Minggu, 01 Februari 2009

LONDON COURT

LONDON  COURT

Oleh : Ratmaya Urip

Sengaja aku kali ini mengambil hotel di kota pelabuhan Fremantle, di tepian muara Swan River, tepat di tengah-tengah antara abutment dua jembatan utama yang melintang dengan kokoh dan gagahnya di atas Swan River. Jembatan yang sangat anggun, dan megah, karena strukturnya menggunakan sistem free cantilever berupa beton prategang segmental yang dirangkai dengan sistem post tensioned, dengan konstruksi long span bridge atau sering disebut sebagai jembatan dengan bentang sangat panjang. Aku duga masing-masing bentang kedua jembatan tersebut lebih dari dua ratus lima puluh meter. Yang pasti kedua jembatan dengan bentang yang sangat panjang itu memang secara artistik sangat indah, meski kesannya sangat langsing dan memberi kesan minimalis.

Hotelnya sendiri cantik, mungil, murah, dan berlantai empat. Hotel yang sangat feminin, menurutku! Interiornya sarat dengan budaya Aborigin. Dekorasinya dipenuhi dengan lukisan beraliran surrealisme, seperti lukisan Salvador Dali, hanya di sini lebih mengedepankan alam Australia, seperti Kangguru, Koala, dan lain-lain.

Swan River memang pantas untuk menjadi ikon kota Perth, Western Australia. Sungainya yang jernih, bersih dan berwarna biru, mengundang minat siapapun untuk menyentuh airnya. Begitu jernih dan bersihnya, sehingga tak nampak secuil sampahpun yang ada di permukaannya. Begitu biru, sehingga mengundang rasa damai dan tenteram bagi siapapun yang menatapnya. Sungai yang melegenda, yang eposnya sangat fantastis, dan akan aku tulis nanti, tentu saja jika sempat.

Sementara itu Perth, induk dari Fremantle adalah kota yang sangat indah, sensual, dengan iklim yang hampir sempurna. Sering dinamai sebagai Kota Cahaya, nama yang mencuat setelah penerbangan kapal ruang angkasa yang sangat legendaris dari seorang astronot Amerika Serikat John Glenn pada tahun 1962. Seperti telah diatur, seluruh penduduk Perth mengelu-elukan sang astronot dengan cara menyorotkan lampu-lampu ke langit gelap gulita, ketika sang astronot melintas di atas Perth pada ketinggian 241 km dalam pesawat Friendship.

Saat itu musim panas sedang berlangsung. Summer Festival baru saja usai. Yang amat sangat berat bagiku, adalah saat itu bulan Ramadhan. Bayangkan, pada jam setengah empat pagi fajar sudah merekah, sementara jam 9 malam, matahari baru saja tenggelam, sehingga puasaku jauh lebih panjang daripada puasa di negeri sendiri, maklum antara Sahur dengan Buka Puasa sangat panjang waktunya. Namun ibadah adalah ibadah dan itu wajib ditunaikan.

Pagi itu kebetulan aku tidak ada acara khusus. Hampir seluruh urusanku yang membuatku berada kembali di Perth sudah selesai. Urusan bisnis yang melelahkan. Maka ketika Bagas, seorang teman yang kebetulan sedang mengambil Ph.D di University of Western Australia mengajakku jalan-jalan ke Perth, dengan tanpa basa-basi aku menyetujuinya. Dari Fremantle ke Perth memakan waktu tidak sampai empat puluh lima menit, jika lewat freeway.

Sepanjang jalan kulihat banyak sekali pohon eucalyptus, pohon jarrah, dan pohon karri raksasa, yang tumbuh di pasir putih kekuning-kuningan, yang mengawal freeway sejauh mata memandang. Pasir kuarsa yang banyak mengandung silika oksida. Sesekali kulihat ada sejenis burung sebesar burung perkutut namun memiliki penampilan seperti burung beo, dengan warna-warni yang indah terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Luar biasa...entah burung apa namanya, aku belum pernah melihat sebelumnya.

Sayang sekali, musim semi telah lewat, sehingga sepanjang jalan jarang lagi ditemui bunga acre yang sedang bermekaran. Bunga dengan warna kuning atau merah kekuning-kuningan, bunga yang hanya dapat ditemukan di Australia, bunga liar yang menyebabkan Western Australia disebut sebagai Negara Bagian Bunga Liar.

Pagi itu sebenarnya Bagas ingin mengajakku ke Swan Valley, atau tepatnya ke Houghton Winery, suatu perkebunan anggur yang menurut hikayat adalah perkebunan anggur terbesar di Western Australia, dan salah satu perkebunan anggur yang terbaik di dunia. Karena aku tahu beberapa perkebunan anggur di dunia, menurutku sih setiap perkebunan anggur selalu membanggakan diri sebagai perkebunan terbesar dan terbaik di dunia. Perkebunan anggur di Australia sendiri, seperti perkebunan yang terhampar luas sepanjang sisi rel kereta api antara Brisbane dan Cairns, di negara bagian Queensland, yang nama perkebunannya aku lupa, serta perkebunan di perbukitan di luar kota Hobart, Tasmania, nampaknya juga tidak mau
kalah dengan kebanggaan tersebut. Namun bagiku, aku lebih menikmati perkebunan anggur di Cataluna, Spanyol, atau Verona, Italia serta sejumlah perkebunan anggur di Provence, Anjou, Rhone, Loire, Alsace, Champagne, Cognac, Armagnac, yang semuanya sangat indah di Perancis, atau kawasan anggur yang sangat luas di daerah pertanian di California. Maka ketika Bagas mengajakku ke Houghton Winery, aku tidak begitu berminat. (Catatan : Di kemudian hari aku lebih terkesan lagi pada keindahan kebun anggur yang indah yang aku lihat di film Walking in the Clouds yang dibintangi Keanu Reaves).

Kemudian Bagas juga menawarkan kepadaku untuk mengunjungi Coversham, suatu tempat wisata konservasi koala dan kangguru, namun aku pikir itu pastilah semacam dan sejenis dengan tempat konservasi orang utan di Tanjung Puting, Kalimantan. (Di kemudian hari baru aku kecewa kenapa aku tidak mengunjungi kedua tempat yang ditawarkan Bagas tersebut).

Memang meskipun aku sering ke Perth, dan bahkan sempat tinggal cukup lama, namun aku belum sempat mengunjungi tempat yang ditawarkan Bagas. Yang pasti, akhirnya aku memilih ke tempat favoritku, yang ibaratnya sudah seribu kali aku kunjungi, yaitu London Court, kawasan wisata belanja yang cukup legendaris di tengah kota Perth. Tempat aku pernah menghabiskan waktu, di samping King's Park bersama Kumiko Hasegawa.

Sepanjang perjalanan melewati freeway dari kota pelabuhan Fremantle sampai Perth, nampak lengang. Sebab Perth memang kota yang sangat konservatif di Australia. Kegiatan penduduk biasanya berhenti setelah jam 4 sore. Keramaian hanya sering dijumpai jika ada Festival, seperti Summer Festival, atau pertandingan bola Australia, semacam rugby di Amerika Serikat, cricket, konser-konser musik, Race Air, atau event semacam itu. Katanya sih, pernah ada Festival Mardi Grass, namun aku kurang yakin, sebab biasanya Mardi Grass hanya diadakan jika etnis Perancis-nya cukup banyak di suatu wilayah, seperti New Orleans, Loussiana, USA, atau Montreal, Quebec, Canada. Di Australia Barat, nampaknya penduduk keturunan Perancis tidak begitu banyak. Memang cukup heterogen, namun masih didominasi oleh Anglo Saxon, seperti Irish, Welsh, dan Scottish, ditambah Balkanese (khususnya Serbia dan Croatia), Arab, serta beberapa etnis Asia, di samping suku asli Aborigin.

Sesekali kami berpapasan dengan berbagai jenis kendaraan, yang dirajai oleh merk Ford dari berbagai type dan kelas. Sangat jarang aku jumpai mobil-mobil dari Jepang. Sementara Bagas sendiri menjemputku dengan Baby Benz, yang biasa dimiliki oleh warga Indonesia di Western Australia. Mungkin terbiasa dengan kehidupan di Indonesia yang menempatkan Baby Benz dalam posisi terhormat. Malah ada pemeo, jika di jalanan di Western Australia di jumpai Baby Benz atau BMW, pastilah itu milik orang Indonesia, sebab hampir sembilan puluh persen warga Australia Barat mengendarai Ford. Sangat mudah memang untuk memiliki Baby Benz atau BMW yang di tanah air termasuk jenis kendaraan yang berkelas tersebut, karena di Australia harganya hanya sepertiga atau seperempat harga di tanah air, jika di-kurs-kan dalam rupiah. Hal itu dimungkinkan karena sangat rendahnya bea masuk di Australia.

Mendekati London Court, atau tepatnya di kelokan Swan River yang sangat lebar, luas, indah membiru dan bersih, aku sempat melihat sekelompok Aborigin yang
berkulit gelap dengan rambut keriting, duduk-duduk santai di bawah sederetan pohon sejenis palm tua. Sementara anak-anak mereka bermain di lapangan yang menghampar luas dengan rumputnya yang hijau dan subur, meskipun saat-saat itu sedang berada di puncak musim panas.

Sekejap aku luangkan pandanganku ke kiri jauh, ke arah birunya bukit di jauh sana, tempat King's Park berada. Tempat yang selalu menghuni salah satu sudut hatiku, tempat aku selalu menikmati canda, tawa, tangis dan sendu seseorang di masa lampau. Seringkali aku ingat saat-saat aku berfoto bersama di samping meriam tua,
atau menatap kerlap-kerlip lampu kota Perth yang dilingkari Swan River, di waktu malam yang sepi. Itu memang sudah lama, namun sangat sulit menjadi lampau!

Kawasan wisata belanja London Court yang dibangun pada tahun 1937, berbentuk semacam cluster dengan sedikit gerbang masuk, dan dirancang khusus untuk pedestrian, atau lebih dikenal dengan retail walkway, yang terletak antara Hay Street dan St George's Terrace. Tidak ada high rise building di area ini, semuanya terbagi dalam blok-blok yang indah, bersih, dan tertata rapi dengan exterior design kelas dunia yang mempesona. Dengan aksitektur gaya Elizabethan yang sangat unik dan spesifik, yang merupakan kombinasi dari peruntukan bagi area residensial sekaligus komersial, London Court ingin mengangkat kembali simbol kesejahteraan para penambang emas di masa jayanya.

Di luar London Court dikelilingi banyak jalan satu arah, yang relatif sempit, dengan beberapa high rise building yang mengingatkanku pada Ginza di Tokyo atau Orchard Road, khususnya yang dekat dengan Takashimaya atau Lucky Plaza, Singapore. Hanya bedanya di Perth lebih sepi, mengingat seluruh penduduk Western Australia hanya berjumlah satu juta jiwa lebih sedikit. Padahal luasnya sama dengan luas beberapa negara Eropa dijadikan satu sekaligus, yaitu luas dari Perancis, Spanyol, Jerman, Italia, Norwegia, dan Swedia. Dari satu juta jiwa penduduk Western Australia, sekitar sembilan puluh persen mendiami Perth dan sekitarnya.

Selepas memarkirkan mobil di parking area, dan setelah berjalan melewati gerbang London Court aku sempat mampir ke post office kecil yang ada di sisi kiri koridor utama, yang tidak jauh dari gerbang. Aku membeli sejumlah postcard bergambar keindahan alam, fauna dan flora Western Australia, untuk dikirim ke beberapa kerabat dekat, sekaligus sebagai kartu lebaran, mengingat Idul Fitri tinggal sepuluh hari lagi. Dengan air-mail aku harapkan dapat sampai di Indonesia sebelum Lebaran tiba. Sebenarnya lebih tepat kalau aku kirim Kartu Lebaran seperti yang ada di Indonesia, yang ada gambar ketupatnya, dengan ucapan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin yang sudah tercetak langsung di kartunya, namun tentu saja tidak mungkin aku mendapatkannya di Perth. Maka aku memilih beberapa postcard bergambar dingo, emu, dan lyrebird, sebab kalau yang bergambar koala dan kanguru sudah terlalu umum, kelihatan generik atau klise, meskipun itu merupakan ikon Australia. Aku hanya ingin sesuatu yang lain, namun tetap dalam koridor Australia.

Dingo adalah sejenis binatang yang gagah dan kuat, yang biasanya berkulit cokelat dengan ekor bagaikan semak. Binatang yang mirip serigala namun bukan serigala. Emu adalah burung Australia yang terbesar, yang seperti halnya kasuari yang lebih kecil, tidak bisa terbang, tetapi kalau sudah berlari, kata orang kencangnya melebihi angin. Sementara lyrebird adalah burung beo yang terbesar di dunia, yang dikenal dapat bernyanyi dalam 40 jenis nyanyian yang berbeda dalam satu pergelaran. Sebenarnya aku menginginkan juga gambar semacam angsa hitam, yang aku tidak tahu nama binatang tersebut, namun stock-nya tinggal satu, yang tidak boleh dibeli karena untuk contoh atau iklan. Di samping itu aku juga membeli postcard bergambar anak-anak Aborigin yang sedang berburu kepiting, atau sedang melempar boomerang, senjata kebanggaan mereka. Juga ada yang bergambar grazier, peternak biri-biri, yang sedang menggembalakan biri-biri di prairie.

(Catatan : Waktu itu telepon seluler dan email belum populer. Salah satu sarana komunikasi yang tercepat adalah air-mail, tentu saja di samping telepon internasional)

Agak lama aku di post-office, karena sekitar dua puluh lima postcard yang aku kirim. Sebenarnya, lamanya waktu yang kuperlukan lebih banyak karena aku harus mengingat-ingat siapa saja yang harus kukirimi kartu lebaran, sampai-sampai Bagas meninggalkanku sendirian karena tidak sabar menungguku, meski sebelum berpisah sempat mengatakan padaku untuk bertemu lagi di Muzz Buzz langgananku dulu, tepat waktu lunch nanti, atau jam 12.00 siang waktu Western Australia (yang sama dengan Waktu Indonesia Tengah, seperti halnya waktu Singapore). Aku kangen pada the freshest premium espresso coffee, atau finest hot chocolate, mocca frappes, ice coffe granita, chocolate milano, hazelnut, Irish cream, English toffee dan raspberry.

"Are you Indonesian?" tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari samping kiri, ketika aku masih asyik menulis.

Seorang gadis bule berambut pirang sebahu, berwajah oval, menatapku dengan senyum penuh binar. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh centimeter, cukup langsing meski ada kesan padat berisi. Mungkin karena ketatnya celana jeans dan baju casual merah muda yang membelit tubuhnya, meskipun cukup untuk memberikan kesan cukup sportif padanya. Sepatu sport Puma warna coklat tua membalut kakinya dengan ketat, sementara senyum di wajahnya enggan beranjak untuk pergi. Kutaksir usianya sekitar dua puluh tiga tahun.

"There's something light in her eyes...!" gumamku dalam hati, setelah menatapnya sepintas.

"She's reminding me to someone who's coming to make my life so meaningful and colorful," lanjutku dalam hati.

"Kenalkan aku...Hillary,... Hillary O'Connell," sergapnya tiba-tiba yang sangat mengagetkanku, karena memperkenalkan diri, menawarkan tangannya untuk kujabat, dengan mempergunakan Bahasa Indonesia, dengan lafal yang fasih, meskipun logat Barat-nya masih cukup kenyal dan kental melumuri sapanya. Apakah hanya sepotong kalimat itu yang dikuasainya? Atau dari mana dia belajar, aku belum tahu jawabnya.

Marganya adalah O'Connell, itu fam Irish, fam yang sama dengan tokoh atau patriot Irlandia yang sangat dihormati, sehingga diabadikan sebagai nama jalan utama yang membelah kota Dublin, ibukota Irlandia. Meskipun aku tidak yakin dia pernah pergi ke tempat leluhurnya di Irlandia, aku mencoba untuk membalas keramahannya dengan keramahtamahan gaya Irlandia yang aku kenal :

"Cead mile failte" tukasku tiba-tiba, secara pelan dan sopan, sepotong ungkapan keramahtamahan Irlandia yang cukup terkenal itu. Aku mengatakannya tanpa beban, lepas, dengan senyum yang wajar tanpa dibuat-buat karena tokh dia memang sudah memulainya.

Dia nampak terkejut, mendengar ungkapan keakraban dari moyangnya tersebut. Ada apresiasi yang menyeruak, nampak dari sikapnya yang langsung lebih cair, sementara lelehan keceriaan memendarkan binar wajahnya yang memang sangat cantik tersebut.

Biasanya setelah ungkapan tersebut disampaikan, sebagai tata krama dan sesuai adat kebiasaan Irish yang berlaku, aku sebagai orang yang mengatakan ungkapan itu harus mengajaknya untuk menjamu makan dan minum, dan aku memang siap untuk mengajaknya, meskipun aku tidak ikut makan karena puasa Ramadhan. Rupanya dia tahu apa yang kupikirkan, dan itu berarti memang dia sangat menghargai ungkapan dari moyangnya itu, dan itu adalah bukti utama bahwa dia memang seorang gadis Irish tulen.

”Thank you...!” ucapnya kemudian, sambil memberi isyarat bahwa dia belum siap untuk memenuhi ajakanku untuk menjamunya. Padahal aku memang saat itu tidak mungkin mengajaknya makan siang, karena sedang puasa. sempat secara kilat, aku rencanakan untuk mengajaknya ke Muzz Buzz.

Aku memang cukup banyak mempelajari anthropologi, baik anthropologi dunia maupun Nusantara, anthropologi politik maupun ekonomi, anthropologi sosial maupun ragawi, termasuk tentang Irish. Etnis Irish memang dikenal dengan keramahtamahannya, beda dengan etnis lain yang ada di Britania Raya, seperti etnis English yang terkesan agak kaku, sehingga nampak sombong, angkuh, atau orang Jerman bilang uber alles, juga beda dengan Scottish yang dikenal sangat pendiam, selalu nampak serius, namun ulet dan gigih. Hanya etnis Cornwalish yang dikenal periang, yang agak menyamai sifat-sifat etnis Irish.

Aku tahu banyak hal tentang Irish. Tentang asal kata pub, kedai minum yang semula adalah tempat para petani kalangan bawah di pedesaan Irlandia melepaskan kepenatan dengan cara berkumpul sesamanya, yang kemudian ditiru golongan menengah ke atas dan kemudian mendunia, dan kini juga merambah Indonesia.

Oh, ya...jika aku ingat tentang pub ketika masih dalam nuansa aslinya di Ireland, aku ingat pada nuansa yang nyaris senada dengan fenomena yang ada di Tuban, Jawa Timur. Di Tuban, ada semacam kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok orang sejumlah tujuh sampai lima belas orang untuk menghabiskan waktu bersama, dengan duduk melingkar langsung di atas tanah, sambil menikmati tuak, yang terbuat dari legen atau nira yang dideres dari pohon siwalan.

Ireland juga tempat asal derby, balap kuda tahunan sepanjang masa, serta tentang Gulliver, cerita fiksi yang melegenda yang banyak disukai anak-anak sedunia, padahal itu adalah dongeng kuno Irlandia. Tentang pemeo keberuntungan Irlandia, yang mirip dengan hoki China.

Juga aku tahu, bahwa lebih dari lima puluh persen Presiden Amerika Serikat berasal dari etnis Irish, di samping Scottish. Lihat saja nama-nama Irish, seperti George W. Bush, Bill Clinton, Ronald Reagan, Richard Nixon, John F. Kennedy, dan lain-lain.

Bahkan sentimen tentang Irish sering dipakai calon Presiden Amerika dalam berkampanye, untuk memenangkan pemilihan, mengingat tiga puluh persen lebih warga Amerika Serikat adalah keturunan Irish.

Etnis Irish memang menggenggam dunia seperti halnya Scottish, Jews, Chinese, Spanish, Bavarian, Sicilian, Indian dan segelintir etnis lainnya

Kembali ke gadis cantik di sebelahku, sebenarnya aku sedang berpikir keras, angin apa yang membawanya secara tiba-tiba ke sisiku saat itu, menyapa ramah, dengan senyum yang lembut manis, sementara bola mata birunya menjulat perhatianku sepenuhnya, dengan binarnya yang suntuk dan lembut. Rasanya aku seperti mendapat durian runtuh, atau kejatuhan bulan. Pastilah ada maunya atau ada sebabnya.

Kemudian untuk sesaat aku memanjakan mataku dengan menatap keindahan yang sayang kalau kulewatkan begitu saja. Laki-laki mana yang kuat untuk melewatkan lukisan empat dimensi yang terpajang indah di gallery alami saat itu.

Jujur saja...aku bukanlah termasuk laki-laki womanizer, dan sebenarnya aku lebih mengagumi keindahan ragawi gadis-gadis Balkan atau Mediterranean. Namun gadis di sampingku ini telah mengubah pandanganku, atau sekurang-kurangnya menambah khasanah referensiku tentang gadis cantik. Ya...ternyata gadis Anglo Saxon, atau lebih dikenal dengan gadis Keltik (Celtic), dalam hal ini etnis Irish, tidak kalah dengan yang lainnya. Sangat pantas untuk dikagumi.

Hillary O'Connell, nama klasik Irish...seklasik Scarlett O'Hara, bintang film favoritku.

Ada rasa akrab yang tiba-tiba mengelayut kental di sikapnya padaku. Akupun merasa bahwa aku pernah lama mengenalnya dulu, entah dimana...seolah dia bukan orang asing bagiku...dan tentu saja aku menikmati perasaanku itu. Tidak ada ruginya berteman dengan gadis secantik dia, pikirku. Maka sambil menyelesaikan sisa postcard yang akan segera kukirimkan, aku berbincang akrab dengannya. Ternyata dia juga mengirim sejumlah postcard, namun kemana tujuannya, aku enggan menanyakannya. Maklum takut dianggap ingin tahu urusan orang lain, atau mengganggu privasi...sesuatu yang tabu dilakukan kepada orang asing dengan budaya Barat.

”Aku sering ke Indonesia, ke Jogja dan Wonosobo...!” kembali dia menebar keakraban.

”Oh, ya...? Seberapa sering?” sergapku penasaran.

”Aku cukup akrab dengan Dieng Plateau, juga dengan candi-candi kecil di dataran agak luas dengan rumput hijau di sekelilingnya, Telaga Warna yang mempesona, juga Kledung Pass yang indah yang membentang di antara dua punggung Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing,” jelasnya, meyakinkanku dengan logat Western yang terasa kental dan khas. Serentetan kalimat yang tidak menjawab pertanyaanku secara langsung, namun cukup bagiku untuk mengindikasikan betapa dalam pengetahuan dia tentang lokasi tersebut. Yang itu menyiratkan adanya informasi, bahwa dia tidak hanya sekali atau dua kali berkunjung ke sana. Apalagi intonasi dan artikulasinya dalam berbahasa Indonesia cukup meyakinkan. Hanya phrasering-nya sajalah yang sering agak kedodoran. Pastilah dia sudah sangat sering menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap kesempatan, khususnya di kawasan di Indonesia yang sering dia kunjungi, seperti yang dikatakannya beberapa detik yang lalu.

Aku cukup paham dengan lokasi yang dia sampaikan, akh mungkin dari sinilah mata air keakraban bermula, pikirku... menuju muara keindahan yang mulai bertabik hangat padaku. Jogja, Magelang, Wonosobo, bukanlah daerah yang asing bagiku. Hampir dua tahun semasa awal kuliah dulu aku sempat memiliki cinta seseorang di Parakan, yang kebetulan sama-sama kuliah di Jogja...sama-sama satu Universitas, namun beda Fakultas. Aku di Fakultas Teknik, dia di Fakultas Pertanian. Hanya sayang hubunganku dengan dia tidak berlanjut, karena setelah berjalan sekian lama, banyak ketidakcocokan di antara kami berdua, sehingga kami sepakat untuk berpisah secara baik-baik.

Namanya Wulan, dan dari dialah aku tahu hampir seluruh sudut kawasan tersebut. Ketika itu aku sangat menikmati bagaimana dan kapan harus menanam tembakau, mengingat ayahnya adalah juragan tembakau yang cukup ternama di kawasan yang memang merupakan daerah perkebunan tembakau rakyat dengan kapasitas dan kualitas yang prima. Di kawasan tersebut sejauh mata memandang hanya ada lautan tanaman tembakau di musim kemarau, sementara di musin hujan dipenuhi tanaman jagung dan tumpang sari tanaman kol, kentang atau tanaman sayuran lainnya. Kecuali dua buah enclave perkebunan teh di Kledung Pass dan di Tambi, yang tentu saja selalu hadir sepanjang musim. Hampir seluruh industri rokok besar di Indonesia mempunyai gudang tembakau yang besar di sana.

Kadang sehabis ujian akhir semester berhari-hari aku menunggu atau membantu para petani tembakau yang sedang memetik daun tembakau, atau sedang ngrawis, atau menyimpan kembali daun tembakau yang sebelumnya dijemur, karena kabut sudah mulai turun menyapu dataran maupun jurang di sela-sela perbukitan. Butiran-butiran halus uap air dari kabut yang sekejap selepas tengah hari pasti turun itu sangat mengganggu dan merugikan kualitas tembakau. Kabut tebal selalu hadir selepas tengah hari sampai dini hari berikutnya, di musim kemarau, dan dapat menutup seluruh kawasan sepanjang hari jika musim hujan tiba. Bahkan di Wonosobo, seperti halnya Bogor, hujan terasa selalu hadir sepanjang tahun. Wonosobo, selalu menyediakan air bagi Kali Serayu, karena dari tempat itulah mata airnya bermula.

Aku sangat menikmati saat-saat panen kol atau kentang kleci atau jagung tiba, juga panen pete dan jengkol atau panen nangka dan durian yang sangat melimpah, atau saat panen madu yang sering sangat wangi semerbak karena aroma bunga klengkeng. Aku juga tidak pernah melewatkan ikut ramai-ramai memanen ikan mas, nila, atau gurami ketika saatnya tiba, dari kolam maupun keramba yang banyak terdapat di daerah tersebut, baik yang dipanen dari kolam konvensional, maupun kolam air deras.

Saat-saat yang sulit kulupakan adalah saat ketika aku bersama beberapa teman dan tentu saja bersama Wulan berburu rusa atau babi hutan di perbukitan atau malah lebih tepat disebut pegunungan dengan hutan yang cukup lebat yang merupakan perpanjangan pegunungan Menoreh, salah satu kawasan pegunungan tempat dimana Borobudur berada, dan sekaligus titik pertemuan atau perbatasan antara empat kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Banjarnegara, tepatnya kawasan Kaliwiro dan Wadaslintang. Di hutan tersebut konon merupakan salah satu habitat harimau Jawa yang sudah langka sehingga masuk dalam daftar binatang yang sangat dilindungi, meskipun aku belum pernah berjumpa sama sekali dengan raja hutan tersebut.

”Aku sering menikmati jahe panas dengan gula aren di gubug mungil indah di tengah perkebunan teh di Tambi, sambil menikmati gebleg. Juga aku suka mi ongklok di pemandian air panas Mangli. Juga buah-buahan yang sampai sekatang menjadi favoritku adalah carica,” tiba-tiba Hillary memulai kembali pembicaraan yang menyadarkanku dari mimpi indah di siang bolong.

Ouw...dia tahu tentang jahe dengan gula aren, gebleg dan mi ongklok, minuman dan makanan khas Wonosobo...pastilah dia bagian dari kawasan tersebut atau sekurang-kurangnya pernah menjadi bagian dari kawasan tersebut. Apalagi dia mengenal carica, semacam buah pepaya kecil, namun cita rasanya sangat jauh berbeda dengan pepaya, karena lebih nikmat dan lebih harum baunya. Buah yang menurutku hanya tumbuh di Wonosobo saja, di lereng Pegunungan Dieng. Aku semakin penasaran dibuatnya.

”Ada urusan apa, di sana?” pikirku

Seolah dia dapat membaca isi benakku. Ini terbukti ketika dia kemudian menukas dengan senyum yang mengentalkan hasratku untuk lebih dekat dengannya :

”Suatu saat kau akan tahu...mungkin kita akan sering melakukan korespondensi, nanti.”

”Oh, ya? Kenapa?” tanyaku menegas

Dia tidak menyahut hanya tersenyum kecil, dan tetap menebar pesona yang prima.

Tiba-tiba dia mencari-cari sesuatu dari tas kecil berbahan kulit dan bermotif batik warna-warni yang dari tadi menyilang dan melingkari tubuhnya yang cukup padat itu, namun luput dari pandanganku. Oh,...tas itu mengingatkanku pada tas-tas yang banyak dijajakan oleh pedagang kaki lima di emperan toko sepanjang Malioboro, Jogjakarta.

”Maaf, aku segera harus pergi...ada yang harus aku selesaikan. Ini business card-ku.

”Kontak aku jika sempat, selama ada di Perth.”

Setelah itu dia pergi begitu saja secara tiba-tiba, persis dengan ketika awal baru bertemu. Aneh memang, dan membuatku kecewa, karena belum ada yang layak untuk dapat kuketahui tentang dia. Blank! Untung ada business card-nya sehingga masih ada harapan untuk lebih dekat dengannya. Memang tidak masuk akal, seseorang dengan budaya barat yang biasanya acuh tak acuh, selalu menjaga privasi, ...secara tiba-tiba bersikap seperti orang dari budaya timur...sangat ramah dan friendly. Malah mengajak berbincang dalam bahasa yang bukan bahasa ibu-nya, yang nampaknya dia sangat menguasainya.

(Catatan : Teka-teki tentang Hillary O’Connell baru kuketahui beberapa bulan kemudian. Itupun karena secara kebetulan aku berjumpa dengan dia di suatu hotel bernuansa klasik di Semarang, tempat yang kebetulan sama-sama kami menginap, yang nanti jika sempat akan aku ceritakan di luar judul tulisan ini).


( BERSAMBUNG )

Yang Terlewat dari “Bersama Kita Bisa”

(Kajian dari Perspektif Manajemen)

Ratmaya Urip Hadjadsantosa *)

Empat bulan setelah berakhirnya gegap gempita yang spektakuler Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke 100, penulis mencoba untuk menelusuri slogan “Bersama Kita Bisa” yang telah dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melalui mesin pencari Google. Penulis mendapatkan 31.100 item hasil pencarian tentang slogan itu yang bertengger di situs pencari tersebut, setelah menulis kata kunci berupa slogan tersebut di atas.

Yang membuat penulis mengernyitkan dahi dan terperangah, adalah komentar-komentar miring yang bernada pesimis dan sinis di item-item awal dalam situs tersebut, contohnya : “Bersama Kita Bisa” korupsi, “Bersama Kita Bisa” apa?, “Bersama Kita Bisa” kena tipu, “Bersama Kita Bisa” wuahaha..sby banget sih lu sus, “Bersama Kita Bisa” hidup tapi tanpa minyak tanah, dan lain-lain.

Terlepas dari pro-kontra, dan optimisme-sinisme yang kemudian menyeruak, penulis mencoba untuk mengkajinya dari perspektip manajemen, khususnya Strategic Management dan Quality Management System, tanpa berpretensi untuk optimis maupun sinis, tanpa kepentingan politik secuilpun. Semata-mata masalah manajemen, karena penulis bukan politikus.

“Bersama Kita Bisa” menurut penulis adalah suatu visi. Karena “hanya” visi, maka sah-sah saja jika digelorakan oleh seorang Presiden, yang itu tentu saja sebaiknya ditindaklanjuti dengan adanya misi, strategi, SWOT Analysis, dan yang terpenting adalah action plan yang rinci, jika diinginkan tercapainya goal atau objective. Belum lagi kesiapan, ketersediaan, dan alokasi resources, business process maupun business plan serta time frame-nya. Tanpa itu semua, maka visi hanyalah tinggal wacana. Tugas aparat di bawahnya yang seharusnya melakukan cascading atau deployment atas visi tersebut. Mulai menteri, dirjen, gubernur, bupati, camat, lurah, dan kalau perlu sampai RW dan RT. Penulis tidak tahu apakah itu dilakukan atau tidak. Jika hanya berhenti sampai visi, tentu saja akan mubazir. Faktanya sampai sekarang slogan tersebut mulai kehilangan gaung. Belum ada action plan, business process, business plan, time frame, maupun alokasi resources yang nyata. Penulis berharap, semoga saja itu hanya karena kekurangtahuan penulis saja.

Aparat-aparat di bawah Presiden mengetahui atau tidak kalau harus melakukan cascading atau deployment atas visi tersebut. Tentu saja Presiden tidak harus detail menjabarkannya. Yang paling berkepentingan dalam penjabarannya adalah menteri-menteri sesuai bidangnya, dirjen, direktur, gubernur, dan bupati/walikota.

Itu baru bicara masalah visi, misi, strategi, SWOT Analysis, action plan, goal, objective, time frame, resources, business process dan business plan, yang kalau merujuk pada Quality Management System, dalam hal ini P-D-C-A dari Deming Circle, masih dalam kerangka perencanaan atau Plan (P) atau huruf awal dari Deming Circle. Belum masuk dalam Do (D), Check (C), maupun Action (A). Atau kalau merujuk sistem manajemen yang lain, baru dalam tahapan Planning (P) dari Planning-Organizing-Actuating-Controlling (P-O-A-C).

Masalahnya, sebagian besar aparat-aparat di bawah Presiden adalah politisi bukan atau belum negarawan, sehingga tentu saja kepentingan-kepentingan politik lebih menonjol daripada kepentingan yang lebih besar, yaitu tercapainya visi bangsa (yang kemudian diturunkan sebagai visi Presiden), yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yang salah satunya secara tersirat mengamanatkan pencapaian kesejahteraan (prosperity) dan kemakmuran (welfare) bangsa Indonesia. Visi Presiden “Bersama Kita Bisa” menurut penulis merupakan cascading atau deployment dari visi bangsa yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Presiden dengan para menteri mungkin bisa sejalan, karena menteri-menteri diangkat dan bertanggung jawab kepada Presiden (meskipun oleh Ka Bakin ada menteri yang dituduh menteri sontoloyo), walaupun penulis tidak tahu apakah para menteri cukup sadar bahwa dia wajib untuk melakukan cascading atau deployment atas visi Presiden tersebut. Tapi gubernur dan bupati/walikota banyak sekali yang berseberangan secara politik dengan Presiden. Faktanya banyak gubernur dan bupati/walikota yang lebih mendahulukan kepentingan diri maupun kelompoknya, daripada kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Nah, di sinilah mungkin potensi terbesar akan terjadinya distorsi dan deviasi atas visi tersebut. Padahal di tingkat Gubernur dan Bupati/Walikota inilah aktifitas-aktifitas operasional wajib dilakukan jika visi ingin tercapai. Sementara Presiden, para menteri dan dirjen secara manajerial lebih banyak melakukan aktifitas-aktifitas stratejik dan taktikal.

Penulis masih berharap, bahwa pencanangan “Bersama Kita Bisa” didasari pada akumulasi dari pengumpulan data yang bottom up, dengan mendasarkannya dari ketersediaan seluruh resources dan time frame yang riil ada. Karena jika sifatnya top down, tanpa pengkajian dan analisis yang detail, malah akan menjadi boomerang. Apalagi kalau hanya berbasis intuitif.

Khusus untuk resources, yang salah satunya adalah bersumber dari APBN-APBD yang alokasinya masih berat ke alokasi-alokasi rutin, nampaknya berat untuk dijadikan modal dasar pencapaian visi tersebut. Belum lagi kalau kita bicara human resource-nya, yang dari segi kapasitas, kapabilitas, kredibilitas, kreatifitas dan akseptabilitasnya masih banyak yang bermasalah. Contohnya, budaya korupsi masih enggan enyah dari perilaku stakeholder pembangunan nasional, serta tingkat inovasi yang sangat rendah dalam penyelenggaraan pemerintahan. Menurut penulis, kreatifitas dan atau inovasi adalah salah satu cikal bakal tercapainya keunggulan bersaing bangsa, yang ujung-ujungnya nanti adalah kesejahteraan (prosperity) dan kemakmuran (welfare) bangsa.

Terlepas dari kepentingan tersembunyi dan kepentingan tertentu yang mungkin ada, niat baik yang tersirat dalam “Bersama Kita Bisa” (yang menurut penulis slogan tersebut sangat mirip dengan slogan yang telah berabad-abad menjiwai etnis Wales di Britania Raya : “Together We are Strong”), pantas untuk didukung, hanya perlu ditindaklanjuti dengan aktifitas-aktifitas riil yang bukan hanya bersifat stratejik, namun juga taktikal dan operasional, yang berbasis pada action plan, resources dan time frame yang riil. Masalahnya, apakah itu sudah dilakukan? Ingat, bahwa slogan itu masih dalam tataran Perencanaan (Plan = P), itupun baru sebatas visi, belum masuk pada tataran Do (D), Check (C), dan Action (A), jika merujuk pada Deming Circle. Supaya tidak hanya sekedar slogan kosong yang numpang lewat, yang kemudian hanya pantas untuk kampanye politisi saja. Kalau tokh dikatakan bahwa itu sudah dilakukan dan terproyeksi dalam APBN-APBD dan realisasinya, mari kita tunggu hasilnya.

------------------------------------------------------

Ratmaya Urip Hadjadsantosa, adalah pemerhati, pelaku serta konsultan manajemen dan konstruksi. Saat ini adalah Fungsionaris Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia), Quality Network, Ikatan Ahli Beton Pracetak-Prategang Indonesia, Host untuk weekly program (Sabtu pagi jam 10.00 WIB sejak 14 tahun yang lalu): SOLUSI MANAJEMEN BISNIS

di Radio Suara Surabaya 100 FM yg dapat disimak secara on-line and on-demand di www.suarasurabaya.net, dll.


ooOoo


KEUNGGULAN BERSAING BANGSA


KEUNGGULAN BERSAING BANGSA

DALAM PERSPEKTIP ANTROPOLOGI BISNIS

Ratmaya Urip Hadjadsantosa *)

Indonesia dikenal memiliki keunggulan komparatif berupa sumber daya alam yang melimpah yang terkandung di bumi, laut dan udaranya, dengan kekayaan tanah yang subur yang membentang bak zamrud yang membentang di khatulistiwa, subur makmur, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharjo, bukan lautan hanya kolam susu, dan lain sebagainya, namun kesejahteraan yang didambakan seluruh rakyatnya tak juga kunjung tiba.

Selepas dari penjajahan politik, sejak jaman kemerdekaan, khususnya setelah era orde baru, bahkan era orde reformasi, bangsa Indonesia harus kembali dalam cengkeraman penjajah, meski dalam bentuk yang baru, yaitu penjajahan ekonomi. Setelah 63 tahun kemerdekaan, modal-modal asing menguasai hampir seluruh lini ekonomi bangsa. Itu semua karena bangsa Indonesia tidak memiliki kemampuan bersaing dalam percaturan bisnis dunia, sehingga keterpurukan sangat akrab dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesejahteraan (welfare) dan kemakmuran (prosperity), semakin menjauh dari bangsa Indonesia. Sangat paradoks, karena miskin di negara yang kaya raya, seperti tikus mati kelaparan di lumbung padi.

Menarik sekali apa yang telah disampaikan oleh Menkominfo Mohammad Nuh di kota Pasuruan, ketika menyerahkan santunan dari pemerintah sebesar Rp 2,5 juta/keluarga yang tewas saat pembagian zakat pada tanggal 15 September 2008 lalu. Seolah menepis pendapat Ketua PB NU KH Hasyim Muzadi sebelumnya, yang menyampaikan bahwa tragedi maut itu merupakan bukti nyata makin parahnya kemiskinan, Menkominfo mengatakan bahwa penduduk miskin justru turun dari 38,4 juta jiwa (16 persen) pada tahun 2007 menjadi 36 juta jiwa (15 persen) pada tahun ini.

Menariknya adalah, bahwa silang pendapat tentang angka kemiskinan yang dipicu oleh Jenderal (purn) Wiranto, yang kebetulan berbeda dengan angka-angka pemerintah tersebut sampai sekarang belum juga ada muaranya. Bola liar angka kemiskinan yang beredar di blog-blog internet malah lebih dahsyat lagi, karena dihitung berdasar ukuran Bank Dunia, yang menggunakan ukuran US$ 2-PPP (purchasing power parity)/kapita/hari, yang pada tahun 2007 mencapai 105,3 juta jiwa (43,87% jika penduduk Indonesia 240 juta jiwa). Nampaknya angka kemiskinan telah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politis bagi masing-masing pihak, untuk popularitas masing-masing, dengan merekayasa apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Terlepas dari silang pendapat yang telah terjadi, nampaknya kemiskinan memang semakin berat dirasakan. Menurut penulis itu tugas setiap pemimpin yang sedang berkuasa, siapapun dia. Nampaknya dalam jangka pendek masih sulit untuk dapat diselesaikan, mengingat ada beberapa kajian yang terlupakan.

Untuk mengurangi kemiskinan memang diperlukan action plan jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek pemerintah telah meluncurkan BLT, program-program padat karya, dll. Sementara untuk jangka panjang, nampaknya belum ada blueprint yang dipublikasikan secara luas.

Menghapus kemiskinan yang pada hakekatnya adalah bertujuan untuk terciptanya kemakmuran (welfare) atau kesejahteraan (prosperity) memang tidak dapat diselesaikan dalam jangka pendek, karena masalahnya sangat kompleks.

Untuk menciptakan kemakmuran tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur yang bersumber dari modal dan biaya yang bersifat fisik (physical infrastructure), namun juga infrastruktur sosial (social infrastructure), yang tentu saja harus bersumber dari modal sosial (social capital) dan biaya sosial (social cost).

Membangun infrastruktur sosial (social infrastructure), berarti membangun para pengelola pembangunan dari aspek kemanusiaannya, humaniora, atau aspek yang harus dipenuhi dari dirinya sendiri, supaya benar-benar siap untuk membangun dan memenangkan persaingan.

Competitive advantage tidak cukup hanya diperoleh dari keunggulan-keunggulan yang bersifat fisik yang kasat mata, namun juga harus dibarengi dengan keunggulan-keunggulan sikap dan perilaku manusianya.

Mengupas sikap, perilaku, atau bahkan budaya manusia Indonesia secara individu maupun kelompok yang sesuai atau cocok untuk memenangkan persaingan, erat kaitannya dengan ilmu antropologi terapan, dalam hal ini Ilmu Antropologi Ekonomi atau Ilmu Antropologi Bisnis. Kajian ini khusus memberi masukan bagaimana cara meningkatkan kemampuan bersaing bangsa (competitive ability of nation) dari sudut pandang antropologi, khususnya antropologi ekonomi atau antropologi bisnis.

Kajian atas kemampuan atau daya saing bangsa (national competitiveness) yang merupakan bagian dari nation & character building, jarang sekali yang membahas dan meninjaunya dari perspektip antropologi ekonomi (economic anthropology) atau lebih spesifik penulis lebih suka menyebutnya sebagai antropologi bisnis (business anthropology).

World Competitiveness Index 2008 yang surveinya dilakukan oleh International Institute for Management Development (IIMD) menempatkan kemampuan bersaing bangsa Indonesia yang diartikulasikan sebagai Indonesian Competitiveness Index 2008 pada level 51 dari 55 negara yang disurvei. Level ini adalah peningkatan dari tahun sebelumnya yang masih berada di level 54.

Karena itulah sangat wajar jika tingkat kesejahteraan atau kemakmuran masih belum juga sesuai dengan harapan semua pihak, yang tercermin dari pencapaian Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang sejak tahun 2000 sampai sekarang masih berkutat di sekitar peringkat 110 (sekitar 0,710 point), yang berada di bawah negara-negara Asean lainnya.

Korelasi antara pencapaian Human Development Index dengan tingkat kemakmuran suatu bangsa sudah lama diketahui.

Seperti diketahui, kemiskinan kini memperoleh pemaknaan baru, bukan sekadar pengertian konvensional, yakni pendapatan rendah.

Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) mendefinisikan kemiskinan sebagai capability deprivation, yang jauh lebih fundamental daripada sekadar pendapatan rendah yang bersifat instrumental..

Perjuangan menghapus kemiskinan sejatinya merupakan ikhtiar untuk meningkatkan human capability. Itu adalah satu upaya membuka jalan bagi setiap orang atau kelompok agar mampu memberdayakan diri sendiri dengan cara menghilangkan berbagai kendala dan hambatan. Menurut penulis, human capability yang merupakan integrasi dari human creativity (ability of human to creat inovation & invention), human integrity/credibility serta human acceptability, tidak boleh lepas dari human culture, dengan kata lain harus dikaji dan diapresiasi dalam perspektip antropologi, khususnya antropologi ekonomi atau antropologi bisnis, supaya dapat dengan tepat mendiagnosis masalah kemiskinan yang bersumber dari ketidakmampuan bersaing bangsa. Ketidakmampuan bersaing bangsa yang acute, yang bermuara pada ketidakmakmuran atau ketidaksejahteraan bangsa, pada gilirannya nanti akan menyebabkan konflik internal dan keterpurukan harga diri bangsa, yang saat ini sudah diawali dengan konflik-konflik horisontal maupun vertikal, serta pelecehan atas bangsa Indonesia di negara jiran, Malaysia, dengan sebutan Indon untuk para TKI dan komponen bangsa yang lain yang mengunjungi negara tersebut.

KAJIAN ANTROPOLOGI BISNIS

Antropologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi adalah istilah bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata. Objek dari antropologi adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa, kebudayaan dan perilakunya. Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakatnya sendiri.

Antropologi ekonomi atau antropologi bisnis adalah antropologi terapan yang lebih menekankan pada kajian antropologis yang berkaitan dengan manusia dalam upayanya untuk menggali dan mengelola aktifitas ekonomi-bisnisnya, dalam rangka kelangsungan hidupnya secara berkesinambungan.

Kebudayaan sebagai sebuah konsep yang menyatu dalam kehidupan manusia selalu berhubungan dengan kebutuhan hidupnya. Kebudayaan yang merupakan seperangkat sistem pengetahuan atau sistem gagasan yang berfungsi menjadi blue print bagi sikap dan perilaku manusia sebagai anggota atau warga dari kesatuan sosialnya, tumbuh, berkembang, dan berubah sesuai dengan kebutuhan hidup manusia.

Dari pengamatan penulis, terdapat 2 (dua) kutub utama yang merupakan pilar penting dalam memenangkan persaingan atau memperoleh keunggulan bersaing, khususnya persaingan bisnis, jika dikaitkan dengan antropologi bisnis, yaitu :

· Keunggulan bersaing berbasis pada keinginan untuk tetap atau selalu dapat hidup (survival-based competitiveness), dan

· Keunggulan bersaing berbasis pada kegairahan yang menggebu, atau semangat besar untuk selalu menjadi pemimpin, menjadi nomor 1 (satu) atau menjadi juara atau memperoleh kekuasaan tertinggi (hegemony-based competitiveness).


Keunggulan Bersaing Berbasis Survival

(Survival-based Competitiveness)

Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang, dan Macan-macan Asia, telah lama dikenal sebagai basis kekuatan ekonomi dan perdagangan dunia, yang memberikan kontribusi sangat besar bagi pendapatan global secara agregat (global GDP). Sementara China, setelah lepas dari cengkeraman komunisme menyusul berakhirnya revolusi kebudayaan, memiliki pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan dan sangat fenomenal.

Kenapa Amerika Serikat, Jepang, Eropa Barat, dan China dapat begitu maju, dengan kemampuan bersaing yang tinggi? Masing-masing memiliki karakter survival dengan type atau model yang berbeda.

1. Model Amerika Serikat (Periode Abad 16 s/d Tengah Abad 20)

Orang sering lupa, bahwa Amerika Serikat dipenuhi dan dibentuk oleh imigran-imigran Irish, Jews, Scottish, German, Bavarian, Sicilian, Spanish-Basque, yang di tempat asalnya dulu, sangat menderita secara ekonomi, atau karena tekanan lingkungan yang tidak tertahankan lagi di tempat asalnya. Irish terpaksa pergi dari Ireland menuju tanah baru di Amerika karena kelaparan, penyakit, panen kentang yang gagal, dan sebagainya. Sementara Scottish meninggalkan Scotland karena tanahnya yang gersang berbukit-bukit, tidak bisa ditanami, sehingga mereka yang kelaparan juga menuju tanah baru di Amerika. Spanish datang ke Amerika karena lapar akan emas, sementara Jews terlunta-lunta karena ketika itu tidak mempunyai negara dan benar-benar stateless, serta sangat teraniaya. Itulah yang kemudian menyebabkan dorongan kuat untuk survive di tanah baru. Kondisi lingkungan fisik yang serba penuh tantangan di tempat asal, secara evolusioner membentuk sikap dan perilaku etnis menuju suatu stereotip atau bahkan prototip tertentu. Mereka kemudian mempunyai etos kerja yang sangat positip. Yang pasti mereka sudah kebal terhadap segala penderitaan hidup. Ketika mereka menjumpai tanah baru dengan sumber daya alam yang melimpah, yang amat sangat berbeda dengan tanah leluhurnya, mereka menjadi terlalu bergairah dan bernafsu untuk segera menghempaskan penderitaannya. Mereka kemudian haus untuk menjadi pioner, untuk menjadi pemenang terhadap penderitaan, untuk selalu menang jika harus bersaing, dan sebagainya.

Mereka adalah type pekerja cerdas (baca : bukan pekerja keras) yang jauh dari rasa malas, memiliki entrepreneurship yang tinggi, hemat, cermat, berani, sehingga memiliki human capability yang tinggi. Spirit of Diaspora, apakah itu Irish Diaspora, German Diaspora, Spanish Diaspora, Italian Diaspora, dan sejumlah diaspora lainnya membawa etnis-etnis tersebut menjadi lebih bersatu untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan di tempat asalnya. Semangat untuk dapat tetap survive dalam kondisi serba kekurangan, dalam perjalanan waktu kemudian bermetamorfosa menjadi semangat untuk hidup lebih berkecukupan, yang kemudian merujuk teori Maslow, mereka akhirnya menggapai level tertinggi dalam hierarki Maslow.

Beruntunglah Amerika Serikat menerima imigran-imigran miskin namun mempunyai semangat hidup tinggi seperti imigran-imigran Jerman, Irish, English, Spanish, Italian, Jews, dan lain-lain, yang hampir semuanya memiliki etos kerja yang tinggi dengan jiwa entrepreneurship bawaan atau yang sudah mendarah daging.

Keunggulan Bersaing Berbasis Survival (Survival-based Competitiveness) pada periode abad 16 sampai dengan pertengahan abad 20, kemudian dilanjutkan secara estafet dengan pencapaian Keunggulan Bersaing Berbasis Hegemoni (Hegemony-based Competitiveness), pada periode pertengahan abad 20 sampai awal abad 21 di milenium ketiga ini, atau setelah kondisi survival bangsa secara agregat dapat terlewati.

2. Model Jepang

Keunggulan Bersaing Berbasis Survival type Jepang muncul karena kondisi fisik lingkungan yang miskin sumber daya alam, dan selalu didera bencana alam berupa gempa bumi dan topan, yang secara terus menerus menerpanya.

Berbeda dengan Amerika Serikat yang etnisnya sangat heterogen, etnis Jepang lebih homogen. Kekuatan survivalnya terpacu oleh beratnya kondisi lingkungan yang kemudian terakumulasi menjadi resistensi berujud kekuatan untuk selalu unggul dalam menghadapi tekanan lingkungan, yang kemudian bermuara pada keunggulan untuk selalu memenangkan pertarungan dengan ganasnya kekuatan alam, dan ketiadaan sumber daya alam.

3. Model China

Setelah berakhirnya Revolusi Kebudayaan, yang kemudian membuka isolasi yang mengungkungnya, potensi kemampuan bersaing yang sebelumnya tersembunyi menjadi muncul ke permukaan.

Keunggulan Bersaing Berbasis Survival Model China muncul karena dorongan untuk dapat hidup di tengah kompetisi antar-mereka karena tekanan jumlah penduduk yang berat sekali bebannya. Tekanan itulah yang menyebabkan adanya Chinese Diaspora, yang menyebar ke berbagai belahan Asia dan lain-lain, dengan meninggalkan penderitaan di tanah leluhur. Seperti fenomena Yahudi dan Irish, mereka berusaha untuk tetap hidup meski dalam tekanan yang berat dari lingkungan yang baru. Sementara di tanah leluhur, etnis China yang tinggal juga tetap mengais-ngais kehidupan.

Keunggulan Bersaing Berbasis Hegemoni

(Hegemony-based Competitiveness)


1. Model Amerika Serikat (Periode Tengah Abad 20 s/d Sekarang).

Keunggulan Bersaing Berbasis Survival yang terjadi di Amerika Serikat berakhir setelah berakhirnya krisis Depresi Besar tahun tiga puluhan. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, kemudian berubah menjadi Keunggulan Bersaing Berbasis Hegemoni. Hal tersebut terjadi karena setelah tidak ada musuh bersama, kekuatan sekutu terpolarisasi menjadi Blok Barat yang diketuai oleh Amerika Serikat yang didukung Inggris, Perancis, Jerman Barat dan kekuatan NATO. Sementara Blok Timur dengan Pakta Warsawa dipimpin oleh Uni Soviet (pada waktu itu), dengan didukung oleh negara-negara komunis Eropa Timur. Perang Dingin yang terjadi telah memaksa kedua belah pihak untuk berlomba memenangkan persaingan, untuk memperebutkan hegemoni. Inovasi-inovasi banyak dilakukan yang dimulai oleh pihak militer, yang dibiayai dengan anggaran yang seolah tidak terbatas. Selanjutnya di kalangan industri yang melayani keperluan militer berkreasi dan menciptakan keunggulan-keunggulan baru yang terinspirasi dan terimbas oleh keperluan-keperluan militer. Dengan kata lain perebutan hegemoni telah membawa Amerika Serikat menuju tingkat kemampuan bersaing yang baru, setelah kemampuan bersaingnya berbasis survival pada era sebelum Perang Dingin.

2. Model Eropa Barat

Sejak Abad 16, bangsa-bangsa di Eropa Barat khususnya Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, Portugis, dan Belanda berlomba-lomba untuk memenangkan hegemoni global. Karena mereka termasuk bangsa-bangsa yang makmur, maka tahapan survival untuk mencapai keunggulan bersaing sudah terlampaui. Mereka kemudian ingin menjadi nomor satu dalam hal kekuatan angkatan lautnya, jumlah koloninya, penyebaran budaya khususnya penguasaan bahasa, dan lain-lain. Mereka berlomba-lomba menguasai jajahan, sementara angkatan lautnya saling berperang untuk meraih kemenangan di laut. Negara-negara tersebut akhirnya memang menguasai banyak koloni di belahan dunia lainnya, bahasanya juga menyebar di koloninya. Kulminasinya terjadi pada Perang Dunia I dan II, yang berawal dari tekad Hitler untuk menjadikan Jerman sebagai Deutche Uber Alles. Perebutan hegemoni yang berlangsung selama berabad-abad ini berdampak pada perilaku dan sikap antropologis mereka yang ingin selalu menjadi nomor satu, atau memegang hegemoni dan tidak mau mengalah, baik di bidang militer, bidang bisnis, bidang sains dan teknologi, bidang olah raga, dan lain-lain. Itulah yang kemudian menciptakan keunggulan bersaing di masing-masing negara tersebut.

3. Model Belgia

Belgia merupakan negara padat penduduknya namun kecil wilayahnya karena dapat dilintasi dengan pesawat udara hanya dalam waktu 20 menit saja. Merdeka sejak tahun 1830, dengan tingkat industrialisasi dan perdagangan yang tinggi, didukung oleh tingkat pertanian yang tinggi pula.

Berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa Barat lainnya yang perebutan hegemoninya adalah hegemoni eksternal atau hegemoni antarbangsa, maka Belgia perebutan hegemoninya adalah hegemoni internal. Belgia adalah kekuatan Eropa Barat yang warganya kurang suka beremigrasi ke luar negeri karena tingkat kemakmuran yang tinggi di negara tersebut.

Kemakmuran didapatkan karena tingginya kemampuan bersaing bangsa yang terjadi karena sejarah persaingan dramatik dan frontal selama berabad-abad antara dua etnis utama di Belgia, yaitu etnis Fleming yang berbahasa Belanda dan mendiami Flanders, bagian utara dari negara tersebut, dengan etnis Walloon yang berbahasa Perancis, dan mendiami Wallonia, bagian selatan negara tersebut. Persaingan tersebut telah bermuara pada perebutan hegemoni antara kedua etnis tersebut, untuk menjadi yang terbaik, menjadi nomor satu, atau memenangkan persaingan.

Dengan modal budaya yang secara antropologis memiliki prototip hemat, praktis, suka bekerja keras, berani, dan dapat dipercaya, menjadikan bangsa Belgia sangat disegani oleh bangsa-bangsa lain di Eropa, sehingga “ibukota” Eropa ditempatkan di Brussel, Belgia. Mulai dari Masyarakat Batubara dan Baja Eropa, Masyarakat Tenaga Atom Eropa, Uni Eropa, dan lain-lain. Bangsa Belgia, baik Fleming maupun Walloon beranggapan, bahwa kemalasan dan hasil kerja yang buruk adalah kejahatan. Itu semua adalah cikal-bakal keunggulan bersaingnya.

INDONESIA

Prof Koentjaraningrat (Bpk. Antropologi Indonesia) dalam tulisannya, Hambatan-hambatan Mental terhadap Pembangunan, mengatakan :

Bangsa Indonesia terutama orang Jawa mengidap mentalitas priyayi :

· Mereka menghindari kerja keras

· Menikmati statusnya

· Berusaha menjadi kaya dengan cara yang halus

· Percaya pada ramalan mistik

Maka pembangunan ekonomi jelas akan terhambat oleh rintangan ini (Niels Murder, 2007)

Sementara Potret manusia Indonesia menurut budayawan Mochtar Lubis (1977) yang sangat sulit dipungkiri yang merupakan warna dasar budaya kehidupan aktual dan perilaku kerja sehari-hari adalah :

· Munafik atau hipokrit

· Enggan bertanggung jawab

· Berjiwa feodal

· Percaya takhyul

· Artistik

· Berwatak lemah

Menurut penulis, apa yang telah dilontarkan oleh Prof. Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis di atas harus diakui dan diartikulasikan, bahwa secara antropologis bangsa Indonesia terindikasi tidak memiliki kepekaan untuk tercapainya keunggulan bersaing, karena tidak adanya sense of competitiveness , spirit of competitiveness atau soul of competitiveness. Itulah sebabnya meskipun sudah merdeka hampir 63 tahun masih juga belum beranjak dari kemiskinan.

Pemeo atau ungkapan nrimo ing pandum, alon-alon waton kelakon, mangan ora mangan kumpul, bukan lautan hanya kolam susu, tongkat kayu jadi tanaman, negara bak zamrud khatulistiwa, rayuan pula kelapa dan pemeo-pemeo atau ungkapan-ungkapan lain telah meninabobokan bangsa Indonesia selama berabad-abad, yang mungkin itu sengaja dikondisikan oleh penjajah, sehingga fighting spiritnya padam. Pemeo-pemeo atau ungkapan-ungkapan tersebut tentu saja masih diperlukan dalam konteks , fungsi dan zaman yang berbeda, untuk kepentingan yang berbeda pula. Dengan kata lain, pemeo-pemeo tersebut masih diperlukan dalam konteks yang lain, atau diberi interpretasi yang lain.

Kondisi subur makmur, tata tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi, memang telah membawa bangsa untuk malas, tidak mau berusaha mendapat lebih, karena sudah serba cukup, dan tidak perlu bersusah payah untuk survive, sehingga tidak ada persaingan untuk tetap survive karena semuanya sudah disediakan oleh alam. Sehingga Keunggulan Bersaing Berbasis Survival (Survival-based Competitiveness) tidak mendapat tempat yang layak dan terhormat untuk muncul sebagai kekuatan dalam memenangkan persaingan.

Keunggulan Bersaing Berbasis Hegemoni (Hegemony-based Competitiveness) sempat tumbuh ketika Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa, dengan tekad dan semangat yang besar untuk menjadi kekuatan besar dengan menguasai Nusantara, dalam hal ini tentu saja harus bersaing dengan kekuatan-kekuatan lain pada zaman tersebut. Semangat Sumpah Palapa sebenarnya adalah cikal bakal Keunggulan Bersaing Berbasis Hegemoni (Hegemony-based Competitiveness). Sayang kemudian padam oleh waktu.

Beruntung (dengan tanda kutip) kemudian terjadi krisis ekonomi sejak tahun 1997, yang telah menyadarkan bangsa akan arti survive, sehingga kemudian spirit of competitiveness mulai tumbuh, meski belum kolosal dan massal atau belum menjadi budaya, atau masih jauh untuk menuju bentuk stereotip bahkan prototip antropologis bangsa. Memang tidak mudah mengubah budaya bisnis bangsa dalam waktu yang singkat. Upaya untuk itu sempat dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengusung Bersama Kita Bisa (dalam peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional), yang menurut penulis itu mirip dengan slogan perjuangan orang Wales selama berabad-abad : Together We Are Strong!).

Melakukan deployment atau cascading atas visi Bersama Kita Bisa, memerlukan kemampuan manajerial di atas rata-rata. Penjabaran visi, misi dengan strategi yang tepat menuju action plan dalam rangka pencapaian goal dan objective, memerlukan ketajaman analisa dan evaluasi. Stereotip atau bahkan prototip antropologis bangsa perlu diubah secara revolusioner, supaya speed and power of competitiveness dapat berpacu dengan waktu. Kalau perlu harus lebih cepat dari kecepatan cahaya, untuk tercapainya kemakmuran bangsa.

Tidak ada yang tidak bisa, asal soul, sense and spirit of competitiveness telah tertanam dalam benak, hati, dan perilaku setiap komponen bangsa, atau syukur jika saat ini sudah dapat dimulai dan tercermin dalam peri kehidupan riil dalam kehidupan sehari-hari seluruh komponen bangsa.

------------------------------------------------------

Ratmaya Urip Hadjadsantosa, adalah pemerhati, pelaku serta konsultan manajemen dan konstruksi. Saat ini adalah Fungsionaris Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA-Indonesia), Quality Network, Ikatan Ahli Beton Pracetak-Prategang Indonesia, Host untuk weekly program (Sabtu pagi jam 10.00 WIB sejak 14 tahun yang lalu): SOLUSI MANAJEMEN BISNIS

di Radio Suara Surabaya 100 FM yg dapat disimak secara on-line and on-demand di www.suarasurabaya.net

ooOoo