini, yaitu followership mengapa juga diikutsertakan? Ya, karena orang selalu hanya membahas leadership saja! Padahal di dunia ini seharusnya balance, yang saling melengkapi/komplementer. Seperti halnya ada siang ada malam, ada pria, ada wanita, ada baik ada buruk dan sebagainya. Juga dalam organisasi, jumlah pemimpin (leader) itu jauh lebih sedikit daripada jumlah pengikut (follower). Dari seorang leader, tidak hanya dituntut strong & effective leadership namun ada sisi-sisi strong & effective followership meskipun kadarnya tidak perlu besar. Middle manager wajib memiliki kedua-duanya, sedangkan front-liner lebih banyak followership daripada leadership-nya. Karena esensi followership adalah kemampuan untuk menerjemahkan atau mengoperasionalkan atau membumikan kebijakan yang datang dari level yang ada di atasnya. Di Indonesia followership merupakan barang langka, sehingga beginilah jadinya, tidak pernah beranjak dari keterpurukan, karena semuanya ingin jadi leader, tidak ada yang mau jadi follower, maka yang muncul adalah sontoloyo leadership. Padahal hakekat institutional leadership mencakup followership juga. Calon Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota dalam kampanyenya boleh saja menyampaikan visi-misinya, atau memiliki strong & effective leadership, namun harus jeli, bisakah aparat birokrasi nantinya dapat membumikan visi dan misi tersebut, atau apakah aparat birokrasi memiliki followership yang kuat dan efektif, supaya jika terpilih nanti tidak terjadi distorsi atau deviasi karena ketidakmampuan aparat birokrasi menyusun action plans (termasuk resources dan time frame) dalam pencapaian goal & objective-nya? Jika followership dari aparat birokrasi kuat dan effective maka akan menghemat sumber daya, ruang dan waktu, serta goal & objective-nya lebih mudah atau dapat dicapai tanpa distorsi atau deviasi yang berarti. Buktinya, penyerapan APBN atau APBD sebagai stimulus pembangunan sangat mengecewakan. Baru setelah masa APBN dan APBD akan berakhir dilakukan berbagai cara agar “seolah” semuanya dapat dicapai, atau “dicapai-capaikan”. Tengok pula, betapa banyaknya Gubernur dan Bupati/Walikota yang tersandung masalah hukum, yang kemungkinan karena followership dari bawahannya lemah. Kalau follower-nya kuat dan efektif pastilah aparat di bawahnya dapat mengingatkan sebelumnya supaya tidak tersandung masalah hukum, mengingat Gubernur atau Bupati/Walikota itu sebelumnya mungkin tidak dibekali dengan kemampuan manajerial yang cukup. Kemampuan manajerial yang dimaksud di sini tentu saja kemapuan yang meliputi 3 dimensi yang disebutkan di awal tulisan ini. Ingat, bahwa Gubernur, Bupati dan Walikota biasanya hanya berbekal Visi,Misi dan kharisma saja (atau bermodal uang?). Sementara yang mengoperasionalkan atau membumikan adalah aparat di bawahnya.


Kebetulan dalam minggu ini ada event yang sangat menarik di Surabaya, yaitu masalah rekomendasi impeachment atau pemakzulan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, oleh DPRD Surabaya. Kenapa ini saya angkat? Ya, karena ada fenomena strong & effective leadership dalam perspektf institutional, bukan lagi sekedar perspektif personal leadership, dalam pencapaian visi, misi, strategi, serta goal & objective.


Institutional Leadership

Dalam diskusi di milis ini sepanjang tiga pekan terakhir ini kita dihadapkan pada persoalan leaderhip, namun semuanya dalam dimensi leadership pribadi atau perorangan.

Seperti dalam ilmu manajemen lain kita juga mengenal Performance Management, yang konotasinya lebih ke arah personal, yang bermuara pada performance appraisal secara individual, jika itu dikaitkan dengan Human Resource Management. Namun Performance Management, akan memiliki pengertian institutional, jika ditinjau dari Strategic Management, karena Performance Management di sini adalah Institutional Performance, atau kinerja institusi. Kinerja dimaksud, dapat saja hanya berupa kinerja dengan perspektif keuangan semata (ROI, ROA, Profit, Revenue, dll), atau kinerja yang standarnya dapat menggunakan Balanced Scorecard, ISO Series, MBNQA, Six Sigma, dll.


Dalam sidang paripurna DPRD Surabaya direkomendasikan tentang pemakzulan Walikota oleh 6 dari 7 fraksi yang ada, hanya karena masalah Perwali Reklame. Hanya 1 fraksi yang menolak pemakzulan. Anehnya fraksi yang dulu menjadi lokomotif pemenangan walikota malah yang paling getol menurunkan walikota. Padahal 6 bulan sebelumnya masih bahu membahu memenangkan pemilihan. Sementara fraksi yang dalam pemilihan walikota dulu menjadi lawan malah menolak impeachment. Itulah politik. (Maaf, saya mengambil contoh ini karena lebih mudah dan gamblang untuk memahaminya, di samping itu juga karena geli dan merasa lucu melihat dagelan politik tersebut, meskipun contoh lain yang dapat diambil dari business or other public entity juga banyak).


Tapi impeachment yang sempat memanaskan Surabaya dan membuat kebakaran jenggot sejumlah pengurus tingkat pusat dari partai-partai yang terlibat, yang mungkin merupakan satu-satunya impeachment yang ada di Indonesia untuk tingkat Kabupaten/Kota ini, akhirnya kandas karena adanya strong/effective institutional leadership. Mengapa demikian?


Fraksi-fraksi di DPRD Surabaya yang merupakan perpanjangan tangan partai-partai politik di Surabaya tersebut (setingkat Dewan Pimpinan Cabang/DPC), tidak berkutik, ketika pimpinan di tingkat yang lebih tinggi dari masing-masing partai, yaitu DPD (tingkat Provinsi) dan DPP (tingkat Nasional) akhirnya turun tangan, setelah sempat kebakaran jenggot, kenapa garis partai tidak dapat di-follow oleh follower-nya di tingkat cabang. (Note: saya lebih suka mengatakan followership-nya lemah). Peran kepemimpinan DPD dan DPP yang dapat memanfaatkan resources berupa institusi di tingkat Cabang untuk memaksimalkan pencapaian visi, misi, strategi, serta goal & objective mereka, amat sangat menonjol dan kuat. Sehingga akhirnya rekomendasi impeachment atau pemakzulan banyak yang mencabutnya.. Drama politik yang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk kepentingan rakyat yang lebih luas berakhir secara dramatis dan memalukan.


Bagaimana jika institusi di tingkat yang lebih tinggi tidak memiliki kemampuan kepemimpinan secara institusional yang kuat? Pengalaman di masa lalu, sering terjadi pembelotan, sehingga akhirnya muncul pengurus-pengurus tandingan, yang melahirkan partai-partai baru. Karena semua orang maunya jadi pemimpin, tidak mau jadi pengikut Contohnya sangat banyak di Indonesia.


Followership (Kepengikutan)

Dari kaca mata followership atau lebih tepatnya institutional followership, apa yang telah terjadi di Surabaya tersebut, seharusnya tidak perlu terjadi jika di tingkat cabang atau DPC memiliki strong & effective followership, artinya memiliki kemampuan melakukan cascading atau deployment atau mengoperasionalkan atau membumikan garis-garis kebijakan yang telah dirumuskan oleh pimpinan yang ada di atasnya. Ingat followership bukan hanya menyangkut aspek how far the follower could follow, respect, trust, like, and support the ideas and objective of the leader. But also ability in deep of follower to cascade, deploy, plan, operate, control, report, and evaluate the results of achievement of the vision, mission, strategy, goal & objective of the organization.


Menurut saya, makna followership yang masih berkutat hanya pada teori-teori Five reasons to follow, yaitu tentang relasi antara leader-follower yang berkaitan dengan follow, respect, trust, liking, support, dan ideas, tidaklah cukup. Meskipun ditambah dengan teori-teori tentang exemplary, alienation, conformist, pragmatist, passive (Kelly’s Model, 1992). Karena dalam prakteknya di Indonesia sering terjadi distorsi atau deviasi yang sangat lebar, seperti dicontohkan di atas. Teori dan praktek harus balance. Karena teori tanpa praktek itu omong kosong, sementara praktek tanpa teori itu ngawur.


Bagaimana itu jika diterapkan di ranah bisnis atau ranah publik lainnya? Marilah kita diskusikan!


Salam Manajemen

Ratmaya Urip

= = = = = = = = = = = = = = = = =

Note: *) penulis adalah fungsionaris Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia) dan Quality Network Club – Indonesia.

Yogyakarta Vs Jogjakarta


(Yogyakarta Vs Jogjakarta)

Oleh: Ratmaya Urip*)

PROLOG:

Fenomena Crop Circle di Berbah, Sleman, Yogyakarta, menyusul ribut-ribut mengenai Keistimewaan Yogyakarta, Wedhus Gembel atau awan panas Merapi termasuk fenomenon Mbah Marijan, Gempa dahsyat di Yogya 27 Mei 2006, dan Salak Pondoh yang dapat menyeruak pongah di Pusat-pusat pembelanjaan ritel modern di antara gempuran buah impor, telah membawa ingatan saya pada perseteruan panjang tentang penulisan baku nama kota:


Yogyakarta Versus Jogjakarta.


Saya tidak tahu persis, namun di antara kota-kota atau tempat di Indonesia, bahkan di dunia ini, mungkin hanya “Yogyakarta”, kota atau tempat yang dapat disingkat. “Yogyakarta” dapat disingkat menjadi “Yogya”, namun masih memberikan pengertian dan konotasi yang sama. Coba simak nama-nama kota Bandung, Jakarta, Surabaya, Makassar, Jayapura, Manado, Milwaukee, Philadelphia, San Fransisco, Los Angeles, Vladivostok, Bukittinggi, New York, Beijing, Rawalpindi, Baghdad, Johanesburg, Ciudad Juarez, Port-au-Prince, dan lain-lain, mana ada yang dapat disingkat? (Mohon bantuan anggota milis, mana lagi kota yang namanya dapat disingkat?) Oh ya, saya menemukan dua kota, sementara saya menyelesaikan tulisan ini, yaitu yang pertama adalah Rio de Janeiro, yang dapat disingkat Rio, yang terkenal dengan Copacabana-nya, dan Gunung Sugar Loaf, yang menjulang tinggi di atas Teluk Guanabara, yang dilengkapi oleh Puncak Gunung Corcovado yang menjulang tinggi, dengan patung Kristus raksasa-nya. Ya...Rio de Janeiro yang mantan ibukota Brasilia. Bahkan nama negara satu-satunya yang dapat disingkat di dunia ini, mungkin hanya Brasilia, yang dapat disingkat menjadi Brasil. Entah nama negara yang lain. Oh, ya United States of America dapat disingkat menjadi America, meskipun konotasinya jadi berubah, karena America merujuk pada benua America, tempat berkumpulnya banyak negara. Sementara kalau disingkat menjadi United States, lebih baik, karena konotasi dan pengertiannya tetap. Sedang kota kedua yang dapat disingkat adalah Hidalgo del Parral, yang dapat disingkat menjadi Hidalgo, di Mexico Utara. Jadi konklusi sementara hanya ada 3 (tiga) kota di dunia ini yang dapat disingkat tanpa mengubah konotasi dan pengertiannya, salah satunya di Indonesia, sementara nama negara yang dapat disingkat hanya 2 (dua) yaitu United States of America dan Brasilia.


(Catatan: orang Malaysia, sebenarnya menyingkat nama orang-orang dari Indonesia menjadi “Indon”, bagi etnis dari Indonesia yang ratusan ribu jumlahnya menjadi TKI di Malaysia, yang konon berkonotasi negatif, menurut persepsi mereka. Tetapi itu singkatan untuk nama etnis, bukan nama negara).


Yogyakarta, nama kunonya adalah Ngayogyokarto Hadiningrat, nama kota terpanjang di Indonesia, bahkan di Asia, atau mungkin di belahan Selatan garis Katulistiwa dari Bola Dunia. Untuk mengatakan bahwa itu terpanjang di dunia saya tidak berani, karena memang masih ada nama tempat atau nama kota yang lebih panjang di dunia, yang berada di belahan Utara garis Katulistiwa, yang merupakan nama tempat terpanjang di dunia, yaitu:


“Llanfairpwllgwyngyllgogerychwymdrobwllllandysiliogogogoch”


(Catatan: Karena tidak pernah hafal dan tidak pernah ingat satu persatu jumlah hurufnya, setiap mau menulis kembali nama tempat tersebut, saya selalu membuka literatur supaya tidak salah tulis, daripada kembali ke tempat tersebut. Yang saya ingat, hanya jumlah hurufnya ada 55. Literatur yang saya miliki adalah: Lands and Peoples, Grolier International Inc., 1988)


yang berada di Wales, Great Britain, atau United Kingdom. Sayangnya nama tersebut sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana cara menyingkatnya dan cara membacanya, karena itu merupakan Bahasa Wales atau Welsh, salah satu bahasa di dunia yang hampir punah, karena orang Wales sendiri lebih suka berbahasa Inggris. Ibarat Bahasa Jawa Kromo Inggil, dimana orang Jawa sekarang lebih banyak yang bertutur dalam bahasa Indonesia daripada Bahasa Jawa Kromo Inggil. Namun Bahasa Jawa Kromo Inggil sulit untuk punah, karena penutur-nya sangat jauh lebih banyak dari etnis Welsh, mengingat etnis Jawa jumlahnya banyak sekali, tidak seperti etnis Welsh. Nama kota tersebut saya hanya bisa menulisnya dengan mengutip secara teliti dengan memelototi satu persatu hurufnya dari yang sudah ada, karena takut salah tulis, sementara untuk menyebut secara lisan saya menyerah deh!!! Saya hanya berpikir, kalau nama itu di tulis sebagai alamat pos, pasti akan memenuhi sampul suratnya. Itupun baru menulis nama kota, belum alamat lengkapnya. Kalau harus ditulis di papan nama kota orang pasti enggan untuk membacanya (atau malah membikin tercengang atau kenyang makan huruf-hurufnya). Jika akan memasang iklan di surat kabar, pasti berpikir 2 sampai 3 kali, karena pasti akan membengkak biayanya. Memakan banyak kolom atau baris itu pasti, dan tidak mungkin masuk dalam katagori iklan mini, iklan kecil, iklan kecik, atau apapun namanya, yang isinya hanya sekitar 3 atau 6 baris dalam satu kolom. Penduduknya sendiri mungkin tidak hafal dengan urutan deretan abjadnya. Sekali-sekali mungkin diperlukan “Lomba Menghafal Nama Tempat” tersebut. Saya sih tidak mau ikut. “Emangnya gue pikirin”...he..he..he..! Yang pasti nama yang panjang tersebut tidak ada singkatannya seperti nama “Yogyakarta”.


Karena keunikannya tersebut, maka tempat tersebut menjadi destinasi para pelancong, hanya karena memilki daya tarik sebagai kota dengan nama terpanjang di dunia.


Sudah menjadi rahasia umum (atau baru rahasia terbatas?), kalau terjadi polarisasi penulisan nama baku untuk “Yogyakarta” di media. Kompas Group, Media Indonesia Group, dan beberapa yang lain menuliskannya dengan “Yogyakarta”, sementara Jawa Pos Group di seluruh Indonesia selalu menulisnya dengan “Jogjakarta”. Demikian juga di media elektronik televisi. Di media televisi, termasuk MNC Group, Trans Group, hampir semua menulisnya dengan “Yogyakarta”, kecuali televisi milik Jawa Pos Group, seperti JTV, SBO, dan lain-lain, yang umumnya merupakan TV lokal di Indonesia, dengan jumlah sekitar 20 local television stations. Kalau anda mengirim naskah artikel untuk dimuat di harian Jawa Pos Group (Indo Pos, Rakyat Merdeka, Radar Lampung, Radar Jogja, Radar Malang, Radar Tegal, dan-lain-lain yang jumlahnya lebih kurang 150 penerbitan media cetak di seluruh Indonesia), jika anda menulis dengan nama “Yogyakarta” pasti teredit menjadi “Jogjakarta”, begitu juga sebaliknya jika anda menulis artikel di Kompas Group, maupun Media Indonesia Group, akan di-edit menjadi “Yogyakarta”. He..he..he.. nama kota saja ada diskriminasi. Semacam “silence war”, begitulah. Kalau saya menulisnya dengan “Yogyakarta” bukan “Jogyakarta” itu karena historis saja. Seperti halnya untuk tetap menuliskan nama baku almamater saya dengan ejaan lama “dj” bukan “j” pada nama Universitas Gadjah Mada. Contoh lain adalah untuk tetap menuliskan nama “Universitas Padjadjaran” bukannya “Universitas Pajajaran”. Juga tetap menulis dengan nama “Soetjipto” bukannya “Sucipto”. Di samping itu juga karena saya dilahirkan di kota tersebut, meskipun sudah hampir 30 tahun saya meninggalkannya. Kalau saya kebetulan menulis untuk Jawa Pos Group, sebelum diedit, saya pasti sudah menuliskannya dengan “Jogjakarta”, semata-mata supaya meringankan beban editornya, begitulah.


Saya jadi ingat dengan penggantian nama baku Yogyakarta menjadi Jogjakarta yang diusulkan oleh salah seorang pakar pemasaran kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X. Penggantian nama baku tersebut konon supaya lebih layak jual, demikian menurut yang saya dengar (Maaf, kalau saya salah dengar atau salah menerima informasi, yang berarti bahwa informasi itu salah. Mohon jika salah supaya diluruskan). Tentu saja penggantian nama tersebut menimbulkan pro dan kontra. Saya sebenarnya lebih condong tetap dengan nama lama Yogyakarta, dan itu juga dilakukan oleh orang-orang asli dari Yogyakarta. Alasan saya karena nama Yogyakarta adalah historis dari nama panjang Ngayogyakarto Hadiningrat.


Penggantian nama menurutku tidak ada kaitannya dengan layak tidaknya untuk dijual, tergantung dari cara, metode dan sistem pemasarannya. Memperkuat brand tidak selamanya harus dengan mengganti nama. Contohnya Gudang Garam, Dji Sam Soe, merek-merek rokok yang sangat terkenal, yang menjadi terkenal karena nama tersebut diciptakan karena faktor historis. Ada lagi rokok merk Jeruk yang sangat populer di kawasan Jawa Tengah. Rokok kok diberi merk Gudang Garam, Dji Sam Soe, dan Jeruk, bahkan Bentoel, dan Nojorono. Nama-nama yang ketika dibuat dulu mungkin tidak akan terbayangkan akan dapat dijual. Tokh akhirnya nama-nama tersebut jika diganti akan banyak yang keberatan, karena reputasinya sudah dibangun sangat lama. Demikian juga nama baku Yogyakarta, tidak usah diganti dengan Jogjakarta, karena sejarah mencatat, tidak terlalu siginifikan dalam menjual potensinya, karena kota tersebut sudah dapat menjual dirinya sendiri dengan sukses. Kalau tokh Yogya tetap selalu ramai dengan pariwisatanya dan selalu menjadi tempat tujuan anak-anak muda untuk mengenyam pendidikan itu bukan karena perubahan nama bakunya.


Sementara meskipun tidak diganti namanya, setelah pindah kekuasaan dari semula wilayah Mexico menjadi wilayah Amerika Serikat (setelah menang dalam perangnya dengan Mexico pada pertengahan abad sembilan belas), nama-nama berbau Spanyol tetap dipertahankan tanpa diubah menjadi nama-nama berbau Amerika-Inggris. Contoh nama-nama tersebut adalah Texas, Los Angeles, San Fransisco, San Antonio, El Paso, San Diego, Santa Fe, Arizona, Albuquerque, Tucson, Dallas, Alamo, Rio Grande, dan lain-lain. Nama-nama historis Indian juga tetap dipertahankan dan sangat populer seperti Chicago, Ohio, Cheyenne, Wyoming, Oklahoma, dan lain-lain.


Dengan kata lain, nama Yogyakarta, tanpa diubah menjadi Jogjakarta tetap akan layak jual (tergantung masyarakatnya, sistem pemasaran dan kemampuan untuk memasarkannya). Faktor historis justru akan lebih menjual, khususnya dalam perpektif pariwisata. Jadi perubahan nama Yogyakarta menjadi Jogjakarta, menurut penulis adalah mengada-ada dan mubazir. Popularitas Yogyakarta sebagai tempat tujuan wisata, sebagai kota pelajar, sebagai sentra produsen dan tempat lahirnya salak pondoh, tidak ada kaitannya dengan penggantian nama. Sementara tentang nama-nama lain yang bukan nama baku, seperti Djogyakarta, Djokdjakarta, Jogdjakarta, Jogyakarta, Yogjakarta, dan lain-lain, biarkan saja berkembang sebagai nama-nama slank, yang dapat dijadikan bahan pajangan di kaos-kaos DAGADU atau kaos JOGER. Memang aneh, karena di Indonesia ini hanya nama kota Yogyakarta yang dapat memiliki sejuta nama lain yang tidak baku. Bandung, Jakarta, Solo, Palembang, Medan, Samarinda, Denpasar, Jayapura dan lain-lain kota di Indonesia sulit untuk dicari nama slank-nya.


Nama tempat atau wilayah memang sering diganti namun karena alasan politis (jarang yang diganti karena alasan pemasaran), seperti New Amsterdam menjadi New York, Soekarnopura menjadi Jayapura, Puncak Soekarno menjadi Puncak Jaya, Noertanio menjadi IPTN kemudian PTDI, Jalan Raya Waru menjadi Jalan Letjend S. Parman, Jalan “X” menjadi Jalan Jendral Soedirman, Jalan Jendral A. Yani, atau Jalan Jendral Gatot Soebroto, dan lain-lain.


Itulah sekelumit tentang nama Yogyakarta, tempat yang tak pernah sepi menjadi berita, dan masih tetap menjadi tempat kunjungan wisata tingkat dunia.


Salam.

Ratmaya Urip


Kamis, 03 Februari 2011

Sisi Lain IMLEK



.

Sisi Lain IMLEK (1)

Oleh: Ratmaya Urip*)


Hari ini, Kamis, 3 February 2011, adalah bertepatan dengan hari Libur Imlek, Sin Tjia, Hanyu Pinyin, Chun Jie, Chu Xi atau Zheng Yue (Mandarin), Jyutping (Cantonese), Seollal (Koreans), Losar (Tibetans dan Bhutanese), Tsagaan Sar (Mongolians), Tet (Vietnamese), Oshogatsu (Japanese sebelum thn 1873), Chinese Lunar New Year, Eve of the Passing Year, Spring Festival, atau apapun namanya termasuk yang berbahasa Khek maupun Tiociu, meskipun dengan esensi yang sama.


Imlek memang lebih mendunia daripada Tet, Seollal, Losar, Tsagaan Sar, dan Oshogatsu. Ini bisa dimaklumi. Di samping populasi Chinese di Mainland yang sangat besar, yang merupakan populasi terbesar di dunia ( lebih dari 1,3 M), juga peran Chinese Diaspora yang menggurita di dunia meskipun dengan bahasa berbeda, Mandarin, Cantonese, Khek, Tiociu, dll. Khususnya di banyak tempat Chinatown di Amerika Serikat (Los Angeles, San Fransisco, dll), Canada (Vancouver), Malaysia (Penang, Johor Bahru, dll) , Singapore, Taiwan, Thailand, Hong Kong, Macau, Indonesia (Jakarta, Surabaya, Solo, Pelembang, Bangka-Belitung, Pontianak, Singkawang, Medan, Bagan Siapiapi, dll), dan Chinatown lain di seluruh dunia. Jumlah populasi yang besar-lah yang menjadi penyumbang utama fenomena tersebut. Bayangkan dengan Hari Raya Tet yang hanya dirayakan di Vietnam atau di tempat pemukiman/pengungsian mereka yang baru di Amerika Serikat, dan Australia, setelah berakhirnya Perang Vietnam (sisa-sisa di Pulau Galang, Kep. Riau masih ada), atau Losar yang hanya di rayakan di Tibet, Bhutan dan sejumlah tempat pengungsian di India Utara, atau Tsagaan Sar di Mongolia.


Imlek yang semula hanya dirayakan oleh para petani untuk mengekspresikan rasa bersyukur atas panen mereka di musim semi itu, sekaligus permohonan doa agar di tahun-tahun selanjutnya akan lebih sukses tersebut kini merambah tataran sosial yang lebih luas, karena tidak hanya petani namun juga kalangan birokrat, industriawan, trader, investor, dan lain-lain, yang tidak ada satupun yang melewatkannya, khususnya di kalangan etnis China.

“Back to basic”, karena dunia yang telah memasuki era gelombang ke-empat/fourth wave (kreatifitas, lingkungan dan budaya), setelah mulai beranjak pergi dari era gelombang ketiga/third wave (informasi) ini, tokh akhirnya kembali berpaling pada “basic need” yaitu era gelombang pertama/first wave, yaitu pertanian. Ini tidak bisa dipungkiri, mengingat dengan semakin besarnya jumlah penduduk dunia, anomali iklim, chaos di sejumlah penjuru dunia, lingkungan yang tidak bersahabat dengan manusia lagi karena kerakusan manusia itu sendiri, pergulatan kepentingan yang diwarnai praktek-praktek kotor untuk memenangkannya, dan lain-lain.


Gejala kekurangan kebutuhan dasar manusia berupa hasil-hasil pertanian, yang ditandai dengan semakin langka dan mahalnya produk-produk pertanian, harus diwaspadai sebagai gejala awal, untuk kita lebih waspada, agar jangan lagi abaikan fenomena ini.


Berbeda dengan Imlek yang lebih kolosal. Ada satu fenomena lain yang mirip dan juga mendunia namun menggurita dengan infiltrasi, yaitu fenomena menjamurnya “pub” di seluruh dunia.


Pub” pada awalnya adalah peristiwa berkumpulnya para petani miskin Irlandia, untuk merayakan keberhasilan panen mereka. “Pub” yang semula hanya tempat yang tersebar di seantero Irlandia yang hanya dihadiri oleh para petani pria, untuk merayakan keberhasilan panen mereka sambil menbdiskusikan tentang cara-cara memperbaiki sistem dan operasi pertanian mereka itu kini juga merambah dunia, menggurita, namun telah bermetamorfosa. Karena kini sudah menjadi kebutuhan kaum jet-set yang tidak hanya pria saja, untuk menghibur diri, ngobrol yang sering tidak ada hubungannya dengan pertanian. Ada “pub” yang isinya membicarakan gossip, kadang sumpah serapah orang mabuk, meskipun ada pula “pub” yang menjadi tempat diskusi para profesional, tempat libur keluarga, dan aktifitas-aktifitas yang positif lainnya.


Ya, kedua fenomena tersebut mirip, karena bermata air dari para petani, bahkan para petani paling miskin, yang kemudian menggurita, karena di-adopsi atau bermetamorfosa mengikuti gelombang peradaban manusia. Yang membedakan mungkin hanya waktunya saja. Kalau Imlek dirayakan setahun sekali, sementara “pub” diadakan setiap akhir pekan, khususnya jika ada masalah-masalah pertanian yang menonjol.


Terlepas dari apa yang ditulis di atas, dari nilai-nilai hakiki dan essensial yang ada dalam Imlek maupun Pub, sebaiknya kita dapat membawa diri untuk menoleh kembali ke basic need” kita, yaitu memberikan apresiasi pada aktifitas yang oleh Alvin Toffler sudah dianggap “jadul” karena merupakan gelombang pertama/first wave dari peradaban manusia. Setinggi apapun peradaban manusia, tanpa hasil pertanian manusia tidak akan dapat hidup.


Untunglah nama “Imlek” masih ada di tempat lain, yang lebih berkonotasi pada “basic need”, yaitu produk pertanian. Karena Imlek adalah nama perusahaan makanan di Belgrade, Serbia, yang berbasis pada produk-produk hasil pertanian, khususnya “dairy products” (butter, cheese dan yoghurt), yang relatif dapat menyaingi produk-produk pertanian Denmark, meskipun tidak sehebat Denmark, yang lebih dikenal sebagai “negeri sarapan pagi”, karena potensinya yang luar biasa di bidang pertanian, sehingga menjadi negeri nomor wahid di Eropa karena dapat memasok kebutuhan sarapan pagi bagi Eropa (lihat saja sarapan pagi di Hotel-hotel di Eropa yang mayoritas merupakan produk-produk pertanian Denmark).


Imlek, yang bediri pada tahun 1953, yang merupakan nama perusahaan di Serbia tersebut konon memiliki revenue US$ 240 M pada tahun 2009, yang mayoritas sahamnya kini dimiliki oleh Salford Investment Fund mulai tahun 2004. Yang saya heran, kenapa ya setelah saya cari di Fortune 500 Global, kok tidak ada dalam ranking, padahal dengan revenue sebesar itu seharusnya masuk ranking. Seharusnya tidak kalah dengan produsen minyak dunia seperti Exxon-Mobil, Chevron, BP, dll, atau perusahaan-perusahaan otomotif dunia, Apa data-nya yang salah? Atau saya yang salah baca? Hanya Allah Swt yang tahu.


Pesan moral yang ingin disampaikan:

Meskipun kita sudah merasa berada di tataran yang paling tinggi dalam peradaban, namun jangan sekali-sekali meninggalkan apa yang pernah dicapai di awal, karena di suatu waktu akan kembali untuk menyelamatkan kita jika terjadi keterpurukan, atau dapat menjadi cermin bagi peradaban manusia, untuk sesuatu yang lebih baik. Karena “siklus” sering menjadi bagian dari peradaban, atau merupakan peradaban itu sendiri. “Gesang punika kados dene cakra manggilingan, pramila kedah wonten ing margining Pangeran Ingkang Murbeng Dumadi”.


Salam Manajemen,

Ratmaya Urip


(Bersambung)

.


Minggu, 23 Januari 2011

Serial Filosofi Manajemen (1):



FILOSOFI MUSIK

Aplikasinya di Dunia Manajemen

(Pendekatan Musik dalam Manajemen)

Oleh: Ratmaya Urip *)

Setiap orang boleh memiliki pendapat yang berbeda tentang definisi musik. Namun jika kita jeli, dari sejuta perbedaan dan cara pandang dalam bermusik atau menyelami musik, ada satu esensi dasar yang menurut penulis patut untuk dicermati, yaitu: musik adalah suara yang tercipta karena adanya satu atau sederet bauran frekuensi yang berbeda, yang pada umumnya menumbuh-kembangkan harmoni. (Maaf, jika esensi ini berbeda dengan anda, maupun berbeda dengan beberapa textbook).


Ya benar, jika kita merujuk pada esensi musik secara umum, termasuk musik sebagai hiburan, baik yang bemata air dari tangga nada diatonik berbasis solmisasi do, re, mi, fa, sol, la, si do, maupun berbasis chord C, D, E, F, G, A, B, C dan juga yang berbasis pentatonik dengan ji, ro, lu, mo, nem, ji, semuanya adalah deretan frekuensi yang membaur. Tidak peduli itu berasal dari suara kucing mengeong, suara ayam berkokok, suara ikan paus yang melengking mencari pasangannya, suara serigala kutub di tengah hutan tundra di padang salju pada malam hari, suara gelegar bongkahan gunung es yang terjatuh ke laut karena longsor, suara gesekan bambu yang saling bergesek karena tiupan angin, suara rumput yang bergoyang, suara ranting terinjak kaki, suara jengkerik di ladang jagung dan kacang, suara manusia yang berujud acapella, maupun suara alat musik modern yang membuncah, mendayu dan menggelora dari alat musik yang dikelompokkan sebagai perkusi (saron, peking, gambang, kenong, bonang, gong, drum, gendang, rebana, dll), brass (clarinet, saxophone, trombone, dll), alat gesek (biola, cello, rebab, dll), dentingan dawai yang dipetik (gitar, sasando, siter, dll), maupun alat musik yang dipencet atau keyboard (piano, organ, dll).


Untuk memudahkan pengertian, sebenarnya musik adalah sesuatu yang sangat sederhana atau sangat generik, karena esensinya ”hanya” bauran dari 7 (tujuh) nada dasar yang sebenarnya adalah bauran dari 7 (tujuh) frekuensi yang berbeda, jika kita mengkajinya dari ilmu fisika, yaitu..do..re..me..fa..sol..la..si..do!!! Masing-masing memiliki nilai hertz yang berbeda yang membentuk tangga frekuensi atau tangga nada. Namun jika dari yang sangat sederhana tersebut kemudian jatuh dalam pelukan jiwa, genggaman raga, serta sentuhan benak dan hati, ditambah bekal berupa imajinasi, kreatifitas, inovasi, relasi, eksperimen dan referensi, semua dapat berubah menjadi indah dan berarti, yang dapat merungkas onak dan duri, menguatkan nyali dan membesarkan hati, sehingga dapat menghasilkan simpati, empati, maupin rizki dan baiduri. Karena kita dapat menjadikan setiap nada dasar yang merupakan tangga nada tersebut naik atau turun setengah nada dengan kres atau mol, dapat menambah atau menurunkan oktafnya, atau memberi diksi menjadi seperdelapan, seperempat atau setengah ketukan, dan juga dapat membuatnya bertempo allegro, moderato dan lain-lain.


Ya, dari "hanya" sekedar 7 (tujuh) frekuensi berbeda dapat menggemparkan dunia dengan kekuatannya. "The Power of Music" dapat menggalang dana untuk bencana, dapat menjadi alat kritik atau satire bagi tiran dan diktator, dapat menjadi penawar dahaga bagi yang sedang mabuk cinta, dapat menjadi sarana upacara maupun ritual, dapat menggelorakan semangat perjuangan termasuk perjuangan olah raga, dapat membela kebenaran, dapat menyuarakan ketidakadilan, dan lain-lain. Asal aplikasi musik disampaikan secara tepat, benar, jujur, adil, terbuka, dan dilakukan oleh mereka yang seharusnya bermusik. Karena jika tidak, musik akan menjadi bumerang dan bernada sumbang jika disampaikan oleh mereka yang bukan seharusnya menyampaikan, atau bukan ahlinya.

Dengan kata lain, jika aplikasi musik disampaikan oleh orang yang tidak tahu musik, akan membuat kegaduhan dan kehirukpikukan yang tidak perlu, yang sering mencipta bias. Saran penulis, sebaiknya yang tidak tahu tentang musik (baca: manajemen) lebih baik mendengarkan saja (atau syukur kalau bersedia belajar tentang musik), supaya tidak semakin membikin keruh suasana, yang biasanya menjadi kontra produktif dan berujung pada gagalnya pencapaian goal & objective.


Di tangan ahlinya, musik dapat dikemas secara solo, duo, trio, kuartet, choir, maupun orkestra yang membahana. Di tangan ahlinya musik dapat meniti nada-nada secara crescendo, decrescendo, maupun meza-divorce. Di tangan ahlinya musik dapat menggabungkan sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas menjadi harmoni dan paduan yang indah. Di tangan ahlinya, musik dapat dibawakan mulai dari attack, intro, interlude dan codanya secara mengena. Di tangan ahlinya musik dapat diberikan persepsi dan intrepretasi dengan intonasi, artikulasi, phrasering, dan teknik pernafasan yang prima. Di tangan ahlinya musik dapat menggelorakan dinamika mulai dari forte, mezzo-forte sampai fortíssimo, meski dapat pula berubah menjadi selembut piano, mezzo-piano bahkan sampai pianissimo. Itulah "The Power of Music".


Sebagaimana halnya dengan musik, maka manajemen memiliki esensi dan makna yang sama dengan musik. Karena dapat berupa solo, duo, trio maupun orkestra. Namun harus diartikulasikan, dipahami, dan diimplementasikan secara berbeda. "The Power of Music" identik dengan "The Power of Management”" karena esensi atau hakekatnya sama-sama berazas pada "The Power of Implementation".


Dalam manajemen yang "paling generik", kita "hanya" dibekali dengan esensi berupa 4 (empat) "nada dasar" dengan frekuensi atau nilai hertz berbeda, yaitu: Planning-Organizing-Actuating-Controlling (P-O-A-C), atau Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A) yang dikenal sebagai Deming Circle, dan lain-lain. Itu malah kurang dari 7 (tujuh) nada dasar dalam musik dengan sistem diatonik, atau 5 (lima) nada dasar musik dengan sistem pentatonik. Kalau tokh kemudian kita dijejali dengan sistem manajemen yang "branded" dan mutakhir seperti TQM, ISO Series, GCG, BSC, MBNQ, Toyota Way, Lean Manufacturing, Six-Sigma, Performance Management System, Prism, Key Performance Indicator Manual, Activity Based Management, Knowledge Management, Tacit Management, CBHAMS, Analytical Hierarchy Process (AHP), Analytical Network Process (ANP), Service Excellence, Primavera, dan lain-lain, itu sebenarnya memiliki esensi yang sama dengan sistem manajemen yang paling generik sekalipun. Yang penting ádalah bagaimana "The Power of Implemention" dapat menjadi infrastruktur atau kapital bagi manajemen. Asal "The Music of Managementt" memperoleh pemain musik dan/atau conductor yang tepat. Supaya harmoni dan keindahan yang ingin dicapai dapat menjadi nyata dan bermakna.


Sebagai contoh, sudut pandang atau ilustrasi lain, DNA boleh beda dengan struktur atau sistem yang kompleks, namun esensinya polimer DNA memiliki tiga komponen utama yang sama, yaitu: gugus fosfat, gula deoksiribosa dan basa nitrogen. Di samping itu sangat jelas, bahwa DNA terdiri dari dua rantai, rantai yang satu merupakan konjugat dari rantai pasangannya. Dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangannya akan mudah dibentuk. (Aplikasinya dalam Manajemen, silakan baca: Filosofi DNA dan Filosofi Atom).


Kembali ke topik bahasan. Di dunia musik (baca: manajemen) kita wajib mengetahui apa, siapa, untuk apa & siapa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa kita harus bermusik (baca: mengelola). Kapan kita mengelola secara crescendo, kapan harus decrescendo atau meza-divorce. Dimana kita harus acapella, mengapa harus diiringi orkestra atau harus solo atau trio. Juga dalam manajemen kita harus mengetahui bagaimana caranya meniti deretan nada dengan pitch control atau intonasi yang prima, supaya memenuhi standar yang ditetapkan.


Dalam manajemen, seperti halnya musik kita harus pandai menyuarakan nada-nada dengan penuh harmoni, tidak fals atau sumbang yang dapat membuat pendengarnya menjadi tersiksa. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita perlu sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas, serta membuat warna suara atau timbre yang berbeda tersebut menjadi harmoni yang indah, penuh keseimbangan yang benar-benar tanpa cela. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat memberikan artikulasi, intonasi dan phrasering yang tepat. Apakah kita harus meniru Bimbo, Opick, Ernie Johan, Engelbert Humperdinck, Andy William, ST 12, D'Massive, Kris Dayanti, Siti Nurhaliza, Whitney Houston, Shania Twain, George Groban, Christopher Abimanyu, Luciano Pavaroti, Shaggy Dog, John Lennon, atau Mick Jagger? Apakah anda akan mendendangkan lagu cengeng mendayu-dayu, atau lagu berirama cadas, semuanya tergantung anda, karena tergantung dari kemampuan anda. Termasuk jika anda hanya dapat menyanyikan lagu anak "Bintang Kecil" dan "Balonku" atau menyanyi rap. Syukur jika anda memiliki teknik vokal atau teknik bermain musik yang unggul, gaya yang khas, dan kemampuan pendukung lainnya, yang dapat menjadi personal brand anda, sebab itu akan lebih dapat memberikan banyak keuntungan bagi anda. Yang juga patut dicatat, dalam bermusik anda wajib mengetahui dan menelaah, apakah musik yang anda sajikan sesuai atau tidak dengan keinginan dan kedahagaan audiences anda. Jika anda bermusik hanya untuk diri anda, tentu saja berbeda jika anda harus bermusik dengan audiences yang memiliki selera atau warna musik tertentu. Anda tentu saja tidak boleh lepas dari cengkeraman selera mereka, jika ingin mendapatkan apresiasi atau “standing ovation”.


Dalam manajemen juga ada frekuensi atau nilai hertz yang berbeda, yang dituntut untuk dapat saling memberikan harmoni atau dapat menciptakan interferensi yang positif sehingga tercipta sinergi dari energi dan nurani yang tersaji. Dalam manajemen, pandai-pandailah kita untuk memilih kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat bermusik secara minor, mayor, atau kombinasi keduanya. Juga kita harus pandai melakukan atau menikmati salah satu atau lebih dari jenis-jenis musik reggae, jazz, blues, country, rock ’n roll, keroncong, dangdut, melayu, stambul, gambus, maupun jenis musik lainnya.


Seandainya anda hanya dapat bermusik (baca: mengelola) yang paling generik dengan hanya mampu meniti nada-nada..do..re..mi..fa..sol..la..si..do, lakukanlah itu dengan cara dan gaya anda. Asal jangan sampai sumbang dalam menyajikannya. Karena anda telah benar-benar bermusik. Daripada anda menyanyikan lagu seriosa yang menguras kemampuan teknik vokal berupa interpretasi, dinamika, artikulasi, intonasi, tempo, teknik pernafasan, dan phrasering yang prima, namun bernada sumbang. Lebih baik anda berteriak ...aaa..uuu..ooo, seperti Tarzan sambil bergelayutan di akar yang menjulur di antara pepohonan di lebatnya belantara, karena itu ternyata secara efektif dan efisien dapat sampai pada tujuan untuk memanggil sahabat-sahabat binatangnya, karena akhirnya semua binatang sahabatnya di seluruh belantara dapat mendengar suaranya dan dapat hadir untuk berkumpul merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sesuatu. Karena teriakan aaa...uuu...ooo, dari Tarzan adalah musik generik paling alami dalam kehidupan, seperti halnya suara deburan ombak yang memecah di pantai, kicau paksi di antara embun pagi, desiran pawana siang di antara rumput sabana, kepak sayap burung pemakan bangkai di padang prairi, suara katak ketika hujan atau senja tiba, suara perkutut dan cucak rawa di pendapa atau pringgitan kabupaten maupun rumah gedongan, atau suara tangis bayi ketika baru lahir.


Demikian juga dalam manajemen, jika anda hanya mampu melakukan aktifitas manajerial secara generik, atau juga hanya yang alami, lakukanlah itu secara benar dan benar-benar dilakukan, daripada anda memilih sistem manajemen yang "branded", namun anda lakukan tanpa pemahaman yang benar, sehingga banyak disturbsi, distorsi dan deviasi.


Berlakukan sistem manajemen yang "branded" jika leadership dan kemampuan manajerial anda sudah cukup untuk mengajak orang-orang anda dalam organisasi untuk melaksanakan variasi atau kombinasi dari largo, adagio, moderato, vivace maupun presto. Dan akan lebih baik lagi jika anda mampu untuk membawa organisasi anda menuju con amore, con brio, con fiesto, con espressione, con dolore maupun con maestoso. Juga kapan harus legato, marcato, staccato, atau rubato.Sementara untuk mencapai nada tinggi (target yang tinggi), sementara anda tidak mampu, pilihlah falcetto. Jika anda memang benar-benar mampu bermusik (baca: mengelola) pastilah anda tahu caranya untuk melakukan transposisi atau modulasi, serta memanfaatkan resonansi.

Pastikan anda mengambil keputusan untuk melakukan ritenuto, accelerando atau tempo primo.


Lakukan semuanya dengan menggunakan keseimbangan antara teori dan praktek. Jangan dewa-dewakan teori, jangan lecehkan praktek. Karena teori tanpa praktek itu omong kosong, sementara praktek tanpa teori itu ngawur. Karena pada dasarnya teori itu bermata air dari proyeksi empiris banyak praktek. Bermusik (baca: mengelola) hanya dengan teori tanpa praktek tidak akan dapat dinikmati, sementara bermusik dengan praktek saja tanpa teori tidak akan pernah membuat kita lebih maju karena tanpa continual improvement, yang akan dapat membawa kita memenangkan persaingan.


Semuanya semata-mata untuk membangkitkan seluruh pantat penonton beranjak dari kursinya untuk memberikan ”standing ovation” bagi musik anda. Yang terpenting, jangan sampai orang mengatakan: "Wah...ternyata suara atau permainan musik anda merdu, indah atau luar biasa sekali...! Namun akan lebih merdu lagi jika anda ...bersedia untuk DIAM!!!" Karena suara atau permainan musik yang fals atau sumbang anda, akan membuat orang-orang mengernyitkan dahi, bahkan mungkin muak, mencemooh, atau mengganggu anda dengan suitan-suitan panjang melecehkan. Beruntunglah anda jika tidak disuruh turun dari panggung musik anda. Anda mungkin saja berpedoman, biar saja anjing menggonggong, kafilah tetap akan berlalu. Namun bagaimana jika anjingnya menggigit, tidak hanya menggonggong? Tanpa anda sadari jika anda fals atau sumbang akan membikin kegaduhan manajerial, yang akan menggerogoti kapitalisasi manajerial anda, yang dapat bermuara pada kegagalan pencapaian goal dan objective anda.Yang terpenting dan patut dicatat: "suara fals atau sumbang anda, tidak akan pernah lebih merdu atau lebih enak didengar daripada seandainya anda DIAM !!!"


Namun semuanya itu adalah pilihan! Tergantung mana yang akan dipilih! Yang pasti semuanya memiliki jalan masing-masing.


Yang pasti, musik sulit dan tidak akan pernah menjadi lampau, bahkan akan semakin tumbuh dan berkembang seperti halnya manajemen. Karena musik merupakan bagian dari seluruh masa, termasuk masa depan. Demikian juga halnya dengan manajemen yang wajib ada di seluruh masa. Untuk itu bertabiklah pada masa, supaya anda tidak dicerca oleh masa atau waktu. Juga bertobatlah untuk tidak bermusik secara fals atau sumbang, supaya harmoni yang prima tetap ada dan berada di jalurnya. Sehingga tepuk tangan yang membahana di tengah-tengah jutaan manusia yang tiba-tiba bangkit dari duduknya, berdiri, untuk memberikan apresiasi atas musik anda, menggelegar di setiap wahana dimanapun anda berada. Karena bagaimanapun juga, cara anda bermusik identik dengan cara anda mengelola.


Bagaimana caranya melakukan aktifitas manajerial dengan pendekatan pada filosofi musik? Ikutlah workshop-nya untuk 5 (hari) hari pelaksanaan! Karena yang tertulis di atas hanyalah kulitnya, yang "hanya" setara dengan 1 (satu) hari seminar. Juga karena manajemen adalah seni untuk dapat diaplikasi dan dinikmati, bukan hanya ilmu atau pengetahuan an sich yang berujud teori maupun aplikasi. Yang pasti keduanya memang wajib untuk bertabik pada apresiasi meski tanpa atau dengan audisi. Bukan hanya baka, namun juga fana. Karena baik musik maupun manajemen sama-sama universal. Yang seharusnya bebas dari belenggu apapun, jika tidak ingin ditinggal oleh ruang dan waktu, serta dimensi lain di atasnya, jika memang masih ada.


Terima kasih.


Salam Manajemen.

Wass.WW


Ratmaya Urip.

ooOoo


Catatan:
Sedang dalam antrian untuk diunggah di blog: a). Filosofi Tanaman b). Filosofi Makanan c). Filosofi Benang Kusut d). Filosofi Tukang Kayu e). Filosofi Layang-layang f). Filosofi DNA g). Filosofi Atom h). Dll. Semuanya dalam relasi dan atau aplikasinya di dunia Manajemen