Rabu, 22 Januari 2020

Klinik Konstruksi Berebasis Geokimia & Biokimia Konstruksi


KLINIK DUNIA KONSTRUKSI
BERBASIS GEOKIMIA & BIOKIMIA KONSTRUKSI
(Bagian 1)
Diasuh Oleh: Ratmaya Urip 


Beberapa kawan telah mengajukan pertanyaan melalui email saya,  mengenai masalah konstruksi, dalam hal ini yang berhubungan dengan teknik tanah (geoteknik) khususnya yang berkaitan dengan Geokimia Konstruksi. Terima kasih atas pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan. Saya akan berusaha memberikan jawaban, semoga cukup puas dengan jawaban saya. Jawaban ini sekedar sharing berdasar secuil experiences yang saya peroleh di lapangan.

Perlu diketahui, saya juga membuka kesempatan untuk berdiskusi atau sharing untuk masalah-masalah Engineering, Construction, Mining, dan/atau Industrial Environment/Issues. Materi-materi untuk bahan diskusi meliputi : Strategic Management, Project Management, Construction Management, SHE Management, Total Quality Management (termasuk ISO Series), Production-Operation Management, dan juga Material Science & Technology seperti Concrete (Beton), Steel (Baja), Cement (Semen), Paper (Kertas), serta Geochemistry for Civil Engineering (Geokimia Teknik Sipil), dll.
 
Untuk Bagian 1 ini, akan saya jawab beberapa pertanyaan dari sdr. David Iswahyudi, tentang konstruksi khususnya tentang teknik tanah (geoteknik) yang berbasis geokimia teknik sipil, sbb:


Sebelumnya terima kasih atas balasan e-mail saya yang pertama dahulu, saya masih bingung untuk beberapa hal tentang stabilisasi gambut dengan bahan fly ash. Maaf kalau terlalu banyak pertanyaannya tapi saya harap bapak mau membantu saya dalam hal ini. sebelumnya terima kasih. saya menunggu balasannya. (David)


ooOoo


Pertanyaan David :
1.Penambahan fly ash (2%, 4%, 6%, 8%) pada lempung malah menurunkan BJ campuran secara berbanding lurus, mengapa?

Jawaban Ratmaya Urip :
Sekali lagi saya perlu menegaskan, lempung itu terdiri dari berbagai macam mineral (senyawa majemuk) dan atau oksida. Lempung terdiri dari beberapa macam senyawa/ mineral : kaolinite, dickite, nacrite, halloysite, montmorillonite, beidellite, nontronite, saponite, illite, dan lain-lain. Untuk penelitian yang sekarang dilakukan, jenis yang mana yang dipakai??? Karena masing-masing mineral mempunyai density, specific grafity dan specific surface yang berbeda pula. Begitu pula komposisi oksidanya juga berbeda (jumlah SiO2 dan Al2O3, serta Fe2O3 berbeda). 

Kalau kita tinjau mineralnya saja dengan mengabaikan oksidanya, maka sebagai contoh : 

· Kaolinite berat jenisnya = 2,60 s/d 2,68 gr/cm3
· Halloysite berat jenisnya = 2,00 s/d 2,20
· Illite berat jenisnya = 2,76 s/d 3,00 

· Belum lagi berat jenis mineral-mineral yang lain. Meskipun di alam, lempung terdiri dari kombinasi beberapa mineral., yang tidak mungkin Kaolinite murni, Montmorillonite murni, dan sebagainya. Pasti kombinasi berbagai macam mineral. Hanya yang paling dominan yang mana.

Sementara fly ash rata-rata mempunyai berat jenis lebih kurang 2,68.
Semen mempunyai berat jenis lebih kurang 3,05 s/d 3,15 

Perlu diketahui, bahwa di samping kandungan oksida, fly ash juga dapat dibedakan dari kandungan senyawa/mineralnya, di antaranya glass (paling dominan karena kandungannya 50% s/d 90%), haematite, magnetite, mullite, quartz, dll.

Jika fly ash dicampur dengan lempung yang kandungan senyawa dominannya berupa Kaolinite yang berat jenisnya hampir sama dengan fly ash yaitu 2,68, maka berat jenis campuran lempung dan fly ash tidak akan berubah

Jika fly ash dicampur dengan lempung yang kandungan senyawa dominannya berupa Halloysite yang berat jenisnya 2,00 s/d 2,20, maka berat jenis campuran akan cenderung naik seiring dengan tambahan dosis fly ash-nya, jika dibandingkan dengan berat jenis lempung sebelum dicampur fly ash

Jika fly ash dicampur dengan lempung yang kandungan senyawa dominannya berupa Illite yang berat jenisnya 2,76 s/d 3,00, maka berat jenis campuran akan cenderung turun seiring dengan tambahan dosis fly ash-nya, , jika dibandingkan dengan berat jenis lempung sebelum dicampur fly ash.
 
Tinjauan di atas masih belum memperhitungkan analysis oksida dan analysis specific surface.

Untuk dapat memahami hal tersebut sebaiknya memang harus mempelajari geokimia dan kimia teknik sipil, apalagi jika ditambah Ilmu Metalurgi. Jika hanya berbasis kemampuan geoteknik/mekanika tanah/teknik fondasi (cabang dari Ilmu Teknik Sipil), maka akan sulit memahaminya, atau akan bias hasilnya.

Katagori tanah (soil) dalam Ilmu Teknik Sipil, yang hanya membatasi pada jenis clay, silt, dan sand maupun kombinasi dari ketiganya tidaklah cukup untuk memahami perilaku tanah (soil). Apalagi untuk memahami bebatuan.
ooOoo

Pertanyaan David :
2. Dari penelitian penambahan fly ash menurunkan IP secara berbanding lurus? berarti grafik IP tidak mungkin berbentuk parabola kan (pada campuran yang sama)? apa juga berlaku untuk semua jenis tanah?

Jawaban Ratmaya Urip : 

IP dipengaruhi oleh nilai luas jenis (specific surface). (Awas perhatikan beda antara luas jenis/specific surface dan berat jenis/specific gravity). Masing-masing jenis tanah lempung mempunyai specific surface yang berbeda. Semakin besar nilai specific surface maka keplastisannya semakin tinggi, karena dengan semakin besar nilai specific surface tanah akan semakin lembut butirannya, sehingga butiran akan semakin spherical dan antar butir akan semakin mudah menggelincir, sehingga pergerakan butiran akan semakin mudah.

Nilai-nilai specific surface :
· Kaolinite = 15 m2/gr = 150.000 cm2/gr
Halloysite = 43 m2/gr = 430.000 cm2/gr
· Illite = 100 m2/gr = 1.000.000 cm2/gr
· Montmorillonite = 800 m2/gr = 8.000.000 cm2/gr

Nilai specific surface fly ash = 1800 s/d 5900 cm2/gr tergantung dari jenis fly ash-nya (dipengaruhi jenis batubaranya) dan cara menangkapnya (dipengaruhi oleh sistem penangkapan fly ash di pabrik penghasil fly ash, apakah dengan Electrostatic Precipitator, dust collector atau lainnya).

Dari perbandingan nilai specific surface, ternyata nilai specific surface fly ash jauh lebih kecil daripada nilai specific surface berbagai senyawa tanah lempung, sehingga dapat dipastikan bahwa fly ash jauh kurang plastis dibandingkan dengan tanah lempung (clay elements). Dengan kata lain fly ash mempunyai IP yang jauh lebih rendah daripada tanah lempung.

Tentang bentuk grafik IP, saya duga memang tidak mungkin berbentuk parabola, namun lebih ke bentuk linier, karena perbandingan nilai specific surface fly ash sangat jauh lebih kecil daripada nilai specific surface tanah lempung.

Apakah berlaku untuk semua jenis tanah? Itu tergantung nilai specific surface tanah, karena tanah itu bukan hanya tanah lempung (felspar, zeolite, dll) atau clay element saja, namun juga ada limestone, chalk, marl, dll, yang masuk dalam lime element, serta other elements. Meskipun yang dominan di bola dunia ini adalah clay component (felspar, zeolite, dll).

Jika specific surface tanah lebih kecil daripada specific surface fly ash, maka fly ash-nya lebih plastis. Beberapa jenis tanah kapur tertentu mempunyai specific surface yang lebih rendah daripada fly ash.

ooOoo

Pertanyaan David :
3. Juga menaikkan plastis limit, padahal fly ash bukannya bersifat non plastis?

Jawaban Ratmaya Urip :

Dari jawaban no. 2 di atas, saya kira sudah dapat memahami seluruh persoalan.
Apakah fly ash itu bersifat plastis atau non plastis adalah relatif, tergantung dengan jenis tanah yang akan dicampur fly ash. Jika specific surface fly ash lebih besar daripada tanah, maka fly ash lebih plastis, jika lebih kecil maka fly ash menjadi lebih tidak plastis.

ooOoo

Pertanyaan David :
4. Saya agak kesulitan mencari reaksi kimia antara fly ash, kapur dan air

Jawaban Ratmaya Urip : 

Kapurnya CaO (kapur padam/kapur bakar/quick-lime) yang berupa oksida atau senyawa kapur majemuk CaCO3 (kapur alam)??

Jika kapurnya oksida kapur maka reaksinya :

CaO + H2O à Ca(OH)2
2(Al2O3.2SiO2) + 7Ca(OH)2 à 3CaO.2SiO2.aq + 2(2CaO.Al2O3.SiO2.aq)
Disingkat à CSH + CASH

Bisa juga terjadi reaksi sebagai berikut (dengan persyaratan dan ketentuan tertentu) :

3CaO + 3SiO2 à 3CaOSiO2 disingkat C3S
2CaO + 2SiO2 à 2CaOSiO2 disingkat C2S
3CaOSiO2 + H2O à 3CaOSiO2.aq + Ca(OH)2
2CaOSiO2 + H2O à 2CaOSiO2.aq + Ca(OH)2
Ca(OH)2 + Al2O3.SiO2 à CaO.SiO2.aq + CaO.Al2O3.SiO2.aq disingkat CSH + CASH

ooOoo

Pertanyaan David :
5. Dari salah satu dosen UGM pembimbing saya mengatakan komposisi bahan campur untuk tanah dibatasi 20%. artinya bila campuran melebihi batas tersebut maka hasil CBR akan jelek. apa benar begitu?

Jawaban Ratmaya Urip :

Yang perlu dipahami adalah, jenis tanahnya harus diketahui dulu, dalam hal ini jenis oksida dominannya dan jenis mineral dominannya (kandungan SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO dan oksida-oksida lainnya, serta jenis mineral-mineralnya seperti Kaolinite, Dickite, Nacrite, Halloysite, Montmorillonite, Beidellite, Nontronite, Saponite, Illite (clay component), limestone, chalk, marl (lime component), dan mineral-mineral lainnya.

Demikian juga jenis bahan campurnya (dalam hal ini jenis oksida atau mineral dominannya.

Tanpa pengetahuan yang cukup tentang kandungan oksida atau kandungan mineralnya, sulit memprediksi jumlah bahan pencampur yang maksimal (kecuali jika terbatas hanya pada ilmu teknik sipilnya saja).

Untuk itu diperlukan penelitian chemical analysis dan geological analysis (khususnya geochemical analysis) dari tanah dan bahan pencampurnya. Jika hanya penelitian yang bersifat physical seperti penelitian di laboratorium Teknik Sipil, datanya tidak cukup untuk dianalysis secara hakiki.

Memang untuk beberapa referensi mengatakan, bahwa kebanyakan dibatasi sampai 20% (Itu karena keterbatasan kemampuan orang-orang teknik sipil, yang biasanya lemah dalam ilmu kimia dan ilmu geologi)
Pada prinsipnya saya masih dapat memahami (berdasar penelitian kimia dan geologis), jika bahan pencampurnya sampai 40%. Namun itu berdasar teori. Untuk prakteknya masih harus diperlukan banyak penelitian lagi, karena yang meneliti untuk aspek ini belum banyak (bahkan mungkin tidak ada). Kenapa tidak banyak yang meneliti? Karena orang-orang teknik sipil terlalu sibuk dengan penelitian yang lebih physical, atau tidak suka Ilmu Kimia, meskipun hanya terbatas Ilmu Kimia Teknik Sipil yang hanya terdiri dari 8 unsur utama. Sementara orang-orang dari teknik kimia lebih tertarik pada penelitian kimia industri, kimia polimer, petrokimia, dan kimia minyak. Juga orang-orang geologi lebih suka meneliti tentang geologi yang lebih komersial, seperti pertambangan logam mulia dan minyak.

Bidang ini adalah bidangnya teknik sipil, khususnya kimia teknik sipil atau geokimia teknik sipil, ilmu yang masih perlu terus menerus dikembangkan, oleh orang-orang teknik sipil sendiri, khususnya untuk program-program master atau doktor).

Saran saya: untuk penelitian index plastisitas, batas atterberg, sudut gesek dalam, swell, CBR, stabilisasi tanah (solidification), dan lain-lain, sebaiknya harus dikaitkan dengan ilmu kimia teknik sipil dan geokimia teknik sipil, supaya lebih hakiki.

Oh, ya...Siapa dosen UGM yang menjadi pembimbing anda? Salam saya untuknya, karena saya dibesarkan di sana. Kalau perlu kita bisa diskusikan hal ini.

ooOoo

Pertanyaan David :
6. Apakah hubungan swell selalu berbanding lurus dengan CBR walaupun pada campuran yang berbeda? 

Jawaban Ratmaya Urip :

Swell berhubungan dengan kerapatan butiran tanah atau besar kecilnya angka pori tanah, atau permeabilitas dari tanah. Ini kita belum bicara masalah specific surface. Semakin besar swell-nya maka jumlah butiran tanah dalam satu satuan volume akan berkurang. Atau lebih tepatnya jumlah butiran per satuan volume akan berkurang. Jika jumlah butiran per volume berkurang akan menyebabkan daya dukung tanah berkurang. Jika daya dukung tanah berkurang menyebabkan nilai CBR turun. Begitu juga sebaliknya.

Sekali lagi saya sampaikan, bahwa sebelum proses pencampuran harus selalu diketahui dulu oksida dan atau mineralnya dengan chemical analysis dan geological analysis, jangan semata-mata berdasar penelitian fisikal saja. Juga moisture content-nya.

ooOoo

Pertanyaan David :
7. Untuk swell, mengapa hanya dilakukan 4 hari padahal setelahnya masih terjadi swell yang mungkin signifikan?

Jawaban Ratmaya Urip :

Tergantung jenis oksida atau mineral tanahnya. Untuk tanah dengan kandungan kalsium yang dominan, maka 4 hari sudah cukup. Tanah kapur-pun, jika kapurnya CaO atau CaMgO atau MgCO3 atau CaSO4nH2O bukan CaCO3, juga memerlukan waktu swelling yang lama. Masalahnya memang tanah kapur kebanyakan adalah CaCO3. Sementara tanah dengan kandungan alumina dominan (lempung ekspansip), maka proses swelling sering memerlukan waktu yang lama, khususnya jika moisture content-nya tinggi.

ooOoo

Pertanyaan David :
8. Juga pada CBR, mengapa titik yang diambil yaitu 0,1" dan 0,2"? padahal peningkatan yang besar masih terjadi setelahnya.

Jawaban Ratmaya Urip :

Mirip dengan jawaban nomor 7

ooOoo

Pertanyaan David :
9. Apa anda memiliki literatur tentang stabilisasi tanah gambut dengan fly ash? karena saya sudah mencari di berbagai media belum saya temui topik tersebut.

Jawaban Ratmaya Urip :

Literatur tentang hal itu memang sangat sedikit, saya sendiri tidak memilikinya. Saya hanya memiliki pengalaman lapangan, sehingga saya sedikit mempunyai referensi empiris, meskipun sebenarnya dapat saya buat menjadi sebuah buku. 

Kita juga dapat menganalisisnya berdasar pengetahuan kimia dan geologi kita (tentu saja di samping pengetahuan geoteknik kita).

Yang pasti tanah gambut (yang banyak jumlahnya di Kalimantan dan Sumatra), memang berbeda dengan tanah rawa di Jawa. Tanah gambut dominan dengan unsur kimia organik, khususnya C atau CO2, meskipun kandungan SiO2 dan Al2 O3 juga banyak. Gambut sebenarnya juga dapat dimasukkan sebagai bahan bakar setengah fosil. Sementara tanah rawa di Jawa lebih dominan SiO2 dan Al2O3, dengan kandungan mineral dominan Halloysite, Montmorillonite, dan Illite yang masuk dalam katagori kimia non-organik.

Dalam stabilisasi tanah gambut, maka kita harus berasumsi bahwa kandungan organiknya (khususnya lignin dan humusnya) dianggap sebagai filler, sementara cellulosa-nya dapat dianggap sebagai reinforcement.

  Meskipun kita tahu bahwa bahan organik sangat merugikan bagi pembentukan kekuatan beton atau tanah. Jika ingin benar-benar berfungsi untuk stabilisasi tanah maka tanah gambut harus dibakar dulu supaya kandungan carbonnya menguap, dan yang tersisa adalah SiO2 dan Al2O3 dominan. Namun itu pasti memerlukan biaya yang besar sekali dan juga mencemari lingkungan dalam hal ini menimbulkan kebakaran tanah gambut yang lebih luas (dan akan timbul efek rumah kaca karena adanya emisi karbon dioksida, di samping masalah asapnya yang bisa terekspor ke Malaysia dan Singapura)

ooOoo

Pertanyaan David :
10. Dari penelitian saya dihasilkan nilai CBR sbb:

- tanah A tanpa peram (gambut+6%fly ash) = 8.302%
- tanah A peram 7 hari = 8.927%
nilai itu lebih besar dari
- tanah B tanpa peram (gambut+7%gypsum+6%fly ash) = 8.022%
- tanah B peram 7 hari = 8.841%
mengapa bisa begitu?


Jawaban Ratmaya Urip :

Saya tidak dapat menganalisis lebih dalam karena saya belum memperoleh data kandungan kimia dan geologi dari tanah gambut serta kandungan kimia dari fly ash. Ibarat dokter, maka saya tidak dapat mendiagnose suatu penyakit jika data laboratoriumnya belum ada. Ingat, bahwa fly ash-pun bermacam-macam jenisnya. Ada yang low calcium ada yang high calcium. Juga apakah termasuk fly ash klas F (hasil pembakaran batubara jenis anthracite dan bituminous) atau klas C (hasil pembakaran batubara jenis sub-bituminous atau lignite).

Meskipun saya tidak dapat menganalisis karena tidak ada data penelitian geologi dan penelitian kimia, namun saya dapat menduga. Dugaan saya adalah sebagai berikut :

· Fly ash yang dipakai adalah jenis C, yang biasanya high calcium. Karena ada calcium, maka akan berreaksi dengan SiO2 dan Al2O3 yang ada di tanah gambut.
· Gypsum adalah CaSO42H2O, yang mempunyai sifat mengembang (swell) yang tinggi.

Karena dugaan tersebut di atas, maka :
  • Tanah A dengan peram 7 hari akan lebih besar nilainya daripada tanah A tanpa peram, karena calcium dalam fly ash klas C yang berreaksi dengan silika oksida dan alumina oksida dalam tanah gambut akan menyebabkan terjadinya sementasi dan flokulasi, sehingga kerapatan butiran menjadi tinggi, dengan kata lain jumlah butiran per satuan volume akan naik, sehingga nilai CBR-nya akan naik. Begitu juga halnya dengan perbedaan nilai CBR yang terjadi antara tanah B dengan peram dan tanpa peram.
  •  
  • Perbedaan tanah A dan tanah B terjadi karena dengan adanya gypsum maka potensi untuk mengembang menjadi besar, karena gypsum adalah material yang mudah mengembang. Karena mengembang, maka jumlah butiran per satuan volume menjadi mengecil, sehingga nilai CBR akan mengecil. Hanya saja tingkat pengembangan dari gypsum, masih lebih kecil daripada tingkat sementasi atau flokulasi dari adanya reaksi kimia antara calcium dari fly ash klas C dengan silika dan alumina oksida.
  •  
ooOoo

Pertanyaan David :
11. Apakah nilai Indek Plastisitas berbanding lurus dengan nilai swell?

Jawaban Ratmaya Urip :

Ya. Karena logikanya jika swell-nya besar, maka jumlah butiran per satuan volume akan mengecil, sehingga proses gerak mekanis dari butiran akan semakin leluasa, karena ruang gerak butiran menjadi lebih besar. Ini adalah jawaban yang paling mudah dipahami karena sangat sederhana.

Di samping itu ada jawaban saya yang lain yang berkaitan dengan nilai specific surface, namun penjelasannya terlalu rumit, yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang benar-benar memahami kimia, geologi dan metalurgi.

Demikian jawaban-jawaban saya. Yang pasti saya memang berangkat dari disiplin Ilmu Teknik Sipil, namun karena ternyata belum cukup untuk memahami tentang perilaku struktur tanah, maka saya belajar tentang tanah lebih dalam, termasuk aspek kimia, geologi, dan pertaniannya.

Yang pasti pertanyaan-pertanyaan anda sangat bagus, yang hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang benar-benar dalam pengetahuannya tentang hal ini, yang tidak mungkin diperoleh jawabannya dari seseorang yang hanya mendalami Teknik Sipil, khususnya dalam hal ini Ilmu Geoteknik atau Ilmu Teknik Tanah semata, tanpa didukung Ilmu Geokimia
========== ==

Catatan:
Pengasuh adalah pemerhati dan pelaku di bisnis Konstruksi, Pertambangan, Manufaktur, dan Manajemen. Pengasuh adalah Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.



 KLINIK MANAJEMEN

Diasuh Oleh: Ratmaya Urip


Sekali lagi tentang :
Dikotomi PROSES Vs PRODUK


Oleh: Ratmaya Urip*)
============ ====

Dunia tersentak dengan adanya recall  atas 2,5 juta unit  produk Samsung Galaxy Note 7, yang konon  ongkos penarikannya menelan biaya 1 Miliar USD, atau sekitar 13 Triliun Rupiah. Recall  besar-besaran yang dipicu oleh performa batere yang mudah meledak, sehingga sangat menyibukkan keamanan dunia penerbangan ini tentu saja sangat menyesakkan bagi Samsung.
Maaf, kali ini penulis tidak akan membahas secara mendalam tentang hal ini. Karena penulis lebih tertarik untuk mengupasnya dari perspektif Manajemen, khususnya  QSHE Management (Quality-Safety-Health & Environment Management).
Karena 5-R (Rework-Reject-Repair-Return-Recall), adalah “hantu” bagi dunia industri, yang kali ini kembali terjadi dan menimpa dunia elektronik, setelah selama ini recall  lebih akrab dialami oleh dunia otomotif, seperti yang dialami oleh TOYOTA MOTOR, GENERAL MOTOR, VW, dan lain-lain.
Masalahnya selama ini perusahaan-perusahaan-perusahaan tersebut telah memiliki sitem manajemen branded, dengan tight process-based orineted.
Beberapa tahun yang lalu saat penulis masih mengasuh rublik KLINIK MANAJEMEN,dalam hal ini  rublik atau desk SOLUSI MANAJEMEN BISNIS di suatu  Radio paling populer di Surabara (sebagai  penjaga gawangi desk selama 16 tahun), dan juga sebagai pengasuh rubrik serupa di suatu milis kala itu,  ada seseorang yang menyampaikan hal sebagai berikut, yang menyikapi adanya dikotomi antara ROSES Vs PRODUK, dengan komentar atau opini sebagai berikut:
“Dalam pendekatan management seringkali orang selalu menikmati proses.... Tapi saya paling gak pernah urus proses. Proses boleh indah atau berantakan. End of the day...terpenting result”…begitu komentar yang sekaligus opininya.
Mendengar atau membaca opininya, saya kemudian coba menyampaikan respons sebagai berikut:

RATMAYA URIP menjawab:
Dikotomi PROSES VS RESULT adalah issue klasik.
Saya sebenarnya tidak begitu nyaman dengan opini  "menikmati proses". Karena saya menikmati baik input/raw/resource , process maupun output/result, secara balance.

Dari experiences saya yang panjang, akhirnya saya cenderung balancing atau, dengan menarik matriks dari PROSES dan RESULT sekaligus INPUT/RAW/RESOURCES.
Dengan kata lain, tiga-tiganya penting, namun dapat memilih salah satu yg dipentingkan case by case.

Mendahulukan Proses, sering "wasting time" sehingga kurang efektif dan tidak efisien.

Mementingkan Result juga tidak efisien. Karena sering terjadi 5-R (rework, repair, reject, return dan recall). Sehingga "cost of quality" menjadi besar.

Kasus penarikan (recall) puluhan ribu produk otomotif TOYOTA, VW, General Motor, yg sudah beredar di customer beberapa tahun yg lalu misalnya, adalah contoh recall yg riil.
Keruntuhan jembatan Mahakam di Kalimantan Timur beberapa saat yang lalu, juga menurut saya karena kurangnya perhatian pada Proses.

Sementara OM Management di BUMN dan pelayanan publik oleh government terlalu berat ke Proses.
Sehingga sering tidak efektif maupun tidak efisien.

Menurut saya pilihan "Result Oriented" ataukah "Process Oriented" tergantung dari:

1. Dengan siapa kita berbisnis,
2. Skala bisnis,
3.Sistem atau management style,
4. Jenis bisnis, dan
5. Posisi seseorang dalam manajemen.

Coba kita amati satu per satu;

1
. Dengan Siapa Kita Berbisnis.
Bisnis untuk Keperluan Ekspor :

Bisnis dengan orang Jepang dan Amerika atau Eropa kita dituntut dengan urusan Proses yang memusingkan. Perlu banyak requirements seperti ISO Series, lolos FDA, dll. Juga sering terjadi assessment atau audit atas Proses.

Contoh riil:
Mataram Garment di Yogya yang 100% produknya impor ke USA utk supply ke Walmart, audit proses sangat ketat. Bahkan jumlah WC yang ada di pabrik saja mesti sesuai dengan rasio kecukupunnya. 1 WC utk 25 orang. Maka untuk pabrik dengan 2 ribu karyawan hitung saja berapa WC yg harus disediakan. Kalau tidak dipenuhi, maka mereka akan menolak barang. Belum lagi urusan PROSES yang lain.
Karena mementingkan Proses dan lebih "quality oriented", baik quality of management maupun quality of process, faktor "cost" sering tidak penting bagi mereka. Result bagi mereka adalah nomor dua.

Contoh lain:
Product CPO, dan olahan kelapa sawit, saat ini mengalami kendala berat, karena negara tujuan ekspor memberlakukan ecolabelling yang ketat. Banyak resistensi dari mereka. Karena produk CPO dan derivative-nya yang dari Indonesia, oleh mereka dianggap membahayakan lingkungan. Kelapa sawit ditanam dengan membakar hutan, sehingga emisi karbonnya membahayakan lingkungan. Juga, perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dianggap merusak keanekaragaman hayati. Karena membakar hutan yang penuh dengan keanekaragaman hayati, mebjadi monokultur (satu jenis kehidupan), yaitu hanya kelapa sawit saja. Belum lagi pembantaian orangutan karena dianggap hama bagi perkebunan kelapa sawit. Maka boikot CPO dari Indonesia menjadi issue besar. Ini karena Proses dan bahkan INPUT-nya dipermasalahkan. Mereka tidak mengutik-utik Result-nya sama sekali.
Berbisnis dengan BUMN & Pemerintah:

Berbisnis dengan BUMN & Pemerintah berorientasi ke Proses.

Contoh:
Ketika Pak Dahlan Iskan masih sebagai Dirut PLN, terpaksa mengambil alih tanggung jawab bawahannya di Nusa Tenggara Barat, karena bawahannya tidak berani mengambil keputusan untuk menyewa pembangkit listrik swasta (generator) dari swasta, karena harganya jauh di atas yang ditetapkan oleh pemerintah per kwh-nya. Padahal Visi Pak Dahlan Iskan adalah memenuhi target agar setiap wilayah di Indonesia secara bertahap harus bebas mati listrik. Dengan kata lain Pak Dahlan berani mengambil risiko untuk berhadapan dengan sistem yg ditetapkan regulator, demi mengamankan visi-nya. Dan seperti diketahui pelanggaran prosedur sebagai bagian dari sistem/proses di BUMN, akan berhadapan dengan KPK. Meski murni "kebijakan" bukan korupsi, ini sering menjadi dilema di BUMN. Pejabat lain mungkin tidak berani.
Contoh Lain:
Beberapa saat ini terjadi malpraktek di dunia konstruksi. Telah terjadi 5 peristiwa jatuhnya girder (balok penyangga) pada konstruksi ruas jalan tol. Kejadian ini terjadi di ruas-ruas tol di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan terakhir di ruas tol Depok-Antasari, di Jabodetabek.
Dari 5 kejadian terakhir, penulis memilik opini, bahwa itu karena pelaksana proyek lebih ke result-based erection, bukan ke process-based erection.
Menurut penulis, ini terjadi karena masalah SOP, bukan pada kurang perhitungan pada saat pengangkutan dan kekuatan alat angkut/angkat, seperti yang ada di viral yang beredar di media massa.
Seharusnya setiap  girder yang sudah berhasil diereksi/dipasang, diikat/dikunci secara masif terlebih dahulu dengan bracing dan diafragma, sehingga posisinya kuat dan stabil serta tidak dapat bergerak. Setelah itu baru diereksi/dipasang girder berikutnya secara beruratan dengan metode konstruksi yang sama, begitu seterusnya.
Penulis menduga, pelaksana proyek ingin menghemat biaya dan waktu pelaksanaan proyek, karena harga penawaran dan waktu pelaksanaan yang sangat ketat. Dalam hal ini juga untuk menghemat biaya dan waktu sewa crane (alat angkat) girder yang biasanya memiliki kapasitas angkat yang sangat besar, karena girder memiliki bobot yang sangat besar, sehingga biaya per-jam sangatlah mahal. Sehingga pelaksana proyek melakukan ereksi girder demi girder tanpa melakukan perkuatan atas stabilitas girder yang sudah terpasang. Tanpa pengikatan atau perkuatan tersebut tentu saja girder yang sudah terpasang menjadi labil, dapat tergeser atau terjatuh. Dengan senggolan yang tidak sengaja dari boom alat angkat, akan membuat girder tersebut bergeser atau bergerak, yang kemudian menyenggol girder-girder lainnya seperti efek-domino, sehingga semua girder terjatuh dan rusak.
Di sini nampak, bahwa telah terjadi malpraktek pada girder erection, karena pelaksana lebih kepada result oriented, bukan kepada process oriented. Di sini keduanya sangat dipentingkan.

2. Perspektif Skala Bisnis
Bisnis dengan skala yg besar dengan kompleksitas yang tinggi memerlukan OM Management dengan pendekatan Proses, untuk self-manage. Skala bisnis kecil lebih baik dengan orientasi Result, meskipun untuk ekspor, sering diwajibkan adanya Ecolabelling.

Di Jepang dengan TQC/TQM Toyota Way, Lean Manufacturing, dll menunjukkan mereka concern ke Proses. Itupun masih terjadi ada 5 R (rework, repair, reject, return, dan recall).

Bagaimana dengan China? Mereka itu cerdik dan luwes. Ke negara dengan tujuan ekspor yg "Process Oriented" seperti negara2 Barat, mereka bisa melakukan dengan baik. Sehingga produk mereka bisa masuk dengan kemampuan daya saing tinggi yg tanpa mengabaikan Proses. Sementara ke negara2 dengan orientasi Result, seperti Indonesia dan negara dunia ketiga, lebih mudah.
Saya sebut China melakukan balancing atau matriks atas Result and Process. Maka mereka dapat menggurita di seluruh dunia.

3. Sistem atau Management Style

Japanese style, maupun Western Style lebih ke Process-oriented. TQC/TQM with 7-Tools, 4S, Lean Manufacturing, Toyota Way, yg dikenal sebagai Japan Styles, jelas berbasis Proses.
Sementara ISO Series, MBNQA, GCG, ABM, Six-Sigma, dll, yg dikenal sebagai Western Style juga berbasis Proses.

Faktanya selama puluhan dasawarsa, bisnis mereka menguasai bisnis global. Yang tercermin dalam Fortune 500 Global Annual Report, sebelum diganyang China yang menganut balancing atau matriks antara Result - Process.



4. Jenis Bisnis

Bisnis dengan risiko tinggi, seperti Oil Gas, Engineering-Procurement-Construction-Commissioning, Power Plant, Transportation (Sea, Air, Land), lebih berorientasi Process. Tentu saja tanpa mengabaikan Result.

Sedang bisnis dengan risiko rendah sering berorientasi Result.

Kalau Finance Business, seperti Banking, Stock Obligation, Insurance, kira2 dengan orientasi Result atau Proses ya?

Sementara untuk Bisnis Hukum (pengacara, notaris) saya kira berorientasi pada Process dan Result sekaligus. He.he.he.. Untuk yg ini, Bro Iming bisa menambahkan atau mengoreksinya jika saya salah.

5. Posisi seseorang dalam Manajemen

Seorang Owner atau CEO atau Top Management lebih ke Result-based. Sementara Middle Management lebih balance. Sedang Front Liner sering dituntut untuk Process oriented.

Dalam manajemen dikenal ada proses yg saya sebut sebagai 3 I (Implementation, Improvement, Innovation).

Level FrontLiner, berkutat dengan "Implementation", dan wajib bekerja sesuai standar, atau Process. Middle Manager dituntut untuk melakukan lebih banyak "Improvement". Sehingga orientasinya sering balance antara Result and Process. Sedang Top Manager, sebaiknya berkutat pada "Innovation" yg lebih berorientasi pada Result.

Demikian, sharing saya.

Terima kasih.
Salam Manajemen.

Ratmaya Urip

Selasa, 07 Januari 2020

Anatomi Banjir Jakarta 1 Januari 2020


Anatomi Banjir Jakarta
(Satu Kajian Teknik Tanah atas
Polemik Normalisasi dan Naturalisasi Banjir)
Oleh: Ratmaya Urip
============== ====

Pengantar
            Drama berupa polemik  kebijakan publik telah tersaji, menyusul terjadinya banjir di Jakarta yang terjadi sejak akhir tahun 2019 yang bersambung sampai awal tahun 2020. Anies Baswedan yang Gubernur DKI dan Basuki Hadimuljono yang Menteri PUPR, yang kebetulan sesama alumni UGM (sesama anggota KAGAMA dengan penulis…he.he.he…), saling bantah  (Jawa Pos, Kamis Pahing, 2 Januari 2020, Halaman Utama)
            Anies Baswedan yang semula getol mengetengahkan “naturalisasi” sebagai solusi untuk mengatasi banjir mulai menggeser issue  banjir  menjadi issue pengendalian banjir dari hulu, meskipun ini juga bukan issue baru darinya. Hanya titik beratnya saja yang mulai beralih.
            Sedangkan Basuki Hadimuljono tetap konsisten pada issue “normalisasi” yang selama sebelum kepemimpinan Anies Baswedan di DKI Jakarta sudah berjalan sesuai harapannya.
            Selama bertahun-tahun, dari Gubernur satu ke Gubernur selanjutnya, masalah “banjir” dan “kemacetan lalu lintas” selalu menjadi komoditas politik di DKI Jakarta, sehinggu kedua issue ini sangat strategis untuk dipakai sebagai peluru bagi yang berseberangan secara politik. Juga warga DKI Jakarta, bahkan yang di luar DKI Jakarta, sering menggunakan kedua issue ini sebagai tolok ukur kinerja keberhasilan seorang Pejabat, khususnya Gubernur DKI. Hal ini terjadi karena  DKI Jakarta merupakan ibukota negara.
            Terlepas dari masalah dan polemik yang ada, serta untuk menghindari politisasi banjir di DKI Jakarta, penulis mencoba untuk menganalisisnya dari perspektif yang lain, yang lebih teknis operasional, dan mencoba untuk memberi masukan yang diharapkan kedap politik, tepatnya kedap Geopolitik Lokal, Regional maupun Nasional tentang Banjir di Jakarta.
                                                                               
                                               (Source of Picture: Courtesy of google.com)

Kajian atas Banjir di Jakarta dalam Perspektif Geokimia, Sedimentologi dan Mineralogi


Kajian atas Banjir di Jakarta,

dalam  Perspektif Geokimia, Sedimentologi dan Mineralogi

Oleh: Ratmaya Urip*)

=================

 

  (Source of Picture: Courtesy of google.com)


Puisi Kecik Buat Jakarta:

Banjir kembali menyapa Jakarta
Selalu tak pernah lalai berbekal derita
Selalu tiba dengan perkasa menggasak tatanan yang ada
Sementara itu pula hampir sepanjang masa
Jakarta juga tak pernah lalai menyapa petaka
Kemacetan selalu enggan pergi yang hampir tak ada celah untuk asa
Kapan derita ini bertabik mesra dengan julatan sapa bahagia?
Tuk dahaga akan lenyapnya renjana yang segera sirna?



====================
Pengantar
          Banyak sekali kajian serta analysis tentang banjir di Jakarta, namun rasanya belum ada yang pernah membahasnya dari Perspektif Geokimia, Sedimentologi dan Mineralogi, khususnya yang ditulis secara populer, tanpa meninggalkan keilmiahannya. Untuk itu penulis akan mencoba menyampaikan kajian tentang hal ini sebagai kajian rintisan.
           Musim hujan sering  berdampak pada terjadinya banjir, termasuk banjir bandang, tanah longsor, tanah bergerak, angin puting beliung, dan badai.
           Khusus untuk banjir dan tanah longsor, sangat erat kaitannya dengan aspek tanah, khususnya mekanika tanah, geokimia, sedimentologi, mineralogi dan kristalografi, bukan hanya masalah hidrologi, hidrolika, mekanika fluida, morfologi, topografi, klimatologi, geofisika, meteorologi dan berbagai aspek lain yang telah disampaikan sebagai bahasan sebelumnya oleh para ahlinya. Kali ini penulis sengaja akan membahasnya dari perpektif Geokimia, Sedimentologi dan Mineralogi saja.

Sabtu, 21 Desember 2019

Geguritan kanggo mahargya RINA-ning BIYUNG, 22 Desember
(Puisi untuk memeringati HARI IBU, 22 Desember)

Kanthi sulih Basa Indonesia
(Dengan terjemahan Bahasa Indonesia)

=============== ==


Ilustrasi Musik: 
ALFIAN dengan tembang lawas: KASIH IBU (Thn 60-an)

BIYUNG

Gurit Alit: Ratmaya Urip

Biyung,
Ing garbamu aku nate ngrasakake angeting katresnanmu
Uga adheming panggulawenthahmu
Kang tanpa upama nglejarake langkahku tumuju ing karaharjan tanpa ninggalake paugeran lan kasusilan
Ing waspamu kang nyimpen luhuring bebana aku kaajap bisa dadi jalma kang utama
Tansah ing dalaning Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi

Aku kapang, Biyung
Marang pangajapmu kang ora nate kendhat paring pandonga kanggo jembar lan lancare langkah-langkahku
----------------



Terjemahan Bebas Bahasa Indonesia:

IBU

Puisi Kecik: Ratmaya Urip

Ibu,
Di rahimmu aku pernah menikmati hangatnya cintamu
Juga teduhnya nasehatmu
Yang tanpa lelah melapangkan langkahku menuju kesejahteraan dan kebahagiaaan tanpa meninggalkan jalan yang lurus dan kesusilaan
Di hangatnya air matamu yang menyimpan luhurnya keinginan untuk aku dapat menjadi manusia yang utama dan sempurna
Selalu di jalan Allah Yang Maha Kuasa

Aku rindu, Ibu...
Rindu pada keinginanmu yang tak pernah lekang tuk selalu berdoa bagi lapang dan lancarnya langkah-langkahku

------------ --
Sidoarjo, 22 Desember 2011


Kamis, 23 Mei 2019

Doa dan Dukaku atas berpulangnys Ustadz M. Arifin Ilham


Doa dan Dukaku atas berpulangnys Ustadz M. Arifin Ilham

 Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
 (إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ). 

Inshaa Allah, Almarhum husnul khatimah.
========= ========


Ada gelegar halilintar yang menyambar di relung dada
Ada pekik duka yang menganga
Semua begitu tiba-tiba
Yang semua bermata air dari warta
Tentang Ustadz M. Arifin Ilham yang dipanggil kehadiratNYA begitu segera
Dan banjir doa itu kini kembali berbondong mengantar kepergian ke haribaanNYA di surga
Tangis perih dan pedih menjadi muara