Minggu, 27 November 2011

Serial Filosofi Manajemen 3



FILOSOFI BENANG KUSUT

(TOUSLED YARN PHILOSOPHY)

SOLUSI MANAJEMEN BISNIS DALAM KONDISI KRITIS

oleh : Ratmaya Urip*

Seringkali dalam bisnis kita dihadapkan pada kondisi yang bukan lagi as usual. Kondisi itu kini lebih sering terjadi, karena semakin tingginya tingkat persaingan, tuntutan customer, pengaruh politik, ekonomi, sosial, dan budaya global yang sulit bagi para pelaku bisnis untuk menghindarinya. Kondisi chaos, resesi dan atau depresi di suatu tempat dengan cepat akan berimbas pada wilayah lain yang jauh dari sumber masalah. Singkat kata, kini kita sudah selalu harus berhadapan dengan kondisi unusual, yang unpredictable, uncountable, dan hopelessness, yang menjadikan seluruh jurus dari kemampuan visioner, kemampuan manajerial maupun kemampuan teknikal yang ada menjadi tidak berarti, menjadi usang dan menjadi lampau atau bahkan menjadi generik. Teori-teori manajemen apapun menjadi lumpuh ketika harus diaplikasikan.Dalam kondisi unusual dalam hal ini boleh juga disebut krisis multi dimensi, seluruh resources terkuras habis untuk dapat survive. Hampir seluruh pelaku bisnis menetapkan strategi survival, jarang yang mengambil strategi growth atau diversification. Memang ada bisnis yang tetap growth, namun secara agregat tidak cukup signifikan untuk memberikan kontribusi bagi global growth, regional growth dan national growth. Yang lebih sering terjadi adalah pelaku bisnis terpaksa melakukan liquidation. Sehingga kondisi krisis semakin mencengkeram kuat.

Terinspirasi dari Prof. DR Paul Ormerod dalam The Death of Economics, yang menganalisis tentang boom atau recession dalam suatu perekonomian hanya pada 2 (dua) parameter dasar yaitu unemployment dan inflation yang ternyata cukup ampuh dalam menganalisis Global Depression pada tahun 1930-an dan global oil crisis tahun 1973-1974, maka penulis mengetengahkan Tousled Yarn Philosophy (Filosofi Benang Kusut) sebagai alternatif Solusi Manajemen Bisnis dalam Kondisi Kritis atau Unusual.

Dalam kondisi kritis, seluruh resources terkuras habis, sementara result sering tidak kunjung sesuai dengan harapan. Ini karena dalam kondisi panik, semua distorsi dan degradasi diatasi dan diapresiasi dengan mengerahkan seluruh resources. Padahal kita harus lebih mengedepankan skala prioritas, untuk mengamanan resources yang memang sangat terbatas itu, apalagi dalam situasi yang sangat kritis.

Kondisi chaos atau krisis diibaratkan kondisi benang dalam keadaan kusut yang secara harfiah sulit untuk diurai lagi, sehingga lebih sering kita membuangnya karena useless. Padahal kalau kita tidak panik dan berpikir jernih kita akan dapat mengurai benang kusut tersebut, kembali menjadi useful.


Initial step dalam mengurai benang kusut adalah mencari dua ujung benangnya. Langkah ini merupakan critical activity, karena memberikan kontribusi terbesar bagi keberhasilan yang ingin dicapai. Berangkat dari 2 (dua) ujung benang yang telah ditemukan tersebut kita lakukan langkah penguraian, sampai benangnya lepas dari kondisi kekusutan. Tentu saja dalam penguraian tersebut sering kita jumpai kondisi berupa adanya bagian dari benang yang sangat kusut dan tertali mati, sehingga kita harus mengamputasi dan membuangnya khusus pada bagian yang sulit diurai tersebut dan kita sambung lagi setelah benang yang sulit diurai tersebut dibuang.

Berangkat dari filosofi tersebut penulis mencoba mentransformasikannya sebagai teori atau axioma dan mengaplikasikannya dalam manajemen bisnis yang penulis geluti, dan ternyata hasilnya cukup membanggakan.

Dalam tulisan sebelumnya penulis pernah mengedepankan tulisan tentang Faktor Kelola dan Faktor Kendali dalam Manajemen Mutu Untuk menerapkan filosofi (baca : teori) Benang Kusut, maka penulis mengedepankan lagi masalah Faktor Kelola sebagai acuan dasar yang harus dipilih dan ditetapkan sebagai 2 (dua) ujung benangnya. Initial step berupa pemilihan dan penetapan 2 (dua) faktor dari 12 (sebelas) Faktor Kelola yang paling krusial mempengaruhi atau penyebab dari krisis yang terjadi, itulah critical activity-nya. Kesalahan dalam menetapkan 2 (dua) faktor tersebut akan menyebabkan distorsi. Dengan hanya memilih 2 (dua) faktor saja di antara 12 (sebelas) faktor sebagai prioritas utama penanganan krisis akan sangat menghemat resources yang kita miliki. Setelah 2 faktor yang dipilih dari 12 faktor (komponen Faktor-faktor Kelola) kita tetapkan sebagai initial step, maka kita kemudian harus menguraikan dan mentransformasikannya dalam ujud parameter-parameter di masing-masing faktor. Untuk itu memang dibutuhkan kepiawaian dalam cascading dan deployment masing-masing faktor. Kemampuan analitis maupun intuitif merupakan kunci utama keberhasilan kita. 10 (sepuluh) faktor lain yang kebetulan tidak kita sentuh, secara alami akan mengikuti azas atau efek domino, dengan kata lain akan dapat terseret dan atau terurai masalahnya mengikuti 2 (dua) faktor dominan yang sudah ditetapkan sebagai 2 (dua) ujung benang.

Faktor-faktor Kelola dalam Bisnis


Berangkat dari Production Factors (Faktor-faktor Produksi) yang sering juga disebut sebagai 5 M (Man, Material, Method, Machine, dan Money), penulis kemudian mengedepankan 12 M yang penulis sebut sebagai Managing Factors (Faktor-faktor Kelola), yang merupakan faktor-faktor yang menurut penulis cukup komprehensif untuk disebut sebagai faktor-faktor yang dibutuhkan dalam pengelolaan bisnis. Faktor-faktor kelola penulis susun secara hierarchies, tidak boleh dibolak-balik. Dari 2 (dua) faktor di antara 12 (sebelas) faktor inilah yang harus ditetapkan sebagai Main Factors dalam Initial Step yang telah disebutkan di atas. Adapun Faktor-faktor Kelola (12 M) yang penulis maksud adalah :

1. Milieu

Parameter-parameternya adalah : stakeholder satisfaction index, ambang batas yang diijinkan baik fisik maupun Ipoleksosbud dari lingkungan, derajad antropolis bisnis dari lingkungan, dan lain-lain.

2. Market

Parameter-parameter dasar yang dapat dikembangkan adalah : sales progress, sales scorecard, customer satisfaction index, customer loyalty index, customer complaint, cost performance index, quotation success ratio, profitability, dan lain-lain.

3. Money

Adapun parameter-parameternya adalah : cost index, revenue, short-term liquidity ratios, capital structure and long-term solvency ratios, return on investment ratios, operating performance ratios, assets utilization ratios, profitability, dan lain-lain.

4. Management

Parameter-parameternya adalah : audit reports, management review, PMS, performance review, regular evaluations, dan lain-lain.

5. Manpower

Parameter-parameternya adalah : employee productivity index, man-hours per quantity, sales/staff, profit/staff, communication skill, competencies, dan lain-lain.


6. Motivation

Parameter-parameternya memang masih perlu kajian yang lebih intens. Untuk sementara yang dapat diketengahkan adalah : employee satisfaction index, attitude-behavioral index, leadership-followership ability, employee scorecard, dan lain-lain.

7. Material

Parameter-parameternya adalah : cost of quality, materials rejected rate, effectiveness, efficiency, material costs per quantity, material costs per revenue, dan lain-lain.

8. Machine and Mechanization

Parameter-parameternya adalah : equipment availability per performance, equipment breakdown time, maintenance cost per quantity, operation cost per quantity, effectiveness, efficiency, dan lain-lain

9. Measurement

Parameter-parameternya adalah : semua parameter yang ditetapkan dalam setiap faktor yang ada dalam Faktor-faktor Kelola ( 12 M ). Seluruh parameter harus dapat berguna untuk evaluasi, penyusunan strategi, dan decision making

10. Modern Information Method

Parameter-parameter untuk faktor ini masih belum dapat diajukan. Akan disampaikan dalam tatap muka.

11. Mounting Product Requirement

Parameter-parameternyapun belum dapat diajukan seperti halnya faktor ke sepuluh.

12. Magnate

Parameter untuk faktor ini belum dapat diajukan, seperti halnya fakor ke sepuluh.

Faktor ini sebenarnya merupakan extensi dari faktor ke-5 Manpower, namun lebih ke aplikasi atau parameter-parameter yang lebih stratejik dan taktikal, sementara dalam faktor Manpower di atas lebih kepada parameter yang operasional. Mengapa dipisahkan? Karena people dalam gelombang ke-empat peradaban manusia, yaitu era creativity, environment, dan culture, memerlukan ketangguhan people yang sangat prima. People merupakan faktor yang paling menentukan dalam mengolah resources dan menjalankan sistem. Apalagi era-nya sudah bukan era Human Resource Management, namun sudah masuk ke era Human Capital Management, yang matriksnya bukan dua dimensi lagi, tetapi tiga atau empat dimensi. (Catatan: tentang dimensi ini sudah dijelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya).

Tentu saja dalam aplikasinya artikel ini perlu ditindaklanjuti dengan workshop atau pelatihan secara intensif, karena Tousled Yarn Philosophy disamping memerlukan kemampuan analitis dan intuitif juga memerlukan kemampuan cascading dan atau deployment yang dalam, karena pijakannya di samping berbasis pada Operational Excellence, juga sekaligus berbasis Innovation Excellence. Meskipun salah satu dari keduanya dapat saja diabaikan, tergantung dari jenis bisnisnya.

Penggunaan salah satu dari Institutional Performance Management, seperti the Balanced Scorecard dari Harvard, Amerika Serikat (1992), Prism dari Cambridge, Inggris (2002), Key Performance Indicator Manual dari Australia (1995), ISO series yang diprakarsai WTO (1986), Malcolm Baldridge National Quality Award dari Amerika Serikat (1987), Activity Based Management dari Amerika Serikat (1996), Good Corporate Governance, dan sebagainya, sangat dianjurkan. Bahkan Six Sigma, sebuah metode pengendalian kualitas produk yang semula berangkat dari pengendalian kualitas statistik di level lantai pabrik (shop floor), saat ini sudah memasuki area perbaikan kinerja di level stratejik dan organisasi.

Tentu saja penggunaan software dalam mengolah Key Performance Indicators (KPI), akan lebih cepat jika memanfaatkan software, seperti Super Decision, atau Expert Choice, dll.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip

=========================================

*) Ratmaya Urip, adalah pemerhati, pelaku serta konsultan untuk berbagai aktifitas stratejik, manajerial, taktikal, dan operasional di bisnis industri & jasa bidang manufaktur, konstruksi dan pertambangan. Saat ini adalah Wakil Ketua Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia) Cabang Surabaya, Pembina & Pendiri Quality Network Indonesia Chapter Jawa Timur, dan Ketua Ikatan Ahli Pracetak-Prategang Indonesia Cabang Jatim. Selain itu adalah Host dan co-Producer di Radio Suara Surabaya 100FM (www.suarasurabaya.net klik online atau on demand) selama 16 tahun untuk “weekly program”: “Solusi Manajemen Bisnis”/”Smart Solution”

ooOoo



Serial Filosofi Manajemen 2

FILOSOFI CINTA

Love is a Function of Mathematics

(L = PxS / DxT)

oleh: Ratmaya Urip*

Maaf Bpk. Heriyanto Notoseputro dan Bpk. Thomas Nick, saya agak terlambat menyampaikan jawaban atas apresiasi Bpk tentang formula saya, bahwa Cinta itu Fungsi Matematik. Maka melanjutkan penjelasan saya, yang merupakan response atas email dari Bpk Heriyanto Notoseputro dan Bpk Thomas Nick di milis (undercover_manager@yahoogroups.com) atau “The Manager” ini, di bawah thread: “Suami dan Gadis Penggoda”, joke yang pada awalnya di-released oleh Bpk Patrick Reddington, berikut ini akan saya lanjutkan penjelasan saya. Namun supaya lengkap, saya juga akan menyertakan penjelasan saya sebelumnya. Terima kasih kepada Bpk Heriyanto dan Bpk Thomas atas response-nya. 1. Love is a Function of Mathematics

Sebelumnya saya telah menyampaikan, bahwa “Cinta itu Fungsi Matematik” (Love is Function of Mathematics), yang mengikuti rumus atau formula L = PxS / DxT. (Notes: L = Love, P = Power, S = Speed, D = Distance, T = Time). Jika dinarasikan: “LOVE berbanding lurus dengan POWER dan SPEED, namun berbanding terbalik dengan DISTANCE dan TIME)”. Maaf, sengaja tidak saya tambahkan imbuhan konstanta alpha, beta, atau gamma, seperti fungsi matematik pada umumnya, supaya mudah dicerna. Untuk itu mohon maaf kepada para ahli matematika atas kelancangan saya).

Karena saya bicara tentang keuniversalan, maka sebagai PROLOG, saya ingin memberi batasan, bahwa yang dimaksud dengan LOVE di sini merupakan LOVE yang hanya berdimensi hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia atau hubungan horizontal), bukan yang berdimensi hablumminalloh (hubungan manusia dengan Sang Pencipta atau hubungan vertikal), karena saya bukan ahlinya. Itupun terbatas hanya pada perspektif hubungan antarmanusia yang berlainan jenis yang menginginkan dan atau sedang dalam pelukan LOVE. Tidak termasuk hubungan manusia (baca: LOVE) dengan keluarganya, pekerjaannya, lingkungannya, machluk hidup lainnya, negaranya, dan lain-lain. Apakah rumus tersebut berlaku juga untuk dimensi atau perspektif yang lain? saya belum membuktikannya! Yang pasti tulisan ini hanya sebagai response keterkejutan saya pada cerita tentang “Suami dan Gadis Penggoda”, karena sikap suami seperti yang ditunjukkan dalam cerita tersebut merupakan barang langka yang dapat disebut antique. Sekaligus untuk merefleksikan kekaguman saya pada si “suami”. Bagaimanapun juga, cerita tersebut sangat “inspiring”, “motivating”, “energizing”, “exciting”, “interesting”, and “fascinating” bagi saya. Semoga juga bagi anggota milis lainnya. Dengan kata lain, semoga formula atau rumus saya tersebut dapat terpatahkan dan terhempas keras oleh waktu dan sikap moral yang positif.

Jangan salah, LOVE mempunyai infrastruktur yang bersifat rasional, emosional, dan spiritual, yang berinteraksi secara proaktif, bukannya reaktif. Ketiganya membentuk bauran seperti halnya bauran pemasaran (marketing mix) 4P. Hanya kalau LOVE memiliki 3 (tiga) elemen pokok yang akronimnya adalah RES, sementara bauran pemasaran memiliki 4 (empat) elemen inti 4P. Sehingga dapat disusun matrix-nya, atau dianalisis dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) atau Analytical Network Process (AHP) dari Saaty, baik yang menggunakan software seperti Expert Choice maupun Super Decision.

Perlu diingat dan dipahami, kalau kita bicara spiritual, itu bukan berarti hanya menyangkut bersujud ke arah kiblat di atas sajadah ke haribaan Allah Swt, berlapar-lapar puasa di bulan Ramadhan, dll. Serta juga bukan hanya bernyanyi menyenandungkan kidung doa dengan berjajar menghadap altar serta menerima “altar cake” dari Romo atau Pendeta, menyalakan hio dan dupa di antara lilin-lilin di dalam pagoda, menabur kembang di pura untuk Hyang Widi Wasa, merintih di depan tembok ratapan, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, karena ibadah memiliki esensi tidak hanya vertikal, namun juga horizontal. Sementara esensi taqwa adalah berserah diri kepada Yang Maha Esa, untuk kemaslahatan vertikal maupun horisontal. (Mohon maaf Bpk Kyai, kalau saya salah, karena saya hanya santri diniyah, belum ibtidaiyah, apalagi tsanawiyah atau aliyah, mohon diluruskan jika pemahaman saya salah).

Tentang rasional, emosional, dan spiritual (RES), ternyata juga dipakai dalam Ilmu Pemasaran, hanya bedanya di Pemasaran tersusun secara hierarkis. Dimana customer diharapkan oleh producer untuk dapat memiliki spiritualisme dalam memenuhi kebutuhan atas produk dan jasanya, tidak hanya sekedar emosionalisme, apalagi rasionalisme. Maaf, kepada para pakar Pemasaran, mohon diingatkan kalau saya salah, saya cuma cantrik yang sedang nyuwito atau ngenger di Padepokan (He.he.he..saya jadi ingat peri laku Pailul, yang mirip saya, mendampingi sahabatnya, Panji Koming, yang serba salah ketika sowan ke hadapan Sang Begawan, karena ingat Ni Dyah Gembili, pacarnya, yang mungkin sedang bersama Ni Woro Ciblon, dalam serial strip komik Panji Koming & Pailul karya Dwi Koendoro sejak 14 Oktober 1979 di KOMPAS Minggu). Di Padepokan untuk ngangsu kawruh dengan maksud supaya dapat memiliki ngelmu kang linuwih, karena saya belum dan bukan apa-apa, saya hanya sudro, utawi pidak pedarakan ingkang ngelak ing ngelmu. Amargi ngangsu kawruh salaminipun gesang punika saged anglanggengaken pasederekan lan njangkah ing margining ngagesang ingkang tuhu). Tentang hal ini biarlah nanti beliau-beliau yang ahli Pemasaran yang dapat menjelaskan. Saya sedang dalam posisi untuk belum memiliki kompetensi yang cukup tentang hal ini. Hanya tahu sedikit-sedikit, sekedar pancingan agar ahlinya yang bicara. Mencoba untuk lebih intens dalam berinteraksi di milis ini. (Maaf pakai Bahasa Jawa Krama Inggil, mencoba untuk menapaktilasi peninggalan Ki Hajar Dewantara yang abadi: “Ing ngarsa sung tulada,Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani”, filosofi yang sampai sekarang masih menjadi rujukan di berbagai bidang, termasuk bidang manajemen)

Baiklah, supaya prolog-nya tidak “nggladrah sa wiyah-wiyah” atau berkepanjangan, berikut ini akan saya sampaikan equation-nya seperti yang diminta oleh Bpk Heriyanto dan Bpk. Thomas:

2. Mengelola Cinta adalah Investasi

Saya akan mulai dari statement, bahwa mengelola Cinta itu adalah suatu INVESTASI. Maaf jika statement ini agak materialistik. (Catatan: menurut saya kita memang harus materialistik asal proporsional. Bayi dalam kandungan saja perlu nutrisi/materi untuk dapat melanjutkan tumbuh-kembangnya di kandungan. Semua machluk hidup perlu materi berupa unsur hara atau nutrisi. Asal proporsional jangan RAKUSional atau TAMAKional). Demikian juga Cinta (LOVE) jangan berlebihan.

Cinta atau LOVE (L) memang dapat dianalisis dari berbagai aspek di antaranya aspek ekonomi, budaya, knowledge (matematika, fisika, geologi, komunikasi, psychologi, dll), agama, manajemen, dll.. Tentang hal ini akan saya masukkan dalam SERIAL FILOSOFI MANAJEMEN, yang serial pertamanya sudah meluncur di milis ini dengan judul FILOSOFI MUSIK. Tentang LOVE, masuk dalam serial tersebut dengan topik FILOSOFI CINTA. Jumlah serialnya sendiri direncanakan mendekati jumlah ASMAUL HUSNA, karena saya amat mengagumi kebesaran Allah Swt, dan semua yang saya tulis semata-mata karenaNYA. Tapi akan ditulis secara populer dan universal. Musik, cinta, tukang kayu, makanan, dan lain-lain itu universal kan?

Sebenarnya sebelum ini ada issue yang sangat menarik di milis ini, yaitu tentang Manajemen Konflik, yang mengilhami saya untuk menulis tentang Filosofi Konflik, namun ternyata lebih dulu menulis tentang LOVE, yang muncul karena terinspirasi oleh cerita tentang “Suami dan Gadis Penggoda”, sehingga perbendaharaan formula/rumus lama saya muncul kembali. Saya jadi ingat pemeo saya: “kesempatan tanpa persiapan tidak akan menjadi ‘luck’, sementara persiapan tanpa kesempatan juga akan terbuang dengan percuma, tidak akan menjadi ‘luck’”. Kebetulan saya telah ada persiapan berupa formula atau rumus matematik tentang LOVE, sementara “kesempatan baik” tiba-tiba muncul seiring hadirnya joke “Suami dan Gadis Penggoda”. Padahal serial lainnya sudah lebih dahulu siap edar. Momentum kan perlu dimaknai dan dimanfaatkan secara lebih, bukan? Ini namanya kesempatan, yang kebetulan saya sudah ada persiapan, meskipun sudah lama, dan boleh juga disebut persiapan yang basi. Jadilah “luck” karena menginspirasi saya untuk menulis serial ini.

3. Love Versus Power

CINTA dalam kajian matematika kan perlu ada penjelasan dan solusi matematisnya. Kalau mau bersusah-susah sedikit untuk jeli, apapun sebenarnya dpt dikaji secara matematis. Krn kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah ilmu exact yg terdampar di dunia manajemen. Orang exact pd umumnya memiliki pola pikir CONVERGEN, krn selalu mempermudah segala sesuatu yg sulit, shg mereka selalu menggunakan formula atau rumus2 jk ingin mendapatkan solusi atas suatu masalah. Contohnya: Einstein merumuskan masalah rumit dlm ilmu fisika "hanya" dengan teori relatifitasnya E=mc2. Begitu pula dg Phytagoras, Archimedes, Kepler, Newton, dll. Hanya mereka kan memang bergelut di bidang yg exact. Jarang sekali fenomena sosial yg solusinya dilakukan dengan pendekatan secara exact. Maka ttg LOVE, saya mencoba utk mencari formulasinya secara matematis, meskipun lebih mudah mengkajinya secara fisis maupun biologis.

Sementara teman2 dr bidang non-exact lebih cenderung ke pola pikir DIVERGEN, maaf, lebih cenderung memperdalam apa yg sebenarnya sederhana. Contohnya: Pancasila yg jumlahnya lima itu dikaji sampai dalam sekali. Saya sendiri suka berpola pikir CONVERGEN maupun DIVERGEN, spy balance, dan tergantung masalahnya

Kembali ke pokok bahasan. LOVE (L) berbanding lurus dg POWER (P), krn L akan mudah didapat oleh orang yg memiliki P besar. P melambangkan status sosial, kekayaan, dll. Memang ada perkecualian, namun tidak banyak. Jika diteliti dugaan saya mengikuti kurva lonceng GAUSS. Ordinary, LOVE memiliki pangsa sekitar 80%. Sementara yg extra-ordinary, baik yg superior maupun inferior memiliki kans 20% dr kajian statistik. Ini hipotesis saya. Uji hipotesisnya, maaf tdk dpt saya sampaikan krn menyita tempat. Sebagai ilustrasi memang ada LOVE yg berhasil yang terjadi tapi merupakan anomali dr formula saya, tp jumlahnya tdk banyak, dimana LOVE dinikmati oleh mereka yg P-nya kurang. Kalau tokh kelihatan banyak itu krn terobsesi oleh dongeng-dongeng Cinderella-Sang Pangeran, Romeo-Juliet, Raramendut-Pranacitra, Layonsari-Jayaprana, Saidjah-Adinda, Siti Nurbaya-Syamsul Bahri, Panji Semirang, dll. Kalau tokh saya harus memberikan apresiasi saya akan memberikannya pd LOVE yg berkibar pd diri Widyawati-Sophan Sophian dan Setyawati-Prabu Salya dlm epos Bharatayudha. Tapi itu kan sample utk mendukung formula saya. Krn terjadi pd mereka yg sama2 memiliki P yg besar?

4. Love Versus Speed

Dalam persaingan apapun, termasuk dalam mendapatkan Love, pasti berlaku hukum ”siapa cepat dia akan lebih berpotensi untuk dapat”. Jika tidak ada upaya yang serius dengan kecepatan (kelajuan) yang prima untuk mendapatkannya pasti akan kalah dengan kompetitor. Orang yang ingin mendapatkan Love, tetapi tidak menunjukkan keinginannya sama sekali secara lebih cepat, atau malah ragu-ragu untuk ”menembak” (istilah anak muda jaman mutakhir untuk menyatakan cinta), maka dia akan membuat yang ”ditembak” akan bingung, dan akan memilih yang lebih pasti dan lebih cepat. Saya kira tentang hal ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut, karena mudah dipahami. Sebenarnya ada aspek lainnya di samping speed (kelajuan atau kecepatan) yaitu acceleration (percepatan), namun hipotesis saya belum sampai ke sana.

Menanggapi masukan Bpk. Thomas Nick, memang benar bahwa Speed itu Distance / Time. karena Speed, Distance, dan Time terhubung secara linear, namun itu jika kita bicara secara ilmu exact murni, dimana pola pikirnya memang wajib CONVERGEN. Tapi yang dibahas ini bukan ilmu exact namun non-exact, sehingga mau tidak mau kita wajib ber”mindset” DIVERGEN, sehingga saya belum sependapat jika equation awal bisa di nyatakan dalam dua variabel bebas saja, yaitu P dan kuadrat dari T, seperti masukan Bpk. Thomas. (Maaf, kebetulan salah satu pendidikan saya adalah dari disiplin ilmu Teknik Sipil, di samping ilmu2 dengan disiplin lain, baik yang exact maupun non-exact, sehingga tidak perlu bertanya kepada temen2 dari Teknik Sipil seperti masukan Bapak. Juga karena saya juga memiliki basis pendidikan non-exact, maka pola pikir saya selalu variatif, kapan diperlukan CONVERGEN, kapan diperlukan DIVERGEN, itulah biangnya. Yang penting kedua pola pikir tersebut dapat memberikan solusi yang cepat, efektif dan efisien, dan benar-benar dapat dipahami dan disepakati). Btw, sangat menarik apa yang Bpk sampaikan sebagai masukan. Masukan Bpk sangat inspiring, energizing, empowering, motivating, exiting, fascinating, exciting and interesting. Karena tiba-tiba kemudian saya mulai berpikir tentang formula dalam Ilmu Teknik Sipil lainnya, khususnya Hidrolika atau Mekanika Fluida yang dapat diformulakan sebagai formula Love juga. Yaitu tentang Formula Debit Air, Q = A x S (Debit, berbanding lurus dengan Luas/Area penampang dan Kecepatan/Speed) serta Formula kedua, Q = V / T (Debit, berbanding lurus dengan Volume, namun berbanding terbalik dengan Waktu/Time). Ini sangat dekat untuk menjabarkan tentang Love. Coba saya akan membuktikannya. Tentu saja saya akan mebuat hipotesisnya, untuk diuji hipotesis.

5. Love Versus Distance

Distance atau jarak, merupakan aspek ketiga yang perlu dicermati. Jujur saja, jika kita memiliki Love, namun memiliki Distance yang besar, sangat rawan terhadap distorsi. Godaan banyak sekali yang menerpa. Jika Distance semakin besar sehingga kesempatan untuk menjadi dekat menjadi lebih sulit, misalnya Distance-nya sampai antar-negara atau antar-benua, kesempatan godaan untuk masuk besar sekali, yang ujung-ujungnya akan membuat Love berpaling jika tidak kuat menghadapi godaan. Kasus tentang hal ini cukup banyak. Yang paling fenomenal adalah banyaknya TKW yang sudah bersuami, yang mengandung anak di luar nikah dengan yang bukan pasangannya di negara tempat dia bekerja, atau banyaknya kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh para istri yang suaminya menjadi TKI di luar negeri, karena menisbikan Love. Mana kuat bagi kebanyakan lelaki jika melihat ada wanita sendirian, jika tanpa dibekali Love atau iman yang kuat. Kasus terakhir, seorang Kapolsek di Jatim digerebeg massa, karena berhubungan dengan wanita yang ditinggal suaminya bekerja sebagai TKI di luar negeri. Belum lagi kasus-kasus yang lain. Pada intinya, semakin jauh Distance, sehingga semakin jarang tatap muka akan lebih sering mengkhianati Love. Dengan kata lain, jika Distance semakin besar, maka Love akan mengecil, atau Love berbanding terbalik dengan Distance.

6. Love Versus Time

Marilah kita jujur. Jika usia perkawinan kita semakin panjang (Time semakin besar), apakah Love kita kepada pasangan kita akan sama magnitute-nya atau besarannya? Ada pemeo yang mengatakan, bahwa jika semakin lama berumah tangga, maka pasangan kita akan semakin dipandang sebagai saudara. Sehingga sex menjadi membosankan Usia rawan bagi perkawinan konon adalah di atas 5 (lima) tahun, karena Love mulai menurun, sehingga rawan terjadi godaan. Memang benar ada pemeo Jawa yang sangat populer: ”witing tresna jalaran saka kulina”, itu jika kita baru mulai memasuki pendekatan untuk mendapatkan Love, atau PROLOG-nya. Tapi pada episode EPILOG, menurut saya, pemeo-nya berubah menjadi: ”witing bubrah jalaran saka mlumah”, karena semakin kita memiliki Time yang panjang, maka sex dengan pasangan semakin membosankan (sex di sini untuk euphemisme, di notasikan dengan kata ”mlumah”). Maka banyak sekali kasus pasangan yang kemudian selingkuh. Ingat, sex adalah kelengkapan atau kesempurnaan Love. Love diakui atau tidak, akan lebih lengkap jika disempurnakan dengan sex. (seperti halnya ”Empat Sehat Lima Sempurna”). Apalagi karena tuntutan yang sangat manusiawi, bahwa sex memiliki fungsi regenerasi atau reproduksi, di samping fungsi rekreasi/relaxasi dan retardasi. Sex yang menyimpang yang tidak didasari Love, hanya berbasis nafsu semata memang banyak, namun itu bukan Love,. karena tidak didasari iman yang kuat. Apalagi jika dari sisi wanita tidak dibekali ”real Love”, hanya dibekali atau modal ingin dapat melakukan Mo-Limo (Lima-M): Macak, Masak, Manak, Mangan, Mlumah), yang kemudian prianya juga hanya berbekal Mo-Limo (Lima-M): Main, Madon, Minum, Madat, dan Maling.

Dengan kata lain, konklusinya Love semakin mengecil jika Time membesar, atau Love berbanding terbalik dengan Time.

Bpk Thomas Nick menyampaikan: ”That's why banyak pasangan yang setelah pensiun dan akhirnya spend waktu bersama yang lebih banyak (proximity) dan melakukan sesuatu yang disukai bersama (familiarity) merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya”. Itu memang benar. Tapi ingat, bahwa itu terjadi setelah pensiun. Bagaimana jika sebelum pensiun dan masih muda, namun memiliki Time yang panjang dengan Love-nya? Usia pensiun memang membuat ”familiarity” bertambah karena kesepian ditinggal anak-anak yang sudah berumah tangga, juga karena aktifitas menjadi berkurang. Sehingga Love sering muncul, namun konteksnya lebih ke konteks Love bukan sebagaimana Love antar-pasangan lain jenis, namun Love dengan dimensi lain, dimana pasangan sudah kita anggap sebagai saudara, atau sebagai keluarga. Ingat, di depan sudah saya sampaikan, bahwa Love dalam formula saya, adalah Love khusus untuk hubungan antar lawan jenis. Juga ingat fenomena puber kedua, puber ketiga, puber keempat, dan seterusnya, yang lebih dikonotasikan pada ”kegenitan” bukan kepada pasangan kita, yang seolah-olah bermetamorfosa menjadi sesuatu yang umum. Itu jika kita mau jujur. Coba simak, atau tanyakan ke lembaga-lembaga perkawinan, atau psycholog perkawinan, tentang fenomena ini. Data terbesar tentang maraknya perceraian memang terjadi karena Power (ekonomi) yang lemah, namun data tentang adanya perceraian karena Distance atau Time yang besar merupakan ”invisible case” atau ”silence data”.

Itulah kemudian saya mencoba memperkenalkan formula: L = P x S / D x T. Namun demikian, karena formula tersebut masih uji publik, maka saya sangat mengharapkan masukannya, karena memang belum tentu benar.

Terima kasih.

Wass.

Ratmaya Urip



Serial Filosofi Manajemen 1

FILOSOFI MUSIK

Aplikasinya di Dunia Manajemen

(Pendekatan Musik dalam Manajemen)

oleh: Ratmaya Urip *)

Setiap orang boleh memiliki pendapat yang berbeda tentang definisi musik. Namun jika kita jeli, dari sejuta perbedaan dan cara pandang dalam bermusik atau menyelami musik, ada satu esensi dasar yang menurut penulis patut untuk dicermati, yaitu:

”musik adalah suara yang tercipta karena adanya satu atau sederet bauran frekuensi yang berbeda, yang pada umumnya menumbuh-kembangkan harmoni”.

(Maaf, jika esensi ini berbeda dengan anda, maupun berbeda dengan beberapa textbook).Ya benar, jika kita merujuk pada esensi musik secara umum, termasuk musik sebagai hiburan, baik yang bemata air dari tangga nada diatonik berbasis solmisasi do, re, mi, fa, sol, la, si do, maupun berbasis chord C, D, E, F, G, A, B, C dan juga yang berbasis pentatonik dengan ji, ro, lu, mo, nem, ji, semuanya adalah deretan frekuensi yang membaur. Tidak peduli itu berasal dari suara kucing mengeong, suara ayam berkokok, suara ikan paus yang melengking mencari pasangannya, suara serigala kutub di tengah hutan tundra di padang salju pada malam hari, suara gelegar bongkahan gunung es yang terjatuh ke laut karena longsor, suara gesekan bambu yang saling bergesek karena tiupan angin, suara rumput yang bergoyang, suara ranting terinjak kaki, suara jengkerik di ladang jagung dan kacang, suara manusia yang berujud acapella, maupun suara alat musik modern yang membuncah, mendayu dan menggelora dari alat musik yang dikelompokkan sebagai perkusi (saron, peking, gambang, kenong, bonang, gong, drum, gendang, rebana, dll), brass (clarinet, saxophone, trombone, dll), alat gesek (biola, cello, rebab, dll), dentingan dawai yang dipetik (gitar, sasando, siter, dll), maupun alat musik yang dipencet atau keyboard (piano, organ, dll).

Untuk memudahkan pengertian, sebenarnya musik adalah sesuatu yang sangat sederhana atau sangat generik, karena esensinya ”hanya” bauran dari 7 (tujuh) nada dasar yang sebenarnya adalah bauran dari 7 (tujuh) frekuensi yang berbeda, jika kita mengkajinya dari ilmu fisika, yaitu..do..re..me..fa..sol..la..si..do!!! Masing-masing memiliki nilai hertz yang berbeda yang membentuk tangga frekuensi atau tangga nada. Namun jika dari yang sangat sederhana tersebut kemudian jatuh dalam pelukan jiwa, genggaman raga, serta sentuhan benak dan hati, ditambah bekal berupa imajinasi, kreatifitas, inovasi, relasi, eksperimen dan referensi, semua dapat berubah menjadi indah dan berarti, yang dapat merungkas onak dan duri, menguatkan nyali dan membesarkan hati, sehingga dapat menghasilkan simpati, empati, maupin rizki dan baiduri. Karena kita dapat menjadikan setiap nada dasar yang merupakan tangga nada tersebut naik atau turun setengah nada dengan kres atau mol, dapat menambah atau menurunkan oktafnya, atau memberi diksi menjadi seperdelapan, seperempat atau setengah ketukan, dan juga dapat membuatnya bertempo allegro, moderato dan lain-lain.

Ya, dari ”hanya” sekedar 7 (tujuh) frekuensi berbeda dapat menggemparkan dunia dengan kekuatannya. ’The Power of Music” dapat menggalang dana untuk bencana, dapat menjadi alat kritik atau satire bagi tiran dan diktator, dapat menjadi penawar dahaga bagi yang sedang mabuk cinta, dapat menjadi sarana upacara maupun ritual, dapat menggelorakan semangat perjuangan termasuk perjuangan olah raga, dapat membela kebenaran, dapat menyuarakan ketidakadilan, dan lain-lain. Asal aplikasi musik disampaikan secara tepat, benar, jujur, adil, terbuka, dan dilakukan oleh mereka yang seharusnya bermusik. Karena jika tidak, musik akan menjadi bumerang dan bernada sumbang jika disampaikan oleh mereka yang bukan seharusnya menyampaikan, atau bukan ahlinya. Dengan kata lain, jika aplikasi musik disampaikan oleh orang yang tidak tahu musik, akan membuat kegaduhan dan kehirukpikukan yang tidak perlu, yang sering mencipta bias. Saran penulis, sebaiknya yang tidak tahu tentang musik (baca: manajemen) lebih baik mendengarkan saja (atau syukur kalau bersedia belajar tentang musik), supaya tidak semakin membikin keruh suasana, yang biasanya menjadi kontra produktif dan berujung pada gagalnya pencapaian goal & objective.

Di tangan ahlinya, musik dapat dikemas secara solo, duo, trio, kuartet, choir, maupun orkestra yang membahana. Di tangan ahlinya musik dapat meniti nada-nada secara crescendo, decrescendo, maupun meza-divorce. Di tangan ahlinya musik dapat menggabungkan sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas menjadi harmoni dan paduan yang indah. Di tangan ahlinya, musik dapat dibawakan mulai dari attack, intro, interlude dan codanya secara mengena. Di tangan ahlinya musik dapat diberikan persepsi dan intrepretasi dengan intonasi, artikulasi, phrasering, dan teknik pernafasan yang prima. Di tangan ahlinya musik dapat menggelorakan dinamika mulai dari forte, mezzo-forte sampai fortíssimo, meski dapat pula berubah menjadi selembut piano, mezzo-piano bahkan sampai pianissimo. Itulah “The Power of Music”.

Sebagaimana halnya dengan musik, maka manajemen memiliki esensi dan makna yang sama dengan musik. Karena dapat berupa solo, duo, trio maupun orkestra. Namun harus diartikulasikan, dipahami, dan diimplementasikan secara berbeda. “The Power of Music” identik dengan “The Power of Management”, karena esensi atau hakekatnya sama-sama berazas pada “The Power of Implementation”.

Dalam manajemen yang “paling generik”, kita ”hanya” dibekali dengan esensi berupa 4 (empat) “nada dasar” dengan frekuensi atau nilai hertz berbeda, yaitu: Planning-Organizing-Actuating-Controlling (P-O-A-C), atau Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A) yang dikenal sebagai Deming Circle, dan lain-lain. Itu malah kurang dari 7 (tujuh) nada dasar dalam musik dengan sistem diatonik, atau 5 (lima) nada dasar musik dengan sistem pentatonik. Kalau tokh kemudian kita dijejali dengan sistem manajemen yang “branded” dan mutakhir seperti TQM, ISO Series, GCG, BSC, MBNQ, Toyota Way, Lean Manufacturing, Six-Sigma, Performance Management System, Prism, Key Performance Indicator Manual, Activity Based Management, Knowledge Management, Tacit Management, CBHAMS, Analytical Hierarchy Process (AHP), Analytical Network Process (ANP), Service Excellence, Primavera, dan lain-lain, itu sebenarnya memiliki esensi yang sama dengan sistem manajemen yang paling generik sekalipun. Yang penting ádalah bagaimana “The Power of Implemention” dapat menjadi infrastruktur atau kapital bagi manajemen. Asal “The Music of Management” memperoleh pemain musik dan/atau conductor yang tepat. Supaya harmoni dan keindahan yang ingin dicapai dapat menjadi nyata dan bermakna.

Sebagai contoh, sudut pandang atau ilustrasi lain, DNA boleh beda dengan struktur atau sistem yang kompleks, namun esensinya polimer DNA memiliki tiga komponen utama yang sama, yaitu: gugus fosfat, gula deoksiribosa dan basa nitrogen. Di samping itu sangat jelas, bahwa DNA terdiri dari dua rantai, rantai yang satu merupakan konjugat dari rantai pasangannya. Dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangannya akan mudah dibentuk. (Aplikasinya dalam Manajemen, silakan baca: Filosofi DNA dan Filosofi Atom).

Kembali ke topik bahasan. Di dunia musik (baca: manajemen) kita wajib mengetahui apa, siapa, untuk apa & siapa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa kita harus bermusik (baca: mengelola). Kapan kita mengelola secara crescendo, kapan harus decrescendo atau meza-divorce. Dimana kita harus acapella, mengapa harus diiringi orkestra atau harus solo atau trio. Juga dalam manajemen kita harus mengetahui bagaimana caranya meniti deretan nada dengan pitch control atau intonasi yang prima, supaya memenuhi standar yang ditetapkan.

Dalam manajemen, seperti halnya musik kita harus pandai menyuarakan nada-nada dengan penuh harmoni, tidak fals atau sumbang yang dapat membuat pendengarnya menjadi tersiksa. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita perlu sopran, mezzo-sopran, alto, tenor, bariton dan bas, serta membuat warna suara atau timbre yang berbeda tersebut menjadi harmoni yang indah, penuh keseimbangan yang benar-benar tanpa cela. Kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat memberikan artikulasi, intonasi dan phrasering yang tepat. Apakah kita harus meniru Bimbo, Opick, Ernie Johan, Engelbert Humperdinck, Andy William, ST 12, D’Massive, Kris Dayanti, Siti Nurhaliza, Whitney Houston, Shania Twain, George Groban, Christopher Abimanyu, Luciano Pavaroti, Shaggy Dog, John Lennon, atau Mick Jagger? Apakah anda akan mendendangkan lagu cengeng mendayu-dayu, atau lagu berirama cadas, semuanya tergantung anda, karena tergantung dari kemampuan anda. Termasuk jika anda hanya dapat menyanyikan lagu anak “Bintang Kecil” dan “Balonku” atau menyanyi rap. Syukur jika anda memiliki teknik vokal atau teknik bermain musik yang unggul, gaya yang khas, dan kemampuan pendukung lainnya, yang dapat menjadi personal brand anda, sebab itu akan lebih dapat memberikan banyak keuntungan bagi anda. Yang juga patut dicatat, dalam bermusik anda wajib mengetahui dan menelaah, apakah musik yang anda sajikan sesuai atau tidak dengan keinginan dan kedahagaan audiences anda. Jika anda bermusik hanya untuk diri anda, tentu saja berbeda jika anda harus bermusik dengan audiences yang memiliki selera atau warna musik tertentu. Anda tentu saja tidak boleh lepas dari cengkeraman selera mereka, jika ingin mendapatkan apresiasi atau “standing ovation”.

Dalam manajemen juga ada frekuensi atau nilai hertz yang berbeda, yang dituntut untuk dapat saling memberikan harmoni atau dapat menciptakan interferensi yang positif sehingga tercipta sinergi dari energi dan nurani yang tersaji. Dalam manajemen, pandai-pandailah kita untuk memilih kapan, dimana, mengapa, bagaimana dan dengan siapa kita dapat bermusik secara minor, mayor, atau kombinasi keduanya. Juga kita harus pandai melakukan atau menikmati salah satu atau lebih dari jenis-jenis musik reggae, jazz, blues, country, rock ’n roll, keroncong, dangdut, melayu, stambul, gambus, maupun jenis musik lainnya.

Seandainya anda hanya dapat bermusik (baca: mengelola) yang paling generik dengan hanya mampu meniti nada-nada..do..re..mi..fa..sol..la..si..do, lakukanlah itu dengan cara dan gaya anda. Asal jangan sampai sumbang dalam menyajikannya. Karena anda telah benar-benar bermusik. Daripada anda menyanyikan lagu seriosa yang menguras kemampuan teknik vokal berupa interpretasi, dinamika, artikulasi, intonasi, tempo, teknik pernafasan, dan phrasering yang prima, namun bernada sumbang. Lebih baik anda berteriak ...aaa..uuu..ooo, seperti Tarzan sambil bergelayutan di akar yang menjulur di antara pepohonan di lebatnya belantara, karena itu ternyata secara efektif dan efisien dapat sampai pada tujuan untuk memanggil sahabat-sahabat binatangnya, karena akhirnya semua binatang sahabatnya di seluruh belantara dapat mendengar suaranya dan dapat hadir untuk berkumpul merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sesuatu. Karena teriakan aaa...uuu...ooo, dari Tarzan adalah musik generik paling alami dalam kehidupan, seperti halnya suara deburan ombak yang memecah di pantai, kicau paksi di antara embun pagi, desiran pawana siang di antara rumput sabana, kepak sayap burung pemakan bangkai di padang prairi, suara katak ketika hujan atau senja tiba, suara perkutut dan cucak rawa di pendapa atau pringgitan kabupaten maupun rumah gedongan, atau suara tangis bayi ketika baru lahir.

Demikian juga dalam manajemen, jika anda hanya mampu melakukan aktifitas manajerial secara generik, atau juga hanya yang alami, lakukanlah itu secara benar dan benar-benar dilakukan, daripada anda memilih sistem manajemen yang “branded”, namun anda lakukan tanpa pemahaman yang benar, sehingga banyak disturbsi, distorsi dan deviasi.

Berlakukan sistem manajemen yang “branded” jika leadership dan kemampuan anda sudah cukup untuk mengajak orang-orang anda dalam organisasi untuk melaksanakan variasi atau kombinasi dari largo, adagio, moderato, vivace maupun presto. Dan akan lebih baik lagi jika anda mampu untuk membawa organisasi anda menuju con amore, con brio, con fiesto, con espressione, con dolore maupun con maestoso. Juga kapan harus legato, marcato, staccato, atau rubato.Sementara untuk mencapai nada tinggi (target yang tinggi), sementara anda tidak mampu, pilihlah falcetto. Jika anda memang benar-benar mampu bermusik (baca: mengelola) pastilah anda tahu caranya untuk melakukan transposisi atau modulasi, serta memanfaatkan resonansi. Pastikan anda mengambil keputusan untuk melakukan ritenuto, accelerando atau tempo primo.

Lakukan semuanya dengan menggunakan keseimbangan antara teori dan praktek. Jangan dewa-dewakan teori, jangan lecehkan praktek. Karena teori tanpa praktek itu omong kosong, sementara praktek tanpa teori itu ngawur. Karena pada dasarnya teori itu bermata air dari proyeksi empiris banyak praktek. Bermusik (baca: mengelola) hanya dengan teori tanpa praktek tidak akan dapat dinikmati, sementara bermusik dengan praktek saja tanpa teori tidak akan pernah membuat kita lebih maju karena tanpa continual improvement, yang akan dapat membawa kita memenangkan persaingan.

Semuanya semata-mata untuk membangkitkan seluruh pantat penonton beranjak dari kursinya untuk memberikan ”standing ovation” bagi musik anda. Yang terpenting, jangan sampai orang mengatakan: ”Wah...ternyata suara atau permainan musik anda merdu, indah atau luar biasa sekali...! Namun akan lebih merdu lagi jika anda ...bersedia untuk DIAM!!!” Karena suara atau permainan musik yang fals atau sumbang anda, akan membuat orang-orang mengernyitkan dahi, bahkan mungkin muak, mencemooh, atau mengganggu anda dengan suitan-suitan panjang melecehkan. Beruntunglah anda jika tidak disuruh turun dari panggung musik anda. Anda mungkin saja berpedoman, biar saja anjing menggonggong, kafilah tetap akan berlalu. Namun bagaimana jika anjingnya menggigit, tidak hanya menggonggong? Tanpa anda sadari jika anda fals atau sumbang akan membikin kegaduhan manajerial, yang akan menggerogoti kapitalisasi manajerial anda, yang dapat bermuara pada kegagalan pencapaian goal dan objective anda.Yang terpenting dan patut dicatat: “suara fals atau sumbang anda, tidak akan pernah lebih merdu atau lebih enak didengar daripada seandainya anda DIAM !!!”

Namun semuanya itu adalah pilihan! Tergantung mana yang akan dipilih! Yang pasti semuanya memiliki jalan masing-masing.

Yang pasti, musik sulit dan tidak akan pernah menjadi lampau, bahkan akan semakin tumbuh dan berkembang seperti halnya manajemen. Karena musik merupakan bagian dari seluruh masa, termasuk masa depan. Demikian juga halnya dengan manajemen yang wajib ada di seluruh masa. Untuk itu bertabiklah pada masa, supaya anda tidak dicerca oleh masa atau waktu. Juga bertobatlah untuk tidak bermusik secara fals atau sumbang, supaya harmoni yang prima tetap ada dan berada di jalurnya. Sehingga tepuk tangan yang membahana di tengah-tengah jutaan manusia yang tiba-tiba bangkit dari duduknya, berdiri, untuk memberikan apresiasi atas musik anda, menggelegar di setiap wahana dimanapun anda berada. Karena bagaimanapun juga, cara anda bermusik identik dengan cara anda mengelola.

Bagaimana caranya melakukan aktifitas manajerial dengan pendekatan pada filosofi musik? Ikutlah workshop-nya untuk 5 (hari) hari pelaksanaan! Karena yang tertulis di atas hanyalah kulitnya, yang “hanya” setara dengan 1 (satu) hari seminar. Juga karena manajemen adalah seni untuk dapat diaplikasi dan dinikmati, bukan hanya ilmu atau pengetahuan an sich yang berujud teori maupun aplikasi. Yang pasti keduanya memang wajib untuk bertabik pada apresiasi meski tanpa atau dengan audisi. Bukan hanya baka, namun juga fana. Karena baik musik maupun manajemen sama-sama universal. Yang seharusnya bebas dari belenggu apapun, jika tidak ingin ditinggal oleh ruang dan waktu, serta dimensi lain di atasnya, jika memang masih ada.

Terima kasih.

Salam Manajemen.

Wass.WW.

ooOoo



Jumat, 11 November 2011

Republik Kentut


(Satu lagi Puisi mBeling)

Oleh: Ratmaya Urip*)


Adalah kisah tentang negeri antah berantah

Yang petanya tidak ada dalam denah

Yang telah menapak kisah dan mulai menjadi sejarah

Dengan meniti amarah dan sulit menata gundah

Yang muaranya hanya ada sumpah serapah

Karena hari-harinya hanya ada keluh kesah

Dan bisanya hanya pasrah menyerah

Meski kadang ada darah yang tumpah


Anak negeri saling tohok tanpa ada seronok

Dengan leher penuh gondok bahkan saling gorok

Tak ingin menjadi keok karena tersodok

Apalagi menjadi bonyok

Atau menjadi mayat yang kemudian hanya teronggok


Nurani tak berani lagi bernyanyi

Tentang indahnya pelangi pagi

Atau berceloteh tentang indahnya cakrawala negeri bahari

Juga tentang ibu pertiwi yang penuh mimpi surgawi

Tentang peri azasi yang hakiki

Karena yang tersisa adalah ganasnya duri-duri

Karena kelamnya mimpi buruk rezim duniawi

Yang tak ada sisa untuk sudut hati surgawi

Yang telah menjarah negeri


Kentalnya dosa yang beranak pinak

Yang berbekal laku tak terpuji yang selalu bersorak

Telah menjajah negeri dengan congkak


Dada ini kembali berkerut, karena hati menciut

Wajah mengkerut kecut

Karena rezimnya memang dibelenggu rezim kentut

Eranya memang era kentut

Maka negeriku menjadi tanah ’tuk buang kentut

Sayang sekali, republik tercinta inipun menjadi republik kentut


Padahal yang hakiki republikku gemah ripah loh jinawi

Penuh baiduri dan ranah ramah yang dapat mencipta punagi

Dengan manusia yang dikenal ramah berbudi

Penuh toleran saling berbagi

Namun itu kini tak ada sisa lagi

Hanya karena rezimnya tidak berbudi

Yang tak pernah ada hasrat terciptanya sejahtera bagi negeri


Bukan aku tak cinta negeri ini

Bukan pula tak hendak menghargai jerih payah pendiri negeri

Yang berjuang tuk merdeka atau mati

Karena sangsi atas ketidakpercayaan yang telah mendera sepanjang masa yang kini

Dalam bara panas yang mengoyak dada ini


Tak sangsi aku cinta pada republik ini

Namun aku tak yakin pada yang akan terjadi nanti


Pertanyaan Akbar itu kini tiba

Apakah negeri benar-benar telah berlindung di haribaan Pandawa

Atau ternyata dalam kungkungan Kurawa yang merajalela

Juga apakah negeri ada di pihak Prabu Rama

Atau ternyata dalam dekapan angkara Rahwana

Karena yang tersibak di lontar yang terterpa pawana

Kemarin, kini dan esok

Nampaknya menyiratkan Kurawa telah berkuasa

Atau Rahwana telah merajalela


Dimana mana wajah kerut penuh cemberut

Ada yang merengut

Ada yang merasa terpagut

Juga telah membuat jantung berhenti berdenyut

Karena dimana-mana bau kentut

Kentut korupsi di negeri ini

Berbau namun sulit di deteksi

Kecuali yang berani acung jari atau malah unjuk diri

Bahwa dia telah menjadi tikus negeri


Di republik antah berantah ini

Tepatnya saat ini

Kentut korupsi malah membuat si empunya pantat semakin unjuk gigi

Tak ada yang berani

Atau tak kuasa menjadi panglima yang berpedang menuju henti berbekal nurani

Atau membuat korupsi menjadi basi

Bicara tentang kentut korupsi di negeri ini

Memang sempat membikin gaduh dan riuh seolah tak ada henti

Hiruk pikuk saling menekuk

Namun cepat basi karena melendut dan menggelayut

Karena korupsi di republik ini

Bak kentut yang cepat lenyap tertelan bumi

Meski berbau busuk menusuk

Sekejap kemudian lenyap dan luruh penuh seluruh

Punah tak bersisa termakan masa


Tut..tut..tut...siapa hendak turut?

Ke seluruh sudut republik yang penuh serut dan carut marut

Terpagut berjubelnya anak negeri yang suka kentut

Saat yang tepat ‘tuk korupsi merajalela bak kentut

Yang berbau busuk penuh kejut dan pagut

Namun kemudian senyap dan lenyap termakan kabut

Meninggalkan kepala yang bisanya hanya manggut-manggut

Karena tak kuasa melawan nurani ‘tuk tidak ikut kentut

Karena eranya memang era Republik Kentut

Dalam kuasa rezim kentut

====== ============

RU: Renungan Hari Pahlawan

Kota Pahlawan, 10 Nopember 2011

Selasa, 06 September 2011

Antologi Puisi "Ratmaya Urip"

ear All Members,
The Managers Indonesia
The Managers Indonesia

Di bulan Ramadhan ini saya persembahkan sebagian coretan saya yang coba saya kumpulkan kembali.

Antologi Puisi saya ini sengaja saya bagi 4 (empat) katagori, yaitu Puisi Religi, Puisi Kehidupan, Puisi Mbeling dan Puisi Romansa, yang masing-masing terdiri dari beberapa puisi dengan thema yang berbeda.

Puisi-puisi ini kebetulan hadir di benak dan langsung dapat menjadi karya, yang lahir selama berkelala dan mengembara di sudut-sudut Nusantara, di tengah penantian di airport yang menjemukan, atau di tengah lebatnya belantara Borneo, atau dalam ferry yang dengung mesinnya memekakkan telinga di Selat Karimata, atau di antara derap kuda liar di padang prairi dan sabana di Sumbawa, atau ketika tengah mengagumi indahnya panorama Bukit Nona dalam perjalanan ke Tana Toraja.

Beberapa Puisi memang sudah pernah hadir di milis ini. Namun yang ini merupakan hasil revisi yang terbaru.

Saya berharap bagi yang dapat menikmati, untuk dapat memberikan sentuhan kecil agar dapat menambah etos dan semangat, sehingga dapat menapaki karya dengan lebih baik.

Bagi yang merasa bahwa ini tidak ada manfaatnya, mohon jangan sungkan-sungkan untuk langsung saja men-delete-nya. Karena saya tahu, ada yang tidak suka dengan Puisi.

Salam Manajemen.

Ratmaya Urip

ooOoo

Antologi Puisi Ratmaya Urip*) :

1. PUISI-PUISI RELIGI:

JalanNYA
Oleh: Ratmaya Urip

JalanNYA adalah jalan ukhuwah yang penuh amanah
Jalan ibadah yang membawa berkah dan anugerah
Bukan jalan untuk kita saling berbelah dan pecah
Atau jalan yang mengajak gerah atau saling enyah
Bukan pula jalan untuk saling menghardik dan menyumpah
Yang dapat membuat kita tercabik-cabik
Namun untuk menjadi baik dan saling bertabik
Supaya hidup ini menjadi laik

JalanNYA adalah jalan untuk berserah pada ukhuwah
Jalan menuju selamat dunia akhirat

Kebaikan dan kebenaran bukan hadir karena jerat
Namun karena sadar diri yang membuatnya ingat akhirat
Ketaqwaan bukan tiba karena memasung nurani
Namun karena jati diri telah sadar betapa indahnya kehidupan surgawi

Di jalanNYA selalu ada ampun
Meski dosa telah terhimpun menjadi rumpun
Karena selalu ada tempat untuk munajat dan hajat
Dari peri laku khianat atau laknat yang sempat menjerat
Bagi yang ingin taubat
Bagi yang sadar bahwa hanya jalanNYA
Jalan yang dapat membawa kepada sempurna dunia akhirat
Karena jalan Illahi tak pernah berhenti atau mati
Bagi pelita kehidupan dan cahaya kebenaran surgawi

Sidoarjo, 12 Agustus 2011

=============== ========

Jalanmu
Oleh: Ratmaya Urip

Hari-harimu adalah jalanmu
Jalan lurus nan mulus menuju ridho Illahi
Atau jalan berkelok penuh onak, duri dan badai jahanam yang bukan jalanNYA
Karena itu pilihanmu

Pilihan adalah ruang dan waktu
Sementara ruang dan waktu adalah lorong sempit yang sulit untuk berkelit bagi jalanmu
Padahal jalanmu dapat mencipta oase bagimu ketika letih, lapar dan dahaga pada spiritualmu
Oase yang selalu ada saat kau berangkat atau ditengah jalan ketika kau sekarat
Sementara aku tahu bahwa inginmu adalah selamat
Yang tentu saja itu tidak cukup hanya dengan semangat

Benak dan nurani adalah mata air bagi hati
Bekal bagi jalan yang akan tertiti
Yang selalu menyisakan langkah untuk hati-hati
Bahkan selalu ada arah untuk berganti yang selalu menanti
Untuk kembali ke pelukan sajadah panjang membentang
Dalam pasrah serah kepada chalikmu
Dalam tulusnya doa-doa
Dalam langkah-langkah di jalan lurusmu
Yang bermuara kepadaNYA

Jalanmu selalu ada oase untuk berpaling atau berteduh
Berlindung padaNYA yang penuh seluruh
Tanpa harus membuat gaduh dan keruh
Tanpa harus menghardik kiri kananmu
Karena jalanmu yang damai dan lurus
Yang penuh mulianya akhlak yang menyibak
Tak pelak akan menabur pukat dan pikat menuju dunia-akhirat
Menuai mereka untuk mengikutimu
Dalam jalanmu

Sidoarjo, 12 Agustus 2011

==================== ========

Ramadhan
Oleh: Ratmaya Urip

Lapar dan dahaga Ramadhan
Yang berujung Imsak dan berpangkal dalam pelukan Maghrib yang meneduhkannya dalam merdunya adzan
Adalah anugerah dan amanah Illahi
Yang akan selalu hakiki dalam nurani

Dalam Ramadhan
Meski dera raga melumat dengan fana
Namun ayun langkah hati yang menanti selalu tiba dengan pasti
Menuju perjalanan yang baka dan surgawi
Berbekal rohani yang tak henti berbagi dengan segala yang hakiki
Tuk menyapa pahala, yang penantiannya selalu hadir dalam hayati

Ramadhan adalah bulan penuh barokah, rahmat dan ampunan
Yang penuh pahala yang sama dengan seribu bulan
Yang menjadi impian setiap insan

Bulan penuh tadarus yang enggan untuk putus
Mengumandangkan hajat, munajat dan hayat yang enggan untuk penat
Tentang ayat ke ayat, surat ke surat, dan juz ke juz dari awal sampai tamat

Ramadhan
Di pintumu aku mengetuk
Tuk mencabik dosa-dosa yang selalu menggoda
Supaya ku dapat bertabik dengan pahala
Dari Yang Maha Kuasa penguasa semesta

Ketika sajadah membentang dan dahi menyentuhmu dalam doa Illahi
Dalam wajibnya sholat fardlu
Dan dalam sujud tarawih yang tak henti untuk merungkas dosa-dosa
Dalam doa-doa yang menghardik segala laknat yang sedang lekat dengan pesta yang mengusung khianat sampai kiamat
Tuk jalan lurus penuh seluruh
Pada surgawi yang hakiki dan abadi
JalanMU

==================== =============


2. PUISI KEHIDUPAN:

Jika Aku Dapat Memilih Rahimku
Oleh: Ratmaya Urip

(Tangis pilu bangsaku untuk Ruyati binti Saboti, yang terenggut nyawanya bukan karena kehendaknya. Meski berjuang demi hidupnya dan devisa bagi negara, namun tak ada budi dari negaranya, sehingga maut menjemputnya)

Jika aku dapat memilih rahimku
Pasti kan kupilih yang kuasa membekali cita dan cinta
Atau yang menjamin asa ‘tuk hidup bahagia

Jika aku dapat memilih rahimku
Kan kupilih yang dapat membekali hari esok
Untuk hidup penuh seronok
Dengan tembang yang indah penuh cengkok
Dan tentu saja yang bukan olok-olok

Jika aku dapat memilih rahimku
Tak ingin ku dapat bara panas menyengat
Yang membuat hidupku kesrakat atau sekarat
Dan membawa jiwa ragaku menjadi kiamat

Jika aku dapat memilih rahimku
Kan kupilih bukan penuh hari yang selalu gopoh
Yang terbirit kecut dari yang tak senonoh
Bukan pula yang merogoh goroh
Apalagi yang secuilpun tak menyisakan seloroh

Jika aku dapat memilih rahimku
Aku tak ingin hidup selalu bongkok atau bengkok
Apalagi berlumur borok yang bosok yang membuatku bonyok
Juga tak mau hidup terseok-seok
Nyatanya sejak pagi ayam berkokok sampai dini hari lagi masih terpojok
Tak peduli meski wedok atau denok
Di negeri orang yang meski penuh seronok
Namun penuh tohok, dan tonjok
Serta golok yang selalu siaga untuk menggorok

Jika aku dapat memilih rahimku
Kan kupilih yang membawaku hidup damai dan sejahtera
Yang setiap asa dapat bertabik mesra
Pada limpahan tahta dan harta
Yang dapat kutebarkan ke seluruh jelata
Supaya nestapa mereka menjadi sirna
Baka mereka menjadi fana

Jika aku dapat memilih rahimku
Pasti kupilih untuk fana dengan kereta, harta dan tahta
Yang selalu dijalanNYA
Yang nyata dan kebak pesona
Di tengah lambaian jelata yang ceria sepanjang masa
Dipeluk bahagia yang sejahtera

Jika aku dapat memilih rahimku
Tak ada benakku tuk mengutil uang negara
Atau korupsi dan merampok seperti yang kini merajalela
Pesta pora mengajak dosa mengundang laranganNYA
Menghardik perintahNYA

Namun rahimku adalah rahimNYA
Jalanku adalah jalanNYA
Untuk memilih pasti ku tak kuasa
Dan rahimku kini mengantarku ke gerbang baka

Rahimku telah membawaku tak pernah ada kidung
Karena selalu tertatih murung penuh busung dari kampung ke kampung
Dan terjerembab menuju pentung, pasung dan gantung
Yang bermuara pada kejamnya pancung

Sidoarjo, 21 Juni 2011

=================== ================

Prosa Kecil tentang Kehidupan
Oleh: Ratmaya Urip

(Diilhami ketika dalam perjalanan dalam Ferry: “Marina Batam 10”, route Tanjung Pinang-Batam, 18 Februari 2011, sehabis Jumatan di Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat)

Hidup ini bak ombak yang penuh nafsu amarah mengejar buritan
Yang terbelah palka dan lunas dalam hempasan baling-baling perahu motor
Yang menonjok birunya laut nan tenang dan merungkas heningnya camar yang tengah memindai mangsa

Ombak di buritan perahu motor untuk sesaat nampak ganas, merungkas nafas, menjulat benak, menyibak ‘tuk meniti hati yang gaduh dan dingin berpeluh
Sejenak bergelora, dinamis penuh turbulensi yang bermuara pada cemas, seolah menyongsong mati
Namun tenang itu kembali tiba seiring layunya buih yang memutih, memendar dan berujung rintih yang telah pipih

Tak meninggalkan guratan dan sobekan air meski seserpih
Kembali tenang...begitu tenang... nyaman, damai dan laminer bak semula
Memasung cakrawala ‘tuk tetap mendendangkan sumilirnya tembang pagi dan kidung senja

Kadang memang gelora badai tiba kebak sorak, yang menyeruak dan menghentak
Namun sesaat kemudian pergi untuk kembali di esok hari.

Sementara perahu motor sudah laju jauh dari mata dan indera
Yang memang beranak gelora dan dinamika sesaat...namun selalu kembali ke damainya mentari yang memasung hari-hari.

================== ================

Catatan Kecil buat Hidupmu
Oleh: Ratmaya Urip

Jika hidupmu hanya rakus menyantap waktu semata
Tanpa prasasti ‘tuk kehidupan
Yang kebak guna dan makna bagi manusia
Maka perjalananmu telah lekang termakan sia-sia
Terungkas dukana
Dan Nuranimu kan penuh sesal di akhir masa

=================== ================

3. PUISI-PUISI MBELING:

Negeri Birahi
Oleh: Ratmaya Urip

Tatkala negeri sedang disandera birahi
Maka yang lahir adalah libido kuasa dan nafsu duniawi
Untuk selalu korupsi dan memasung kreasi
Menyisakan sampah ‘tuk menjadi sumpah serapah
Silang pendapat dan omong kosong tak ada arah apalagi denah
Menggoyang kursi ‘tuk selalu goyah
Meski tak ada yang mau menyerah kalah
Apalagi pasrah

Tatkala hati anak negeri tengah dilibas hakikinya sepi dan ngeri
Di belantara caci maki yang membahana dari para wakilnya yang “hanya” politisi
Bukannya negarawan yang tak pernah sepi berpikir negeri
Namun tak berkesempatan mencicipi kursi

Tetap saja hari-hari kebak caci maki
Sumpah serapah tak bisa diseruak meski sejenak
Maka maklumlah jika untuk negeri hanya menyisakan dukana
Karena pemegang mandat suara lebih suka pada cara merajut kuasa
Mencumbu dosa-dosa
Bukannya membangun jelata merungkas papa yang penuh nestapa
Karena benaknya penuh punagi tentang hidup bergelimang harta, wanita dan tahta
Meski mulutnya berbusa tentang negeri yang adil makmur dan sejahtera
Meski sebenarnya tanpa hati
Karena semuanya itu baka
Yang enggan bertabik pada fana
Dalam rimbunnya belantara jelata yang renta
Jelata yang tak berkesempatan ‘tuk menabung asa apalagi menggapai cita

Tatkala benak negeri tengah dikoyak mimpi
Maka yang ada hanyalah omong kosong tentang damai, adil dan makmurnya negeri
Atau kidung tentang negeri gemah ripah loh jinawi

Sementara jika hati negeri sedang dijajah libido
Maka kehendak hanyalah mengusung celoteh menco atau beo

Hari-hari yang menapaki warsa kini menggelegarkan maki-maki
Yang penuh amarah dan benci
Sumpah serapah tak ada henti
Saling jegal membenarkan diri
Meski semua tak ada yang dapat dimengerti
Karena memang tak ada arti apalagi hakiki

Birahi kuasa, libido tahta, mewabah di era reformasi
Mata air bagi suburnya perilaku tak terpuji
Dan bagi matinya nurani dan harga diri
Karena telah menafikan jalan Illahi

Kursi tinggi dan birahi di seluruh ranah negeri
Telah menolak santun dan rendah hati ‘tuk dibagi
Kecuali korupsi yang tergopoh ‘tuk dinikmati
Semua mau menangnya sendiri dan menjadi milik pribadi
Itulah negeri yang sedang birahi

Semua seolah mengatasnamakan negeri
Meski ‘ku pasti itu adalah negeri yang ada di perutnya sendiri

Sidoarjo, 20 Mei 2011

================= =============

Wajah dalam Seonggok Kotak Visual Elektronik
Oleh: Ratmaya Urip

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Midah
Di lokasi yang pasti tak ada dalam peta dan denah
Di tempat tanpa petunjuk rambu arah panah
Karena adanya memang di negeri antah-berantah
Ada kidung tentang tembang senja berawan merah yang marah
Bukan lagi lembayung yang merekah yang bikin jengah dan pipi memerah

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Abah
Itu wajah kok sumringah renyah penuh tawa gairah
Dalam pesta gempita yang pongah dan meriah
Seraya debat kusir tanpa arah
Tanpa ada benak dan hati yang gerah, desah, resah dan merasa salah
Meski penonton dengan raga yang papa tengah gundah
Sedang yang renta jiwa bermadah gelisah karena susah

Apa mau menunggu semakin payah dan parah?
Atau menunggu marah yang dapat bikin goyah dan patah?
Yang hanya akan menyisakan darah dan sejarah?

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Poltak
Nestapa telah beranak pinak
Dari Subuh sampai Maghrib menyeruak
Seluruh cakrawala Indonesia telah habis berteriak sampai serak
Namun wajah dalam seonggok kotak visual elektronik itu tak juga tergerak
Apalagi mau menyibak duri dan onak
Karena sudah merasa enak

Di kotak visual elektronik yang butut di rumah si Samsu
Semua sedang menunggu waktu
Saatnya penonton dapat sesuap nasi, sesobek baju dan sebenggol doku
Bukan segudang harta hasil korupsi yang dapat terwaris ’tuk anak cucu
Seperti yang diperoleh si Gayus Tambunan si raja kecu

Tapi mana mampu?
Jika wajah dalam kotak elektronik itu hanya berpangku dan beradu mulut berebut doku
Untuk menggendutkan saku
Serta menolak untuk malu
Karena mereka memang benalu
Yang tumbuh subur di pohon duku dan jambu

Jika wajah dalam kotak elektronik itu tak henti untuk korupsi
Miskin, papa dan nestapa penonton ini tak mungkin akan berhenti
Padahal penonton hanya ingin lebih dini
Menunggu hadirnya hidup yang indah penuh arti
Di sisa-sisa hari yang akan tertiti

Penonton hanya ingin ada asa
Syukur jadi nyata
Tidak lagi ada lapar, dingin dan masuk angin yang menerpa raga dan jiwa
Dalam lebatnya papa dan nista
Yang telah beranak pinak meng-Indonesia

Kapan miskin raga dan papa jiwa ini kan berlalu?
Wahai wajah yang ada di kotak visual elektronik-ku?
Jangan hanya bersilat lidah melulu
Yang muaranya hanya menggendutkan doku di sakumu

Ampun ya Allah
Ke kiblatmu takwaku berserah
Ke hadiratmu istigfarku bermadah
Di legamnya sajadahku yang mulai terengah
Jauhkan wajah di kotak elektronik itu dari kata penuh kilah dan sumpah serapah
Sadarkan mereka tuk berbenah ke kebenaran arah
Berikan penonton kuat tanpa sampai menunggu menyerah pasrah
Berkatilah dengan kesembuhan dari koma yang parah
Supaya Indonesia-ku gegap penuh gairah
Supaya rizkimu segera tumpah ruah
Karena tibanya kebenaran dan keadilan hasil jerih payah
Dan bersinarnya fajar pagi di ufuk memerah
Amin.

Sidoarjo 20 Mei 2011

================ =================

Kidung Negeri Onani
Oleh: Ratmaya Urip

Konon jika tak ada lagi insani peduli
Dan tak ada lagi bahagia ‘tuk dibagi
Atau tak ada lagi nyanyi sunyi tentang manusiawi
Apalagi menyantap indahnya pelangi di rintik hujan pagi
Dan malah menghardik kidung paksi yang beriring ke cakrawala senja yang kebak sari
Atau tak hendak bertabik pada nurani
Karena hanya peduli pada hari-hari untuk selalu korupsi
Atau ketagihan ‘tuk pantat duduk di kursi tinggi
Kompetisi rakus menumpuk harta diri yang tanpa harga diri
Meski itu milik negeri !
Sementara gubug reyot mewabah di seluruh negeri
Dan tak ada lagi nasi untuk berbagi gizi
Tak ada lagi bagi jalan Illahi
Maka negeri sedang onani

Konon jika negeri sedang onani
Memuaskan diri dalam nafsu hewani itu sudah pasti
Tak ada peka yang pekat
Semua hanya nafsu duniawi yang bejat penuh rekayasa jahat
Beranak-pinak menabur pesona diri dengan pikat dan sepaket pukat
Pawai nafsu menebar jerat
Memukat dosa yang selalu mendekat
Dan tak ingin ada tobat
Apalagi tak rindu hasrat menabung akhirat

Konon dalam negeri yang sedang onani
Semua yang adil menjadi basi
Yang benar terpancung eksekusi
Yang munafik menjadi raja
Yang berkuasa adalah paksa dan dosa-dosa
Dan tak peduli pada doa pada yang Kuasa
Dalam, meniti masa

Konon dalam negeri yang sedang onani
Kemakmuran menjadi jera
Kedamaian menjadi renta
Kejayaan menjadi papa
Yang jujur menjadi baka
Yang culas menabur fana
Karena semua syahwat dunia
Libido harta, angkara tahta, dan birahi kuasa
Tak ada damainya surga
Ataukan karena itu azab dan siksa Yang Maha Kuasa
Karena telah bermanja dengan dukana

===================== ========

Tembang Negeri Antah Berantah
Oleh: Ratmaya Urip

Ketika keadilan dan kebenaran telah sekarat
Atau kemunafikan menjadi dahsyat
Dalam angkara kuasa yang khianat
Maka yang tersisa adalah kiamat

Kedamaian dan kemakmuran tak akan pernah berangkat
Ketika keadilan dan kebenaran menjadi papa
Atau kemunafikan tak juga renta
Atau angkara kuasa tak juga menjadi baka
Maka yang tiba adalah nestapa
Dan dosa-dosa

Ketika gegap bencana, banjir nestapa, gempita perkosa, dan korupsi kuasa menjadi raja
Maka yang menunggu adalah siksa dan nista
Atau gegapnya kesumat
Yang berujung pada sorak neraka
Dan bermuara pada azab dan laknat

Sidoarjo, 20 Mei 2011

===================== =============

4. PUISI-PUISI ROMANSA

RINDU
Oleh: Ratmaya Urip

Ketika galau bertabik pada romansa yang lampau
Yang masih menyisakan pekatnya sendau
Dan punagi yang terselip dalam gurau
Maka dawai hati ini kembali bergetar
Berdenting (mendesah) meniti senar penuh sinar
Yang kebak hingarnya rindu
Dan bingarnya hasrat ‘tuk dapat bertemu

Sidoarjo, 20 Mei 2011

================== ==============


SIA-SIA

Oleh: Ratmaya Urip

Apalah artinya cantik
Jika hanya akan membuat seorang pria menunggu

Apakah artinya rindu
Jika hadirmu hanya pada mimpi-mimpi panjangku

Apalah artinya hati yang menyatu
Jika pelukku hanya ada di ujung waktu
Yang selalu kebak tunggu
Dan kerap enggan menyapa pada julatan mesramu

Sidoarjo, 20 Mei 2011

================== ===============


Prasasti

Oleh: Ratmaya Urip

Tiada seindah hari-hari bersamamu
Saat di cintamu ku teduhkan kidungku
Kau bimbing mesraku menjuta rasa
Yang bukan dukana
Bukan nestapa
Membenci nista
Dan segala duka petaka

Prasasti
Telah kau tanam di hatiku
Harapan telah kupendam di tangismu
Bagai mentari dan kehidupan
Kau dan aku satu

Prasasti itu kini bertabik mesra
Menembangkan rindu yang fana
Bagiku kau masih seperti yang dulu
Karena kau sulit menjadi lampau

=================== ==============

Rara Jonggrang
Oleh: Ratmaya Urip

Kisah lontar tua
Tentang duka yang tak kunjung mati
Rara Jonggrang jelita
Dengan pinangan
Bandung Bandawasa perkasa

Bukan hati tak ingin
Namun dendam melebihi segalanya
Diterima pinangan dengan punagi
Seribu candi sebelum dini

Bandung Bandawasa tersenyum
Hatinya ceria
Menyusur malam
Dengan kerja dan tawa
Bersama kidung kesaktian
Dan punagi yang mulai tercipta

Di timur fajar tiba
Seribu candi tak trepenuhi
Rara Jonggrang penipu menjadi batu
Di muara hati yang murka

Candi Prambanan, Mei 1982

===================== =================

*) Penulis adalah pemerhati dan penikmat puisi.

================================== =====

Salam

Ratmaya Urip
Jumat, 12 Agustus, 2011 03:28

Jumat, 19 Agustus 2011

Catatan Ringan dari Kota Amoy, Singkawang

Oleh: Ratmaya Urip

BAGIAN 1

Mendengar kata Singkawang, konotasi kita sering bermuara pada hal-hal yang lebih memanjakan lelaki. Mata menjadi lebih bersinar, telinga menjadi lebih lebar, hidung menjadi lebih bergerak, benak menjadi lebih mempunyai riak, dan hati serasa ada onak. Namun yang pasti ada rasa enak yang bergelora di dada karena ada gairah yang beranak pinak (he..he..he, kenapa, ya?)

Rasanya sudah ribuan tulisan tentang Kota Amoy, Singkawang, Kalimantan Barat, bertengger di berbagai media, baik media cetak maupun elektronik. Rasanya juga sudah ribuan orang yang saling bertabik, dengan menanggapinya, bahkan sampai mulutnya berbuih-buih. Sampai dengan saat ini, tulisan, cerita, diskusi, dan perdebatan tentang Kota Amoy tersebut belum pernah ada akhirnya…selalu menarik dan menarik. Nampaknya masih dalam kondisi memuncak, atau menuju klimaks, atau dalam istilah musik disebut crescendo, dalam istilah pariwisata sering disebut peak season, sementara dalam istilah biologi lebih dikenal dengan istilah orgasmus. Sehingga aku cukup ada nyali untuk mempersembahkannya kepada seluruh pembaca, khususnya para pemerhati Kota Singkawang. Semoga dapat menambah referensi, karena tulisan ini berdasar fakta di lapangan, yang aku peroleh dari seluruh indera yang aku kerahkan selama berada di kota tersebut. Sedangkan bagi para pembaca yang lebih paham tentang kota yang sensual tersebut mohon masukan tambahan, siapa tahu ada yang terlewatkan olehku.

Awal bulan November 2007 ini, aku sempat berada di Singkawang, setelah sebelumnya mengunjungi Pontianak, Mempawah, dan beberapa wilayah di Kalimantan Barat lainnya, untuk beberapa urusan. Ini adalah kunjunganku kedua di Kalimantan Barat. Kunjungan pertama sudah lupa tahunnya, yang pasti awal tahun delapanpuluhan, itupun kalau tidak salah. Saat itu Kalimantan Barat masih terbagi menjadi 7 kabupaten (sekarang 14 kabupaten/kota). Waktu itu kunjunganku cukup singkat, hanya 2 hari, dan hanya mengunjungi Pontianak saja, tidak sempat ke Singkawang.

Ada pemeo yang cukup dikenal di Kalimantan Barat, yang wajib diketahui para pembaca. Yang pertama adalah, sekali minum air Kapuas pasti kan kembali ke tepiannya. Pemeo ini nampaknya sangat erat kaitannya dengan bumi seluruh Kalimantan, karena di Kalimantan Timur-pun juga tersebar pemeo ini. Di Kalimantan Timur, jika kita pernah meminum air Mahakam, pasti kan kembali ke buminya juga. Nampaknya pemeo ini sangat manjur, karena faktanya aku akhirnya beberapa kali mengunjungi Kalimantan Timur. Juga akhirnya aku sampai di Pontianak untuk yang kedua kalinya. Padahal kunjungan pertama sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu.

Pemeo yang kedua adalah, bahwa seseorang tidak dapat dianggap pernah ke bumi Kalimantan Barat, jika belum pernah singgah di Equator Monument (Tugu Khatulistiwa).

Pemeo ketiga, dan ini yang paling dikenal, adalah seseorang belum dianggap sampai di Kalimantan Barat jika belum pernah sampai di Singkawang, Kota Amoy.

ooOoo

Pesawat Adam Air dari Surabaya tujuan Pontianak dengan transit di Jakarta yang semula direncanakan berangkat jam 08.15 WIB akhirnya molor satu seper-empat jam.(Catatan: Waktu itu Adam Air memang masih berjaya). Aku memang sedikit kecewa, karena yang pasti aku akan terlambat sampai Pontianak. Apalagi jika waktu tunggu selama transit di Jakarta nanti juga molor. Itu berarti programku akan terhambat. Sebenarnya ada penerbangan lain yang menurut beberapa teman lebih sering tepat waktu, yaitu Surabaya – Pontianak via Yogyakarta dengan maskapai penerbangan yang lain, yang akhirnya aku rencanakan untuk kupilih. Namun entah mengapa ketika aku reserve tiket di Delta Tour, dua hari sebelum keberangkatan, tiba-tiba berubah dengan memilih flight di luar saran yang disampaikan teman-teman. Yeah, bagaimana lagi, seperti semua penumpang yang lain, aku hanya bisa pasrah dengan sejuta serapah yang menyesaki dada.

Boeing 737-400 dengan kapasitas penumpang lebih kurang 158 seats menembus awan di ketinggian 33.000 kaki dengan tenangnya. Seluruh seats terisi penuh. Nampaknya cuaca cukup mendukung perjalananku pagi ini. Cerah, tanpa cumulus-nimbus, yang biasanya merajai langit Surabaya-Jakarta. Terus terang aku agak was-was, karena di Jakarta ketika transit nanti aku pasti ganti pesawat. Padahal schedule terbangku untuk Jakarta-Pontianak adalah jam 11.00. Kalau berangkat dari Juanda saja sudah jam 09.30, dengan perjalanan udara selama 1 jam lebih 5 menit, pasti akan sampai di Jakarta jam 10.35 WIB. Itu berarti aku harus tergopoh-gopoh menuju transit desk sebelum masuk pesawat berikutnya untuk flight Jakarta-Pontianak, karena hanya tersisa waktu 25 menit. Tiba-tiba aku tersenyum, karena menertawakan jalan pikiranku kali ini. Kenapa? Ya, untuk kali ini aku ingin agar flight Jakarta-Pontianak sedikit terlambat, supaya aku tidak perlu terburu-buru mengejar pesawat yang sudah mau berangkat. Padahal ketika di Surabaya tadi sewotku setengah mati ketika ada keterlambatan keberangkatan. Dan, kalau aku menertawakan diri sendiri atas kekonyolanku kali ini, aku kira wajar, dan sah-sah saja. Sekali-sekali konyol nggak apalah. Asal jangan dijadikan kebiasaan.

Meskipun kali ini adalah trip untuk dalam negeri, namun aku sengaja membawa paspor, karena jika seluruh program di Pontianak selesai dan masih ada sisa waktu, aku mempunyai rencana untuk ke Kuching, Serawak, Malaysia. Juga kalau tokh masih ada waktu lagi, aku akan ke Singkawang, kota yang selama ini hanya sering aku dengar via media massa. Sepanjang hidupku aku belum pernah ke kedua kota tersebut.

Menurut teman yang pernah ke Kuching, perjalanan Pontianak-Kuching dapat ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan bus super excecutive selama 8 jam, via Entikong – Tebedu, dengan harga tiket pergi-pulang hanya Rp. 300.000,- ditambah fiskal darat sebesar Rp 250.000,- (Malah ada teman lain yang cerita kalau fiskal daratnya bebas). Jika menggunakan pesawat udara (dengan Batavia Air) harga tiketnya sekitar Rp 700.000,- sekali jalan, namun masih ditambah fiskal udara sebesar Rp 1.000.000,- untuk terbang selama setengah jam. Aku jadi ingat ketika menyeberang dari Batam ke Singapura dengan ferry yang dikenai fiskal laut sebesar Rp 500.000,- dan menyeberang dari Woodlands ke Johor Bahru yang bebas fiskal. Indonesia memang negara konyol dengan pungutan fiskal perjalanan ke luar negeri yang masih terus dipertahankan, padahal negara lain hal itu tidak ada. (Catatan: Waktu itu fiskal memang masih diberlakukan di Indonesia).

Sedang rencana ke Singkawang, hanyalah untuk memenuhi rasa ingin tahuku saja. Penasaran, karena terlalu seringnya informasi yang masuk tentang kota itu ke benakku. Kota Amoy, kota seribu kelenteng, San Kheu Jong, San Kew Jong, atau apapun nama lainnya. Kalau aku boleh jujur, nampaknya perihal amoy itulah yang menarik perhatianku. Pastilah lain jika pengalaman pribadi dibandingkan dengan cerita orang atau ulasan media. Sering kali cerita orang lebih banyak biasnya, karena banyak tambahannya. Aku tentu saja lebih mempercayai pengalaman pribadi. Maklum, kalau percaya pada media aku jadi bingung. Contohnya saja, Pak Budi Agus Sanjaya dalam masukannya, setelah membaca tulisan saya yang seri (1), yang bersumber dari suatu situs menyampaikan, bahwa etnis Tionghoa di Singkawang adalah 70%, padahal di Kompas, Rabu, 3 September 2003 mengatakan, bahwa etnis Tionghoa di Singkawang hanya 40,96%. Juga data di situs lain mengatakan, bahwa penduduk Singkawang total adalah 190.000 jiwa, sementara di Kompas menyebut hanya 151.622. Pusing deh, kalau bicara data di Indonesia ini. Nggak ada yang akurat. Data saja tidak akurat, bagaimana bisa dijadikan acuan untuk membangun ( Aku jadi ingat data tentang hasil pertanian yang sering beda antara institusi-institusi pemerintah,khususnya stakeholder sektor pertanian).

Terus terang saja kepergianku ke Pontianak kali ini adalah dalam rangka menjajagi salah satu proyek konstruksi yang ada di Pontianak, proyek yang aku harapkan dapat ikut berpartisipasi seperti proyek-proyek sejenis sebelumnya. Aku harus mendalami berbagai aspek yang harus disiapkan sebelum pelaksanaan proyek konstruksi, khususnya konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dalam rangka pembangunan jaringan PLTU 10.000 MW yang tersebar di seluruh Indonesia. PLTU Cilacap sudah selesai. PLTU Rembang sedang mulai, disusul PLTU-PLTU lainnya, seperti PLTU Sukabumi, Pacitan, Tanjung Awar-awar, Paiton, dan lain-lain.

Sebelum berangkat aku sempat kontak Bapak Jadi Rajagukguk, Ketua AMA Batam, yang kebetulan juga fungsionaris KADIN Batam, menanyakan tentang kemungkinan adanya pasokan pasir dan batu pecah (yang dalam dunia konstruksi disebut aggregates) untuk raw material yang dibutuhkan bagi ready-mixed concrete. Siapa tahu ada teman Pak Jadi yang dapat memasok aggregates dari Bintan. Karena setahuku, bahan baku tersebut untuk wilayah Kalimantan Barat selalu kesulitan, sehingga harus didatangkan dari Jawa, atau Sulawesi. Siapa tahu dari Bintan, yang nota bene lebih dekat ke Kalimantan Barat dapat memasoknya. Selama ini aku tahu, bahwa di Pulai Bintan dan Kepulauan Karimun, serta Bangka dan Belitung, adalah gudang untuk aggregates, karena wilayah-wilayah tersebut adalah salah satu padang perburuanku (menyitir serial Winnetou & Old Shatterhand dari Dr. Karl May). Singapura selalu mengambil bahan baku aggregates dari Bintan, sementara Malaysia Barat, khususnya Johor Bahru, Melaka, dan sekitarnya mengambilnya dari Karimun. Aku sering berpikir dan prihatin melihat Kijang (satu wilayah di Bintan Timur yang kaya pasir dan batu pecah untuk konstruksi), yang wilayahnya jadi acak-acakan, penuh lubang-lubang raksasa, karena exploitasi besar-besaran untuk diambil pasir dan batunya, yang kemudian ditinggalkan begitu saja. Malang benar nasibmu, ya Kijang, Bintan.

Pengalaman selama ini, untuk proyek konstruksi di Indonesia Timur, dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua, untuk aggregates selalu dipasok dari Palu, Sulawesi Tengah, atau dari Jawa. Apalagi untuk baja (steel), hampir 100% dipasok dari Jawa, atau malah impor. Sebenarnya ada potensi yang bagus untuk pasokan aggregates, sebagai alternatif lain untuk Palu, Sulawesi Tengah, yaitu Sumbawa, Nusatenggara Barat. Aku pernah survey ke sana, namun sampai saat ini tidak ada satu investorpun yang meliriknya. Lebih baik mengelola yang sudah ada, daripada susah-susah membuka yang baru yang kemungkinan berhasilnya belum diketahui. Mungkin itulah yang ada di benak meraka.

Pernah ketika aku menangani pembangunan Landasan Udara di Merauke, Papua, untuk konstruksi landas pacu runway, taxi-way dan apron yang konstruksinya biasanya adalah konstruksi beton dengan flexure strength 45, seluruh aggregates harus didatangkan dari negara tetangga, yaitu New Guinea. Pasokannya sangat tersendat, dengan kualitas material yang sangat jauh dari standar. Padahal persyaratan AASHTO, maupun ASTM selalu menghadang dengan garangnya. Seluruh skill & knowledge dari Engineering & Construction-ku serta kemampuan Manajemen Konstruksi dan Manajemen Proyek sudah kujajal di proyek tersebut, namun semuanya tidak cukup untuk diaplikasikan di lapangan. Untung aku memiliki cukup experiences, sehingga meskipun dengan susah payah semua hambatan dan kendala dapat diatasi.

Untuk pelaksanaan proyek konstruksi berskala besar di Indonesia Timur memang memerlukan kiat-kiat tersendiri, khususnya dalam Manajemen Logistik-nya. Tentu saja tanpa mengabaikan aspek Engineering & Construction, Manajemen Konstruksi, maupun Manajemen Proyek. Kita harus tahu cuaca, supaya barges atau kapal pengangkut material-material atau pengangkut mesin-mesin selamat dari amukan badai yang sering mengganas di laut, atau supaya jadwal pelaksanaan proyek tidak terlambat, yang akan mengganggu time schedule proyek. Kita harus paham tentang ketinggian pasang-surut, serta kapan terjadinya, khususnya yang berkaitan dengan dermaga sungai, dalam hal ini supaya barges yang ditarik tugboat dapat merapat ke dermaga. Sehingga raw material untuk konstruksi tidak terhambat.

Tiba-tiba suara pramugari yang lembut, yang menyapaku dengan santun menyadarkanku dari mimpi. Dia menyodori aku segelas air mineral, yang kuterima dan langsung kuletakkan ke kantong kursi di depan seat-ku. Suaranya memiliki rentang nada mezzo sopran, mendekati alto. Mirip suara siapa, ya? Kalau penyanyi, padanannya sulit kutemukan, karena kebanyakan penyanyi wanita dari mancanegara dan penyanyi Indonesia bersuara sopran, atau paling rendah mezzo sopran, jarang yang bersuara alto. Coba- kuingat-ingat….Oh, ya,…mirip suara January Christie, atau Iga Mawarni. Sedang untuk penyanyi manca negara aku belum menemukan kemiripannya dengan suatu sosok. Sementara wajah tirusnya yang cantik, dengan kulit putih yang di wajahnya terlumuri dengan tipis oleh make up yang aku yakin adalah dari suatu merk yang berkelas. Sanggulnya cukup indah untuk menjadi isi bola mataku, sementara posturnya yang tinggi untuk ukuran wanita, yang aku taksir mempunyai ketinggian lebih dari 168 cm, memberikan kesan sportip namun sexy, meski terbalut seragam crew yang biasanya berkesan kaku, namun kali ini kesan femininnya amat menonjol. Wajahnya mempunyai tipikal Arya, dalam hal ini timur tengah, atau tepatnya Iran, dan mungkin juga dapat disebut berwajah India Utara, seperti wajah yang sering menghiasi film-film India. Wajah Hema Malini ketika masih muda, mungkin itu yang lebih tepat. Untuk sosok dan wajahnya aku dapat memberinya angka 7 (tujuh), namun untuk isi benaknya aku belum dapat memberinya nilai, karena tidak mengenalnya lebih jauh. Yang jelas seluruh kinerja fisiknya membuatku semakin menyadari bahwa aku memang benar-benar laki-laki. Truly man!

Aku jadi ingat dengan pengalamanku ketika sempat akrab dengan seorang pramugari beberapa tahun yang lalu, yang kukenal dalam penerbangan Denpasar-Perth (Western Australia). Pengalaman mengesankan yang singkat, akrab, notable, dan memorable.

ooOoo

Jam 10.45 kakiku menginjak aspal dari apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta, setelah pesawat melewati taxi-way, menuju bus yang sudah menunggu di dekat pesawat. Entah mengapa, pesawat harus landing di Terminal 2, atau tepatnya di sub-terminal E, padahal itu adalah terminal untuk kedatangan luar negeri. Entah mengapa pula, seluruh penumpang tidak lewat rampway (belalai). Lebih jengkel lagi, akhirnya bus harus berjalan dari terminal 2 tepatnya sub-terminal E, ke terminal 1 atau tepatnya sub-terminal C, yang lumayan jauhnya, terminal yang seharusnya menjadi tujuan akhir pesawat tersebut di Jakarta.

Beruntung, meskipun matahari merangkak naik, namun cukup sejuk karena mendung tipis yang menggantung, sebagai sisa-sisa hujan yang baru selesai turun. Sangat menyegarkan buat tubuh yang lagi capek dan suntuk. Sangat meredam emosi.

Meskipun telah sering kali berada di Bandara termegah di Indonesia itu, aku selalu sejenak menikmati aroma dan fisik bandara yang selesai dibangun tahun 1985 oleh Main Contractor Dumez dari Perancis dengan partner lokal PT Waskita Karya (Persero) itu. Aku ingat persis, karena pada waktu pembangunannya aku sering main ke proyek di sebelahnya, yaitu Proyek Jalan Access Bandara Cengkareng atau sekarang lebih sering disebut sebagai Jalan Tol Prof Dr. Sediyatmo, yang dibangun oleh Main Contractor Yala Perkasa Internasional. Waktu itu proyek Bandara bernama Jakarta International Airport Cengkareng (JIAC), belum diberi nama Bandara Soekarno Hatta.

Saat itu Jalan akses masuk ke Bandara, sedang dibangun fondasi jalannya. Karena harus melewati rawa-rawa yang berat kondisinya, di daerah mendekati Bandara dibangun dengan sistem Konstruksi Cakar Ayam, buah karya Prof Dr. Sediyatmo. Sedang bagian sebelah timurnya yang melintas di sekitar Kali Angke, fondasi jalan dibangun dengan geotextiles 3 lapis, dengan menggunakan bahan urug pasir laut yang di ambil dari kedalaman laut sekitar Kepulauan Seribu. Ketika pasir laut datang melalui Kali Angke, barges yang membawa pasir putih menumpahkannya di atas hamparan geotextiles. Hal yang menakjubkan adalah ketika bersama pasir ternyata terbawa sejumlah besar fosil dari cangkang-cangkang kerang raksasa, yang diameternya hampir 2 (dua) meter. Bayangkan, kulit kerang (cangkang) kerang yang diameternya 2 (dua) meter. Aku bisa menghitung, di zaman sekarang jika makan seafood khususnya kerang, setiap orang harus pesan sekitar lima puluh biji kerang berdiameter 2 sampai 3 cm supaya puas. Jika diameter kerangnya sampai dua meter pastilah dengan hanya satu kerang saja, tidak akan habis dimakan oleh dua puluh orang. Pernah aku mencoba membawa pulang satu fosil cangkang kerang yang beratnya hampir satu ton, dan ketika mengangkatnya ke atas mobil pengangkut yang harus diangkat oleh sekitar 12 orang ternyata telah membuat mobilnya rusak.

Kembali ke jalan cerita semula. Jam 11.00 menurut schedule aku sudah harus terbang lagi ke Pontianak. Untuk itu tinggal tersisa waktu 15 menit. Jangan-jangan pesawat sudah berangkat, sehingga aku harus menunggu pesawat berikutnya. Maka dengan kondisi yang sarat dengan gegas aku menyusuri koridor sub-terminal C setelah turun dari bus. Untunglah ketika sampai di transit desk, petugas transit menyampaikan bahwa pesawat ke Pontianak delay satu jam. Atau memang sengaja menunggu perbangan lain yg connected? Itulah salah satu biang mengapa pesawat udara selalu terlambat. Terlepas dari semuanya itu, rasa lega-pun terbit dengan saratnya.

Sambil berjalan menuju ruang tunggu C5, aku mencoba menghubungi Pak Aswin, salah seorang mantan Ketua AMA Pusat, pada masa kepengurusan Pak Handi Irawan (pencetus Indonesia Customer Satisfaction Award-ICSA, Top Brand, Indonesia’s Most Admired Companies-IMAC, Marketing Award, Hari Pelanggan Nasional dll) dulu. Pak Aswin dengan postur tubuh yang tinggi besar seperti Bima, yang selalu mengingatkanku pada bintang film favourite-ku John Wayne dalam salah satu film-nya Hatari. Flamboyant namun sangat perkasa, dengan kesantunan yang selalu menjadi ciri khas penampilan beliau. Kalau di Jakarta aku pasti ingat beliau, karena selalu ingat pesan beliau untuk menghubungi beliau jika aku di Jakarta. Siapa tahu ada waktu bagiku untuk memberikan ‘workshop’ atau ‘development program’ bagi para senior manajer beliau. Kebetulan ada materi baru yang mungkin beliau tertarik. Beberapa waktu yang lalu aku baru mengaplikasikan suatu Sistem Manajemen Kinerja, menyusul penelitian yang aku lakukan sebelumnya.

Selama ini untuk aplikasi Sistem Manajemen Kinerja (Performance Management System), para pengambil keputusan selalu memelototi dan jungkir balik dengan Malcolm Baldride National Quality Award (MBNQA), European Quality Award (EQA), Total Performance Scorecard (TPS), The Balanced Scorecard, Deming Prize, SMART, Performance Measurement Questionnaire, Performance for World Class Manufacturing, Quantum Performance Measurement Model, Prism, dan lain-lain. Bahkan Six-Sigma yang semula hanya diaplikasikan di lantai pabrik (shop floor) sebagai metode pengendalian kualitas produk dengan statistik sebagai tools-nya, saat ini sudah bermetamorfosa, memasuki area perbaikan kinerja di level stratejik dan organisasi, dengan kata lain sudah menjadi Sistem Manajemen Kinerja.

Kalau dicermati, untuk aplikasi dan adopsinya di Indonesia sebenarnya belum begitu meluas. Perusahaan-perusahaan yang benar-benar sadar akan arti pentingnya Sistem Manajemen Kinerja untuk tercapainya predikat excellence-lah yang dengan serius dan tekun mau berjibaku dengan Sistem Manajemen Kinerja di atas. Dan memang kinerjanya kemudian menjadi excellence. Sayang masih banyak perusahaan di Indonesia yang belum mengadopsinya, dengan alasan masing-masing. Kebanyakan memang karena alasan cost, atau belum diperlukan, atau manajemen gini aja sudah untung ngapain susah-susah, dan lain-lain alasan.

Melihat masih belum luasnya adopsi untuk sistem manajemen kinerja di atas, maka aku mencoba meneliti suatu sistem manajemen lain, yang sebenarnya diadopsi sangat luas di Indonesia, namun belum ada yang meliriknya menjadi suatu sistem manajemen kinerja. Kita masih terlalu enggan untuk berpikir out of the box.

Kita semua tahu, bahwa ISO 9001 sudah lebih dari 15 tahun di adopsi di Indonesia, sejak versi sebelum 1994 sampai versi 2000, dan yang sudah saatnya akan berubah menjadi versi 2008. Adopsinya sangat luas, bahkan banyak perusahaan yang sudah jenuh mengaplikasikannya, sehingga asal dapat sertifikat saja. Apalagi tingkat persaingan yang tinggi di antara certification bodies, telah membuat ISO 9001:2000 dijual murah (benarkah ???! Semoga aku salah!).

ISO 9001:2000 adalah Sistem Manajemen Mutu, yang sampai saat ini tetap seperti itu, dengan aplikasi lapangan yang seringkali hanya tempelan saja (baca : mengejar sertifikat saja!!). Itu semua orang tahu. Kenapa tidak ada yang berani melakukan transformasi untuk menjadikannya Sistem Manajemen Kinerja. Dengan kata lain, Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 ditransformasikan menjadi Sistem Manajemen Kinerja ISO 9001:2000. (Waktu itu memang belum berlaku Serie Tahun 2008)

Berbasis benih pikiran seperti itu, kemudiaan aku menelitinya, dan setelah bersusah payah akhirnya aku temukan suatu formula untuk mentransformasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 menjadi Sistem Manajemen Kinerja ISO 9001:2000. Bahkan aku akan mencoba mengirim usul dengan mengirim email ke ISO Committee di Wina, agar dalam Seri ISO terbaru (ISO 9001 versi 2008), jangan lagi menjadi Sistem Manajemen Mutu lagi, namun harus ditingkatkan menjadi Sistem Manajemen Kinerja, seperti halnya MBNQA, dan lain-lain. Supaya lebih ada apresiasi. Aku jadi ingat evolusi Quality Management, yang dimulai dari check, inspection, quality control, Total Quality Control (TQC), kemudian menjadi Total Quality Management (TQM). Kenapa berhenti sampai di situ saja? Tidak ada upaya meningkatkannya menjadi Performance Management System (PMS) ?

Transformasi sudah aku lakukan, dengan suatu metode yang melibatkan Analytical Hierarchy Process (AHP), dengan software Expert Choice atau Analytical Network Process (ANP), dengan software Super Decision, yang semuanya dari Saaty. Di samping itu ditambah metode OMAX dalam hal ini scoring system dan traffic light system. Transformasi yang sangat mudah dan murah, karena tinggal meneruskan yang sudah ada, tidak perlu keluar cost yang besar lagi, untuk tercapainya suatu excellence.

Yang aku sedih, sampai saat ini belum banyak perguruan tinggi bisnis di Indonesia yang kurikulumnya memberikan mata kuliah dan aplikasi untuk Sistem Manajemen Kinerja secara holistik dan komprehensip. Padahal Sistem Manajemen Kinerja adalah induknya manajemen, sementara Manajemen Stratejik, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Keuangan, Manajemen Teknologi, Manajemen Pemasaran, Manajemen Operasi, Manajemen Logistik, SHE Management, dan lain-lain, adalah bagian dari Sistem Manajemen Kinerja, karena objective dari masing-masing sistem manajemen tersebut muaranya adalah Kinerja. Sehingga rangkumannya adalah Sistem Manajemen Kinerja. Salut buat Bapak Dermawan Wibisono, Ph.D, dari School of Business and Management ITB, yang telah merintisnya. Sementara Sekolah Bisnis yang lain aku belum mendengarnya. Atau mungkin ada anggota milis yang bisa membantu? Atau ada anggota milis yang alumnus dari Sekolah Bisnis yang lain yang ternyata sudah lebih dulu melakukan apa yang aku kupas di atas??! Hanya kekurangtahuankulah penyebabnya. Maklum aku sampai saat ini masih seperti katak dalam tempurung. Maafkan jika aku salah. Itu semata-mata karena kebodohanku saja.

Setelah aku telepon, ternyata Pak Aswin sangat tertarik dengan materiku tersebut, sehingga beliau akan mengundangku. Terima kasih Pak Aswin.

Sesaat kemudian, aku sudah ada dalam pesawat untuk membawaku selama 1 jam 15 menit ke Pontianak, Ibu kota Propinsi Kalimantan Barat, yang oleh temen-temen etnis Tionghoa di Pontianak yang kebetulan berbahasa Hakka atau Khek, bukan berbahasa Mandarin atau Cantonese lebih mengenal nama Pontianak dengan nama Khuntien ( 坤甸 ).

(BERSAMBUNG)

Ratmaya Urip

ooOoo

CATATAN RINGAN DARI KOTA AMOY, SINGKAWANG

Oleh: Ratmaya Urip

= = = = = = = = = = =

BAGIAN 2

Hujan deras menyambutku ketika pesawat landing di Bandara Internasional Supadio, Pontianak. Aku agak terkesima dengan kata Internasional yang terpampang mengiringi nama Bandara. Untuk beberapa kejap dahiku berkerenyit. Benarkah Bandara Supadio berpredikat Internasional ? Waktu itu aku memang belum mengerti. (Beberapa hari kemudian baru aku tahu, ternyata memang ada internasional flight yang berangkat dari Bandara Supadio, yaitu ke Kuching, Serawak, Malaysia, dan mungkin juga ke Brunei Darussalam)

Sampai di terminal kedatangan, tentu saja pakaianku basah, meskipun tidak kuyup. Seperti biasa, jika aku baru tiba di Bandara suatu kota, aku selalu mencari counter dari agen pemasaran suatu hotel, untuk memesan hotel. Terlebih-lebih jika perusahaan belum menjadi member suatu hotel di kota tersebut, sehingga belum mempunyai company rate. Biasanya rate untuk hotel di counter Bandara di manapun lebih murah, apalagi biasanya bisa ditawar.

Ketika kupelototi deretan counter pemasaran hotel yang ada, ternyata hanya ada satu hotel yang aku kenal reputasinya, yaitu Santika Hotel, hotel berbintang tiga. Kalau aku ke Semarang aku sering menginap di Hotel Santika, Jalan Pandanaran., dekat Simpang Lima, yang bersebelahan dengan Toko Buku Gramedia. Sarapan paginya sangat enak, dengan pelayanan yang sangat prima. Aku jadi ingat Icha, atau nama lengkapnya Marisa Deparina, sales exevutive yang selalu aktif berada di Restaurant menemani para tamu dalam breakfast untuk mencari umpan balik tentang kualitas pelayanan hotel, mungkin untuk mewujudkan secara riel atas slogan Hospitality from The Hearth yang disandang oleh Hotel Santika. Yang juga sering dilakukannya adalah mengontrol kecukupan dari hidangan santap pagi yang tersedia untuk breakfast.

Dalam jaringan Santika Hotel, nampaknya Grand Santika (Graha Santika) di Semarang-lah yang paling unggul. Sementara Santika Hotel di Surabaya, aku belum mengenal kualitas pelayanannya, karena belum pernah menginap di sana, karena aku tinggal di Surabaya. (Di kemudian hari baru aku tahu, bahwa hotel-hotel di Pontianak, yang tertinggi adalah berbintang tiga,belum ada yang berbintang empat apalagi lima).

Aku sempat melihat ada counter pemasaran Gajahmada Hotel, Mahkota Hotel dan Kapuas Hotel, serta hotel-hotel yang lain di dalam ruang kedatangan, namun aku belum mengenal reputasinya, maka aku putuskan untuk mengambil Santika Hotel saja. (Di kemudian hari baru aku tahu bahwa jaringan Hotel Mahkota adalah milik Pak Oesman Sapta, senator eh, anggota DPD dari Kalimantan Barat, yang juga pengusaha sukses dari Kalimantan Barat, yang namanya berkibar di Ibukota. Saat cerita ini ditulis Pak Oesman sedang menantang Gubernur lama (incumbent) , Bapak Usman Jafar dalam Pemilihan Gubernur yang dihelat tanggal 15 November 2007).

Biasanya, jika aku belum mengenal secara dalam reputasi hotel di suatu kota yang belum pernah atau jarang aku kunjungi, aku pasti akan mencoba seluruh hotel yang ada di kota tersebut, sekalian survey, untuk mengetahui tingkat kualitas pelayanannya. Sehingga tiap malam pasti pindah hotel. Apalagi rencanaku di Pontianak adalah untuk beberapa hari. Ya memang repot, karena harus selalu pindah hotel dengan beban koper yang sangat berat. Namun itulah cara yang lebih dalam untuk mengenal suatu kota dan fasilitasnya.

Akhirnya untuk Hotel Santika aku peroleh voucher dengan harga nett Rp 350.000,-per malam untuk superior room, included breakfast. Agak aneh memang, karena untuk price list-nya saja terpajang angka Rp 630.000,-. Perlu diketahui Hotel Santika Pontianak memasang tarif mulai dengan Rp 630.000,- untuk Superior Room sampai dengan Rp 1.400.000,- untuk Premier Suite Room. Pada awalnya Budi, petugas counter, menawarkan tarif Rp 475.000,-, namun karena ada sedikit bekal experiences, maka akhirnya kudapat harga tersebut di atas. (Setelah itu aku mendapat masukan, bahwa tarif tersebut benar-benar murah. Informasi tersebut aku dapatkan dari Manajer Pemasaran PT Petrokimia Gresik (Persero) untuk Wilayah Kalimantan Barat yang kukenal beberapa hari kemudian, dan juga Branch Manager Coca Cola untuk Wilayah Kalimantan Barat, yang secara tak sengaja berkenalan ketika breakfast. Menurut mereka, mereka belum pernah dapat rate semurah itu selama menginap di Hotel Santika. Biasanya yang paling murah Rp 475.000,-). Apalagi Hotel Santika mempunyai reputasi pelayanan yang sangat bagus, dengan banyaknya para pelaku bisnis dan pejabat pemerintahan yang menginap di situ, di samping Hotel Mahkota dan Hotel Kapuas.

Jam 15.15 WIB taksi yang membawaku dari bandara dengan tarif Rp 60.000,- telah memasuki hotel yang terletak di tengah Central Business District di jantung kota Pontianak, atau tepatnya di Jln. Diponegoro 46, setelah menempuh jarak sekitar 17 kilometer.

Ada sesuatu yang menurutku aneh setelah memasuki lantai dasar hotel yang memiliki 129 kamar tersebut. Lobby hotel berada di lantai 3 (tiga), sementara lantai dasar (yang di hotel tersebut diberi nomor lantai 1), hampir tidak ada apa-apanya, kosong sama sekali, dalam arti tidak ada sentuhan dari suatu aplikasi design interior apapun, kecuali satu petugas Satuan Pengamanan. Selain itu ruangannya sangat sempit, dan tidak layak jika harus dipaksakan sebagai lobby hotel.

Di front office, aku disambut oleh seorang gadis yang di kemudian nanti aku kenal dengan nama Lina. Sengaja aku tidak menunjukkan voucher yang kudapat di Bandara tadi. Aku bermaksud mengadakan sedikit test.

“Maaf, Pak… saya Lina…ada yang dapat kami bantu?” ucapnya penuh keakraban, dengan logat Melayu yang tidak seberapa kental seperti yang sering kudengar di Semenanjung Malaysia, baik di Pattani-Thailand Selatan, maupun di Malaysia, Riau Daratan, maupun Riau Kepulauan. Logat yang kaya dengan huruf ‘e’. Kalimantan Barat memang kawasan dengan etnis Melayu, di samping Dayak maupun Tionghoa, tiga etnis yang lebih dominan daripada etnis-etnis lainnya. Meskipun ada juga etnis Bugis, Jawa, dan Madura.

Nampaknya Lina memang dari etnis Melayu. Wajahnya sangat manis, mengingatkanku pada Setyowati, salah satu tokoh wayang, isteri Prabu Salya, yang kesetiannya menjadi buah bibir di dunia pewayangan dan pedalangan. Apalagi sanggulnya dengan segumpal tipis rambut yang menggelayut ringan, yang sengaja dibiarkan terlepas dari kesatuan sanggul, yang kadang menyusuri daun telinganya atau kadang hampir menutupi mata kanannya, sehingga dia sering harus menyibakkannya dengan kekuatan berupa gerak-kejut yang ringan dari kepalanya. Yang lebih asyik lagi, senyum manisnya rasanya enggan beringsut dari wajahnya. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran wanita, langsing meski ada kesan sintal alami. Wajah oval seperti telur burung maleo. Semua itulah yang mungkin daya tariknya. He…he…he…ngelantur dikit, nih. Jika anggota milis tidak percaya, silakan hubungi Hotel Santika Pontianak. Nomor teleponnya silakan dicari dari Yellow Pages atau via Telkom 108.

“Oh, ya…masih ada kamar?” sahutku dengan tergagap, sambil mencoba mengimbangi keramahtamahan yang tertebar pekat darinya.

Lina mengamati catatannya sebentar kemudian :

“Masih, ada satu kamar pak…Deluxe Suite Room saja, lainnya sudah penuh.”

“Berapa tarifnya?” tukasku

“Untuk berapa malam, Pak?”

“Satu malam saja,” sahutku, karena memang aku merencanakan untuk selalu ganti hotel selama di Pontianak. Aku coba melirik ke price list yang tadi aku dapatkan di counter hotel di Bandara. Oh,..untuk Deluxe Suite Room .harganya Rp 720.000,-

“Lima ratus lima puluh ribu rupiah nett, included breakfast…” jelas Lina.

“Oh, ya…mahal amat?!” sergahku. “Untuk Superior berapa?” lanjutku.

“Sudah penuh dipesan, Pak. Kalau tokh ada, tarifnya empat ratus tujuh puluh lima ribu.”

“Tidak boleh kurang?”

Lina hanya tersenyum menyambut pertanyaan terakhirku tadi.

Beberapa saat aku berpikir. Kemudian kuambil voucher yang tadi kuperoleh dari Budi, petugas counter di Bandara.

“Mbak Lina, bagaimana dengan voucher ini?”

Lina menyambut voucher, memeriksa sebentar, kemudian berbisik ke teman di sebelahnya,yang beberapa saat kemudian aku kenal dengan nama Yanti. Cukup lama mereka berbincang. Aku tahu pasti ada sedikit masalah, karena voucherku untuk kelas Superior, sementara kamar yang tersisa tinggal satu kamar untuk kelas Deluxe Suite Room, atau kelas di atas voucher yang kumiliki. Lama juga aku menunggu, rasanya ada sepuluh menit.

Tiba-tiba Yanti menyodorkan welcome drink ke padaku. Entah minuman apa, aku tidak tahu.

“Apa ini?”

“Aloe Vera, Pak…tepatnya sirup aloe vera.”

Aloe vera? Lidah buaya?” tukasku kemudian. Bayanganku pastilah serasa minum shampo lidah buaya.

Nampaknya Yanti menyadari, bahwa aku baru pertama kali ditawari minuman lidah buaya tersebut. Itu terbukti kemudian dia berkata :

“Dicoba saja, Pak…Enak kok. Jangan khawatir… tidak akan meracuni, Bapak,” katanya kemudian dengan setengah bercanda, dengan senyum yang lepas menghiasai wajahnya.

Yanti memang berbeda dengan Lina yang berkulit sawo matang. Yanti sangat putih kulitnya. Wajahnya seperti wajah dengan etnis Tionghoa. Wajah yang stereotipe-nya aku sangat mengenalnya. Di kemudian hari aku baru tahu, bahwa Yanti beretnis Dayak Kanayatn, dan berasal dari pedalaman Kapuas Hulu. Sebenarnya aku cukup banyak bergaul dengan gadis-gadis Dayak ketika muda dulu, namun suku Dayak yang kukenal adalah suku Dayak yang ada di pedalaman Kalimantan Timur, yaitu Dayak Kenyah, Dayak Putuq, Dayak Benuaq, dan Dayak Tunjung. Mungkin karena namanya Yanti, nama yang sering disandang oleh gadis Jawa, aku jadi bingung. Ternyata ada juga gadis Dayak yang bernama Yanti. Setahuku nama Dayak itu sering menggunakan nama Baptis (Itu yang sering kujumpai di pedalaman Kalimantan Timur). Maka wajar kalau aku pada awal tadi agak terkecoh. Suku Dayak memang cukup banyak sub-sukunya. Dari dialek bahasanya saja ada sekitar 170-an dialek, atau bahkan mungkin lebih.

Aku coba cicipi minuman yang disediakan…dan ternyata manis sekali dan tentu saja enak. Gumpalan lidah buaya yang ada dalam minuman mirip dengan nata de coco yang selama ini banyak aku minum. Hanya kekenyalannya kurang jika dibandingkan dengan nata de coco. Kemudian ketika Yanti menawariku untuk tambah lagi, tanpa malu-malu aku menyambutnya. Secara total aku akhirnya minum 3 gelas sirup lidah buaya. Dasar rakus!

Propinsi Kalimantan Barat memang disebut juga Propinsi Lidah Buaya, karena gerakan serentak untuk mempopulerkan lidah buaya sebagai kebanggaan warga propinsi. Di kemudian hari akhirnya seluruh makanan dan minuman yang berbasis lidah buaya aku membelinya sebagai oleh-oleh, yang kudapatkan semuanya di Jalan Sisingamangaraja, yang bersimpangan dengan Jalan Pattimura, dekat Supermarket Kaisar. Di antaranya adalah dodol lidah buaya, sirup lidah buaya, manisan lidah buaya, teh lidah buaya yang katanya dapat mengobati berbagai macam penyakit, dan lain-lain. Tentu saja tidak ketinggalan lempok durian, makanan favoritku.

Sore itu, setelah petugas hotel berunding cukup lama, akhirnya aku mendapatkan satu-satunya kamar yang tersisa tanpa tambahan biaya. Beruntunglah aku.

Sebelum aku meninggalkan lobby untuk naik ke lantai lima atau tepatnya room 574, aku sempat menikmati sekali lagi keindahan ragawi yang terpancar di diri Lina dan Yanti. Gadis yang cantik, ramah dan indah, gumamku. Rasanya seperti menikmati keindahan lukisan surrealisme dari Salvador Dali, jika sebagai pengamat lukisan atau menikmati lukisan Basuki Abdullah yang beraliran naturalisme, jika awam tentang lukisan.

Aku beruntung, karena masih sempat menunaikan sholat fardlu, yaitu dhuhur dan ‘ashar, sebelum maghrib tiba. Sebenarnya ingin pula menunaikan sholat sunnah qobliyah dan sunnah ba’diyah. Namun maghrib sudah menjelang. Aku tunaikan sholat fardlu dengan di-jamak dan di-qasar sebagai musafir. Sementara setelah sholat aku lihat lewat jendela kaca, hujan sedang deras-derasnya. Padahal sesampai di hotel aku merencanakan untuk mulai langsung bekerja, dengan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan maksud kedatanganku ke Pontianak kali ini. Aku harus ke toko buku mencari beberapa buku yang berkaitan dengan tugasku, sekaligus juga mencari beberapa peta yang kuperlukan, seperti peta Propinsi Kalimantan Barat, serta beberapa peta Kabupaten/Kota sekitar Kota Pontianak, seperti peta-peta Kabupaten Pontianak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Kubu Raya, Kota Singkawang dan Kabupaten Sambas, khususnya yang skalanya lebih besar.

Sambil menunggu maghrib tiba sekaligus hujan reda, aku menuju ke Business Center yang ternyata masih buka. Letaknya di lantai tiga, di depan lobby, di samping Open Air Restaurant. Aku coba buka email, siapa tahu ada yang penting, sekaligus kalau sempat aku akan browsing untuk mencari beberapa informasi yang kuperlukan. Sudah hampir dua minggu aku tidak sempat membukanya.

Wah, penuh sekali email box-ku dengan banyaknya email yang masuk. Yang paling heboh ternyata masih didominir milis INDOKARLMAY, disusul milis AMA DKI, sementara milis AMA BISNIS, AMA Surabaya, dan Quality Network adem ayem saja. Milis-milis yang lain seperti World Tourism Organization, dan Voice of America biasa-biasa saja, demikian juga milis-milis tentang Engineering & Construction. Karena banyaknya email, aku mencoba untuk memulai dari yang paling penting. (Catatan: Waktu itu milis The Managers, belum lahir).

Ada 2 email yang sangat menarik perhatianku. Yang pertama dari Ibu Ani, atau lengkapnya Ibu Ir. Sri Prabandiyani, M.Sc, Ph.D, yang tengah mempersiapkan pidato pengukuhan untuk memperoleh gelar Professor di bidang Geoteknik dari Universitas Diponegoro. Beliau yang kebetulan tertarik dengan hasil penelitianku tentang Geokimia Teknik Sipil yang sempat aku paparkan sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) awal tahun ini (2007) di Semarang memang kebetulan mempunyai minat yang sama denganku. Sehingga sering terjadi diskusi yang menarik dengan beliau. Beliau sering menyampaikan kajian teoritisnya, sementara aku lebih sering memaparkan aspek aplikasi lapangannya, sehingga cocok sekali. Meskipun sering juga terjadi debat seru.

Dalam email-nya beliau menanyakan tentang Solidifikasi Tanah Berbasis Calsium, yang telah diterapkan dengan berhasil pada pemadatan tanah rawa di Proyek Perluasan Bandara Juanda, untuk konstruksi taxi-way dan apron-nya. Perlu diketahui, selama ini untuk pemadatan rawa, civil engineer selalu memberi solusi dengan pendekatan mekanik dan fisik, yaitu dengan memakai geotextiles, geogrid, sand-drain, vertical drain, batas-batas atterberg, index plastisitas, Terzaghi, dan sebagainya. Tidak ada yang berpikir out of the box dengan melakukan pendekatan kimia. Ketika Proyek Perluasan Bandara Juanda (sekarang sudah selesai dan dinikmati oleh para stakeholders), aku sering diskusi dengan memberikan masukan kepada Pak Pamudji, Team Leader Konsultan LAPI-ITB, yang nampaknya masukanku diterima baik. Tiap sore beliau sering ke kantor untuk mendiskusikan hal-hal yang menjadi tanggung jawab beliau (Masukanku yang teknis detail dapat disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, dan yang membutuhkan, khususnya para konsultan teknis).

Untuk email pertama, akhirnya aku memberi response beberapa point yang diharapkan oleh Ibu Ani dalam emailnya. Tentang aplikasi Cement-based treatment versus Calcium-based treatment dalam Soil Solidification.

Email yang kedua datang dari seorang mahasiswa, yang kebetulan dari Undip juga, yang isinya adalah konsultasi masalah geoteknik. Kebetulan pula dalam emailnya dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada kaitannya dengan keberadaanku di Pontianak kali ini. Kebetulan ada pertanyaan kritis yang membuka jalan bagi tugasku kali ini. Dia mengenalku setelah hadir dalam paparanku tentang Geokimia Teknik Sipil pertengahan tahun ini dalam suatu Seminar Nasional di Universitas Diponegoro.

Untuk jelasnya beberapa pertanyaan mahasiswa tersebut akan aku kutip seperti di bawah ini, sekaligus aku lampirkan jawaban-jawabanku, siapa tahu bermanfaat :

From: Arief Setiawan
Subject: semen dan RHA
To: Ratmayaurip@yahoo.com
Date: Friday, November 2, 2007, 7:39 AM
Assalamualaikum…
Pak saya mahasiswa dari Semarang dulu pernah ikut seminar dimana bapak Ratmaya menjadi pembicaranya, saya ingin bertanya mengenai perilaku bahan tambah semen+
RHA untuk tanah gambut.

Pertanyaan Arief :
1. Bagaimanakah sifat RHA (Abu sekam padi) menurut bapak dalam hal ini untuk campuran bahan stabilisasi tanah gambut dan berapa nilai optimumnya bila digunakan untuk campuran?
Ratmaya Urip menjawab :

Tanah gambut adalah tanah organik, yang belum atau sedang mengalami proses oksidasi (proses kimia). Atau kalau tokh terjadi proses okidasi, prosesnya amat sangat lambat . Untuk dapat memberikan kestabilan secara kimia, maka tanah gambut harus sudah teroksidasi. Itupun jika sudah teroksidasi (dengan dibakar atau terbakar dan menghasilkan abu gambut), maka kandungan oksidanya adalah sama dengan RHA. Dalam hal ini yang dominan adalah SiO2, Al2O3, Fe2O3. Untuk terjadinya proses stabilisasi maka diperlukan CaO, yang akan menghasilkan CaOSiO2H2O atau Calsium Silikat Hidrat (CSH).

Jadi jika tanah gambut yang sudah teroksidasi sekalipun, jika dicampur RHA, maka secara chemis tidak akan terjadi proses pengikatan menjadi senyawa baru yang padat. Karena silika dan alumina dari hasil oksidasi tanah gambut bertemu dengan silika dan alumina dari RHA. Secara fisik atau mekanik mungkin akan terjadi pemadatan, namun diperlukan RHA dengan jumlah yang besar sekali (dosisnya tinggi sekali).

Tanah gambut jika dicampur abu sekam padi dalam proses fisik dan mekanik, sifatnya sama dengan tanah gambut ditambah pasir silica. Jika pasir silikanya banyak sekali. maka tanah akan padat karena airnya akan pergi dari tanah gambut karena terdesak oleh pasir silika, namun tidak terjadi proses kimia. Jadi tanah gambut bersifat seperti filler atau reinforcement saja.

Pada prinsipnya, proses stabilisasi kimia (lebih tepatnya disebut solidification), hanya akan terjadi jika kandungan SiO2 dan Al2O3 bertemu dengan CaO. Coba dichek apakah ada CaO di proses tersebut?

Perlu diketahui, tanah gambut jika terbakar sempurna akan menghasilkan abu, yang sama kandungan kimianya dengan sekam padi yang dibakar.

Tanah gambut adalah salah satu bahan baku terjadinya batubara. Tanah gambut jika kena tekanan yang ultra tinggi, dan panas yang ultra tinggi dalam waktu yang lama (dalam jutaan tahun) maka akan menjadi batubara. Karena salah satu bahan baku batubara adalah tanah gambut yang menjadi fosil. Maka seperti halnya minyak bumi, batu bara juga sering disebut bahan bakar fosil.
Pertanyaan Arief :
2. Apakah cocok bila abu sekam padi ini dicampur dengan PC untuk stabilisasi tanah gambut (keduanya kan memiliki daya ikat dan serap yang tinggi , kan sama2 memiliki
silikat yang besar)

Ratmaya menjawab :

Abu sekam padi jika dicampur semen (PC) akan menjadi semen portland pozzolan (PPC). Berarti jika terjadi proses hidrolis (pengerasan semen), akan menjadi lebih lambat mengeras, Kita sama-sama tahu bahwa fungsi PC atau PPC adalah sebagai pengikat, dalam hal ini mengikat serat-serat gambut. Fungsi abu sekam padi malah akan memperlambat proses pengerasan atau pengikatan serat-serat gambut.

Pertanyaan Arief :
3. Untuk berat jenis semen tipe satu apakah sama untuk semua merk ?
Ratmaya menjawab :
Yang dimaksud dengan berat jenis itu apakah density atau specific grafity? OK, saya anggap saja pengertian berat jenis secara umum. Pada dasarnya berat jenis semen tergantung dari mix-design bahan bakunya, dan berat jenis bahan baku semennya, dalam hal ini kapur, tanah liat, pasir besi, pasir silika, dan gipsum. Karena meskipun ASTM sudah menetapkan standard tertentu untuk suatu jenis semen (kandungan C3S, C2S, C3A, C4AF, dll), namun karena mix -design yang berbeda dan berat jenis raw-material yang beda akan menyebabkan terjadinya berat jenis semen yang beda pula. Namun saya kira bedanya tidak terlalu banyak. Kalau mau menganggap sama juga tidak apa-apa. Soalnya saat ini sedang dilakukan penelitian untuk mencari struktur beton yang sangat ringan (sehingga beban matinya kecil), namun mempunyai kekuatan struktur yang tetap sama dengan yang beban matinya lebih besar).

Pertanyaan Arief :

4. Menurut bapak berat jenis tanah yang sudah dicampur (PC+RHA+Gambut) apakah lebih besar dari tanah aslinya?

Ratmaya menjawab :

Tergantung dari usia, dan proses pembentukan tanah gambutnya (dipengaruhi oleh suhu, tekanan, lama pembentukan, bahan pembentuk gambut, water content, dll).
Namun secara awam dapat disampaikan, bahwa tanah asli biasanya porous (berpori lebih banyak daripada tanah yang sudah terjadi proses hidrasi (pengerasan oleh semen). Tapi jika gambutnya lebih porous? Kan ya sama saja. Kecuali pori-pori gambut bisa tertutup semua oleh semen dan RHA.
Terima kasih sebelumnya.

< arief setiawan >

di Semarang

Merdunya Adzan Maghrib terdengar sayup-sayup di kejauhan, sehingga aku harus menutup email-ku. Sebenarnya masih ada satu email lagi yang ingin konsultasi masalah bottom ash dan fly ash, yang keduanya merupakan limbah batu bara yang sampai saat ini masih menjadi problem dunia industri, khususnya yang menggunakan energi batubara. Untuk fly ash sudah banyak pemanfaatannya, sementara untuk bottom ash masih terus menerus dilakukan penelitian (Aku sebenarnya ada solusi, namun untuk sementara belum bisa ku-expose karena masih off the record). Kadang-kadang Pak Salim dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Bapedal, sering juga konsultasi masalah ini. Bahkan beberapa kali beliau menggunakan naskah-naskah presentasiku untuk dibawa berkeliling ke seluruh Indonesia dengan seizinku.

Untuk email ketiga ini rasanya aku akan me-response-nya esok hari saja, karena aku harus menunaikan sholat maghrib, setelah itu ke toko buku.

Dan langkahku kembali menyusur koridor lantai 5 menuju kamar 574. Saat itu hujan mulai reda. Nanti habis Maghrib aku akan menanyakan ke Lina atau Yanti tentang toko buku yang lengkap yang ada di Pontianak, sekaligus menanyakan arah yang harus dituju. Aku harus dapatkan peta-peta yang kuinginkan malam ini juga, supaya ada panduan awal untuk melangkah. Sebab besok pagi acaraku padat sekali, di antaranya aku akan ke Universitas Tanjungpura dan melihat lahan gambut atau rawa tempat akan berdirinya proyek PLTU Pontianak.

(BERSAMBUNG)

Ratmaya Urip

ooOoo

CATATAN RINGAN DARI KOTA AMOY, SINGKAWANG

Oleh: Ratmaya Urip

= = = = = = = = = = =

BAGIAN 3

Malam ini akhirnya aku berangkat dengan taksi ke beberapa toko buku di Jalan Gajah Mada. Sekurang-kurangnya ada 3 toko buku yang kumasuki, namun semua yang kubutuhkan tidak aku temui. Akhirnya aku pergi ke Toko Buku Gramedia yang terletak di Mega Mal A. Yani, di Jalan Jend A. Yani. Tadi Yanti memang menyarankan untuk ke Gramedia saja, karena menurutnya lebih lengkap koleksinya, namun karena terlalu jauh dari hotel, aku memilih ke Jln. Gajah Mada, yang akhirnya tanpa hasil. Yanti bahkan sempat memberiku kupon discount untuk pembelian buku di Gramedia, yang jumlahnya lumayan. Ternyata antara Gramedia dan Hotel Santika ada kerja sama tertentu.

Karena terlalu lama berputar-putar di Jalan Gajah Mada, akhirnya aku kehabisan waktu. Jam menunjukkan angka delapan lebih empat puluh lima menit ketika aku memasuki Mega Mal dengan bergegas, karena takut Gramedia segera tutup sebentar lagi.

Mega Mall A. Yani adalah pusat perbelanjaan dan hiburan terbesar di Pontianak. Kalau dibandingkan dengan Surabaya mirip dengan Plaza Tunjungan, meski lebih kecil. Ramainya luar biasa, seperti pusat-pusat perbelanjaan yang ada di kota-kota besar di Jawa. Ada Hypermart, dan beberapa stand dari branded fastfood dan lain-lain. Karena aku terburu-buru, aku tidak sempat memperhatikan secara detail situasi yang ada.

Oh, ya …mumpung belum lupa, aku akan menyampaikan sesuatu yang sangat notable tentang taksi yang ada di Pontianak. Ternyata taksi yang ada di Pontianak, tidak sama dengan taksi-taksi yang ada di Jawa. Di Pontianak, semua taksi menggunakan city car, seperti Atoz, Ceria, Karimun, dan sejenisnya. Melihatnya aku merasa ada yang lucu. Untung ketika berangkat dari hotel tadi Lina sempat memberitahuku soal ini, sehingga aku tidak kesulitan untuk mencarinya. Yang juga perlu dicatat, adalah bahwa populasi taksi di Pontianak tidak begitu banyak. Jarang dijumpai berkeliaran di jalan-jalan, karena nongkrongnya di pusat-pusat perbelanjaan atau di hotel-hotel. Kalau mau pakai taksi, lebih baik memakainya secara menerus. Jika tidak, pasti nanti akan kesulitan untuk mendapatkannya lagi. Karena tingkat kesulitannya yang tinggi dalam mencarinya itulah, mulai besok pagi aku telah memesan ke Lina untuk disiapkan minibus saja, semacam Kijang Station, untuk aku sewa selama tiga hari, supaya bebas, murah dan cepat dalam mobilisasi, serta tangguh dalam menghadapi medan yang berat. Kalau pakai sedan pasti tidak menguntungkan dalam menghadapi medan yang berat, apalagi jika harus memakai city car.

Toko buku Gramedia di Pontianak menempati sebagian dari lantai dua di Mall tersebut. Luar biasa luasnya, yang menurutku adalah Toko Buku Gramedia yang terbesar yang pernah aku kunjungi. Beberapa toko buku dengan brand yang sama di kota-kota besar di Indonesia pernah aku masuki, nampaknya inilah yang paling lengkap koleksinya. Karena waktunya sangat sempit, aku tidak sempat berkeliling, langsung ke rak yang menyediakan peta. Semua yang kucari ada di tempat tersebut, juga buku-buku yang aku perlukan.

ooOoo

Malam itu di Open Air Restaurant di lantai tiga Hotel Santika aku sempat menikmati musik jazz atau sekurang-kurangnya lagu-lagunya termasuk jazzy, yang dihidangkan oleh home band. Aku sempat berbincang hangat dengan seorang pengunjung wanita yang cukup menarik perhatianku karena dia sangat smart. Ketika berdiskusi masalah musik, dia sangat antusias menyambutnya. Pengetahuan musiknya sangat dalam, bahkan dia sempat menyanyikan sebuah lagu pemenang Grammy Awards Tahun 1965, yang biasa dinyanyikan oleh Louis Amstrong, yaitu Hello Dolly dengan manisnya. Suara alto-nya membuat telingaku terbuai indah, karena dalam meniti nada-nada dia sangat khas, atau sangat berkarakter. Dinamikanya sangat prima, karena ketika harus bernyanyi dengan mezo-piano, dia bisa menitinya dengan tanpa kehilangan power. Juga ketika harus menyanyi dengan mezo-forte, intonasi, atau pitch-nya tidak lepas kontrol. Artikulasi dan phrasering-nya tak ada duanya, bahkan ketika harus meniti nada secara decrescendo. Padahal decrescendo adalah teknik yang biasanya dihindari oleh vokalis manapun, kecuali memang tingkat kemampuan teknik vokalnya benar-benar luar biasa. Aku jadi semakin tertarik saja.

Hello Dolly, yang diciptakan oleh Jerry Herman dan dipopulerkan oleh Louis Amstrong adalah pemenang Grammy Awards Tahun 1965 untuk katagori Song of The Year. Waktu itu untuk katagori Best of New Artist direbut oleh grup band yang mulai menanjak namanya yaitu The Beatles. Sementara untuk katagori Record of The Year direbut oleh The Girl from Ipanema dari Astrud Gilberto & Stan Getz. Untuk mengimbanginya maka setelah dia menyelesaikan lagunya maka aku senandungkan The Girl from Ipanema semaksimal mungkin. Aku puas karena home band mengiringiku dengan total. Suara brass yang menggelegar dari saxophone yang ditiup dengan piawai sangat harmonis ketika dipadu dengan dentingan-dentingan gitar dan gebugan drum yang dinamis. Sinar mata dari wanita tersebut mengindikasikan tingkat response yang sangat positip atas lagu yang baru selesai kubawakan. Dia memberikan apresiasi yang tinggi atas lagu yang aku bawakan tersebut. Maka aku sempat berpikir, apakah akhir lagu yang kubawakan tadi merupakan suatu awal? Awal apa, ya…? (He…he…he…untuk para pembaca jangan terlalu berpikir secara dalam, ya?)

Sehabis diskusi musik, dia membawaku ke diskusi politik, khususnya politik lokal.

Waktu itu di Kalimantan Barat sedang ramai-ramainya kampanye politik untuk pemilihan Gubernur Baru. Kebetulan ada 4 pasangan yang bertarung. Sebagian besar pengamat memprediksi, bahwa pertarungan sebenarnya terjadi antara kandidat no 1, yaitu incumbent, melawan kandidat nomor 2, Pak Oesman Sapta, pengusaha sukses di Kalimantan Barat, sekaligus senator (anggota DPD) dari Kalimantan Barat. Saya sendiri juga berpendapat demikian. Anehnya wanita tersebut justru malah menjagokan kandidat no 4 sebagai kuda hitam. Menurut analisisnya, memang telah benar, bahwa seluruh kandidat merangkul etnis Dayak sebagai calon. Masalahnya untuk kandidat no. 1, nomor 2, dan no. 3, wakil etnis Dayak ditempatkan sebagai Calon Wakil Gubernur. Sementara kandidat no. 4 menempatkan seorang calon Gubernur dari etnis Dayak, sedangkan Wakil Gubernurnya dari etnis Tionghoa. Strategi yang mirip dengan Pemilihan Gubernur Kalimantan Tengah, yang kemudian ternyata dimenangkan oleh Gubernur dari etnis Dayak. Di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, memang tidak boleh mengabaikan potensi suku Dayak, jika ingin mendulang suara. Apalagi ditambah etnis Tionghoa yang juga cukup significant jumlahnya. Itu semua terlepas dari partai politik yang mendukungnya. Untuk pemilihan langsung memang sulit ditebak hasilnya, karena belum tentu partai politik yang memenangkan Pemilu untuk parlemen dapat pula memenangkannya dalam pemilihan Gubernur.

Aku yang belum paham tentang politik lokal Kalimantan Barat tentu saja tidak bisa memberikan komentar apapun, daripada salah. Selama dia bicara aku hanya memperhatikan bibir jingganya yang tipis, yang merekah karena gencarnya kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Bibir yang indah, itulah satu-satunya komentarku. Apalagi kalau sedang mendendangkan sebuah lagu.

Namanya Merry, marganya Han, jadi namanya Merry Han (maaf nama ini adalah nama yang sengaja disamarkan, untuk privasinya). Lahir di Singkawang, tiga puluh dua tahun yang lalu. Statusnya masih lajang (Dan aku enggan menanyakan kepadanya, kenapa wanita secantik dia masih juga lajang di usia itu). Saat itu tengah menginap di Hotel Santika, karena sedang transit menuju kota kelahirannya, Singkawang. Baru datang dari Jakarta setelah maghrib, sehingga tidak bisa langsung ke Singkawang. Besok habis breakfast, rencananya dia baru berangkat ke Singkawang. Dia saat ini bergabung dengan salah satu perusahaan perminyakan tingkat dunia yang berpusat di Houston, Texas. Pulang kampung dalam rangka cuti tahunan. Aku semakin kagum padanya, karena meskipun domisilinya di Houston, Texas, namun tentang hiruk-pikuk politik lokal Kalimantan Barat dia masih mengikutinya via internet. Salut, atas perhatian pada tanah kelahirannya.

Maka ketika aku tahu dia baru datang dari Texas, pembicaraan kemudian beralih ke Benteng Alamo, dengan seribu kisah heroiknya. Juga tentang Lembah Rio Grande yang kaya akan jeruk (menduduki peringkat ketiga setelah Florida dan California), tentang Llano Estacado, dan lain-lain. Bahkan kemudian melebar ke badai Katrina yang menghempaskan New Orleans, Louisiana, negara bagian tetangga Texas. Asyiklah pokoknya.

Diskusi terakhirku dengan dia kemudian beralih ke teman-temannya yang masih di Singkawang, yang masih sering menjadi head-line di sejumlah media, yang masih belum seberuntung dirinya. Dia sampai saat ini masih prihatin untuk itu.

Malam itu, dari dia aku mengenal beberapa kata atau kalimat dalam bahasa Khek Singkawang (untuk membedakannya dengan Khek Pontianak dan Khek Bangka), serta Tiociu. Keduanya bukan Bahasa Mandarin atau Hokkian, namun konon masih lebih dekat ke Cantonese.

Hotel Santika, ie li kuan ho nyia……li ha si. sip nyip tiam am le, oi em moi ngai sien se mu la ho?

Dari Merry juga aku mendapat bekal, jika ingin berkenalan dengan amoy dari Singkawang, aku dapat menyapanya dengan Bahasa Khek Singkawang : tui em chu.. nyi ma ai miang ..? na bui hiet to? Atau dalam Bahasa Tiociu : tui em cu. le me e mia?? ti ko hia?

(Catatan : Maafkan jika salah, karena aku belajar secara cepat dan instan. Mohon anggota milis yang lebih tahu dapat memberikan koreksi jika salah).

ooOoo

Cau sin!” (Note : “Cau an” untuk Bahasa Mandarin, atau “Me ca” untuk Bahasa Tiociu), sapaku pagi itu sengaja dalam Bahasa Khek Singkawang, ketika kebetulan aku jumpa Merry di meja breakfast. Benar-benar kebetulan, karena aku tidak merencanakan untuk dapat jumpa kembali dengannya. Aku sengaja breakfast jam 6 pagi, karena harus segera ke lapangan. Meskipun tidak sengaja, ada rasa senang yang menggeliat di dada, yang membuatku terbuai, ketika melihatnya sudah duduk di meja menikmati santap paginya. Rasanya ada yang masih kurang yang aku bincangkan dengannya tadi malam. Ngobrolku tadi malam serasa terinterupsi atau bahkan teramputasi. Tadi malam kami berpisah sekitar jam dua belas, hampir dini hari, di lobby hotel, karena dia mendapat kamar di lantai tiga sementara aku di lantai lima. Li ha si. sip nyip tiam am le, oi em moi ngai sien se mu la ho?

Mendengar sapaku yang sangat singkat, dia menyahutku dengan Bahasa Khek juga, yang aku tidak tahu artinya, karena tadi malam dia belum sempat mengajarkannya padaku. Aku tentu saja terbengong-bengong, dan dia tahu persis kenapa aku seperti itu. Ada senyum yang mengembang, yang bagiku seperti senyum untuk mengolok-olokku. Dan kamipun kemudian duduk berhadapan dengan breakfast kami masing-masing.

Sebenarnya kalau tidak ada tanggung jawab yang harus kuselesaikan, maulah rasanya hari ini aku pergi ke Singkawang untuk menemaninya pulang.

“Kapan ke Singkawang?” tanya Merry sambil menikmati santap paginya. Aku tidak tahu, apakah pertanyaan itu hanya basa basi untuk breaking the ice, memecah kebisuan, atau memang pertanyaan yang benar-benar serius. Namun tentu saja aku harus menjawabnya. Yang pasti, sejak ngobrol yang intens tadi malam, tidak ada rasa canggung lagi di antara kami berdua. Semacam sahabat, begitulah. Tidak lebih daripada itu. Keterbatasan yang aku miliki menyebabkan sulit untuk berkembang lebih jauh. Meskipun kalau aku boleh jujur, aku agak tergoda. Perlu perjuangan yang kuat untuk menampik kehadirannya. Kehadiran yang lebih daripada sekedar sebagai sahabat. Maklum, pesonanya enggan untuk tidak selalu bertabik pada hasratku. (He…he…he…bahasa inilah yang paling pantas untuk kutulis! Rasanya meskipun aku sering membuat kalimat-kalimat yang indah, kalimat inilah kalimat terindah yang pernah kutulis sepanjang perjalananku menulis).

Kembali aku jadi ingat salah satu lagu yang pernah kami tulis dan nyanyikan bersama teman-teman grup vokal musikalisasi puisi CEMARA TUJUH dari UGM Yogyakarta, semasa kuliah dulu, yang nampaknya cocok untuk merepresentasikan dirinya saat itu, yang selalu aku nyanyikan dengan iringan petikan-petikan klasik dari piano atau gitar akustik serta biola dan klarinet dengan apiknya :

Perempuan

Memang engkau perempuan

Citramu sepertanyaan dengan pelangi

Syarafmu peka bagaikan senar

Yang terpetik jari angin

Yang bergetar mendesah pada gitar

Dalam hati dan dada segala ingin

Karena kodratmu memang rahim

Dalam rindu fajar pagi, dalam dekapan mesranya punagi

(Dan seterusnya…!)

Tiba-tiba aku sadar, bahwa aku harus menjawab ajakannya, maka kemudian aku menjawab :

“Entahlah, yang pasti aku harus selesaikan urusanku dulu, baru ke Singkawang…” jawabku pasti, meskipun harus melewati pergulatan keinginan yang berat, baik di benak maupun di hati. Maklum kesempatan sulit untuk datang dua kali. Beruntung naluri kelaki-lakianku kalah oleh nilai etika dan adab yang seharusnya selalu aku jadikan sikap dalam kondisi apapun. Termasuk dalam kondisi tersulit seperti saat itu. Kesempatan akan selalu sukses menjadi kinerja atau prestasi jika berpadu dengan persiapan yang matang. Masalahnya persiapan untuk menyambut kesempatan itu belum ada.

“Apa tidak terbalik, ke Singkawang dulu, baru kerja,” sahut Merry menggoda, sambil menebarkan senyumnya, senyum yang tadi malam sempat kunikmati ketika berbincang tentang Austin, Dallas, Houston, Teluk Mexico, musik mariachi, musik Latin, dan tentang indahnya Texas yang lain. Sikapnya mencerminkan proyeksi pergaulan internasional yang diperolehnya di Texas lebih dari lima tahun. Ada sisi kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang lebih menonjol, meskipun bayang-bayang budaya timur masih tersisa, yang tidak begitu kental lagi mewarnai sikapnya.

“Maunya, sih demikian, apalagi ada teman baru yang dapat menjadi guide di sana,” sahutku pelan.

“Jangan khawatir, nanti kuantar ke Wisata Agro Pantai Gosong, atau Wisata Pantai Batu Payung, atau Wisata Pantai Pasir Panjang,” ajaknya menegas.

Dalam hati tentu saja aku senang berwisata dengan gadis cantik, tanpa harus kesulitan mencari guide. Ku tatap wajahnya yang lembut, yang mengingatkanku pada perpaduan wajah Gong Li ketika muda dulu dengan Betty Ting Pei. Sekilas ada debar misterius yang terbit. Akh, apakah amoy Singkawang memang semuanya seperti dia? (Di kemudian hari aku baru tahu, bahwa karena tingkat ekonomi yang rendah, banyak sekali amoy Singkawang yang berpendidikan rendah, dan banyak di antaranya yang hanya bisa berbahasa Khek saja. Konon ada yang terjebak dalam praktek-praktek prostitusi. Namun tentang yang terakhir ini aku kira hanyalah kabar burung, karena aku tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, aku tidak percaya sama sekali, karena aku bayangkan setiap amoy Singkawang adalah seperti yang telah terproyeksikan dalam diri Merry), atau menjalani kawin kontrak dengan pria-pria asing dari Taiwan, Hong Kong, China, dan Serawak. Beruntung aku mengenal Merry Han, dengan tingkat pendidikan tinggi yang diperolehnya di suatu perguruan tinggi swasta di Jakarta, dan kini memiliki kehidupan mapan di Texas. Aku seperti mendapat durian runtuh. Sayang, dia masih lajang, yang itu membuatnya lebih mudah untuk mendapatkan perhatian dari seorang pria. Kalau dia sudah married, pastilah ada kegamangan dariku, atau sekurang-kurangnya ada semacam police line yang membuatku untuk selalu menjaga jarak, suatu sikap yang seharusnya aku tunjukkan sebagai pria yang sudah terikat perkawinan. Namun ambiguitas sulit aku tolak. Itulah masalahnya. Untung aku masih dapat menggunakan otak dan hatiku secara sadar dan benar, meskipun dengan susah payah sulit untuk mempertahankan naluri laki-lakiku yang ingin lepas mengumbar perasaan, ketika jumpa dengan gadis cantik.

“Bagaimana, jadi ke Singkawang?” sergapnya, yang membuyarkan lamunanku.

“Eh…nanti saja jika aku selesai, aku akan sempatkan ke Singkawang. Nanti aku kontak jika sampai di sana,” tukasku setengah grogi.

Sebenarnya ada sisi yang aneh, yang aromanya sempat aku tangkap dari penampilan Merry, meskipun aku baru mengenalnya beberapa jam. Ada semacam kegalauan yang sulit disembunyikannya dariku. Senyumnya, meskipun lepas, ada yang mengganjal jika dinikmati. Semoga saja hospitality-nya kepadaku bukan dibuat-buat. Mungkin saja kegalauan masa lalunya. Atau capek karena perjalanan jauh yang ditempuhnya?

Pagi itu dengan perasaan yang berat, aku hantar kepergian Merry di lantai dasar hotel untuk kepergiannya, menengok tanah kelahirannya di Singkawang. Ada kesan positip yang kudapat darinya. Gadis yang sangat menarik itu melangkah pelan dengan anggunnya, diliputi senyum menawan yang sulit untuk dilupakan. Perkenalan atau pertemuan yang singkat, namun sarat dengan pergumulan pemikiran yang cerdas, serta padat dengan memori. Meskipun akrab, tetap saja ada batas-batas yang memisahkanku dengannya. Karena bagaimanapun, ada jarak yang mesti dipahami sebagai bagian dari citra diri atau sebagai jalan terbaik karena kesadaran sebagai mahluk Illahi, yang harus selalu akrab dengan pengendalian diri.

ooOoo

Kota Pontianak, sering juga disebut dengan nama Khuntien ( 坤甸), atau nama lainnya The Land of Equator, atau Bumi Khatulistiwa, karena memang dilalui oleh garis Lintang Nol Derajad Bumi. Untuk itu terdapat monumen berupa tugu setinggi lebih kurang 25 meter (?), dengan empat kaki yang menopang bola dunia, dengan sebatang anak panah yang menunjukkan arah garis lintang nol derajad. Letaknya di Siantan, 4 km dari pusat kota.

Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia, dengan panjang 1143 km, membelah kota ini dengan anggunnya, yang merupakan urat nadi perekonomian di Kalimantan Barat, karena dapat dilayari sampai ke hulu, tepatnya sampai Putussibau ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu. Belum ada data yang kuperoleh tentang besarnya peran atau kontribusi sungai tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat. Yang jelas, pastilah merupakan soko guru perekonomian atau lebih tepatnya sumber kehidupan bagi wilayah tersebut.

Pagi ini hampir seluruh kota Pontianak dan sekitarnya dipadati oleh arak-arakan kampanye dari salah satu Calon Gubernur Kalimantan Barat. Rencananya tanggal 15 November 2007 akan dilaksanakan Pilkada secara serentak di bumi Kalimantan Barat. (Yang di kemudian hari hasilnya sangat mengejutkan, karena analisis Merry ternyata benar. Calon No. Urut 4 memenangkan Pilkada di 8 Kabupaten, sementara saingan-saingannya hanya menang di 3 dan 1 Kabupaten. Padahal yang sangat dijagokan, terutama oleh para petinggi partai di Jakarta, adalah calon dengan nomor urut 1, yaitu incumbent, dan penantangnya, calon nomor urut 2, yang popularitasnya tidak diragukan lagi. Sehingga pemeo yang mengatakan jika dua gajah bertarung, maka pelanduk akan mati di tengah, tidak berlaku di Bumi Kalimantan Barat. Karena ketika dua gajah bertarung, ternyata si pelanduk malah jaya, dengan menangguk kemenangan yang luar biasa. Mungkin karena si pelanduk piawai dalam meloncat-loncat atau berkelit.. Atau karena beruntung? Atau di tengah gajah yang sedang bertarung itu bukan pelanduk, tapi binatang lainnya yang lebih cerdas? Atau yang bertarung bukan dua gajah? Entahlah! Faktanya yang menang adalah si kuda hitam, bukan seeded-candidate.

Sejak hari pertamaku mengelilingi Kalimantan Barat ini tidak banyak yang dapat kuceritakan. Semuanya dipenuhi oleh aktifitas penelitian dan survey detail tentang kondisi fisik lapangan, yang berkaitan dengan pelaksanaan Proyek PLTU Pontianak. Juga berbagai kunjungan ke institusi-institusi yang terkait. Semuanya terlalu rinci, khususnya yang berkaitan dengan detail Engineering and Construction, sehingga pastilah tidak akan menarik bagi anggota milis. Dan semuanya itu berlangsung selama beberapa hari, yang dimulai dari jam 6 pagi sampai jam 10 malam tiap harinya. Oleh karena itulah untuk yang satu ini aku tidak akan bercerita banyak, biarlah untuk konsumsiku sendiri saja.

Selama beberapa hari, semua tanggung jawab yang harus kuselesaikan nampaknya tidak ada yang terlalu berat membebaniku, kecuali satu hal, yaitu tentang perencanaan soil solidification untuk luasan rawa gambut yang tingkat daya dukung tanahnya sangat kecil, sampai kedalaman tiga puluh lima meter. Maklum lokasi proyek di Wajok Hilir, sekitar 16 kilometer arah utara dari kota Pontianak, terletak dekat sekali dengan muara Sungai Kapuas. Muara sungai biasanya selalu dipenuhi sedimen yang sangat lembek, dengan tingkat kelembutan butiran tanah mendekati dimensi colloid. Sangat berbeda dengan kondisi tanah untuk PLTU di Jawa, yang rata-rata memiliki tingkat daya dukung tanah yang tinggi. Seperti di Paiton dan Rembang yang tanah dasarnya limestone atau karang, atau Suralaya yang tanah dasarnya clayly sand atau silty sand. Tanah gambut biasanya mengandung banyak kandungan bahan organik, bukan oksida-oksida silika dan alumina seperti di Jawa, yang akan dengan mudahnya bereaksi dengan oksida calsium.

Apakah akan dilakukan pendekatan seperti Proyek Perluasan Bandara Juanda yang baru saja selesai dengan Calcium-based treatment? Aku belum yakin, karena jenis tanahnya berbeda. Belum lagi kalau bicara masalah biaya. Maklum untuk mendatangkan calcium dengan kadar kemurnian lebih dari 85% harus didatangkan dari Jawa, pastilah menelan biaya yang besar sekali. Belum lagi beberapa equipment khusus yang harus dipesan, yang harganya sangat mahal. Ya, bagaimana lagi, PLTU memang kebanyakan harus berdiri di tepi laut, atau tepi sungai yang besar. Yang untuk lokasi Kalimantan harus berhadapan dengan tanah rawa gambut yang ganas. Aku harus segera mengambil kesimpulan untuk dijadikan keputusan, karena harus segera kupresentasikan. Yang pasti, apakah akan dilakukan solidification berbasis kimia atau fisik-mekanik, yang paling menentukan nanti adalah cost-nya. Rasanya lebih enjoy mengatasi masalah-masalah manajemen daripada masalah-masalah detail design dari suatu proses engineering. Salah sendiri, kenapa menekuni kedua-duanya. Maunya sih berusaha perfect di segala bidang…supaya layak untuk dapat disebut multi-spesialis, yang tahu banyak dan detail, bukan generalis, yang tahu banyak namun sepotong-sepotong. Namun semuanya berpulang pada kapasitas otak, kan? Mau menjadi spesialis, generalis, atau multi-spesialis, semuanya tergantung kemauan hati, kecocokan nurani, kemampuan benak, kemantapan jiwa, dan kesiapan raga. Juga tergantung dari tujuan hidupnya. (Eh,…malah ngelantur!!!). Yang pasti adalah harus ada ridho dariNya, dan ada manfaatnya bagi kehidupan.

(Setelah waktu berlalu selama beberapa hari, tidak terasa keberadaanku di Kalimantan Barat sudah mendekati saat-saat akhir).

Pagi itu aku merencanakan untuk pergi mencari oleh-oleh atau cindera mata yang benar-benar khas Kalimantan Barat, karena esok hari aku harus kembali ke Surabaya. Karena tinggal satu malam di Bumi Khatulistiwa, maka malam itu aku merencanakan untuk bermalam di Singkawang yang berjarak 145 kilometer arah utara Pontianak. Besok pagi dari Singkawang langsung ke Airport, karena aku mengambil flight jam 14.00 WIB. Hanya saja rencanaku untuk pergi ke Kuching, Serawak, terpaksa aku tunda untuk kesempatan berikutnya. Padahal ketika berangkat, itulah yang menjadi trip favoritku.

Aku harus memenuhi pemeo kedua dan ketiga, yaitu pergi ke Monumen Tugu Khatulistiwa dan ke Singkawang, supaya benar-benar dianggap sudah pernah sampai di Kalimantan Barat (baca lagi seri satu serial tulisan ini).

Sebagai propinsi yang sering disebut Propinsi Seribu Sungai yang selalu mempromosikan lidah buaya, oleh-oleh yang khas adalah segala jenis makanan berbahan baku lidah buaya. Aku memborong sirup lidah buaya, manisan lidah buaya, dodol lidah buaya, teh lidah buaya, dan lain-lain. Tentu saja tidak ketinggalan lempok durian, yang sampai dengan saat ini masih tetap sebagai makanan favoritku selama dua puluh tahun terakhir ini. Semuanya dapat aku peroleh di Central Business District (Pusat Kota), di Jalan Sisingamangaraja, tepat dekat pertigaan yang berpotongan dengan Jalan Patimura. Sementara souvenir juga dapat kuperoleh di dekatnya. Souvenir berupa kerajinan tangan suku Dayak seperti mandau, perisai Dayak, songket Dayak, bulu burung enggang, manik-manik,dan lain-lain. Yang rasanya beda dengan kawasan Kalimantan yang lain, di Pontianak ada satu souvenir berupa miniatur Tugu Khatulistiwa dengan warna-warni lampu yang indah.

Karena pagi itu aku menginap di Hotel Kapuas (maklum, seperti aku sampaikan sebelumnya, selama beberapa malam di Pontianak aku harus menikmati pelayanan beberapa hotel sekaligus, sekalian survey tingkat keamanan dan kenyamanan hotel. Sehingga tiap malam selalu berpindah hotel). Hotel Kapuas memang lumayan nyaman, namun terlalu sibuk dengan aneka program entertainment. Rate-nya cukup murah untuk ukuran hotel berbintang tiga.

Untuk berbelanja menuju pusat kota, aku tinggal lurus melewati Jalan Gajah Mada, yang setelah memotong perempatan dilanjutkan ke Jalan Patimura, sampai memotong Jalan Sisingamangaraja.

Sengaja kendaraan sewa kali ini aku tinggal di hotel. Aku mencoba untuk menyelami kehidupan masyarakatnya dengan memakai angkutan kota. Wah, ternyata beda sekali dengan angkutan kota di Surabaya. Pengemudinya sangat ramah, sopan, tidak terburu-buru, dan disiplin dalam berlalu lintas. Nampaknya polisi tidak perlu bekerja keras menilang angkutan kota yang melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Yang lebih menyenangkan lagi, penumpang yang menggunakan jasa angkutan umum-kota adalah amoy-amoy Pontianak yang cantik-cantik dengan kulit putih-mulus, yang terpelajar, yang hampir semuanya ramah dan menawan dan indah dipandang mata, yang berbicara satu sama lain dengan Bahasa Khek (Hakka) dialek Pontianak, yang sedikit berbeda dengan Khek Singkawang. Khek Pontianak terdengar di telinga lebih tidak ada dengungnya, seperti halnya Khek Singkawang. Apalagi jika dibandingkan dengan Khek Bangka-Belitung. Suku Hakka atau yang berbahasa Khek, di tanah aslinya di China Daratan merupakan suku minoritas. Di Indonesia hanya ada di Kalimantan Barat, dan Bangka-Belitung. (Artis Sandra Dewi adalah contohnya).

Kondisi ini jelas berbeda dengan angkutan umum di Surabaya. Mana ada gadis dari etnis Tionghoa yang mau naik angkutan kota. Tentu saja hal itu adalah karena perbedaan tingkat keamanan dan kenyamanan yang dirasakan amat timpang antara kedua kota tersebut.

Rasanya mirip dengan angkutan kota di Bandung yang isinya mahasiswi-mahasiswi yang cantik-cantik juga. Hanya saja tingkat keamanan, kenyamanan dan disiplin berlalu lintas masih kalah jauh jika dibandingkan dengan yang ada di Pontianak.

Karena tidak membawa kendaraan sewa yang sewanya Rp 300.000,- per hari di luar biaya sopir dan BBM, maka pulangnya aku terpaksa naik becak, karena beban bawaan yang sangat menyengsarakan punggung. Dari Pusat Perbelanjaan sampai kembali ke hotel ditarik biaya Rp 10.000,- sementara angkutan kota tarifnya Rp 2.000,- sekali jalan. Lengkaplah sudah aku menyelami kehidupan warga Pontianak kali ini. Sementara kehidupan malamnya yang sangat variatif, aku nyatakan off the record. Aku tidak akan menceritakannya, meskipun aku tahu secara dalam.

Chek out dari Hotel Kapuas jam 11.00 siang, untuk kemudian menuju Singkawang, yang biasanya jika harus ditempuh secara langsung akan memakan waktu 3 jam.

Di Siantan, yang berjarak lebih kurang 5 kilometer dari pusat kota Pontianak, aku mampir ke Monumen Tugu Khatulistiwa. Di dalam monumen yang terletak di bawah Tugu Khatulistiwa, tersaji berbagai macam informasi yang berkaitan dengan data-data sejarah Tugu, data geografis bola dunia, foto-foto aktifitas seni suku Dayak, dan lain-lain (mirip situasinya dengan Monas, Jakarta, yang di bawahnya terdapat diorama dan aneka informasi tentang sejarah bangsa Indonesia). Aku sempat berfoto di dalam dan di luar monumen. Juga aku mendapatkan sertifikat pelintasan Khatulistiwa yang ditandatangani oleh Walikota Pontianak. Suatu upaya di bidang pariwisata yang sangat inovatif. Ada rasa aneh di sini, yang membuat perasaan seperti terbuai. Padahal beberapa kali aku melintasi garis Khatulistiwa, namun tidak pernah aku merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan di Pontianak. Kalau ke Bontang dari Samarinda, atau ke Sipirok dari Bukittinggi, atau ke Ternate dari Ambon, atau berada di kepulauan Raja Ampat di Papua Barat, pasti melewati garis Khatulistiwa, namun perasaanku biasa-biasa saja. Itulah pesona Tugu Khatulistiwa di Pontianak.

Beruntunglah Indonesia, karena merupakan satu-satunya negara di Asia yang dilalui Garis Khatulistiwa. Di dunia ini hanya ada sepuluh negara yang dilaluinya. Tiga di Amerika Selatan, yaitu Brazil, Columbia dan Equador. Enam di Afrika, yaitu Somalia, Kenya, Uganda, Zaire, Congo, dan Gabon.

Yang pasti pemeo kedua sudah aku tunaikan. Tinggal pemeo ketiga, yaitu mengunjungi Singkawang. Tentu saja aku akan berusaha memenuhi harapan Merry untuk memenuhi undangannya. Sejak berpisah dengannya di pagi hari lima hari yang lalu di ground floor Hotel Santika, aku tidak tahu beritanya. Aku sama sekali tidak sempat menghubunginya karena kesibukanku. Dalam benakku terbayang betapa indahnya menyusuri pantai dengan meninggalkan jejak-jejak kaki di putihnya pasir diiringi senyumnya yang ranum dan celotehnya yang lincah, serta menapaki pegunungan atau memelototi kehidupan kota Singkawang bersamanya. Singkawang memang terletak di lereng gunung sekaligus di tepi pantai yang indah. Seindah pantai di Honolulu, Hawaii. Terlebih-lebih jika disaksikan waktu sunset.

Aku lebih suka menyebut si cantik Merry sebagai guide, untuk tidak terlalu naif dengan menyebutnya sebagai lady escort. Aku ingin menikmati makan malam bersama dengannya di Pasar Hong Kong, salah satu pusat wisata kuliner di Jalan Bawal. Juga aku ingin tahu kenapa sampai ada istilah Kopi Pangku.

Singkawang, Kota Amoy, kota seribu kelenteng, kota seribu kuil, San Kheu Jong, San Kew Jong, atau seribu nama lainnya, telah menantiku 145 km di sebelah utara Pontianak. Merry, telah mengingatkanku pada satu baris laguku yang kutulis ketika mahasiswa dulu : There’s nothing as beautiful as the days I spent with you. Aku belum tahu terjemahannya dalam Bahasa Khek Singkawang, namun aku berharap dia dapat menterjemahkannya untukku. Truly Inspiring!!!

(BERSAMBUNG)

Ratmaya Urip

ooOoo

CATATAN RINGAN DARI KOTA AMOY, SINGKAWANG

Oleh: Ratmaya Urip

= = = = = = = = = = =

BAGIAN 4

Selepas Tugu Khatulistiwa, atau ketika mulai memasuki garis lintang utara, aku susuri jalan yang meskipun tidak begitu lebar seperti jalan di Jawa, namun cukup mulus untuk membuat perjalananku menjadi nyaman. Apalagi tingkat kepadatan lalu lintas sangat rendah. Aku hanya sesekali saja berpapasan atau disalip oleh kendaraan lain. Meskipun demikian aku memilih untuk mengemudi secara safe, dengan kecepatan rata-rata 60 sampai 70 km/jam. Hal tersebut aku lakukan sambil menikmati indahnya panorama di kiri kanan jalan, yang dipenuhi oleh perkebunan kelapa ataupun perkebunan pisang yang luas, di samping tumbuhan pantai lainnya seperti mangrove dan nipah. Menurut beberapa teman, jika lebih ke pedalaman kita dapat menikmati indahnya perkebunan kelapa sawit maupun perkebunan karet.

Sesekali aku lihat rumah-rumah panggung di tepi jalan, dengan petunjuk khusus yang ada di bagian depan rumah, yang mengindikasikan bahwa rumah-rumah tersebut milik saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa, khususnya suku Hakka yang berbahasa Khek, bukan Mandarin, atau Cantonese. Sesekali aku lihat amoy-amoy bercengkerama di depan rumah panggung mereka yang sederhana, sementara orang tua mereka berkebun, bertani, mencari ikan, dan melakukan aktifitas harian lainnya, seperti halnya aktifitas warga miskin di Jawa. Itu masih di Pontianak, belum memasuki kawasan Kabupaten Bengkayang, apalagi masuk Singkawang.

Sesekali aku berpapasan dengan bus-bus dari Sambas via Singkawang, ataupun dari Kuching, Sarawak, Malaysia. Jarak Pontianak-Sambas sekitar 225 kilometer, sementara jarak Pontianak-Kuching sekitar 415 kilometer, dengan rincian, Pontianak-Entikong (perbatasan) 315 kilometer dan Entikong-Kuching sekitar 100 kilometer, yang biasanya ditempuh dengan bus selama 7 sampai 8 jam. Jarak Pontianak ke Kuching adalah jarak yang sama dengan jarak Surabaya-Tegal, atau Jakarta-Tegal, Tuban-Banyuwangi, atau Surabaya-Purworejo via Yogyakarta, atau Surabaya-Denpasar jika jarak dan waktu penyeberangan antara Ketapang-Gilimanuk diabaikan

Ada yang membuat benakku bekerja, ketika sebuah bus dari arah Kuching di sisi kanan bus tertulis sederet kata : BUS ANTARNEGARA. Ini dia, mungkin ini satu-satunya trayek bus di Indonesia yang mengambil jalur ANTARNEGARA. Di Kalimantan Timur rasanya aku belum pernah melihatnya. Seluruh kawasan Indonesia tidak ada bus ANTARNEGARA, selain di Kalimantan Barat.

Juga jika di bagian lain dari wilayah Indonesia ada trayek bus ANTAR KOTA ANTAR PROPINSI, di Kalimantan Barat sama sekali tidak ada lintas tersebut, karena Kalimantan Barat sangat terisolir dalam transportasi jalan raya dengan propinsi-propinsi lain di Pulau Kalimantan. Sehingga tidak mungkin ada trayek antarpropinsi. Trayek dalam propinsi saja sangat kesulitan. Ini adalah fakta. Jalan Trans Kalimantan belum menyentuh wilayah tersebut. Seandainya aku diijinkan untuk berandai-andai, maka aku lebih suka mengandaikan seluruh Pulau Kalimantan, atau bahkan kawasan Indonesia Timur, sudah memiliki infrastruktur yang memadai, sehingga dapat memacu aktifitas ekonominya untuk menjadi lebih bergairah. Tapi mengingat kajian antropologisnya, nampaknya hal itu sulit terlaksana. Kenapa demikian? (Silakan baca tulisan saya yang berjudul : Kontribusi Antropologi Ekonomi-Bisnis dalam Peningkatan Kemampuan Bersaing)

Sekedar bocoran untuk tulisan saya perihal topik tersebut di atas, maka perlu sedikit saya sampaikan hal-hal sebagai berikut :

Kenapa Amerika Serikat, Jepang, Eropa Barat, dan China dapat begitu maju, dengan kemampuan bersaing yang tinggi?

Orang sering lupa, bahwa Amerika Serikat dipenuhi dan dibentuk oleh imigran-imigran Irish, Jews, Scottish, Bavarian, Sicilian, Spanish-Basque, yang di tempat asalnya dulu, sangat menderita secara ekonomi. Irish terpaksa pergi dari Ireland menuju tanah baru di Amerika karena kelaparan, penyakit, panen yang gagal, dan sebagainya. Sementara Scottish meninggalkan Scotland karena tanahnya yang gersang berbukit-bukit, tidak bisa ditanami, sehingga mereka yang kelaparan juga menuju tanah baru di Amerika. Bavarian yang berasal dari Bavaria yang terletak di Jerman Selatan demikian juga. Sementara Jews terlunta-lunta karena ketika itu tidak mempunyai negara dan benar-benar stateless, pokoknya sangat teraniaya. Itulah yang kemudian menyebabkan dorongan kuat untuk survive di tanah baru. Kondisi lingkungan fisik yang serba penuh tantangan di tempat asal, secara evolusioner membentuk sikap dan perilaku suatu etnis untuk menuju suatu stereotip tertentu. Mereka kemudian mempunyai etos kerja yang sangat positip. Yang pasti mereka sudah kebal terhadap suatu penderitaan. Ketika mereka menjumpai tanah baru dengan sumber daya alam yang melimpah, yang amat sangat berbeda dengan tanah leluhurnya, mereka menjadi terlalu bergairah dan bernafsu untuk segera menghempaskan penderitaannya. Mereka kemudian haus untuk menjadi pioner, untuk menjadi pemenang terhadap penderitaan, untuk selalu menang jika harus bersaing, dan sebagainya.

Tentang Jepang, Eropa Barat, dan China, lain lagi tantangannya. Semua tantangan itu akan aku kupas di tulisan berikutnya (tentu saja jika sempat… he…he…he…!)

Yang pasti ada 5 model kemampuan bersaing (competitiveness) berbasis kajian antropologi ekonomi-bisnisnya, yaitu model Amerika Serikat, model Eropa Barat, model Jepang, model China, dan model lainnya (termasuk India). Model kemampuan bersaing Indonesia belum pernah ada, he…he…he…! Tapi optimis sajalah, pasti ada jalan untuk itu. Asal………!? (baca serial tulisan dengan judul berbeda berikutnya!).

Yang pasti, 5 model kemampuan bersaing di atas, sangat berbeda jika disandingkan dengan stereotip orang-orang Indonesia yang malas, suka jalan pintas, suka pamer kekayaan, cengeng, suka menimbun kekayaan sampai tujuh turunan, dan sederetan sifat-sifat antropologis yang negatip lainnya (meskipun banyak pula sifat-sifat positipnya), yang menyebabkan kita tidak pernah dapat maju atau memenangkan persaingan (ini otokritik, lho!). Aku selalu berpendapat, bahwa penyebabnya adalah karena selama ini kita tidak pernah ada tantangan. Kita terlalu terninabobokan oleh jargon-jargon gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, bukan lautan hanya kolam susu, negara zamrud khatulistiwa, alon-alon waton kelakon, biar lambat asal selamat, dan jargon-jargon lain yang menyebabkan kita malas, cengeng, dan tidak mau mengambil resiko meski kecil sekalipun. Apakah jargonnya yang salah atau cara kita menerjemahkan jargonnya yang salah? Atau jargon memang ada batas waktunya, dalam arti jargon-jargon tersebut memang cocok pada masa lalu, namun tidak cocok lagi di masa sekarang dan akan datang?

Juga sejak awal kita selalu dicekoki dengan kepentingan-kepentingan politik penguasa, yang homogen, yang menyebabkan kreatifitas menjadi mandul. Semoga dengan krisis ekonomi yang belum pernah selesai saat ini, kita dapat berubah! Dan itu menjadi shock-therapy untuk dapat menemukan cara terbaik dalam memenangkan persaingan, untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Semoga saja keterpurukan negara dan bangsa ini bukan karena ada kencan buta dengan takdir. Amin!

Mendekati km 45 atau memasuki kawasan Sungaipinyuh, kawasan rawa gambut dengan deretan pepohonan mangrove, nipah, perkebunan kelapa, dan pisang, serta deretan rumah-rumah panggung sederhana, yang semula selalu mengawal perjalananku di sisi kanan dan kiri jalan, mulai berubah menjadi kawasan dengan tanah yang lebih keras dengan jenis clay, atau pasir berlempung (clayly sand). Beberapa bukit kecil yang terbentuk oleh batuan beku andesit, yang nampak subur dengan rimbunnya vegetasi yang berbeda dengan kawasan sebelumnya, nampak memperindah pemandangan.

Situasinya memang sangat kontras. Perlu diketahui, bahwa secara geologis, kawasan Sungaipinyuh memang kawasan akhir dari tanah rawa gambut yang menghampar mulai ujung selatan Kalimantan Barat, atau tepatnya mulai Kabupaten Ketapang. Dengan kata lain, di sebelah selatan Sungaipinyuh adalah kawasan rawa gambut dengan vegetasi mangrove, nipah, kelapa, pisang, dan tanaman hutan hujan tropis lainnya, sehingga kandungan tanahnya dipenuhi dengan bahan-bahan organik. Sementara di sebelah utara Sungaipinyuh didominasi oleh tanah non-organik, dengan kandungan dominan adalah silika, dan alumina, yang penuh ditumbuhi vegetasi tanaman holtikultura, meskipun perkebunan kelapa masih sangat mendominasi, di samping tanaman jeruk. Kelapa memang tanaman yang dapat tumbuh di aneka tanah.

Di kilometer lima puluh, atau memasuki wilayah keramaian kota kecamatan Sungaipinyuh yang pusat kotanya ada di persimpangan jalan berupa pertigaan. Jika lurus atau tetap ke arah utara, kita menuju ke Mempawah, ibukota Kabupaten Pontianak (bukan Kota Pontianak), kemudian ke Singkawang dan terus ke Sambas. Jika ke kanan atau ke timur, kita menuju Ngabang, Sekadau, Sintang, terus ke Putussibau atau ke selatan ke Nangapinoh. Jika ingin ke Kuching, Sarawak atau Brunei Darussalam, maka setelah Ngabang dan sehabis melewati kota kecamatan Sosok di Kabupaten Sanggau maka kita harus belok ke kiri atau ke utara menuju perbatasan Sarawak, Malaysia. Pos perbatasan di wilayah Indonesia adalah Entikong, sementara pos perbatasan Malaysia adalah Tebedu. Di samping itu jika memang ingin berwisata secara komplit, setelah mengunjungi Kuching dan Brunei Darussalam, aku sarankan untuk terus ke Sandakan atau Kota Kinabalu di negara bagian Sabah. Pulangnya lewat Tawao dan Tarakan, Kalimantan Timur.

Karena aku memang mau ke Singkawang, maka setelah sampai Sungaipinyuh aku meneruskan perjalananku ke arah Mempawah ibukota Kabupaten Pontianak, atau terus ke arah utara. Jarak yang aku tempuh masih 95 kilometer lagi.

Oh, ya…sebelum lupa, tadi ketika sampai di kilometer 30 atau tepatnya di Sei Burung, desa Peniti Luar, aku sempat istirahat makan siang, meski terlambat, sekaligus sholat dhuhur dan ashar, dengan di-jamak dan di-qasar. Di tempat tersebut ada tempat untuk berwisata kuliner, karena ada semacam rumah makan yang bernama Pondok Pengkang dan Kepah.

Pengkang, adalah makanan dari ketan yang dimasak dengan dijepit bambu, kemudian dibakar. Cara makannya adalah dengan diberi tambahan saus sambal khusus. Sementara Kepah adalah sejenis kerang yang besar. Karena memang kelaparan, maka semuanya menjadi begitu lezat. Apalagi ditambah kepiting, yang semuanya memang banyak ditangkap oleh nelayan Tionghoa yang merajai pesisir Pontianak, Bengkayang, Singkawang dan Sambas.

Kota Mempawah, ibukota Kabupaten Pontianak yang berjarak 67 km dari Pontianak atau 78 km menuju Singkawang nampak sepi, apalagi hujan mulai turun. Ketika aku berkeliling kota untuk menambah premium, ternyata tidak ada satupun stasiun pengisian BBM ada di kota Kabupaten tersebut. (Tips untuk yang akan ke Singkawang : Sebaiknya kondisi tangki bahan bakar selalu penuh, karena stasiun pengisian bahan bakar antara Sungaipinyuh sampai Singkawang yang berjarak hampir seratus kilometer, jumlahnya terbatas, itupun kalau malam tutup). Aku akhirnya menambah premium dengan membeli secara eceran dari sejumlah pengecer yang memang banyak jumlahnya di Mempawah.

Selepas Mempawah, pemandangan yang indah berupa pantai pasir putih sudah menunggu. Pasir putih yang menghampar di tepian Selat Karimata, ujung selatan dari Laut China Selatan. Bibir pantai hanya berjarak sekitar tiga puluh meter dari sisi kiri jalan. Pantai dengan rimbunnya kebun kelapa dan jeruk. Di bibir pantai, kalau tidak salah mulai dari Sungaikunyit, sampai belasan kilometer, nampak breakwater yang terbuat dari beton melindungi pantai (atau melindungi jalan?) dari ancaman gempuran ombak. Breakwater tersusun dari kubus-kubus beton yang ditumpuk secara memanjang yang panjangnya aku tidak tahu persis. Yang pasti sangat panjang, karena baru berakhir setelah aku mulai masuk wilayah Singkawang.

Memasuki kawasan gunung kecil yang indah dengan Agrowisata Pantai Gosong di kilometer 114 dari Pontianak, yang secara administratip masuk Kecamatan Sei Raya Kepulauan, yang kemudian dilanjutkan dengan kawasan Wisata Pantai Batu Payung di kilometer 116, aku merasakan ada sesuatu yang aneh, karena aku merasa tidak berada di Indonesia. Rumah-rumah dengan arsitektur China dan sejumlah kelenteng nampak berjajar di pinggir jalan. Rasanya aku seperti berada di suatu negeri asing, tepatnya suatu wilayah pedesaan di Anhui, Hebei, Hunan, Shanxi atau Jiangxi, atau di tepian Danau Mulan di pedalaman China. Oh…betapa kaya dan indahnya negeriku.

Pemandangan tersebut berlanjut terus ketika memasuki kawasan wisata lainnya yang dikenal dengan sebutan Pantai Pasir Panjang (kilometer 132), pantai dengan latar belakang gunung yang indah pula.

Yang sempat menjadi tanda tanya bagiku adalah banyaknya perkebunan jeruk (di samping kelapa), sejak dari Mempawah tadi. Jeruk-jeruk yang kemudian dikenal sebagai Jeruk Pontianak itu konon memang berasal dari daerah tersebut di samping dari Sambas. Sehingga sebenarnya pemberian nama Jeruk Pontianak tidaklah tepat, karena asalnya dari Bengkayang, Singkawang dan Sambas. Seperti fenomena pemberian nama Restoran atau Rumah Makan Padang di seluruh Indonesia, meski sebenarnya, banyak di antara pengelolanya yang berasal dari Payakumbuh, Bukit Tinggi, Agam, Lima Puluh Koto, dan lain-lain, bukan hanya yang berasal dari Padang. Rasanya hanya ada di kota Bandung sajalah selama ini yang dapat aku lihat, adanya Rumah Makan Bukittinggi, Rumah Makan Singkarak, Rumah Makan Sawahlunto, dan penamaan lainnya yang bukan menggunakan nama Rumah Makan Padang. Di Bandung, nampaknya sentimen wilayah agak tinggi ekspresinya.

ooOoo

Memasuki perbatasan kota Singkawang ada degup yang aneh yang tiba-tiba saja muncul di dada. Ya, karena untuk waktu yang tidak terlalu lama aku akan berjumpa dengan Merry. Ada perasaan senang, karena akhirnya aku memasuki gerbang kota yang selama ini hanya aku kenal di media. Kali ini aku benar-benar berada di Singkawang, truly Singkawang. Kota terbesar kedua di Kalimantan Barat setelah Pontianak. Amazing! The famous city with full fascinating Chinese ladies, exciting beach and interesting night life.

Jam empat lebih lima belas menit ketika itu. Yang penting aku harus cari hotel dulu, baru nanti menelepon Merry dari hotel. Malamnya bisa jalan-jalan di pantai atau makan malam di Pasar Hong Kong.

Memasuki mulut Jalan Diponegoro, tepat di sudut pertigaan, kami masuki hotel terbesar di Singkawang. Hotel Mahkota. Hotel yang indah dan asri, dengan arsitektur tradisional yang memukau. Meskipun aku akhirnya harus memendam rasa kecewa, karena ternyata seluruh kamar sudah full booked.

Ternyata sudah beberapa hari ini kota Singkawang menjadi ajang pertarungan antarkandidat Gubernur Kalimantan Barat dan juga antarkandidat Walikota Singkawang. Ada perhelatan akbar kampanye Pemilihan Gubernur dan sekaligus juga pemilihan Walikota. Maka tentu saja seluruh hotel di Singkawang penuh dengan para petinggi-petinggi partai dan para pendukungnya. Apalagi Hotel Mahkota adalah milik salah satu kandidat Gubernur, dalam hal ini kandidat nomor urut 2.

Hampir 3 jam aku menyusuri kota, dengan keluar masuk hotel, mulai dari hotel yang berbintang sampai hotel klas melati, namun upayaku untuk mendapatkan kamar sia-sia saja. Benar-benar situasi yang sangat tidak terduga, dan tidak aku bayangkan sebelumnya. Sebenarnya sih kalau sebelumnya ketika masih di Pontianak aku reserve dulu, mungkin masih ada kamar.

Aku akhirnya mencoba menghubungi Merry ke ponselnya. Setelah beberapa kali aku coba kontak, ternyata kesialan kedua menimpaku, ponselnya tidak aktif. Sayang ketika bertemu di Pontianak beberapa hari yang lalu aku tidak sempat meminta alamatnya, dan atau nomor telepon rumahnya di Singkawang. Aku pikir dengan mengetahui nomor ponsel-nya sudah cukup. Dan, kecewa itu kemudian dengan pekatnya menghantam dada (Di kemudian hari aku mendapatkan informasi darinya, bahwa waktu itu dia sedang berada di Sambas, mengunjungi salah satu kerabatnya untuk beberapa hari).

Tentu saja tanpa hotel untuk beristirahat, sulit bagiku untuk tetap berada di Singkawang.Waktu itu jam sudah menunjukkan angka tujuh lewat empat puluh lima menit. Punah sudah harapanku untuk menikmati kehidupan malam di Singkawang, meskipun hanya sekedar menyaksikan saja, just window shopping not truly shopping or real buying. Pastilah tak akan aku lihat amoy-amoy yang konon cantik-cantik. Juga hilanglah rencana investigasiku tentang kopi pangku, yang konon ceritanya tentang kenikmatan surgawi yang fana, di legamnya kopi sekaligus dalam putihnya pangkuan amoy. Meskipun aku tidak percaya, karena di benakku terprovokasi penampilan Merry yang anggun, santun, smart dan menawan. Juga tentang Pasar Hong Kong, kehidupan kuliner waktu malam yang konon mirip dengan suasana di Hong Kong. Tentu saja aku tidak dapat menyalahkan rangkaian acara kampanye yang silih berganti untuk pemilihan Gubernur dan Walikota, yang telah membuat seluruh hotel di Singkawang penuh, sehingga aku menjadi telantar. Yang muncul kemudian adalah penyesalan, kenapa mengabaikan ajakan Merry untuk pergi ke Singkawang bersamanya beberapa waktu yang lalu.

Malam itu akhirnya aku kembali ke Pontianak tepat jam delapan malam. Dalam kekecewaan penuh yang terbit di bayang-bayang Gunung Pasi, Gunung Sakok, Gunung Poteng dan Laut Natuna/Selat Karimata, aku tinggalkan Singkawang, kota yang ketika menyebutnya saja sudah menimbulkan kesan eksotis dan romantis. Kota yang memiliki daya magnetis dan magis. Kota yang jika dibayangkan saja membuat sebagian lelaki mengernyitkan dahi dan memanjakan dukana maupun libidonya, meski imajiner. Sekurang-kurangnya aku sudah sampai di kotanya, yang itu berarti telah memenuhi pemeo ketiga, atau pemeo terakhir.

Tentang amoy, sekurang-kurangnya ketika aku sibuk mencari kamar hotel dengan menyusuri jalan-jalan kota Singkawang tadi, banyak aku peroleh informasi tentang amoy dari petugas hotel yang banyak di antaranya memberiku nomor ponselnya, namun aku pikir, apa peduliku. Dan lagi pula apa perlunya?

Tiba di Pontianak lagi sekitar jam 11 malam. Beruntung aku masih dapat kamar di Hotel Kapuas. Di lobby hotel nampaknya baru saja ada rombongan tiba dengan dua bus. Suatu kejutan bagiku, karena ternyata rombongan yang baru saja tiba adalah rombongan para pengelola Program Pascasarjana dari Universitas dan atau Perguruan Tinggi seluruh Indonesia. Ada beberapa yang aku kenal, di antaranya Prof. Dr. Yulilah dan Dr. Sekartejo dari Magister Manajemen Teknologi ITS. Juga dari UI, ITB, dan yang mengagetkanku adalah aku bertemu salah seorang pengurus AMA Lampung, yang juga kebetulan adalah pengelola Program Pascasarjana Universitas Lampung, Bapak Asep. (Bagi para anggota AMA Indonesia yang sempat menghadiri Munas AMA di Batam pasti tahu beliau, karena beliau adalah salah satu pimpinan sidang dalam Munas Batam yang lalu).

Ternyata rombongan tersebut baru datang dari studi banding di Intitut Teknologi MARA di Kuching, Serawak, Malaysia Timur.

Malam itu aku langsung istirahat malam, karena memang benar-benar capek luar biasa, setelah pergi pulang ke dan dari Singkawang, yang total jaraknya hampir tiga ratus kilometer. Mungkin rasa capek itu akan hilang dengan sendirinya, seandainya malam itu aku menyusuri keindahan kota Singkawang dengan segala ragam kehidupannya. Memang hanya secuil experience yang aku dapatkan, namun itu sudah cukup bagiku untuk mengambil kesimpulan, bahwa segala hal yang ditulis oleh media massa, blog-blog atau milis-milis tentang Singkawang, ternyata ada yang memang benar, namun juga ada yang kurang tepat.

Singkawang, kota legendaris yang akhirnya hanya sekejap aku dapat nikmati keindahannya. Di suatu saat nanti, aku akan kembali berada di kotamu untuk lebih bercengkerama dengan keindahanmu, keeksotisanmu, dan keromantisanmu. Karena julatan, lambaian, dan tarikan magnetismu masih tersimpan pekat di hatiku, untuk mendapatkan kembali pesonamu, untuk memenuhi rinduku.

Hanya secuil catatan ringan yang aku peroleh, namun itu sudah cukup bagiku untuk menjadi bekal bagi pengetahuanku tentangmu. Secara lembut, yang hampir mendekati samar-samar, kudengar dari langit-langit kamar hotel, lagu Cik-cik Periuk, lagu asli daerah Kalimantan mengalir lembut di telingaku. Ketika melodi lagu masuk ke bagian refreinnya yang mendayu-dayu, membuat angan dan jiwaku jadi terlena. Karena sekejap kemudian mengantarku menuju kantukku untuk menikmati lelapnya letihku. Yang pasti aku tidak mau kehilangan tidurku, apalagi harus berpisah dengan mimpi-mimpi indahku.

TAMAT

Ratmaya Urip

Sidoarjo, 9 Desember 2007jam 16.00 WIB

One Response to “Catatan Ringan dari Kota Amoy, Singkawang”

  1. wisata medan says:

    numpang lewat yaa… mau jalan-jalan ke medan? atau mau wisata kuliner di medan? jangan lupa mampir di blog http://www.indrahalim.com ya. Blog kuliner top kota medan. Situs yang lengkap reviewnya tuk resto or kedai yg menyediakan makanan enak di medan.