Senin, 09 Januari 2012

Knowledge Management


KLINIK MANAJEMEN Seri - 108

Diasuh Oleh : Ratmaya Urip
===========

                              


                                                

KNOWLEDGE MANAGEMENT

Prolog:

Satu pertanyaan menarik diajukan oleh Ibu BSU dari salah satu perusahaan di Jabodetabek, yang menanyakan tentang Aplikasi Knowledge Management.

Inilah sharing Ratmaya Urip:


Klinik Manajemen: "KNOWLEDGE MANAGEMENT"
(Jawaban atas Pertanyaan Ibu BSU-akronim)
Oleh: Ratmaya Urip
 
 

Ibu BSU (maaf hanya saya sampaikan akronim-nya untuk privasi),

Ibu telah menanyakan tentang "Knowledge Management".
"Knowledge Management" akan lebih berhasil diterapkan pada organisasi dengan kemampuan pengelolaan "people" yg sudah menerapkan "Human Capital Management (HCM)" secara benar. Bukan yg masih menerapkan "Human Resource Management (HRM)", atau sdh "HCM" namun hanya sebatas nama, sedang aplikasinya masih "HRM".

Beda antara "HCM" dan "HRM" sudah beberapa kali saya sampaikan di milis ini.
Untuk "reminding", saya kembali akan saya sampaikan secara singkat sbb:

HUMAN RESOURCE MANAGEMENT (HRM):

Masih 2 dimensi, secara umum hanya berkutat pada pengelolaan ABILITY/CAPABILITY (skill and knowledge) serta MORAL (attitude and behavior).

Maka matrix pengelolaannya hanya dua dimensi. Yang sering disebut The Iceberg Model atau Model Gunung Es. Dimana Ability adalah bagian yg ada di atas gunung es, sedang Moral adalah bagian yg ada di bawah gunung es. Bagi praktisi maupun akademisi Human Resource Management, saya yakin cukup paham.

Dalam HRM, Human Resource Frameworknya secara generik biasanya siklusnya berawal dari Corporate Strategic Business Plan, kemudian di "deploy" atau di "cascade" menjadi Corporate HR, terus ke bawah lagi menjadi Planning, Acquiring, Developing, Maintaining, Retaining dst.

Ada juga yang menggunakan HR Framework dengan siklus lain contohnya: Corporate Strategic Business Plan di "cascade" atau di "deploy" menjadi HR Planning, Recruitment, Remuneration, Personal Performance Management, Competency Development, Discipline Management, Career Movement, dst.

Dalam HRM, Knowledge Management yg ada lebih berat ke EXPLICIT KNOWLEDGE, belum begitu mengarah (meskipun ada yg sudah sampai) ke TACIT KNOWLEDGE.

Tentang apakah itu EXPLICIT KNOWLEDGE atau TACIT KNOWLEDGE, saya yakin Ibu sudah cukup memahami. Sehingga saya tidak perlu menyampaikan di sini.

HUMAN CAPITAL MANAGEMENT (HCM)

Pengelolaannya sudah harus 3 dimensi. Di samping 2 dimensi yg ada di HRM yaitu Ability (skill and knowledge) serta Moral (Attitude and Behavior), wajib ada dimensi ke-3, yaitu ARTS (creativity/innovation, acceptability, adabtability/flexibility, dll, yg wajib dapat berkontribusi pada pencapaian HUMAN CREDITABILITY atau HUMAN HONORABILITY atau HUMAN RECOGNIZABILITY, sehingga akan benar-benar diperoleh HUMAN VALUE, untuk dapat disebut sebagai HUMAN ASSET atau bahkan HUMAN CAPITAL, bukan hanya Human Resource.

Human Capital Framework (HCF) untuk HCM ada penyempurnaan jika dibanding HCF pada HRM
 
Kaitannya dengan teori The Iceberg Model, masih sama, hanya di sini, pengasuh perlu menambahkan, baha jika selama ini kita hanya fokus pada GUNUNG ES-nya semata, dengan melihatnya pada fisik gunung es yang ada di atas an di bawah permukaan, maka dalam Human Capital Management, faktor lingkungan di sekitar Gunung Es, juga wajib disertakan. Dalam hal ini adalah Laut atau Lautan yang menjadi tumpuan Gunung Es-nya
 
Laut atau Lautan di sekitar Gunung Es, adalah potensi, yang dapat membuat Gunung Es terbentuk, dapat membuat Gunung Es menjadi lebih besar atau lebih kecil. Tanpa Laut atau Lautan, maka Gunung Es tidak ada apa-apanya. 
 
Dengan demikian, maka pengasuh menambahkan dalam teori yang berkaitan dengan Human Capital Management, sbb:
 
- Bagian Gunung Es yang ada di atas permukaan mengibaratkan ABILITY (Skill & Knowledge), yang merupakan kemampuan manusia yang dapat diukur, yang pengasuh menyebutnya sebagai Sumbu - X dari suatu bentuk matematis 3 dimensi

- Bagian Gunung Es yang ada di bawah permukaan mengibaratkan MORAL (Attitude &Behavior), yang merupakan perilaku manusia yang lebih sulit diketahui, yang biasanya lebih kompleks dan misterius, yang pengasuh menyebutnya sebagai Sumbu - Y dari suatu bentuk matematis 3 dimensi

- Lingkungan di sekitar Gunung Es, atau LAUT-nya, yang merupakan POTENSI bagi tumbuh kembangnya gunung es, yang dapat ditumbuhkembangkan berdasar lingkungan fisiknya, iklimnya. Pengasuh menyebutnya sebagai ARTS (kemapuan berkreasi, berinovasi, beradaptasi, berubah, dan sebagainya). Pengasuh menyebutnya sebagai Sumbu - Z dari suatu bentuk matematis 3 dimensi

Resultante atau Matrix dari bentuk 3 dimensi tersebut itulah yang kemudian menghasilkan HUMAN VALUE, dan atau HUMAN HONORABILITY

Juga Dalam HRM mungkin hanya berkorelasi dengan Faktor Produksi 5M atau sampai 7M, sedang HCM berkorelasi dengan 12 M. Yang saya sebut sebagai Faktor Kelola. Intip tentang Faktor Kelola atau 12 M ini di Blog saya:


Atau di Blog TMI:


Dalam 12 M, ada 2 M yg wajib sebagai acuan utama bagi HCM, yaitu Manpower dan MAGNATE. Tapi jangan abaikan 10 M lainnya, karena HCM melingkupi seluruh M.

Dalam HCM kita juga wajib mengelola FOLLOWERSHIP, tidak hanya LEADERSHIP saja.

¤¤¤¤¤¤¤¤

Sekarang kita kembali ke pertanyaan Ibu. Tentang Pertanyaan Ibu, aplikasi atau letak Knowledge Management dalam Organisasi, dapat saya jawab sbb;

Jawaban saya: Tergantung dari beberapa hal. Untuk itu inilah penjelasannya:

1. Yang paling generik, bentuk saja badan ad-hoc internal atau Tim Task Force yg bertugas sementara waktu. Seperti halnya jika dilakukan penerapan awal ISO Series, TQM, 5S, MBNQA, Six-Sigma, TPM, dsb. Ada Tim Pengarah, Tim Eksekutip dan Supporting Team, dengan Job Desc. yang jelas.

Setelah jalan baru nanti diserahterimakan ke unit kerja yang paling tepat menangani. Dapat ke HCM Department. Atau Departemen Khusus, jika dipandang bahwa masalah HCM adalah masalah krusiak. Sehingga sampai ada Direktorat HCGA (Human Capital and General Affair) yang membawahi juga Knowledge Management.

2. Langsung masuk unit kerja tertentu atau dibentuk unit kerja tertentu, supaya langsung dapat menjiwai.

Yang pasti tergantung besarnya organisasi, tingkat kepentingannya, dan yang terpenting tergantung BUSINESS PROCESS-nya. Karena masalah MANNING, tergantung dari Business Process-nya.

Knowledge Management juga wajib ada KPI-nya.

Untuk penjelasan lebih rinci memang harus saya lakukan dengan tatap muka, karena lebih mudah dijelaskan dengan bagan-bagan.

Salam Manajemen


Ratmaya Urip
Kredo: TEORI tanpa PRAKTEK itu OMONG KOSONG, sedang PRAKTEK tanpa TEORI itu NGAWUR
Rabu, 4 Januari, 2012 05:21
Oleh: Ratmaya Urip 

( BERSAMBUNG)

======================== ====

 


Pak Rky dan Bu Diah,

Terima kasih atas apresiasinya.

Sebenarnya apa yang saya tulis dalam artikel-artikel saya, merupakan sebagian kecil dari aplikasi:

KNOWLEDGE MANAGEMENT.

Roh atau rahim untuk tercapainya "excellences", adalah KNOWLEDGE, baik SCIENCE, TECHNOLOGY, maupun VALUE and CULTURE (termasuk Sosiologi dan Antropologi). Semuanya wajib balance atau dapat terformulasi sebagai MATRIX.

Pola pikir CONVERGEN untuk mencari SOLUSI dan pola pikir DIVERGEN untuk MENGURAI MASALAH adalah formulanya.

Sedapat mungkin dalam pemahaman, teori dan aplikasinya, KNOWLEDGE MANAGEMENT wajib untuk diaplikasikan dengan TACIT KNOWLEDGE. Supaya dalam pengambilan keputusan dapat CEPAT, AKURAT dan PRESISI. Sehingga kita dapat mengambil keputusan seolah secara INTUITIF, meskipun sebenarnya itu adalah ANALITIS yg dilakukan secara cepat. Atau kita sudah menjadi TACIT. Namun untuk itu memang memerlukan "basic education" yg cukup, "self learning and development", "experiences", "sharing with experts" dan mampu memanfaatkan panca indra secara proporsional dan kontekstual serta mutakhir, serta balancing antara TEORI dan PRAKTEK. Ingat pemeo yg sering saya sampaikan: "TEORI tanpa PRAKTEK itu OMONG KOSONG, sedang PRAKTEK tanpa TEORI itu NGAWUR. Apalagi tanpa TEORI dan/atau PRAKTEK".

Dalam pola pikir dan pola tindak wajib berbekal pemanfaatan pada apa yg disimbolkan sebagai 3 H (Hand,Head,Heart), dan matrix dari 3 I (Implementation,Improvement,Innovation) Demi tercapainya 3 Q (Quality,Quantity,Quantum) dalam 3 P (Product,Process,People).

Untuk tercapainya TACIT KNOWLEDGE memang harus melalui tahapan awal berupa penguasaan dan pengayaan atas EXPLICIT KNOWLEDGE.

Jadi konklusinya, sebenarnya sangat sederhana, yaitu "managing tacit knowledge after explicit knowledge"

Dan yang terpenting jangan pelit berbagi KNOWLEDGE. Karena Insya Allah, kita akan diberkahi dengan lebih banyak diberikan KNOWLEDGE baru dan mutakhir olehNYA. Amin.

Salam Manajemen.

Ratmaya Urip.

Note: Mohon menyebutkan sumbernya jika mengutip Artikel ini. Terima Kasih.

Selasa, 4 Januari, 2012 09:05
=============== =====
 

 

Sabtu, 07 Januari 2012

KAJIAN TENTANG DAHLAN ISKAN DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI EKONOMI/BISNIS DAN ANTROPOLOGI POLITIK



(Picture under property right and courtesy of: http://dahlaniskan.wordpress.com)


Oleh: Ratmaya Urip

Saya di sini hanya akan beropini tentang opini para anggota milis THE MANAGERS INDONESIA, dalam subyek thread ini.

Setelah saya cermati dari silang-saling opini yg muncul tentang Dahlan Iskan di milis ini, saya menarik kesimpulan, bahwa dari apa yg telah dilakukan oleh seorang Dahlan Iskan, yg hanya tersulut dari peri lakunya yang konon dianggap extra-ordinary karena fenomenal dengan naik KRL ketika hendak meeting di Istana Bogor, ternyata respons dari sebagian members milis ada 6 katagori, yaitu:

1. Yang apriori tidak suka terhadap DI (sangat subyektif)
2. Yang kritis
3. Yang kritis dengan argumentasi
4. Yang mencoba untuk obyektif
5. Yang menyambut dengan positip
6. Yang sangat mendukung tanpa reserve

Tak kenal maka tak sayang, itulah pemeo yang sering kita dengar. Yang dalam konteks ini tidak cukup untuk merefleksikan variasi opini yang telah ada. Karena tepatnya adalah: "tak kenal maka tak sayang dan tak benci". Itulah yg lebih tepat. Karena jika kita semakin dekat dalam mengenalnya, maka yg muncul kemudian adalah rasa sayang atau rasa benci. Contohnya, semakin kita mengenal tetangga kita maka kita akan semakin sayang atau benci, yg timbul karena pola pikir dan pola tindak si tetangga setelah semakin lama kita berinteraksi. Ada tetangga yg kemudian kelihatan kalau menyebalkan, ada yg nampak kemidian bahwa tetangga tersebut baik hati dan sikap-perilakunya. Begitu juga dalam bermilis ria ini, meski hanya lewat bahasa tulis, belum bahasa tutur dan bahasa tubuh (yg hanya dapat dilakukan dengan tatap muka), maka semakin lama kita berinteraksi, akan semakin telanjang pola pikir kita, sehingga akan menumbuhkan rasa sayang atau rasa benci di antara anggota milis. Karena perbedaan visi, misi, strategi, goal dan obyektif-nya, atau bahkan karena perbedaan SARA.

Opini dari seseorang terhadap orang lain, biasanya terbentuk oleh:

1. informasi (apakah opininya obyektif atau tidak, dari media massa atau media tutur dari mulut ke mulut)
2. Perilaku, pola pikir dan pola tindak dari seseorang yang diberi opini (dari bahasa tutur, bahasa tulis, dan bahasa tubuh dalam tatap muka atau pergaulan riil sehari-hari).
3. Karena kompetisi atau rivalisme (baik persaingan bisnis, karir individu maupun institusi).
4. Karena perbedaan visi, misi, strategi.
5. Karena beda kepentingan

Karena saya sempat mengenal Dahlan Iskan termasuk putranya Azrul Ananda, semasa masih bergulat di Surabaya atau belum setinggi sekarang posisinya, maka saya akan mencoba untuk obyektif dalam menilai, berbasis track recordnya selama beberapa tahun, bukan hanya sekilas, atau hanya dari membaca apa yg tertulis di media tentang perjalanan seorang Dahlan Iskan dengan KRL. Saya akan menilainya dari track record yg panjang waktunya dan menggunakan seluruh indra dalam pancaindra saya. Bukan hanya sepotong fenomenon berupa potongan aksi naik KRL yang sempit waktunya dan hanya menggunakan indra "mata" saja untuk membaca informasi dari orang lain atau media yg biasanya sangat bias dan penuh rekayasa atau sarat kepentingan.

Dari track record, saya kira akan lebih lengkap, tidak hanya sepotong2. Semakin panjang waktu kita mengenal seseorang, dan semakin banyak kita menggunakan indra dari seluruh pancaindra kita, konon akan lebih pas dalam berpendapat, dibandingkan jika hanya menggunakan mata saja dengan membaca tulisan seseorang atau media, yang sering berlumur kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang. Baik kepentingan positip maupun negatip.
Kita akan lebih sayang atau benci secara profesional dan proporsional. Tidak hanya secara instan.

Nah, inilah opini saya:

DAHLAN ISKAN DALAM ETOS KERJA.

Dari pengamatan saya, sejak lulus Sekolah Lanjutan Atas, sudah harus mengembara di Kaltim. Dia bekerja secara keras, secara cerdas dan secara waras. Karena tidak ingin tetap di Magetan, Jawa Timur, yang merupakan wilayah etnis Jawa Mataraman, yang mungkin saja "hanya" akan membuatnya menjadi guru atau petani. Jika dia tetap di Magetan. Dia ingin menjangkau yang "beyond".
Ada cita-cita yang sangat tinggi dengan upaya yg keras untuk meraihnya, dan tidak mau yg hanya ordinary saja. Ini adalah etos kerja keras, kerja cerdas, dan kerja waras. Mengingat stereotip antropologis Jawa Mataraman yg mainstream-nya sangat ordinary untuk menjadi petani, guru, birokrat, pekerja. Bukan bekerja di sektor jasa atau businesman.

Dari sini sana mencatat (belum beropini), Dahlan Iskan adalah seorang "pemberontak" terhadap stereotip antropologisnya.

Dalam perspektif Antropologi Bisnis, Magetan merupakan wilayah yang relatif termasuk subur dan makmur jika kajiannya geografi fisik. Etnis Jawa Mataraman (wilayah dengan no polisi ganda di Jawa, yaitu AA, AB, AD, AE, dan AG,karena biasanya di Jawa No Polisinya berhuruf tunggal seperti A, B, D, H, L, M, dst), merupakan etnis dengan budaya "alon-alon waton kelakon", "mangan ora mangan kumpul, "tongkat kayu jadi tanaman", "bukan lautan hanya kolam susu" dan jargon-jargon lainnya, yg meninabobokkannya untuk berpola pikir dan berpola tindak "ordinary" saja. Sehingga tidak ada potensi bakat untuk suka mengembara. Maka Dahlan Iskan merupakan sosok yg nyempal dari kaidah2 stereotip kehidupan Jawa Mataraman. Sebab secara antropologi ekonomi, Etnis Jawa Mataraman yg suka merantau hanyalah Jawa Mataraman, yang berada di wilayah geografi fisik yang tidak subur, atau kehidupannya tidak ramah terhadap penghuninya. Dalam hal ini wilayah2 tersebut saya namakan wilayah "enclave". Wilayah enclave di Jawa Mataraman tersebut adalah, Gunung Kidul, Wonogiri, sebagian Boyolali, Pacitan, Trenggalek, sebagian Tulung Agung, dan sebagian Blitar.

DAHLAN ISKAN DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI POLITIK

Wilayah Jawa Mataraman adalah wilayah pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meskipun secara explisit Dahlan Iskan mengaku non partisan atau tidak atau bukan anggota partai politik, dan secara implisit adalah businessman dan profesional bukan birokrat, dan secara kasat mata bukan seorang militer, namun mari kita coba kaji perspektif antropologi politiknya.

Jika kita sedikit merujuk pada Clifford Geertz dalam bukunya "Santri, Priyayi dan Abangan", Jawa Mataraman, adalah wilayah yg secara antropologi politik merupakan wilayah dengan dominasi wilayah Abangan dan Priyayi, yang dapat disebut sebagai nasionalis. Jika Santri maka merupakan dominasi Islam Modernis atau bahkan ada yg sedikit jumlahnya, cenderung fundamentalis. Islam Tradisional lebih dominan di wilayah Pesisir Jawa.
Maka Pondok-pondok Pesantren Modern tumbuh dan berkembang di wilayah ini. Contohnya, Pondok Modern Gontor, yg alumnusnya berkiprah secara demokratis, elegan, dengan kesantrian dan nasionalisme yg tinggi.

Muhammadiyah dan Persis yg konon dikatagorikan Islam Modernis kuat di pedalaman, seperti Malang, Yogya, Bandung, Solo, Magetan, dsb. Sementara NU lebih kuat di daerah Pesisir, seperti Gresik, Sidoarjo, Madura, wilayah tapal kuda, dll.

Dari seorang Dahlan Iskan yang lahir di Magetan, Jawa Timur, yg merupakan wilayah Jawa Mataraman, jelas dari kaca mata Antropologi Politik adalah perpaduan antara Nasionalis sekaligus Santri Modernis. Atau Nasionalis Religius yang Modernis. Dia bukan Priyayi karena dilahirkan di lingkungan yg tidak mampu secara ekonomi. Dengan kata lain dia bukan lahir di lingkungan birokrat atau mapan kehidupannya.

Kalau kemudian dia oleh sebagian anggota milis dianggap layak untuk menjadi RI-2 atau bahkan RI-1, itu secara histori politik kontemporer Indonesia, memang ada potensi.

Secara historis, dari 6 Presiden RI 5 orang dari etnis Jawa. Itu perspektif Antropologi Politik. Bukan SARA namun ilmiah. Dari 5 Presiden ber-etnis Jawa, (meskipun ada yang campuran seperti Soekarno yg campuran darah Jawa dan Bali atau Megawati yg campuran Jawa-Bali-Bengkulu), 4 di antaranya ber-sub-etnis Jawa Mataraman, yaitu Soekarno, Soeharto, Megawati, dan SBY. Sedangkan Gus Dur, adalah perpaduan Jawa Arek dan Jawa Mataraman. Karena Jombang adalah wilayah perbatasan antara Jawa Arek dan Jawa Mataraman.

DAHLAN ISKAN DAN KIPRAHNYA

Dahlan Iskan membesarkan Jawa Pos Group dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja waras. Dari semula hanya pekerja media, kemudian menjelma menjadi raja media tingkat nasional yg layak diperhitungkan, jelas merupakan prestasi yg luar biasa.
Tidak banyak yang seperti itu. Karena lebih banyak yg mati.

Kerja cerdasnya ditunjukkan ketika dihadapkan pada kondisi ketika Jawa Pos mau bangkrut ketika resesi thn 1997.

Waktu itu seluruh karyawan dikumpulkan. Untuk mengurangi beban biaya produksi, daripada di PHK, karyawan kemudian disebar ke seluruh Indonesia untuk mendirikan bisnis2 baru, di wilayah2 baru dengan berita ttg wilayah masing2. Idenya adalah bahwa setiap wilayah atau daerah sebenarnya memiliki ciri khas dan budaya serta value masing2. Jika itu dapat dikemas sesuai selera masing2 pasti akan laku. Maka berbekal antropologi ekonomi/bisnis yg pas2an dan dalam kondisi darurat karena kepepet muncul ide tsb. Maka kemudian muncul koran2 "RADAR" atau "POS" di daerah2 di seluruh Indonesia yg menggebrak kemapanan di daerah masing2 dengan style yg beda dengan kelugasannya. Dengan mengusung: 1. Power of Youth 2. Reinvention 3. Part of the Show, untuk meraih dominasi. Yang kemudian ditiru oleh koran2 lain.

Dalam konteks ini Dahlan Iskan telah menggabungkan (me-matrix-kan) kutub keunggulan bersaing baik Survival-based Competitiveness, maupun Hegemony-based Competitiveness (intip artikel saya di Blog The Managers Indonesia ( http://themanagers.org ) yg berjudul: "Keunggulan Bersaing Bangsa dalam Perspektif Antropologi Bisnis".

Ide kedua beliau dalam mengembangkan bisnis adalah membuat persaingan tajam antar media internal beliau. Sebagai contoh, di Jakarta ada Indo Pos, ada Rakyat Merdeka, yg diadu secara frontal head to head di pasar meski masih satu group, di samping ada Jawa Pos sendiri.

Ide berikutnya adalah TV lokal, meski yang ini belum begitu berhasil.

Akhirnya Jawa Pos Group dengan JPNN-nya berhasil mengembangkan bisnisnya menjadi lebih dari 150 koran, dengan total sirkulasi 1,8 juta exemplar. 20 TV Lokal, printing plants, paper mills, power plants, office buildings, dll. Yg dicapainya mulai krisis thn 1998.

Pemimpin yang baik adalah yang lahir dari krisis. Dalam krisis Dahlan Iskan justru piawai mengembangkan bisnisnya. Ini catatan saya, bukan opini saya.

Di BUMN banyak yg tidak efisien dan merugi. Yang dapat dikatagorikan dalam kondisi krisis. Maka mungkin saja pengalaman Dahlan Iskan akan tepat untuk mengurainya.

Di samping itu, semasih di Jatim Dahlan Iskan juga pernah diminta bantuan Pemda Jatim untuk restrukturisasi seluruh BUMD Jatim sbg Direktur Utama, sampai berhasil.

Dalam catatan saya yg bukan opini saya, maka track record Dahlan Iskan, tidak asing mengelola bisnis sektor swasta serta sektor publik (BUMD).

Mengapa saya dapat mengamati track recordnya, meski saya bukan orangnya.

Karena saya pernah menjadi anggota Ombudsman-nya Jawa Pos yg disebut Dewan Pembaca Jawa Pos (DPJP) Periode ke-3. Yang tugasnya mewakili pembaca Jawa Pos yg sekritis mungkin mengritisi Jawa Pos sekeras mungkin untuk kemajuan Jawa Pos. Yang kritiknya disampaikan secara langsung dan tatap muka. Beruntung kritik saya banyak yg diterima waktu itu. Lembaga ini tidak dimiliki media lain.

Saya waktu itu terus terang tidak cocok dengan style Jawa Pos yg terkesan kampungan, karena terkooptasi oleh media-media nasional yg lebih elegan. Namun dengan penjelasan2 tatap muka akhirnya saya dapat mengerti. Kritik saya secara tatap muka via Dewan Pembaca itulah yg membuat saya mengerti dan memahami. Apalagi setelah saya kaitkan dengan pemahaman saya dalam Antropologi Bisnis.
Juga masukan-masukan saya dan teman2 di Dewan Pembaca yg lain telah diterima dengan baik dan diaplikasikan dengan baik dan benar.

Dari sini saya mencatat, bahwa Dahlan Iskan sangat terbuka pada kririk dan konsisten.

DAHLAN ISKAN DALAM PUSARAN BIROKRASI

Sejak diserahi tugas dalam memimpin BUMD di Jatim, saya mencatat, Dahlan Iskan seolah berorientasi pada HASIL. Itu memang sikap yg harus dilakukan oleh TOP Manajemen. Sementara kepada anak buahnya Dahlan Iskan berorientasi berorientasi pada PROSES atau SISTEM. Untuk memudahkan kontrol dan evaluasi. Dia selalu merombak sistem yg sdh mapan sebelumnya, yg menyebabkan ketidakefektifan atau ketidakefisienan.

Maka saya tidak kaget ketika dia memangkas sistem pelaporan ketika pertama kali masuk sbg Bos BUMN.

Juga ketika rapat dengan Merpati, seluruh peserta harus setara. Tidak ada Direktur Utama, eselon 1 atau office boy.

Itu bukan mencari sensasi. Namun ingin mendengar input langsung dari seluruh
Stakeholders.

Juga ketika naik KRL ketika mau rapat di Istana Bogor. Bagi yg belum mengenalnya pasti dikira mencari sensasi atau ada kepentingan tertentu.

Sebagai type pekerja lapangan yg tidak suka di belakang meja, Dahlan Iskan harus check sendiri masalah yg ada. Bukan tidak percaya pada anak buah, tapi supaya mendapat roh atau empati yang benar dari permasalahan. Ingat tipikal birokrat kita yg ABS, shg menutupi kekurangan yg ada.

Dengan sidak langsung akan jelas. Apalagi tidak tiap hari. Karena ketepatan dan kecepatan informasi dengan melibatkan seluruh indra dari panca indra akan lebih akurat, presisi dan mendekati kebenaran. Jika kira hanya menggunakan mata hanya untuk membaca laporan anak buah akan lebih efektif jika kita menggunakan indra mata kita untuk mengamati langsung. Apalagi jika seluruh indra terlibat. Aroma kebusukan akan terpantau lebih jelas.

DAHLAN ISKAN DAN KESAHAJAANNYA

Dahlan Iskan sering menggunakan fasilitas pribadi dan tidak mengambil gaji. Ini juga bukan sensasi murahan. Karena sejak di BUMD Jatim sudah demikian.

Bandingkan dengan birokrat lain yg lebih sering memanfaatkan fasilitas negara, bahkan mengorupsinya.

Sedan pribadi Jaguar bernomor polisi L 1 JP (artinya Kendaraan Surabaya pemilik Jawa Pos yg diidentifikasi dengan no 1), tetap dibawa ke Jakarta.
Lebih banyak dipakai daripada kendaraan dinasnya. Dengan biaya sopir dan biaya BBM lebih banyak secara pribadi.

Saya bukan orangnya Dahlan Iskan. Saya hanya mencatat track record perjalanan hidupnya, bukan beropini, apalagi opini dari fenomenon secuil dalam gerbong KRL di suatu pagi.

Kekurangan Dahlan Iskan juga ada, dan saya pernah merasakannya. Namun saya kebetulan tidak suka membeberkan kekurangan orang lain. Apalagi kekurangannya lebih sedikit daripada kelebihannya.

Yang perlu saya garis bawahi: "Pemimpin sejati sering muncul dari suatu krisis". Apakah Dahlan Iskan mampu mengatasi krisis yg ada di BUMN? Kita tunggu dan lihat saja dulu. Karena kadang track record dapat berbelok karena hantaman lingkungan yg sangat kuat, meski sudah berusaha konsisten.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip

Jumat, 30 Desember, 2011 20:10
=========== ============

TANGGAPAN:

1. Liman PAP:

Terima kasih atas pencerahannya Pak Ratma,

Dalam perspektif manajemen, apa yang dilakukan Dahlan masih dalam batas kategori 'management by walking around.' Apa yang dilakukan Dahlan, lazimnya memang harus dilakukan seorang pimpinan perusahaan bisnis, untuk mencapai tahapan Total Quality Management.

Tetapi karena posisi nya sebagai pejabat publik, maka langkah-langkah tersebut dianggap langka dan fenomenal, apalagi kemudian dibelokkan oleh sebagian politisi sebagai isu politik di 2014.

Liman

Jumat, 30 Desember, 2011 21:44
=========== ===========

2. BERSAMBUNG

KLINIK MANAJEMEN: Implementasi 5 S atau 5 R



Oleh: Ratmaya Urip

1. Diah Beton:

Dear Managers,

Bisa disharing bagaimana pengalaman rekan-rekan dalam mengimplementasikan program 5 S atau 5 R di tempat kerja ?

Thank you, Diah

Selasa, 27 Desember, 2011 22:41

====== ================

2. Marmi Priarsih:

Dear Bu Diah,

Mungkin bisa dijelaskan apa itu 5R atau 5S krn tidak semua member milis paham apa maksud bu Diah, karena lingkungan/bidang pekerjaan yg berbeda

Salam
Marmi

Rabu, 28 Desember, 2011 08:29
=========== ============

3. Ratmaya Urip:

Bu Diah,

5R atau 5S sebagai suatu sistem manajemen yg branded yg merupakan salah satu sistem manajemen yg termasuk Japan Style, merupakan salah satu bentuk sistem manajemen yang memerlukan konsistensi tinggi dalam aplikasinya.

Sebagai sistem manajemen yang pada intinya mengusung "budaya bersih" dan berkorelasi langsung pada "environment performance" pada hakekatnya akan memperkuat dan melengkapi Operation Maintenance Management (OM Management). Sehingga diharapkan akan meningkatkan Productivity Quality (P Q), serta menekan risk pada aplikasi Safety, Health Environment Management (SHE Management).

Di samping itu 5S atau 5R akan meningkatkan Budaya Disiplin. Asal konsinten dan itu telah mendarah daging sebagai soul of activities, yang merupakan kebutuhan primer bagi kita, bukan anget2 tahi ayam.
Juga bukan karena terpaksa atau dipaksa.

Bagi banyak "roles" dalam manajemen, "budaya untuk selalu bersih" secara antropologis bukan budaya yg melekat pada bangsa Indonesia. Itulah mengapa "kekumuhan" banyak hadir di berbagai tempat di Indonesia, baik di ruang publik maupun ruang bisnis. Termasuk dalam hal ini dalam aktifitas di bisnis manufacture, construction, service, dll.

Contoh:

1. Di laci-laci kantor, sering dijumpai berbagai jenis barang yang tidak seharusnya ada di situ, misalnya barang2 yg tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kadang ditemukan BH, celana dalam atau makanan dan minuman dalam laci meja kerja.

2. Di bagian maintenance, khususnya bengkel sering acak-acakan. Tidak teratur, banyak oli tercecer, kunci pas tidak tersimpan pada tempatnya, petugas bengkel tidak berpakaian yg semestinya, dll.

3. Dalam pelaksanaan konstruksi di Indonesia, banyak dijumpai onggokan puing2 barang kotor yg menggunung, sehingga menghabiskan tempat. Padahal di kota2 besar "space"nya terbatas.
Kita selalu mengumpulkan sampah-sampah konstruksi sampai banyak terkumpul, baru dibuang setelah terkumpul banyak. Sehingga terkesan bahwa pekerjaan konstruksi sering kumuh. Beda dengan Budaya Jepang atau Barat, yang selalu membuang kotoran pada saat kotoran itu ada sekecil apapun, atau meski hanya sedikit. Sehingga pekerjaan konstruksi selalu nampak rapi tidak kumuh. Termasuk kumuh di Indonesia adalah pekerjaan galian kabel, pipa, selokan, dll.

5S yg terdiri dari SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE, atau jika dalam Bhs Indonesia adalah 5R, yg terdiri dari RINGKAS, RAPI, RESIK, RAWAT, RAJIN, menuntut kedisiplinan dan konsistensi tinggi. Dalam Bhs Indonesia yg lain akronimnya tetap dapat sebagai 5S yaitu SISIH, SUSUN, SASAP, SOSOH, SULUH. Dalam Bahasa Inggris juga 5S yaitu SORT, SYSTEMATIZE, SWEEP, STRANDARIZED, SELF-DISCIPLINE, atau 5C yaitu CLEAR OUT, CLASSIFY, CLEANING, CONFORMITY, COSTUM.

Dalam Bhs Indonesia dikenal juga akronim lain di samping 5R yaitu 5P yg terdiri dari Pemilahan, Penataan, Pembersihan, Pemantapan, Pembiasaan.

Pada hakekatnya, 5S atau 5R dimaksudkan untuk pembinaan perilaku karyawan melalui perubahan tempat kerja atau lingkungannya ke arah yg lebih baik, untuk menambah konsistensi dan disiplin, serta meningkatkan tanggap kerja atau tanggap darurat atas perubahan yg pasti terjadi. Atau melatih kesigapan dan kecepatan kerja.

Untuk supaya lebih jelas dan lebih lengkap sebaiknya dengan tatap muka.
Saya siap membantu untuk itu.
Karena seperti halnya dengan Japan Style yg lain, seperti Lean Manufacturing, Kaizen, TQC/TQM termasuk Seven Tools, Toyota Way, dll memang harus lebih banyak dilakukan dengan contoh atau keteladanan.

5S atau 5R memang seolah lebih ke "process oriented" yg termasuk dalam bagian OM Management dengan pendekatan "operational-based excellence". Tujuannya untuk memperkuat "culture" dan "value" yg pada gilirannya nanti akan meningkatkan "productivity quality" melalui aspek kedisiplinan dan konsistensi secara "team work" maupun "individual".
Dalam prakteknya akan memberikan kontribusi pada pencapaian "Business Excellence" maupun "Public Service Excellence" melalui "Operation-based Excellence" maupun menumbuhkan "Innovation-based Excellence".

Salam Manajemen.

Ratmaya Urip

Rabu, 28 Desember, 2011 17:19

4. Diah Beton

Selamat sore pak Ratmaya Urip,
Terima kasih atas masukannya...
Saya juga senang membaca tulisan-tulisan Bapk....
Salam kenal, Diah
Selasa, 3 Januari, 2012 03:31
= ========= ==========

5. Rky Refrinal Patiradjawane:

Memang sungguh berbeda, membaca uraian dari seseorang yang kaya akan pengalaman dan menguraikan dengan begitu detailnya namun mudah dipahami tanpa terlihat emosional dan menggurui..

Cermin sebuah tahapan yang sampai pada kebijakkan dan kearifan berfikir.

Semoga kelak saya bisa menjadi insan seperti beliau.

Salam Hormat Pak Ratmaya..

Rky Refrinal Patiradjawane
~Nyong Ambon~
Selasa, 3 Januari, 2012 07:36
========== ============

6. Ratmaya Urip:

Pak Rky dan Bu Diah,

Terima kasih atas apresiasinya.

Sebenarnya apa yang saya tulis dalam artikel-artikel saya, merupakan sebagian kecil dari aplikasi KNOWLEDGE MANAGEMENT.

Roh dari tercapainya "excellences", rahimnya adalah KNOWLEDGE, baik SCIENCE, TECHNOLOGY, maupun VALUE and CULTURE (termasuk Sosiologi dan Antropologi). Semuanya wajib balance atau dapat terformulasi sebagai MATRIX.

Pola pikir CONVERGEN untuk mencari SOLUSI dan pola pikir DIVERGEN untuk MENGURAI MASALAH adalah formulanya.

Sedapat mungkin dalam pemahaman, teori dan aplikasinya, KNOWLEDGE MANAGEMENT wajib untuk diaplikasikan dengan TACIT KNOWLEDGE. Supaya dalam pengambilan keputusan dapat CEPAT, AKURAT dan
PRESISI. Sehingga kita dapat mengambil keputusan seolah secara INTUITIF, meskipun sebenarnya itu adalah ANALITIS yg dilakukan secara cepat. Atau kita sudah menjadi TACIT. Namun untuk itu memang memerlukan "basic education" yg cukup, "self learning and development", "experiences", "sharing with experts" dan mampu memanfaatkan panca indra secara proporsional dan kontekstual serta mutakhir, serta balancing antara TEORI dan PRAKTEK. Ingat pemeo yg sering saya sampaikan: "TEORI tanpa PRAKTEK itu OMONG KOSONG, sedang PRAKTEK tanpa TEORI itu NGAWUR. Apalagi tanpa TEORI dan/atau PRAKTEK".

Dalam pola pikir dan pola tindak wajib berbekal pemanfaatan pada apa yg disimbolkan sebagai 3 H (Hand,Head,Heart), dan matrix dari 3 I (Implementation,Improvement,Innovation)
Demi tercapainya 3 Q (Quality,Quantity,Quantum) dalam 3 P (Product,Process,People).

Untuk tercapainya TACIT KNOWLEDGE memang harus melalui tahapan awal berupa penguasaan dan pengayaan atas EXPLICIT KNOWLEDGE.

Jadi konklusinya, sebenarnya sangat sederhana, yaitu "managing tacit knowledge after explicit knowledge"

Dan yang terpenting jangan pelit berbagi KNOWLEDGE. Karena Insya Allah, kita akan diberkahi dengan lebih banyak diberikan KNOWLEDGE baru dan mutakhir olehNYA.
Amin.

Salam Manajemen.

Ratmaya Urip.

Note: Mohon menyebutkan sumbernya jika mengutip Artikel ini. Terima Kasih.

Selasa, 3 Januari, 2012 09:05
=============== =====

Satu Lagi Puisi mBeling Ratmaya Urip

(Picture: under property right and courtesy of: AJBS Galerry-Surabaya)


Saat Fajar Baru Tengah Merekah

(Sepotong Madah Di Negeri Antah Berantah)

Oleh: Ratmaya Urip



Fajar baru tengah merekah

Yang mebuat segalanya membuncah

Meski menyisakan gundah

Karena negeri tetap saja resah dan susah

Karena pemimpin negeri banyak ulah

Yang bermuara pada serakah



Sementara setumpuk nurani telah menyerah pasrah

Membuat segalanya semakin goyah



Anarki, onani dan korupsi

Aroma yang tanpa henti selalu mencabik-cabik negeri

Mengoyak punagi

Mengguncang harga diri

Segalanya tak cukup untuk berakhir hanya dengan refleksi

Apalagi dengan caci maki

Dan menggoyang kursi tinggi



Menyibak onak di benak yang kebak nafsu penuh iri dan dengki

Menata hati ‘tuk siap kompetisi yang manusiawi dan hakiki

Menyapu hasrat ragawi yang tanpa azasi selalu bergejolak tanpa henti

Menyapa ramahnya kebersamaan dan kesetaraan duniawi yang hayati

Menjauh dari azab nista rohani yang surgawi

Itulah fajar baru yang sebenarnya dinanti



Tapi selama serakah tetap pongah

Nurani tak hendak memperbaiki kisah

Tak ada sisa untuk amanah

Yang ada hanya kilah dan sumpah serapah

Dan pemimpin atau yang di atas tetap korupsi sebagai satu-satunya ulah

Selingkuh dengan aib dan dosa dalam menjarah

Jelata atau yang di bawah tetap anarki dalam bertingkah

Serta onani menjadi tujuan golongan menengah

Maka negeri tak akan pernah berubah

Tetap saja menjadi sampah

Selalu pasrah dengan keterpurukan fana yang selalu menoreh pada legamnya sejarah



Sidoarjo, Fajar Baru 1 Januari 2012

ooOoo

Senin, 26 Desember 2011

Geguritan Ratmaya Urip



Kapang (2)

(Geguritan: Ratmaya Urip)


Rosaning rasa kapangku
Kang tanpa nduweni pungkasaning wektu
Tansah mijil nglangkahi jejering kalbu
Mbludag ngebaki tresna kang tan kendat tansah lumaku
Sak indenging wektu
Sak entekeing ambeganku kang tansah mbludag ginawa tuhu
Karengkuh ing pawana lan bayu
Kairing paksi kang tansah telaten memayu
Tumrap jatining rasa ati kang tanpa watesing laku

Rasa kapang mring sliramu
Marang esem kang ngujiwat lan guyu kang lumayu
Uga kapang marang warpamu kang ora nduweni buntu
Tansah memayu hayuning tunggu
Senadyan ora ngerti kapan isa ketemu

Aku nyenyuwun muga kapangku enggal sirna
Binareng blegering sunyata
Lumantar pisahing raga marga pada-pada karengkuh sisihan kang beda
Kairing banjiring kuciwa lan udaning waspa lumebering bantala
Binareng pupusing warta kang luwih saka sawetara
Ananging kapang iki tansah adoh ing pungkasan lan tansah cedak ing purwaka

Sidoarjo, Senin, 26 Desember 2011

Geguritan Ratmaya Urip

Kapang
(Geguritan: Ratmaya Urip)


Yayi,

Rina-rina trusing ratri kang wus lumampah tedak ing yuswa

Tan ana kang kuwagang nglengserake blegering rasa

Kang saya ngrembuyung lan nyengkuyung rasa kapang kang nyata

Kang angel banget ilang saka jroning jaja

Kang ora nate leren amarga tansah ngugemi sejatining tresna

Tanpa sadumuk lirwa




Prasasti kang nate kawedar lan kadeder duk ing nguni

Tansah paring penget lan tansah bali

Nyurung krenteging ati

Mring rasa kang kebak aji tanpa risi

Kepengin njumbuhake kapang iki

Kang saya gemrojok ngebaki punagi


Sidoarjo, Senin, 26 Desember 2011 09:57

Sabtu, 24 Desember 2011

Geguritan Kanggo Mengeti Hari Ibu/Puisi untuk Memperingati Hari Ibu




Biyung,

Ing garbamu aku nate ngrasakake angeting katresnanmu

Uga ademing panggulawentahmu

Kang tanpa upama nglejarake langkahku tumuju ing karaharjan tanpa ninggalake paugeran lan kasusilan

Ing waspamu kang nyimpen luhuring bebana aku kaajap bisa dadi jalma kang utama

Aku kapang, Biyung

Marang pangajapmu kang ora nate kendat paring pandonga kanggo jembar lan lancare langkah-langkahku

Sidoarjo, 22 Desember 2011

¤¤¤¤¤¤¤¤

Ibu,

Di rahimmu aku pernah menikmati hangatnya kasihmu

Juga didikan dan ajaranmu

Yang tanpa kecuali selalu meringankan langkahku menuju kebahagiaan tanpa meninggalkan norma dan pekerti

Dalam air matamu yang menyimpan luhurnya cita, aku diharap dapat menjadi manusia yg sempurna

Aku rindu, Ibu

Rindu pada harapmu yang tidak pernah berhenti berdoa bagi lancar dan luasnya langkah-langkahku


----------- ----------
Sidoarjo, 22 Des 2011

Ratmaya Urip
Rabu, 21 Desember, 2011 17:37